Lagi lagi hujan. Bintan terpaksa harus menunggu sampai hujan berhenti di pintu masuk sekolahnya seorang diri. Sudah tidak ada lagi orang di sekolah itu mengingat ini sudah pukul setengah empat sore. Dia tidak ingin menerobos hujan yang sangat deras ini. Lagipula bermain-main dengan hujan adalah pekerjaan yang bodoh jika dia melakukannya.
Bintan mengosok-gosongkan kedua telapak tangannya untuk menghangatkan diri. Hari ini begitu dingin. Hujan deras di sertai angin yang kecang berhasil membuat Bintan sangat kedinginan. Untuk sekarang Bintan butuh jaket untuk menghangatkan tubuhnya.
Sudah hampir satu jam lebih tapi hujannya belum juga berhenti. Bukannya berhenti, hujannya bertambah deras membuat Bintan ketakutan sendiri. Dia gak bisa bayangkan jika dia berada di sini sampai hari gelap nanti. Di sekolah sendirian? Itu sangat horor.
Dia harus melakukan sesuatu. Ya dia harus lakukan sesuatu.
Bintan mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang ada di rumah. Tidak ada yang mengangkat. Kemana semua pembantu dan supirnya? Dia juga menghubungi Karin dan Bella. Tapi sama saja, nomor mereka berdua mendadak tidak aktif.
Terus, sama siapa dia minta bantuan sekarang? El? Ha, Apa? El? Bintan ragu untuk itu. Tapi dia juga gak mau berada di sini sampai malam. Apa dia tidak salah jika dia menghubungi El? Apa dia tidak merepotkan laki-laki itu?
Tinggal menekan tombol berwarna hijau, Bintan akan mendengar suara El. Tapi lagi-lagi dia takut. Takut jika El akan menolaknya, atau bahkan akan memarahinya karena dia sudah merepotkan laki-laki itu.
Tapi entah mendapat kekuatan dari mana, tangannya menekan tombol berwarna hijau itu dan meletakkan ponselnya di depan telinga.
"Hallo?" sapa orang di sebrang sana.
Shit! Mampus gue!
"Emmm, gu-gue,"
Oh God, gue harus ngomong apa?
"Loe kenapa? Jangan bertele-tele!"
Tuh, kan! Belum apa-apa aja gue udah kena marah.
"Gue kejebak hujan di sekolah. Hujannya deras banget dan gue gak bisa pulang bahkan gue gak tau harus pulang naik apa kalau udah kayak gini," Bintan memejamkan matanya karena gerogi, "Awalnya gue mau minta tolong loe buat jemput gue di sini. Ok gue tau gue gak sopan banget, atau bahkan gue lancang banget nyuruh loe jemput gue. Tapi----"
"Tunggu gue di sana."
Tutt Tutt Tutt!!!!
Bintan menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Dia benar-benar gak percaya dengan jawaban yang di berikan El. Bahkan dia gak berharap banyak kalau El akan menjemputnya. Tapi tadi? El bakalan jemput gue? Batinnya.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam mewah memasuki pekerangan sekolah. Dan Bintan yakin itu adalah mobil El. Walau meraka jarang pergi atau kencan bareng, Bintan hapal betul semua mobil ataupun motor milik El.
El keluar dari mobilnya dengan payung di tangan kananya yang juga melindunginya dari guyuran hujan. Laki-laki itu menghampiri Bintan yang sedang berdiri dan menatapnya tidak percaya.
"Sini buruan," perintah El dan langsung di turuti oleh Bintan.
Perempuan itu berjalan dan berdiri sangat dekat dengan El. Bahkan tubuh mereka saling bersentuhan, karena memang harus seperti itu jika keduanya ingin mendapat perlindungan dari payung.
Tubuh Bintan tiba-tiba saja menengang saat El merangkulnya, hingga jarak mereka saat ini sangat dekat. Bintan tidak pernah percaya kalau dia bisa sedekat ini dengan El. Apa lagi laki-laki itu merangkulnya sangat erat dan hangat.
Setelah membukakan pintu untuk Bintan, El juga langsung masuk ke dalam mobilnya di bagian kemudi. Dari antara mereka berdua memang El lah yang lebih banyak kena basah. Karena laki-laki itu memang sengaja melindungi Bintan.
Tunggu! Melindungi? El melindungi Bintan? Yah,, kelihatannya memang seperti itu.
"Sorry ngerepoti loe." Bintan benar-benar tidak enak dengan El. Baru saja tadi pagi dia bilang kalau dia tidak mau merepoti laki-laki itu. Tapi sekarang, dia bahkan sangat merepotinya, "Sorry juga loe jadi basah kayak gini."
