Bagian 7

1216 Words
Diana mangut-mangut menatap data yang diinginkan oleh dirinya sejak beberapa hari, mengenai Laras dan hubungannya dengan Gavin. 'Oh, jadi empat tahun lalu Gavin mengejar cinta Raya. Anak itu gigih sampai mau-maunya menjadi guru. Laras belajar di tempat yang sama, lalu mereka bertemu sebagai Guru dan Muridnya.' Diana membatin, berpikir sambil membaca laporan informasi tentang hubungan anaknya di masa lalu dengan salah satu desainer dibutiknya. 'Jadi Laras inilah yang menyita perhatian anakku Gavin. Awalnya semangat mengejar-ngejar balasan cinta Raya, tapi setelah mereka bertemu, Gavin malah uring-uringan sama Laras. Muridnya sendiri. Laras nakal juga di sini, suka sekali membuat masalah untuk Gavin. Ah, aku jadi ingat kejadian empat tahun lalu dan sekarang aku tahu siapa yang membuat Gavin sulit makan dan tidur, ternyata Laras yang ini, hm ... anakku kepincut cinta bocah ternyata.' Dari informasi tertulis dari anak buahnya tersebut, Diana juga mengetahui hal lain, yang mengakibatkan dirinya salah paham terhadap masa lalu anaknya bersama Laras. Penjelasan laporan tersebut yang menjelaskan banyaknya pertemuan dan kebersamaan Gavin dan Laras. Laras sering menemui Gavin di sekolah, pulang bersama dan kerap kali makan siang atau malam di tempat yang sama, membuatnya berpikir bahwa keduanya cinta lokasi dan menjalin hubungan sepasang kekasih. "Tidak salah lagi. Gavin dan Laras itu pasti pacaran, tapi kenapa Gavin tidak jujur padaku tentang ini, ya ... Hm, apakah karena selisih umur mereka yang kira-kira jika dihitung 6-7 tahun, ya.... Apakah Gavin berpikir cinta mereka terlarang dan takut menceritakan hal itu padaku?" Gumam Diana bertanya-tanya. Brakk!! Suara gaduh di depan ruangannya menyentak dirinya kaget dan segera beranjak untuk memeriksanya. "Kamu ini susah sekali sih, dibilangin sebagai perempuan. Masih sakit, tapi nekat kerja. Ayo ikut aku, biar kita pamit pulang pada Mama." Gavin terdengar memaksakan kehendaknya pada Laras. "Aku udah baik-baik saja, kenapa sih nggak percayaan gitu. Lihatlah dan rasakan, bahkan panas pada tubuhku sudah turun. Sudahlah biarkan aku kerja dan pergilah. Ckck, jadi pria kok kaya tidak punya pekerjaan saja!!" omel Laras kesal berusaha pergi dari depan ruang kerja Diana, sementara Gavin malah menyeretnya ke arah lain. "Laras!!" Gavin mengeram marah. "Apalagi?" tanya Laras dengan perasaan luar biasa kesalnya. "Kita ketemu mama, lalu setelah itu pulang!!" "Nggak mau! Ngerti nggak sih, maksudku nggak mau, artinya aku ingin tetap berada di sini, bekerja sampai tiba waktunya pulang! Eh-- arrrggghhh ... Lepaskan!" Gavin yang tak suka dibantah langsung menggendong Laras dan gadis itu secara spontan berteriak sambil memberontak. Gavin mengabaikan teriakannya, namun tidak dengan Diana yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya. Wanita paruh baya itu geleng kepala menyaksikan kelakuan keduanya, tanpa Gavin serta Laras sadari. "Aargh, Laras!! Sial ...." Gavin mengumpat kelepasan akibat Laras yang nekat menggigit bahunya. Beruntung saja hal itu tak membuat Gavin serta merta menjatuhkan tubuh Laras. "Lepaskan aku, atau kau ingin merasakan gigiku lagi, hah?!!" Ancam Laras yang membuat Gavin menyerah dan menurunkan tubuh Laras perlahan. "Dasar tidak sopan, beraninya memanggilku tanpa embel-embel dan menggigit bahuku sembarangan. Jika kamu jatuh bagaimana? Dasar gadis bodoh!!" geram Gavin akhirnya menurunkan Laras dari gendongannya. Sementara itu Laras tidak menjawab dan hanya balas menatap Gavin sinis sambil melipat tangannya di depan d**a. Keduanya terus bertengkar diperhatikan oleh pegawai yang lewat sana dan juga Diana yang menonton aksi keduanya tanpa berpaling. "Sudah selesai bertengkarnya?" interupsi Diana menyadarkan keduanya, jika mereka sudah menjadi tontonan orang-orang disekitar mereka. Gavin dan Laras kompak menoleh ke arah Diana dan wanita paruh baya itu mengode keduanya agar masuk ke dalam ruangannya. "Sebenarnya apa masalahmu Gavin. Mama perhatikan sejak kamu pulang dari luar negeri kamu jadi sering ke butik dan mengganggu Laras?" Diana langsung ke intinya. Tak masalah ada Laras di sana, sebab wanita paruh baya itu juga penasaran dengan banyak hal mengenai Gavin putranya ini dan hubungannya dengan Laras. "Dan