Sekitar pukul delapan lewat tiga puluh menit, Bintan baru saja pulang. Sepulang sekolah tadi dia tidak langsung pulang, karena masih banyak yang harua dia lakukan. Lagipula pulang cepat ke rumah adalah pekerjaan yang paling membosankan.
Saat pintu utama di buka, Bintan dapat dengan jelas melihat ayahnya sedang berdiri dengan kedua tangan di lipat di depan d**a dan memandangnya tajam.
Bintan memutar matanya bosan. Dia sudah bosan mendapat tatapan seperti itu dari ayahnya. Bahkan setelah ini dia sudah tau apa yang akan ayahnya katakan.
"Kemana aja kamu?! Kenapa jam segini baru pulang?!" like always. Bintan sudah duga itu.
"Kerja kelompok di rumah teman."
Ayahnya tertawa sinis. Laki-laki itu melemparkan amplop tepat di depan Bintan, "Apa itu?!" tannya setengah membentak, "Semua mata pelajaran yang ada, kamu dapat nilai nol!"
Bintan membuka surat itu dan mendapati hasil ujiannya beberapa bulan yang lalu. Percayalah kalau Bintan sama sekali tidak peduli dengan hal ini.
"BUAT MALU KAMU BINTAN!" bentak.ayahnya. Bintan hanya diam seolah menyesalinya, tapi jauh di dalam hati dan pikirannya dia sama sekali tidak peduli.
"Kamu lihat kakak kamu," dan kalimat itu berhasil membuat Bintan berdecak malas, "Dia selalu buat kami bangga dengan prestasinya! Bahkan dia bisa mendapatkan beasiswa ke luar negiri!" jeda, "Dan kamu? Gak ada hal lain yang kamu lakuin selain buat SAYA MARAH DAN MALU!"
Bintan tersenyum sinis ke arah ayahnya. Matanya juga sempat melihat Hanna dan ibunya tengah duduk memperhatikan pertengkaran mereka. Percayalah kalau saat ini Bintan ingin mencakar wajah Hanna dan juga ibunya. Lebih tepatnya wajah Ibu dan saudara tirinya.
"Maaf, Pa, tapi Bintan gak peduli." jawab Bintan sembari berlalu dari hadapan ayahnya itu.
Ryan---ayahnya, sudah benar-benar tidak mengerti lagi bagaimana cara menghadapi anak kandungnya itu. Dia sudah sangat lelah dan bosan dengan sikap Bintan yang sangat susah untuk di atur.
"Sabar, Mas. Kita kan sama-sama tahu gimana sikap anak kamu yang satu itu." istrinya mengusap-ngusap punggung Ryan agar laki-laki itu bisa sedikit lebih tenang.
"Aku capek ngadapi dia." ucapnya frusrasti.
Hanna menghampiri ayah tirinya itu. Dia memeluk ayahnya, "Sabar, Pa. Bintan kan emang keras kepala. Nanti dia juga sadar sendiri, Kok."
Siapa yang tahu kalau dari atas Bintan melihat semuanya. Dia melihat bagaimana munafiknya ibu dan saudara tirinya, dan bagaimana ayahnya yang benar-benar sudah tidak peduli.lagi dengannya.
Yang bisa Bintan lakukan hanya diam dan menunggu sampai semuanya selesai. Dia hanya bisa berharap kalau Tuhan cepat-cepat mengganti drama hidupnya, atau juga pemain-pemainnya. Dia sudah lelah dan bosan. .
"Maaf, Mbak?"
Bintan menoleh dan mendapati pembantunya sudah berada di sampingnya, "Ada apa, Bik?"
"Tadi mbak Claudia datang ke sini."
Mood Bintan tambah berantakan saat mendengar nama itu. Nama perempuan yang justru berperan besar dalam kehancuran hidupnya.
"Dia mau ketemu sama mbak, Bintan." ujar pembantu itu ragu.
"Bintan gak mau!"
Bintan masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya kuat. Dia lebih baik tidak punya keluarga dari pada harus hidup di tengah-tengah keluarga yang membuat dia tidak bisa merasakan yang namanya kebahagiaan.
Malam ini akan menjadi saksi betapa bencinya Bintan dengan hidupnya. Dengan keluarganya, dan dengan semua yang berhasil mengambil kebahagiaannya.
******
Malam ini El pulang cukup cepat. Dia sama sekali tidak berniat untuk ke club hari ini. Kepalanya mendadak pusing yang membuat dia ingin tidur lebih awal malam ini.
Namun saat dia pulang, dia mendengar keributan yang cukup besar di lantai dua. El mendongak dan mendapati ayah dan ibunya tengah berantam.
Laki-laki itu berdecak malas, "Lagi," katanya pelan sembari berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang tentu melewati tempat di mana ayah dan ibunya sedang berantam.
Dari jarak yang cukup jauh El berhenti. Dia memang sengaja berhenti untuk melihat keributan seperti apa lagi yang akan kedua orangtuanya ini perlihatkan.