Tidak ada jawaban dari El. Dia fokus ke jalanan yang sekarang sangat sepi karena beberapa kendaraan memilih untuk berteduh sampai hujan berhenti.
Bintan menoleh ke jok belakang mobil El. Dia menemukan handuk di sana. Bintan mengambilnya, dan dengan lembut dia mengeringkan rambut El yang basah terkena air hujan.
Jujur El sedikit terkejut di perlakukan seperti itu. Dia tidak menoleh sedikitpun. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan pikiran yang lari entah kemana-mana. Laki-laki itu sudah lupa kapan terakhir kalinya dia di perlakukan lembut seperti ini oleh ibunya. Usapan lembut yang di berikan Bintan justru tidak bisa dia temukan di mana-mana.
"Loe lapar?" tanya El tiba-tiba.
Bintan mengakhiri pekerjaannya sebelum dia menggeleng, "Enggak."
El melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Bahkan dia tidak yakin kalau Bintan sudah makan siang.
Mobil El berhenti tepat di depan restaurant ternama yang hanya orang-orang berkecukupan yang mampu makan di tempat itu. Dan El, lebih dari orang yang berkecukupan.
"Kok berhenti? Loe mau makan?" tanya Bintan bingung.
"Gue nemani loe makan." jawab El cuek.
"El, gue kan tadi bilang gak lapar."
El memutar bola matanya, "Terus gue percaya?" ujar El, "Udah buruan turun. Gue tau loe belum makan siang."
Lagi-lagi Bintan hanya mengangguk dan menuruti semua yang laki-laki itu perintahkan. Sampai kapanpun Bintan memang gak bisa membantah omongan El.
*****
Bintan dan El sedang duduk menunggu pesanan mereka. Bintan memesan Shrimp and pasta dan memilih air putih sebegai minumannya. Sedangkan El hanya memesan jus apel favoritenya.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pesanan mereka datang. Bintan segera melahap makanannya. Jujur, dia sangat lapar. Ucapannya di mobil tadi hanyalah kebohongan agar dia tidak merepotkan laki-laki itu.
Selagi Bintan makan, El sibuk dengan ponselnya. Sedari tadi dia sibuk membalas pesan dari Daniella yang mengajaknya untuk clubbing nanti malam. Tentu El tidak akan menolak. Semalam dia sudah free, dan malam nanti adalah waktunya bersenang-senang.
Bintan menyadari kalau El sibuk dengan ponselnya. Laki-laki itu memang tidak akan banyak bersuara jika mereka sedang berdua seperti ini. Lagian apa yang harus mereka bicarakan?
Tiba-tiba saja terlintas satu pertanyaan di benak Bintan. Dia ingin menanyakan prihal El yang melarangnya masuk ke kelas seni.
"El," panggil Bintan yang langsung di balas El dengan tatapannya, "Soal loe yang ngelarang gue masuk ke kelas seni, hanya bercanda kan?"
Air muka El tiba-tiba saja berubah. Wajahnya datar, tapi siapapun dapat melihat kalau ada kemarahan di balik wajah datarnya. Bintan memejamkan matanya sejenak. Dia sudah salah menayakan hal ini kepada El.
"Maksud gue--,"
"Gue serius!" tegas El, "Loe tau gue gak suka bercanda!" sambungnya.
Bintan terdiam. Dia sama sekali gak menyangka kalau El akan jadi semarah ini jika berbicara soal kelas seni. Apa yang salah dengan kelas itu? Pikir Bintan.
"Kenapa sih? Kenapa loe ngelarang gue masuk ke kelas seni?" Bintan butuh penjelasan, "Apa yang salah sama kelas itu? Gue fine-fine aja di sana."
El mencoba menahan amarahnya. Dia harus mengontrol emosinya, "Gue bilang enggak, ya enggak!" ucap El penuh penekanan.
"Kalau gue gak mau?"
Entah mendapat keberanian dari mana Bintan bisa berbicara seperti itu, seakan dia menantang El. Tapi kalau soal seni masalahnya, berani atau tidak Bintan harus berani. Dia tidak mau keluar dari kelas itu.
El menatap tajam Bintan. Sungguh emosinya sudah ada di puncak. Buku-buku tangannya sudah tampak jelas di mata Bintan. Sejujurnya dia sedang deg-degan.
"Loe berani bantah gue?!"
