El memukul kaca kamarnya hingga pecah dengan tangannya. Akibatnya sekarang tangan El berlumuran dengan darah-darah segar.
"Gila loe, El!" ucap Revan mencoba untuk menyudahi perbuatan gila sahabatnya itu.
Bukannya berhenti, El kembali melempar semua barang-barang kaca yang ada di kamarnya. Semuanya jatuh berserakan. Bahkan dia sudah tidak peduli lagi dengan tangannya yang kini sudah penuh dengan darah.
Semua teman-temannya hanya diam sembari menatap El takut-takut. Mereka juga jadi bingung harus berbuat apa. El cowok keras kepala yang tidak akan mendengar omongan siapapun jika sedang marah, seperti sekarang.
Sepulang sekolah tadi, dia langsung masuk kamar dan melakukan ini semua. Emosinya sudah berada di puncak. Semuanya bercampur jadi satu. Antara tidak puas karena belum selesai membully orang, atau karena Bintan yang menantangnya dan berhasil membuatnya kepikiran dengan semua perkataan cewek itu.
El sama sekali tidak pernah membayangkan kalau Bintan akan berani melawan Daniella. Dia juga tidak percaya kalau perempuan itu sudah berani menantangnya dan juga tidak takut sama sekali dengan semua ancamannya.
"ARGHHHH!" teriak El sembari meninju dinding-dinding kamarnya yang membuat tangannya kembali mengeluarkan darah-darah segar..
"STOP, EL! LOE GILA, YA!" Aldo menghampiri El dan menghempaskan tubuh laki-laki itu ke atas sofa. Dia merasa El sudah melakukan hal yang tidak masuk akal.
Aldo berdiri tepat di depan El, "Loe lihat sekarang? Loe malah nyakiti diri loe sendiri!" ucap Aldo dengan suaranya yang meninggi.
"Loe kenapa? Loe marah karena Bintan?" Galen tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan El, di samping Aldo, "Gue rasa Bintan gak salah. Malah dia cukup berani." sambungnya.
El menatap kedua temannya itu tajam. El bangkit berdiri dan mendorong Aldo dan Galen hingga mereka sedikit terhempas ke belakang. Laki-laki itu berjalan menuju balkon dan berdiri di sana dengan tatapan kosong.
Setelah di pikir-pikir, El juga jadi binggung. Apa sebenarnya yang membuat dia sampai semarah ini. Karena Bintan? Cewek itu memang menantangnya, tapi itu bukan hal yang besar buat El seharusnya.
"El, coba deh loe pikir-pikir. Loe nyakiti Bintan udah kelewatan tau gak." Revan yang duduk di tepi ranjang El menatap punggung laki-laki itu. Dia tau kalau ada hal lain yang membuatnya seperti ini, "Kasihan Bintan, Sob. Biar gimanapun dia pacar loe." sambungnya.
"Jangan entar nyesal, Sob! Jarang-jarang ada cewek kayak Bintan." Galen yang sedang sibuk dengan ponselnya juga ikut angkat berbicara, "Tapi gue pingin nayak sih sama loe. Loe cinta gak sih sama Bintan?"
Tubuh El menegang. Pertanyaan itu seakan berhasil membuatnya lupa bagaimana cara untuk bergerak. Mencintai Bintan? Bahkan pertanyaan itu tidak pernah terlintas di pikirannya selama ini.
Galen berjalan menghampiri El, "Loe udah mau jalan tiga tahun sama Bintan. Loe cinta gak sih sama dia? Atau loe cuma mau main-main aja sama dia?" ujar Galen kembali, "Ya gak ada masalah sih. Tapi jujur, gue kasihan ngelihat Bintan."
"Jadi loe gak cinta sama dia, El?" Sandi tiba-tiba saja datang. Entah sejak kapan dia mendengarkan pembicaraan itu, "Wahh! Gila loe. Mau tiga tahun pacaran, tapi gak ada cinta? Mending Bintan untuk gue."
Ucapan Sandi berhasil membuat El berbalik dan menatapnya tajam. Tunggu? Kenapa El marah ketika Sandi berbicara seperti itu? Bukannya dia tidak mencintai Bintan?
El menghembuskan nafasnya kasar. Dia pusing dengan semua ini. Dia malas jika harus di tuntut untuk memikirkan semua hal yang sangat menjijikan seperti sekarang.
"Banyak omong loe semua," ujar El, "Dengar gue baik-baik! Itu semua masalah gue, bukan masalah loe loe pada. Jadi berhenti buat ikut campur." sambung El.
"El!" kini Aldo angkat suara, "Kalau loe memang gak cinta sama Bintan, loe tinggal mutusi dia. Loe gak usah mempertahankan hubungan yang gak jelas kayak gini."
"Kenapa? Loe mau ngambil dia?"
"Gue serius, El!" tegas Aldo, "Gue hanya gak tega ngelihat Bintan yang punya pacar b******k kayak loe!"
Brukk!
Satu pukulan mendarat mulus di sudut bibir Aldo hingga mengeluarkan darah segar, "Jangan main-main sama gue Aldo!"
"WOIII! LOE BERDUA APA-APAAN SIH!" Sandi mencoba meleraikan dua laki-laki yang sedang penuh dengan emosi itu.
Aldo berjalan mendekat mencoba untuk memukul El balik. Namun dengan cepat Galen mengahalanginya. Dia menahan Aldo sedangkan Sandi menhana El.
"UDAH CUKUP!" bentak Revan, "Kok loe berdua jadi berantam gini, Sih?!"
El menghempaskan tangan Revan dari tubuhnya, "Jaga baik-baik omongan loe!" ucap El tepat di depan Aldo.
Laki-laki itu segera keluar dari kemarnya. Dia membanting pintu kamarnya dan apapun yang ada di dekatnya hingga dia sekarang berada di lantai dasar.
Semua pekerja yang ada di rumah itu hanya menunduk takut saat melihat El marah. Tidak ada yang bernai berkomentar sedikitpun.
Cling!
Bella Gue sebenarnya malas buat ngasih tau ini. Tapi kita harus ketemu di caffe depan sekolah sekarang.
El segera menaiki motornya dengan kecepatan maksimal. Dia sudah tidak peduli lagi dengan peraturan yang ada. Toh baginya peraturan seketat apapun dapat dia beli dengan uang.
*****
Kedua remaja itu masih diam tanpa berucap sepatah katapun. Mereka mungkin masih mencari-cari kata awal yang tepat untuk memulai pembicaraan. Bukan El, tapi lebih tepatnya Bella. Perempuan itu bingung harus memulainya dari mana.
"Gu--"
Omongannya terpotong saat melihat kedua tangan El penuh dengan darah yang sudah kering, maupun darah yang masih basah karena lukanya yang masih terbuka lebar.
"Tangan loe--"
"Loe mau bicara apa?"
Bella menghembuskan nafasnya. Dia tidak perlu peduli bukan dengan apa yang terjadi dengan laki-laki yang ada di hadapannya ini? Justru dia harusnya senang karena laki-laki ini sedang terluka.
"Gue mau ngasih tau kenapa Bintan mendadak berubah tadi pagi ke loe." ujar Bella yang hanya di balas tatapan datar oleh El, "Dia lagi pusing. Dia lagi pusing mikirin acara keluarganya besok. Jadi di keluarga Bintan, kalau omanya datang ke rumah, cucu-cucunya harus memperkenalkan pacar mereka ke omanya."
Bella menarik nafasnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya perlahan, "Dan yang jadi masalahnya, dia takut buat ngasih tau ini ke loe. Dia takut loe marah dan gak mau datang ke rumahnya besok malam."
"Jelas gue gak mau."
Bella menatap El marah. Laki-laki yang ada di hadapannya ini memang egois. Kalau saja saat ini dia memegang pistol, tanpa keraguan sedikitpun Bella akan menembak El.
"El, "
"Gue gak bisa di ganggu malam hari." ujarnya, "Urusan gue jauh lebih penting."
"Jadi menurut loe, bermain-main sama cewek lain jauh lebih penting dari pada menghadiri acara pacar loe sendiri?" jeda, "Loe gila tau gak! Loe egois! Dan loe jahat."
Bella bangkit berdiri. Waktunya terbuang sia-sia untuk bertemu dengan laki-laki semacam El. Dia bersumpah agar El suata saat nanti bisa merasaka apa yang sekarang Bintan rasakan.
"Dan satu hal lagi, El. Kalau loe nanti kehilangan Bintan, loe akan sadar seberapa berharganya Bintan untuk loe sakiti." jeda, "Kalau loe berubah pikiran, loe bisa datang besok jam 8 malam."
Bella segera pergi dari sana. Menatap wajah El membuatnya ingin muntah. Jika saja Bintan mau mendengarkannya untuk mengakhiri hubungan dengan El, pasti semuanya tidak akan serumit ini. Semuanya akan baik-baik saja.
El terdiam di tempat. Dia menatap lurus ke arah tangannya yang berdarah. Pikirannya juga ikut melayang entah kemana-mana. Tapi yang dia sadari adalah, dia tengah memikirkan Bintan. Wanita yang sudah bersamanya hampir tiga tahun ini.
Sejahat apa gue? Tanya El kepada dirinya sendiri. Bahkan ini pertanyaan pertama yang di tanyakannya selama dia hidup.
Telinga El mendengar suara alunan musik dari piano yang ada di sudut caffe itu. Lagu itu?
El segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan caffe, sebelum semuanya mengingatkannya ke hal-hal yang akan membuatnya hancur. Dia tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Dia ingin tenang tanpa beban pikiran sedikitpun. Dan tempat satu-satunya adalah, Club!
SEKIAN DAN TERIMAKASIH! I HOPE YOU LIKE IT!