Mobil melaju kencang di jalan tol, posisi duduk kami sangat canggung. Andai Ahin tidak sibuk bermain dengan Utynya di depan, mungkin dia bisa menjadi pelebur kecanggungan kami. Aku melirik Wikra, sepertinya dia tidak canggung sama sekali, di waktu luang bersama keluarga, dia masih menyempatkan diri melihat dokumen lewat ipadnya. "Maaf, ada dokumen yang harus aku lihat segera." Rupanya Wikra sadar aku mengamatinya, aku segera menoleh ke samping. "Terserah," jawabku jutek. Wikra masih sama seperti dulu, pekerja keras. Dia membangun perusahaan ayahnya sejak berusia 17 tahun. Berarti sekitar 13 tahun ia mencurahkan seluruh masa mudanya demi perusahaan. Kalau soal pekerjaan, Wikra tetap mengagumkan, di usianya yang ke 30 tahun ini, ia sudah menjadi CEO terbaik di Indonesia. Walaupun