Bintan terdiam. Dia takut kalau sampai dia berbicara satu kata lagi, El akan benar-benar marah dan sesuatu yang tidak di inginkan akan terjadi.
Bintan jadi bingung sendiri. Kenapa hanya soal seni, El bisa semarah ini. Bahkan ini terlalu berlebihan.
"LOE BERANI NGEBANTAH GUE?!"
Bintan mendekap mulutnya tidak percaya juga kaget, saat El menggebrak meja sembari berdiri membentakknya.
Semua perhatian orang kini tertuju kepada mereka. Bintan menahan malu karena semua orang tidak hanya memperhatikan mereka, tapi juga membicarakan mereka.
"JAWAB GUE!" bentaknya lagi.
Bintan berdiri dan menatap El dengan tatapan kecewanya, "Loe gak perlu marah-marah kayak gini, El. Malu di liatin."
"Loe kira gue peduli? LOE KIRA GUE PEDULI?!"
"STOP EL!" Bintan sudah tidak kuat lagi mendengar bentakan El. Akhirnya dia juga ikut membentak laki-laki itu.
"Maaf mbak, mas. Tolong jangan membuat keributan di sini." salah satu pelayan restaurant itu datang menghampiri mereka mencoba untuk menegur.
"Kenapa? Loe gak suka? LOE MAU NGUSIR GUE DARI SINI?!" teriak El di depan muka pelayan itu, "GUE BISA BELI INI RESTAURANT!"
Bintan lagi-lagi harus menahan malunya. Perempuan itu mencoba untuk menarik El menajuh dari pelayan itu dan membawanya keluar dari restaurant. Sebelum itu Bintan meminta maaf kepada pelayan tersebut.
"Loe ngapain sih marah-marah kayak gitu?!" Bintan sudah kehabisan akal, "Loe membuat malu diri loe sendiri!"
El menatap Bintan tajam. Sangat tajam, "DAN ITU KARENA LOE!"
Bintan menahan dirinya. Dia berusaha untuk tetap tenang dan berusaha untuk tidak menangis. Bukan saat yang tepat.
"Loe marah karena gue masuk ke kelas seni. Loe ngelarang gue masuk ke sana, tanpa alasan sedikitpun." ujar Bintan, "Terus apa yang membuat gue harus nuruti semua omongan loe, sedangkan loe gak bisa ngasih gue alasan." jeda, "Dan loe bilang semua ini karena gue?"
Bintan menghembuskan nafasnya lelah. Lelah dengan semua perbuatan El yang sama sekali tidak masuk akal.
El membuang tatapannya ke sembarang arah. Dia tidak mau menatap Bintan yang sedang menatapnya dengan tatapan tenangnya. Bahkan laki-laki itu bingung kenapa Bintan masih bisa menghadapinya dengan setenang itu.
Bintan melangkah mendekat ke arah El. Bintan mengangkat tangannya untuk memegang pipi El hingga tatapan mereka bertemu.
"Gue gak tau apa yang membuat loe semarah ini, El. Gue benar-benar gak tau." Bintan berbicara dengan kedua matanya menatap El yang juga sedang menatapnya, "Tapi gue gak suka loe semarah ini." sambungnya, "Ok, loe bisa bilang kalau gue gak berhak ngatur-ngatur loe. Tapi gue hanya mau loe bisa terbuka sama gue. Gak usah dulu anggap gue pacar kalau loe emang gak bisa. Anggap aja gue teman loe, atau siapapun, supaya loe bisa terbuka ke gue."
El melepaskan tangan Bintan dari pipinya. Matanya lagi-lagi menatap Bintan tajam, "Gue tetap gak suka loe masuk ke kelas seni! Dan gue harap loe masih ingat, kalau gue gak suka dengan pembantahan!" ucap El final.
Bintan menganggukan kepalanya, "Gue akan ngikuti semua kemauan loe, termasuk keluar dari kelas seni." ujarnya, "Tapi loe juga harus ngikuti permintaan gue, untuk gak pergi lagi ke club dan main-main sama perempuan lain."
El benar-benar tidak percaya kalau Bintan akan berbicara seperti ini, "Gue gak bisa," jawab El.
"Kalau gitu gue juga gak bisa."
Bintan pergi dari hadapan El. Dia memilih untuk pulang naik taxi yang kebetulan saja lewat. Pertahahannya runtuh begitu saja. Dia berharap kalau El akan mengiyakan permintaannya tadi. Tapi nyatanya, sampai kapanpun El tidak akan pernah merubah sifatnya. Dan Bintan kecewa dengan semua itu.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH! I HOPE YOU LIKE IT!