Cling!!
Dad
Papa yakin kamu udah tau kalau lusa oma akan datang. Dan papa harap kamu tidak mengecewakannya.
Bintan memutar bola matanya bosan. Dia memasukkan kembali ponselnya kedalam saku rok sekolahnya, dan kembali melangkah masuk ke dalam sekolah.
Bintan segera menuju ke kelasnya karena dia harus melakukan ritual kerja pagi yang selalu dia lakukan. Menyontek pr! Siapa yang tidak mengenal Bintan, sebagai siswi perempuan terbodoh di kelasnya? Eits! Bodoh tapi cantik.
Saat dia berbelok, dia bertabrakan dengan seseorang yang membuat keduanya terdorong kebelakang sedikit.
Bintan mendongak dan mendapati El sedang menatapnya datar. Ingatan Bintan kembali berputar ke perdebatannya dengan El semalam sore. Bukan hanya itu. Dia juga kembali mengingat foto mesra El dan Daniella yang sengaja dia pamerkan ke semua orang.
Untuk saat ini Bintan sedang tidak mood untuk melihat wajah El. Dia marah, kecewa dan juga sakit hati jika berlama-lama melihat El. Akhirnya Bintan memilih untuk meninggalkan El tanpa berucap sepatah katapun.
Belum genap dia menaiki anak tangga, langkahnya harus terhenti karena El sudah berada di depannya. Bintan berjalan ke sisi kanan El, namun laki-laki itu juga mengikutinya. Bintan dengan sabar kembali melangkah ke sisi kiri El, namun lagi dan lagi El mengikutinya.
Bintan menarik nafasnya dalam mencoba untuk bersabar. Dia berbalik bermaksud untuk lewat dari tangga yang lain. Namun dengan cepat El menghadang Bintan dan menyudutkan wanita itu ke dinding dengan tangannya yang ada di kedua sisi hingga Bintan benar-benar tidak bisa bergerak.
Bintan hanya bisa pasrah sekarang. Dia hanya menunggu apa yang akan laki-laki ini perbuat. Dia berusaha untuk tidak menatap El, walau saat ini El sedang menatapnya. Bintan bisa merasakan hembusan nafas El dan aroma segar nafasnya. Jarak mereka sangat dekat. Bahkan kalau Bintan bergerak maju sedikit saja, mungkin bibirnya akan bersentuhan dengan bibir laki-laki itu.
Bintan mencoba untuk melepaskan tangan El dari sisi sebelah kanan dan kirinya. Namun kekuatan El tetap saja tidak sebanding dengan kekuatan yang Bintan mikiki.
"Lepas!" ucap Bintan tegas.
Mendengar nada bicara Bintan membuat El tidak yakin kalau yang ada di hadapannya ini adalah Bintan. Biasanya gadis itu tidak akan berkata sepatah katapun. Tapi sekarang?
"Gue gak suka di bentak kayak tadi!" balas El dengan setiap penekanan di kalimatnya..
Bintan tersenyum meremehkan. Saat ini entah kenapa moodnya untuk bersabar tiba-tiba saja sirna," Terus gue peduli?"
El terdiam. Situasi ini dimanfaatkan Bintan untuk membebaskan diri dari pertahanan yang El buat. Bintan segera berlari menuju ke kelasnya.
El menyadari jika wanita itu sudah pergi dari hadapannya. Laki-laki itu sengaja tidak mengejar Bintan, karena dia merasa ada yang berbeda dengan wanita itu.
El berbalik, dan mendapati Bella di sana. Satu tangan El mencekal tangan Bella agar dia tidak langsung pergi.
"Kenapa Bintan?" tanya El langsung.
Bella mengernyit bingung untuk beberapa saat. Namun sedetik berikutnya dia tertawa meremehkan kepada laki-laki yang sedang menatapnya datar.
"Loe nanyak Bintan ke gue?" tanya Bella balik, "Gak salah?" jeda, "Emang gue PACARnya, yang tau semua tentang dia?!" Bella menekankan kata 'pacar' karena mempunyai maksud tertentu.