Laras aku mohon padamu jelaskan kepadaku, sebenarnya apa yang anak nakal ini incar darimu sampai selalu saja terus mengusikmu?" "Aku tidak begitu, Ma. Aku tidak--" "Diam kamu. Tadi Mama tanyakan padamu, kamu tak menjawab. Sekarang bagian Laras, jadi biarkan dia yang menjawabnya!" Potong Diana sengit memperingatkan Gavin. Pria itu menghela nafasnya pasrah. Tidak ingin dicap anak durhaka, membuat Gavin menurut apa kata mamanya. "Ayo Laras, katakanlah yang sebenarnya. Saya yakin, kalian terus bertengkar bukan tanpa alasan dan Gavin yang mengganggumu pasti karena mengincar suatu hal." Laras gugup dan bingung hendak menjawab apa, sehingga gadis itupun hanya menggeleng pelan tidak tahu harus mulai dari mana. Diana berdecak kesal dan kemudian menyandarkan dirinya pada sandaran kursi. Wanita paruh baya itu menghela nafasnya panjang kemudian mengeluarkan dokumen yang beberapa saat lalu sudah dibaca olehnya sebelum mengundang masuk Laras dan Gavin. Gavin menerima dokumen tersebut dan membaca isinya dengan kening yang mengerut. Laras yang melihat itu menjadi penasaran dan ikut melihat. "Kalian ini pacaran, tapi kenapa terus bertengkar sih? Dan kenapa kamu Gavin tidak memberitahu pada Mama hal ini. Apakah kamu malu karena jarak usia kalian yang cukup jauh, sampai kira-kira 6-7 tahun? Atau kamu punya alasan lain?!" Gavin mengerutkan dahinya dan langsung mengelak. "Tidak. Bukan begitu, Ma. Sebenarnya aku dan Laras ini adalah--" "Sepasang kekasih?" potong Diana sengit. Laras menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, Bu. Saya dan Pak Gavin, mmm ... Maksudku dia itu hanyalah salah satu guruku di masa SMA." Diana mengangguk paham. "Ya-ya ... Guru yang selalu kamu uring-uringan bukan?!" Sarkas Diana sengit, bola matanya menyipit menatap intimidasi Laras sampai gadis itu terlihat semakin gugup karenanya. "Aku mengerti sekarang. Sudah jelas masalah enam tahun belakang ini. Gavin yang merupakan orang dewasa mungkin berpikir hubungan percintaan guru-murid bukanlah hal baik, dan itulah yang membuatnya takut. Jangan-jangan itulah juga alasan Gavin pergi ke luar negeri tak pulang-pulang empat tahun ini. Hubungan kalian," tebak Diana menyatukan kepingan-demi kepingin yang membuatnya menciptakan jawaban dan kesimpulannya sendiri. Kenyataannya adalah bahwa sebenarnya tak ada hubungan apapun antara Laras dan Gavin di masa lalu. Kebenarannya Laras sering menemui Gavin di sekolah akibat kenakalannya yang doyan gosip, sehingga harus menerima konsekuensinya dari Gavin gurunya. Sering pulang bersama, sebab arah pulang keduanya yang sama dan masalah makan siang atau malam di tempat yang sama itu juga hanyalah masalah kebetulan yang sama juga. Keduanya memiliki persoalan selera makanan yang sama dan itu membuat mereka acap kerap kali bertemu di restoran atau kafe yang sama tanpa disengaja. Kemudian alasan Gavin pergi jauh keluar negeri juga bukanlah Laras penyebabnya, tapi Raya gadis yang pernah menjadi pemilik hatinya. Pria itu menjauh untuk menyembuhkan sekaligus melupakan sesuatu yang tidak bisa dimiliki olehnya. Siapa sangka Raya gadis yang juga pernah menjadi guru Laras itu, merupakan jodoh orang lain yang pernah diusahakan olehnya untuk menjadi miliknya. Gavin bahkan rela menjadi seorang guru demi seorang Raya, untuk mendekati wanita itu di tempat kerja dengan mengabdi menjadi pengajar dari sekolah yang sama. Namun apa yang didapatkan pria itu adalah hal yang malah memaksanya mundur jauh. Undangan pernikahan perempuan itu dengan pria, membuatnya yang saat itu terlalu pecundang dan melarikan diri ke luar negeri. "Kami tidak pacaran, Ma," ulang Gavin memberi pengertian. "Lalu apa Gavin Ivander Zeroun, apa namanya untuk hubungan kalian ini. Jelas-jelas semua itu mengarah pada apa yang Mama pikirkan?!!" ujar Diana kesal dan menuntut dan bahkan sampai mengucapkan nama lengkap putranya itu sangking kesalnya. Gavin terdiam sejenak kemudian mengambil nafas. Di sisi lain Laras terlihat risau dan gelisah teringat kebenaran tentang hubungan mereka yang sekarang. Mungkinkah dia harus jujur? "Kami sudah menikah!" "Apa??!" "Laras istriku dan aku ini suaminya. Jadi apakah salah jika aku rindu dan lebih sering ke butik Mama untuk menemuinya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD