Sudah hampir setengah jam Bintan berdiri di tengah jalan menunggu angkutan umum yang lewat. Namun sampai sekarang, baik angkot maupun bus tidak ada yang lewat.
Wanita itu merutuki mobilnya yang tiba-tiba saja mogok saat dia ingin pergi sekolah tadi. Jadi satu-satunya cara adalah pergi dengan angkutan umum.
Wanita itu tinggal mempunyai waktu dua puluh menit lagi. Kalau lewat sedikit saja, Bintan akan telat dan berakhir di ruang BP nanti. Memikirkan hal itu membuat Bintan ketakutan sendiri. Tapi apa yang harua dia perbuat coba, selain menunggu?
"Ya Tuhan! Kemana sih semua angkot-angkot? Udah pada kaya kali, Ya?!" dumel Bintan, "Bisa mampus gue kalau sempat telat."
Mata gadis itu tidak pernah lepas dari arlojinya. Waktu semakin berjalan dan waktunya hanya tinggal beberapa menit lagi. Bintan menghembuskan nafasnya kasar. Tak ada jalan lain selain berlari. Mesan grab atau gojek? Keburu waktu habis.
Bintan dengan kekuatannya akhirnya memilih untuk berlari ke sekolah. Setidaknya ada yang dia lakukan selain menunggu. Siapa tahu di tengah jalan ada angkot yang lewat.
Tapi harapannya sia-sia. Sudah hampir lima belas menit Bintan berlari, angkutan umum belum ada juga yang lewat. Tetap berlari adalah pilihan satu-satunya.
Saat dia sedang sibuk-sibuknya berlari, suara klakson mobil memberhentikannya. Dia menoleh ke samping dan mendapati mobil El ada di sana.
El? Batinnya. Gak, Tan, Gak! Loe gak boleh berharap pergi bareng El!
Tanpa memperdulikan El, Bintan kembali melangkah. Dia sedikit berlari karena kebetulan dia sudah sangat lelah.
"Berhenti!" mendengar perintah itu, nyali Bintan tiba-tiba saja hilang.
Bintan berhenti tanpa berbalik. Seperti biasa, "Apa?" tanya Bintan sedikit berteriak karena jaraknya dan El yang lumayan jauh.
Laki-laki itu berjalan beberapa langkah mendekati Bintan. Dia memutar balik badan perempuan itu hingga El bisa melihat keringat yang bercucuran di wajah wanita itu.
Deg!
Jantung Bintan berdetag cepat. Jaraknya dan El sangat dekat saat ini. Apalagi tangan laki-laki itu yang memegang lengannya.
"Loe ngapain lari-lari kayak tadi?" tanya El.
Bintan tersadar dan tiba-tiba saja kebingungan untuk menjawab pertanyaan El, "Gu-gue, emm, biasa lari pagi."
Kening El mengerut, tapi sedetik kemudian ekspresi wajahnya kembali datar, "Alasan loe gak masuk akal."
Bintan menghela nafasnya. Ya, dia tahu dia bodoh. Bodoh karena membohongi orang tukang bohong seperti, El. Tapi ya sudahlah..
"Dalam waktu sepuluh detik loe udah masuk ke mobil," perintah El sembari berbalik berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya.
Bintan menelan ludahnya dan cepat-cepat berjalan masuk ke dalam mobil El. Dia merasa ini mimpi. Pergi ke sekolah dengan El, pacarnya? Bisakah dia menyebut hari ini sebagai hari keberuntungan? Bahkan Bintan sudah lupa kapan dia terakhir kali pergi ke sekolah bareng El, sankin jarangnya.
******
Setelah keributan kecil antara dia dan ayahnya, El segera melangkah keluar dan memasuki mobilnya. Hari ini dia tidak mau terlambat karena dia mempunyai jadwal ujian prakter Biologi.
El melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal. Selain laki-laki dengan dunia malamnya, El juga termasuk laki-laki yang suka balapan mobil. Jadi jangan heran kalau El gak pernah santai kalau bawa mobil.
Di tengah jalan, mata El tiba-tiba saja menangkap sosok perempuan yang sangat dia kenal tengah berlari. Berlari? Ngapain dia lari-lari kayak gitu? Batin El.