"Aku jelas-jelas ngelihat ada bekas lipstik di kemeja kamu!" teriak ibunya dengan suara yang sangat kuat.
"LIPSTIK APA?!" bentak ayahnya tak kalah kuat, "Saya kerja itu di luar. Banyak orang yang saya temui di sana!" ucapnya membela dirinya.
"Halah!! Alasan!" jeda, "KALAU MEMANG SELINGKUH BILANG AJA SELINGKUH!"
"SAYA GAK SELINGKUH!"
"KAMU SELINGKUH! LAKI-LAKI b******n KAMU MEMANG!"
PARRR!!!!!
Sebuah tamparan mendarat di wajah wanita paruh baya itu dengan mulus. El yang melihat kejadian itu benar-benar tidak pernah menduga kalau ayahnya akan menampar ibunya hanya karena masalah sesepele ini.
El berjalan menghampiri orang tuanya. Dia merangkul ibunya yang tengah menangis sembari menatap tajam sosok laki-laki yang tak lain adalah ayahnya.
"Jangan pernah sekali-sekali Papa nyentuh mama lagi!" ucapnya penuh penegasan, "Kalau itu sempat terjadi, aku gak akan segan-segan memperlakukan papa seperti papa memperlakukan Mama!" sambungnya.
"Kamu sama mama kamu sama aja! Sama-sama gak tau di untung!"
Prang!!!!!
Setelah melemparkan beberapa vas bunga yang ada di sampingnya ke lantai, laki-laki itu pergi meninggalkan El dan ibunya yang sedang menangis.
El membawa ibunya ke dalam kamar dan membaringkannya ke atas ranjang. Dia menyelimuti ibunya yang masih menangis itu. Tanpa berkata apapun lagi El pergi meninggalkan ibunya sendiri. Dia tidak bisa berlama-lama bersama ibunya. Entah kenapa, El merasa asing berada di dekat wanita itu.
"El,"
Langkah El terhenti ketika dia mendengar panggilan itu. Tanpa berbalik dia menjawab panggilan ibunya, "Apa?" terdengar tidak sopan memang. Tapi inilah El, laki-laki yang selalu melakukan apa yang dia suka.
"Jangan pernah tinggali Mama ya, Nak?"
Hubungan El dan kedua orang tuanya memang tidak sedekat hubungan antara anak dan orang tua di luar sana. Dari dia kecil dia hanya di asuh oleh pengasuh dan juga neneknya yang sekarang sudah meninggal. Hanya ada satu alasannya, orang tuanya sibuk bekerja. Jadi jangan pernah salahkan laki-laki itu kalau dia bersikap seolah perempuan yang tengah berbicara kepadanya ini adalah orang asing baginya.
"Mama hanya butuh, El." sambung ibunya lagi.
El berdecak. Kenapa baru sekarang wanita itu berkata seperti itu? Kenapa gak dari dulu? Pikirnya.
"Saya banyak tugas. Permisi."
El segera keluar dan menutup pintu itu pelan. Dia tidak merasakan apapun. Yang ingin dia lakukan saat ini hanya tidur dan bermimpi. Entah apa yang membuat dia ingin sekali bermimpi malam ini.
Laki-laki itu membuka kamarnya. Pertama yang dia lihat adalah gelap. Dia segera menghidupkan lampunya dan mendapati kamarnya yang sangat berantakan. Di setiap sudut pasti ada bungkus rokok dan lengkap dengan puntung-puntung rokok miliknya.
Tanpa berniat untuk membersihkannya, El langsung mebantingkan tubuhnya ke atas ranjang dan langsung menutup matanya erat-erat. Tubuhnya lelah dan memang membutuhkan istirahat yang cukup.
*****
Kedua mata Bintan masih tetap terjaga walaupun hari sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dia benar-benar tidak bisa tidur malam ini. Entah apa yang membuatnya seperti ini dia juga bingung sendiri.
Tidak ada yang perempuan itu lakukan selain duduk di kursi tepat di depan jendela. Memperhatikan langit yang masih gelap tanpa ada satupun hiasan bintang di sana.
Bintan menyukai malam hari. Dia suka saat langit gelap. Dia suka keheningan malam yang membuat pikiran dan hatinya tenang. Tapi tidak untuk malam ini. Pikirannya kacau dan benar-benar tidak tenang.
Dia kepikiran El. Dia masih ingat bagiaman dekatnya Daniella dan El tadi siang. Sebagai pacar wajarkah gue marah? Batinnya.
Bintan bangkit dari duduknya sembari menutup gorden jendelanya. Dia berbalik dan tiba-tiba saja tersenyum saat melihat lukisan wajah El di sana.
"Gue hanya punya satu alasan kenapa gue masih mau bertahan sampai detik ini El. Gue sayang sama loe. Siapapun loe dan bagaimanapun sikap loe." ucap Bintan, "I love you, until you know it." jeda, "Good late night, El."
Bintan menaiki ranjangnya dan mencoba untuk tidur. Dan akhirnya mata itu mulai bisa tertutup tanpa dia ingin membukanya lagi untuk beberapa jam.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH! I HOPE YOU LIKE IT!