El memutar bola matanya malas. Dia tidak suka bertele-tele seperti ini. Dan lawan bicaranya ini membuat El ingin meninjunya saat ini juga. Kalau bukan Bella perempuan dan teman dari Bintan, tanpa ragu El akan melayangkan pukulannya di wajah perempuan itu.
"Gue gak suka ada orang yang bertele-tele ngomong ke gue!" tegas El, "Loe kasih tau gue kenpa Bintan?!"
Sejujurnya Bella sedikit merasa takut. Tapi bukab Bella namanya jika dia harus mundur ketika di perhadapkan dengan laki-laki sejenis El.
"Loe kira loe siapa bisa nyuruh-nyuruh gue?" ucap Bella menantang, "Dengar gue baik-baik ya El. Gue bukan Bintan yang akan nuruti semua omongan loe! Gue bukan cewek bodoh yang bisa di sakiti kayak loe nyakiti Bintan!"
Setelah itu Bella pergi dari hadapah El. Tapi sebelum itu diam masih bisa mendengar suara tegas yang berisikan ancaman yang berhasil membuatnya merinding.
"Loe udah main-main sama gue, Bella. Dan loe yang akan lihat sendiri, gimana ending permainan yang loe udah buat!"
*****
Setelah bel istirahat berbunyi, semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Ada yang sibuk bergosip di koridor, ada yang berjalan menenteng buku pergi ke perpustakaan, ada yang berlari ke kantin karena takut tidak kedapatan tempat duduk, dan ada yang sekedar duduk di kelas, seperti halnya yang di lakukan Bintan sekarang.
Dia hanya duduk di kelas sembari menopang wajahnya dengan tangannya. Bintan sedang memikirkan acara esok yang berhasil membuatnya pusing setengah mati. Antara takut, malas, kecewa, dan segela macam sudah bercampur jadi satu.
"Loe kenapa?"
Bintan melirik sekilas ke sebelahnya. Di sana sudah ada Bella dengan berbagai makanan ringan yang baru saja dia beli di kantin.
"Gak papa." Bintan membenarkan posisi duduknya yang kini bersandar di kepala kursi sembari menatap lurus ke depan.
"Udah jujur aja sama gue. Loe gak bisa bohong ke gue, Tan."
Bintan menghela nafasnya. Benar kata Bella, dia tidak akan pernah bisa membohongi sahabatnya itu. Apalagi Bella bukan tipe yang gampang di bohongi oleh siapapun.
"Besok oma gue datang,"
"Terus kenapa?"
Bintan menatap tajam Bella, "Jangan potong omongan gue!" perintah Bintan yang mendapat cengiran dari Bella.
"So, oma gue itu sebenarnya lebay sih. Tapi ya gimana, kalau itu udah tradisi." Bella menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung dengan ucapan Bintan.
"Maksudnya?"
"Jadi oma gue itu minta gue dan Hanna besok harus bawa pasangan kita masing-masing. Ya, oma gue ngerasa kita udah cukup umur untuk mempekernalkan pacar-pacar kita ke dia."
"Lah? Terus masalahnya apa?" Bella sama sekali tidak menemukan kesukitan di sini, "Loe tinggal bawa El ke oma loe, kan? Loe tinggali ngenalin El aja. Terus apa sulitnya?"
Bintan berdecak, "Gue tau, Bell. Yang sulit sekarang itu adalah Elnya sendiri. Loe kan tau gimana dia. Apalagi acaranya malam. Mana mau dia di ganggu kalau malam-malam. Loe tau sendiri dia kemana."
"Ya loe coba ngomong lah."
"Gue takut Bella. Gue takut dia marah, dan ujung-ujungnya kita akan berantam."
Bella membuang tatapannya dari Bintan, "Udah gue bilang dari kemarin-kemarin. Putusi aja El. Loe pacaran sama dia dapat apa sih? Cinta? Kasih sayang? Enggak kan? Loe malah selalu makan hati di buat dia." Bella berhenti sejenak dan kembali menatap sahabatnya itu, "Masih banyak cowok di luar sana yang jauh lebih baik dari El."
"Ok Bel, stop! Gue gak suka loe ngomong kayak gini. Gue--"
"KAK, BINTAN!"
Seorang siswi perempuan kelas sepuluh dang menghampiri Bintan dengan kondisi kelelahan. Mungkin karena dia capek berlari-lari.
"Kenapa?" tanya Bintan.
"Itu kak, kak El. Dia ngebully teman aku di kantin. Kak Please tolongin dong."
Sontak Bella dan Bintan berdiri dan segera berlari menuju kantin. Bintan sama sekali gak percaya kalau El mau membully orang.
******
Bella dan Bintan di buat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Khususnya Bintan. Dia dengan jelas melihat bagaimana pacarnya menjabak rambut seorang siswi perempuan dengan sangat kuat. Daniella yang tepat di samping tersenyum puas sembari bersiap-siap untuk menyiramkan air kotor ke siswi itu.
Tidak ada yang berani mendekat. Siapaun tau konsekuensinya jika mereka mendekat. Berhadapan dengan El dan Daniella ada pekerjaan mematikan jika ada satu orang aja melakukannya.
Bella yang berdiri di samping Bintan tiba-tiba saja keringat dingin. Dia ingat betul ancama yang di berikan El tadi pagi. Bella takut kalau El akan memperlakukannya sama seperti sisiwi itu.
"Gue pingin nolong sih. Tapi takut."
"Tega amat sih kaka El dan kak Daniella."
"Kasihan amat sih Vivi di gituin."
"Gue gak tega ngelihatnya. Tapi gimana, kalau kita sok-sokan mau nolongi, kita yang kena."
Bintan mendengar semua bisikan-bisikan dari beberapa siswi yang kebetulan ada di dekatnya. Tidak ada yang berani masuk dan menolong perempuan yang sedang di bully itu. Tapi Bintan bukan orang yang diam saja jika melihat hal seperti ini. Apalagi yang melakukan ini semua adalah, El, pacarnya.
"STOP!" terika Bintan yang membuat seluruh isi kantin terkejut. Termasuk El, "Loe semua gila tau gak!" sambungnya lagi.
"Loe berani masuk, Bintan?" ucap Daniella dengan suaranya dan senyumnya yang mematikan, "Loe siap menerima konsekuensinya?"
Bintan terdiam. Jantunynya berdetag sangat cepat dan dia mulai keringat dingin. Dia sangat takut. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia kasihan dengan siswi itu. Dan dia juga takut kalau karena masalah ini, El akan mendapatkan masalah.
"Gue gak pernah takut sama apapun Daniella, dan loe tau itu!" ujar Bintan.
Daniella dan teman-temannya bertepuk tangan salut. Mereka mendekat ke arah Bintan dan segera kedua teman Daniella mencekal kedua tangan Bintan.
El yang melihat Bintan di perlakukan seperti itu hanya diam dan menatap pacarnya itu datar. Bintan menggelengkan kepalanya kecewa melihat sikap El yang sama sekali tidak peduli.
"Loe akan ngerasain hal yang sama, Bintan." ujar Daniella.
Bintan menutup matanya sejenak. Kemudian dengan kekuatan yang dia punya dia menghempaskan cekalan tangan kedua teman Daniella kuat. Bintan tidak selemah apa yang di pikirkan. Wanita itu cukup kuat dengan semua pertahanannya.
Dia berjalan mendekat ke arah Daneilla dan menarik kerah baju Daniella, "Dengar gue baik-baik Daniella." perintah Bintan, "Jangan pernah nganggap gue lemah. Gue bisa ngelakuin jauh lebih dari yang loe lakuin ke dia!" Bintan menunjuk siswi perempuan yang sedang tersungkur ke lantai dengan kondisi yang memalukan.
Daniell terdiam. Dia tidak menyangka kalau Bintan bisa seberani ini. Ini bukan Bintan yang dia kenal sebagai cewek lemah yang hanya bisa diam jika di sakiti.
Bintan mendorong Daniella hingga perempuan itu jatuh. Dia beralih menatap El yang tengah menatapnya datar dengan kedua tangan dia lipat ke depan d**a. Cool. Itu satu kata yang menggambarkan El.
"Gue terima kalau loe berantam di luar sana, El. Tapi gue gak terima kalau loe ngebully orang lain." terdengar nada marah saat Bintan berbicara, "Gue tau gak akan ada yang berani ngelawan loe. Tapi loe juga harus tau, kalau suatu saat nanti loe bisa aja berada di posisi orang yang loe bully. Gue kecewa sama loe."
Saat Bintan ingin berbalik, tangannya di cekal oleh El. Bintan bisa merasakan kalau saat ini El sedang sangat marah. Dia bisa tau dari cekalannya yang sangat amat kuat. Perempuan itu yakin saat ini tangannya pasti sudah biru.
"Loe nantang gue?!" tanya El penuh amarah, "LOE NANTANG GUE!" dan semua orang di sana merinding keatukan saat El membentak Bintan.
Bintan memejamkan matanya sejenak. Dia mencoba untuk bertahan. Dia tidak ingin menangis hanya karena bentakan dari El yang sudah biasa di dengar.
"Loe salah cari lawan!" ujar El dan Bintan langsung menatap pria itu, "BAHKAN GUE BISA NGELAKUIN HAL YANG SAMA KE LOE SEPERTI CEWEK INI!" teriak El kuat.
Bintan menutup matanya saat lagi dan lagi El meneriakinya. Hal yang harus dia lakukan hanya bertahan dan berusaha tenang. Menghadapi orang seperti El bukanlah hal yang mudah. Bintan harus seperti orang bodoh jika sudah berhadapan dengan laki-laki itu.
Bintan membuka matanya. Wanita itu tersenyum menatap El, "Loe bisa ngelakuin apapun ke gue, El. Loe bisa bentak gue, loe bisa nampar gue, loe bisa jambak gue, bahkan loe bisa mukul gue sesuka hati loe." ujar Bintan tenang, "Gue gak pernah marah kan? Gue gak pernah nuntut loe kan? Gue hanya gak mau loe ngelakuin itu ke orang lain. Kalau memang tangan loe gatal buat jambak orang, loe bisa cari gue. Loe bisa jambak rambut gue sesuka hati loe. Bahkan loe bisa bunuh gue kalau memang loe mau."
Semua orang yang ada di sana menatap Bintan tidak percaya. Bukan hanya mereka, El juga sama tidak percayanya dengan perkataan Bintan.
Perempuan itu melepaskan tangannya dari cekalan El dan kemudain berjongkok untuk membantu perempuan yang di bully oleh El.
"Loe bisa balik ke kelas." ucap Bintan sembari tersenyum.
"Makasih, Kak." Bintan hanya mengangguk dan tersenyum sampai wanita itu pergi.
Bintan kembali menatap El. Dia berjalan mendekat ke arah El yang sedang menatapnya datar dan penuh amarah. Wanita itu mengusap lembut pipi El sembari tersenyum, "Good luck buat ujian praktek loe hari ini."
Bintan segera meninggalkan El dan keluar dari kantin. Dia menghembuskan nafasnya bersamaan dengan menetesnya cairan bening yang sedari tadi di tahan oleh wanitu itu. Lagi-lagi dia menangis dalam diam. Kalau bisa dia mengatakan sejujurnya, dia sangat sakit hati.
Tuhan, jika memang Kau yang mempertemukan aku dan El, aku mohon Tuhan, aku mohon untuk Kau jugalah yang mengakhirnya. Sakit ataupun enggak, aku hanya ingin semuanya selesai.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH!I HOPE YOU LIKE IT!