El membunyikan klakson mobilnya yang membuat perempuan itu berhenti. Namun beberapa detik selanjutnya perempuan itu kembali berlari tapi tak secepat tadi.
El segera keluar dari mobilnya dan menyuruh perempuan itu berhenti, "Berhenti!" ucapnya tegas dan sedikit berteriak.
El sangat yakin perempuan yang tak lain adalah Bintan, tidak mungkin membantah perintahnya. Wanita itu pasti akan melakukan apapun yang El perintahkan seperti sekarang. Dengan satu kata saja, wanita itu bisa mengikuti perintah itu.
El maju beberapa langkah mendekat. Dia memutar tubuh Bintan dan melihat wajah Bintan yang sudah penuh dengan keringat.
Jauh di dalam hati El, dia sangat ingin membersihkan keringat itu. Namun lagi-lagi ada saja penolakan yang cukup besar di dalam hati dan pikirannya.
El tiba-tiba saja kagum melihat kedua bola mata indah milik Bintan. Dia belum pernah berdiri sedekat ini dengan wanita itu sampai-sampai dia bisa melihat mata indah itu. Bukan hanya itu, dia juga kagum melihat wajah mulus Bintan dan hidung mancung perempuan itu.
Tapi itu tidak terjadi lama. El segera sadar dan mencoba bersikap seperti biasanya.
"Loe ngapain lari-lari kayak tadi?" tanyanya.
El menyadari kalau wanita di depannya ini sedikit terkejut dengan pertanyaan yang sebenarnya sangat simpel.
"Gu-gue, emm, biasa lari pagi." jawab Bintan.
Mendengar jawaban Bintan, membuat El yakin seratus persen kalau wanita itu berbohong. Dia yakin bukan itu alasan sebenarnya yang membuat Bintan lari-lari di pagi hari.
"Alasan loe gak masuk akal." jawab El.
Setelah berkata seperti itu, suasana mendadak hening. El juga bingung harus berbuat apa. Apakah dia harus mengajak Bintan pergi sekolah bareng?
El benar-benar ragu untuk melakukan itu. Dia lupa kapan terakhir kalinya menjemput Bintan untuk pergi sekolah bersama. Jujur, El sedikit gugup untuk melakukannya sekarang.
El akhirnya berbalik dan berkata, "Dalam sepuluh detik loe udah masuk ke mobil," perintahnya sembari berjalan.
Samar-samar dia mendengar langkah kaki yang dia yakini adalah milik Bintan. Laki-laki itu tersenyum tipis, saat perintahnya di laksanakan oleh wanita itu. El selalu menyukai wanita penurut.
******
Bintan dan El berjalan bersama melewati koridor yang sudah sangat ramai, mengingat lima menit lagi Bel masuk akan berbunyi.
Semua mata tertuju kepada dua orang itu. Ada yang menatap mereka datar, tidak suka, iri, dan macam-macam tatapan lainnya. Pasalnya sepasang kekasih itu jarang, bahkan tidak pernah terlihat berjalan berduaan seperti sekarang ini.
"Eh, eh! Kok Kak El sama Bintan jalan berduaan sih?"
"Itu sih Kak El bukan sih? Kok jalan berduaan sama Bintan?"
"Gue gak salah lihat, Kan? Itu seriusan Kak El sama Bintan jalan berduaan?"
"Mereka kayaknya udah pacaran lebih dari tiga tahun deh. Tapi ini pertama kali gue ngelihat mereka jalan berdua kayak gini. Sumpah, mereka kayak orang pacaran."
"Serius? Gue kira Kak El pacaran sama Kak Daniella. Soalnya di IGnya kak Daniella, rata-rata foto mereka berdua. Romantis lagi."
Bintan berusaha untuk menutup telinganya dari semua omongan-omongan orang yang mereka lewati sedari tadi. Dia berusaha untuk tidak peduli, walau sebenarnya dia tidak bisa.
Bintan hanya menundukkan kepalanya mencoba untuk bersabar. Lagipula semua yang di katakan mereka tadi tidak seutuhnya salah. Ada juga hal yang di benarkan Bintan di dalam hatinya.
Langkah Bintan terhenti ketika langkah El juga terhenti. Perempuan itu juga bingung kenapa dia bisa-bisanya mengikuti laki-laki itu.
"Loe semua kalau mau ngegosip di depan gue, jangan beraninya di belakang!" ucap El keras dan sedikit bentakan.
Ternyata El juga mendengar semua yang murid-murid katakan sedari tadi. Dia bosan dan muak dengan semua gosip-gosip itu.
Semua siswa-siswi yang ada di sana tidak ada yang berani berkata sedikitpun. Mereka hanya diam sembari menunduk. El tidaklah laki-laki yang mudah di lawan.
Bintan mendongak saat suasana mendadak hening. Dia bisa lihat El yang sedang emosinya. Dan jujur, dia sedikit takut.
"Udahlah, El. Loe gak perlu marah-marah kayak gitu. Gak ada gunanya." ucap Bintan dengan setengah suara.
"Mulut mereka kayak gak di ajar!" kini El bersuara lebih kuat dari yang tadi.
"El, stop it!" pinta Bintan, "Loe gak perlu bentak-benatak mereka kayak gitu." ujar Bintan, dan El berhasil menutup mulutnya.
Bintan bersyukur karena kali ini laki-laki itu menuruti apa yang dia katakan. Entah dapat dorongan dari mana, Bintan menarik tangan El untuk menjauh dari sana. Dia yakin kalau mereka masih ada di sana, El.bisa-bisa balik emosi dan melakukan hal apa saja.
Tepat di persimpangan koridor, Bintan melepaskan tangannya. Dia juga merutuki dirinya yang terlalu lancang menarik tangan El.
"So-sory," ucap Bintan merasa bersalah.
Sorry? Dia minta maaf karena megang tangan gue? Hanya karena megang tangan gue? Gue pacarnya, tapi kenapa dia minta maaf?" batin El sembari dia menatap mata Bintan jauh ke dalam.
"Gue masuk kelas dulu." ujar Bintan, "Dan, makasih buat tumpangannya. Sorry ngerepotin." sambungnya.
El menahan Bintan saat dia ingin berbalik. El bisa lihat kalau Bintan sedikit terkejut dan juga bingung.
"Apa?"
"Loe punya hak untuk itu."
Bintan mengernyit bingung. Tapi di detik berikutnya dia mengerti apa maksud dari ucapan El. Perempuan itu menundukkan kepalanya. Apa benar dia punya hak untuk itu? Tanyanya dalam batin.
Bintan mendongak dan menatap El dengan senyum tipisnya. Di melepaskan cekalan tangan El di pergelangan tangannya dan menggantinya dengan pegangan lembut di lengan El.
"Gue hanya takut, kalau gue jadi beban buat loe." dan itu jujur dari hati Bintan, "Gue memang gak tau apa-apa tentang loe, El. Tapi kalau gue bisa meninggikan diri gue sedikit aja sebagai pacar loe, gue tau loe punya banyak beban. Beban apapun itu. Makanya gue gak mau nambahi beban di hidup loe." Bintan kembali tersenyum. Tapi kali ini dengan senyuman yang berbeda.
Bintan mengangkat tangannya, beralih ke pipi El. Satu-satunya bagian tubuh El yang selalu bisa dia jangkau, "Good luck for today." ucapnya memberi semangat, "Gue ke kalas
dulu."
El masih diam di tempat setelah Bintan pergi. Entah apa yang dia rasakan saat ini. El merasa menyesal sudah menyakiti gadis itu. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau dia melangkah sudah sejauh ini. Bahkan dia gak tau apakah bertemu dengan Bintan adalah penyesalan atau kebahagiaan.
El mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Sudah cukup semuanya. Dia tidak mau lagi memikirkan semuanya untuk saat ini. Dia ingin bebas dan tidak ada satu orangpun bisa melarangnya. Tak seorangpun.
.
.
.
.
.
Jika Tuhan memberikan pelangi setalah hujan untuk orang lain, gue harap Tuhan juga memberikannya untuk gue. Walaupun hanya sebentar, tapi setidaknya gue pernah merasakannya.
-Bintan-
SEKIAN DAN TERIMA KASIH! I HOPE YOU LIKE IT!
Maafkan kalau ada typo!!!!!