Bagian 6

1053 Words
Laras yang keras kepala tidak mau menuruti perkataan Gavin. Meskipun tidak berani membalaskan perbuatan pria itu, Laras memberontak dengan cara enggan menyentuh barang pemberian Gavin. Ia tidak menggunakan ponsel baru yang Gavin berikan dan tidak juga mengganti pakaiannya dengan pakaian baru dari Gavin untuknya. Gadis itu hanya terus meringkuk memeluk erat photo barang-barang miliknya yang sudah terbakar tersebut. Jerih payah hasil kerja kerasnya selama dua tahun terakhir ini, berakhir sudah menjadi abu dan abadi dalam kenangan sebuah photo. Namun kalau dipikir-pikir lagi, bisa-bisanya juga Gavin masih sempat mengambil foto dan mencetaknya. Betapa mengenaskannya hidup Laras sejak bertemu Gavin setelah sekian lama. Cuaca buruk membuatnya sakit, lalu berakhir terjebak menikah dengan orang paling dibencinya itu. "Bangun!" Gavin tiba-tiba menarik tubuh Laras lalu membuatnya bersandar di sandaran tempat tidur. "Sial. Demam yang kamu alami kembali memburuk. Ayo kita makan, agar setelahnya kamu bisa minum obat." Laras tersentak dan langsung memberontak. "Aku nggak mau, kamu saja yang makan. Aku mau mati saja menyusul semua barang-barang hasil jerih payahku! Pergi sana dan tidak usah memperdulikanku!!" Pletakk! Ah, Gavin ini memang tidak tau kondisi ketika kesal. Sudah tahu Laras masih sakit, pria itu masih teganya menyentil dahinya dengan keras. "Sakit?" tanya Gavin mengintimidasi membuat Laras yang spontan mengelus dahinya yang baru saja disentil langsung mengangguk polos. "Udah tahu sakit, masih saja ditanya? Dasar jahat, otoriter dan pemaksa! Kepalaku pusing, badanku makin terasa meriang, tapi apa yang kau lakukan. Seorang Bapak Gavin Ivander Zaroun yang terhormat, masih saja tanpa kasihan menambah sakitku! Dasar tidak punya hati!!" umpat Laras kesal mengeluarkan uneg-unegnya. "Aku tidak sudi menjadi istrimu dan aku sangat sangat membencimu. Dulu kau yang bilang tidak akan ada satupun pria yang mau dengan wanita bodoh sepertiku, tapi kenapa sekarang kau sendiri yang malah menikahiku, kenapa, hahh?" Ingin rasanya Gavin menjawab jika dirinya melakukan itu karena terpaksa dan terjebak dalam situasi yang mengharuskan dirinya menikahi Laras. Namun kali ini pria itu menahan diri untuk tidak mengatakannya, sebab merasa percuma juga mendebat Laras. Lagipula menurut Gavin, meladeni amarah gadis bodoh hanya akan membuatnya ikut bodoh. "Sudah mengomelinya?" tanya Gavin tenang dengan raut datarnya. "Sekarang kita makan!!" Kemudian tanpa peringatan pria itu menarik dan menggendong Laras. Untuk selanjutnya penyiksaan di atas meja makan kembali terjadi. Bagaimana Laras yang menolak makan dipaksa keras oleh Gavin mengunyah serta menelan makanannya. Gavin mencengkram rahang Laras agar membuka mulut dan menghabiskan makanannya. Ditengah kejadian makan, telepon baru milik Gavin berdering. Pria itupun menjawab setelah beranjak beberapa jarak dari Laras. Setelah selesai mengobrol, Gavin kembali ke sisi Laras. "Siapa?" Tanya Laras dengan penasaran. "Orang tuamu," jelas Gavin tegas. Laras mengerutkan dahinya heran. "Bagaimana Bapak bisa mengetahui nomor ponsel orang tuaku?" "Empat tahun lalu kau adalah muridku yang nakal dan ingat kau pernah bermasalah denganku yang mengharuskan orang tuamu berurusan langsung untuk menyelesaikan masalahmu padaku. Jadi tentu saja aku sempat menyimpannya di draft kontakku!" Laras meneguk ludahnya kasar, menyelam membayangkan sekilas masa lalunya, lalu mengaruk kepalanya yang tak gatal. Gadis itu ingat jelas bagaimana dulunya ia bersama Audi sahabatnya merupakan biang gosip sampai mendapat gelar ratu gosip dari teman-temannya. Laras semasa SMA-nya suka menggosipkan Gavin dan mengatai pria itu dibelakangnya. Paling buruk adalah bagian perkataannya sembarangan yang menyebar menjadi fitnah mengenai Gavin yang membuat orang tuanya berurusan dengan Gavin. Hal lainnya, gosip membuat Laras kecanduan sampai hilang fokus pada pelajaran dan sekarang itu kenangan itu membuatnya merasa begitu malu. "Jangan melamun, aku tahu kau malu dengan kelakuan bodohmu itu!" Sentak Gavin menyadarkan Laras dari kenangan masa lalunya. "Oh, ya. Aku sudah memberitahu kepada kedua orang tuamu mengenai pernikahan kita beberapa hari lalu dan mereka menghubungiku untuk menanyakan dirimu. Serta satu hal lainnya, minggu depan ijab kabul pernikahan kita yang diwakilkan pada wali KUA akan diulang atau diperbaiki, mengingat kau masih mempunyai ayah yang masih sehat walafiat." Pertama kalinya keduanya tidak bertengkar dan berbicara dengan dewasa. Malamnya Laras berbicara menghubungi ibunya menggunakan telepon barunya. Gadis itu mencurahkan kejadian buruk yang sudah dialaminya sampai bisa menikah dengan Gavin. Beruntung baik ibu atau ayah yang sudah lebih dahulu mengetahui hal itu dari Gavin, bersikap bijak dan mempercayai sepenuhnya perkataan Laras. Malam itu juga ibunya banyak memberikan nasehat dan kata-kata bijak. Ibunya itu dengan lapang d**a menyarankan putrinya agar menerima pernikahannya dengan ikhlas dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Apa yang sudah jadi takdir sudah seharusnya Laras terima. Tak lupa ibunya memberi petuah agar Laras menjadi istri yang berbakti pada suaminya dan sejak itulah Laras agak melunak pada Gavin. Gadis itu berusaha berdamai dengan keadaan dan menerima apa yang sudah terjadi kepadanya. 🌂🌂🌂 "Aturan nomor satu...." Dahi Laras mengerut membaca selembar surat perjanjian pernikahan yang diserahkan Gavin dan sudah ditandatangani olehnya sebelumnya dengan paksa. "Apa-apa ini, siapa yang mau menikah dengan Bapak?" "Seharusnya kau merasa beruntung, dari kejadian naas kemarin lalu. Kau sudah berhasil mendapatkan pria kaya seperti mimpimu dulu dan itu berarti ada yang mau menikah dengan 'gadis bodoh' sepertimu," jawab Gavin sambil menekan kata gadis bodoh kepada Laras. 'Huhh... Pria ini ternyata masih mengingat perkataan konyol yang ku katakan dulu, 'cita-cita menikahi pria kaya' aneh ....' Laras meringis sambil membatin. "Baiklah tidak masalah," Jawab Laras pasrah. 'Baikin dulu orang ini, kali ya. Lagipula benar katanya, harusnya aku bersyukur masih ada pria baik yang mau menikah denganku,' sambung Laras membatin sambil merenungkan nasib ketidakberuntungannya selama ini. Cantik tapi tak satu pria baik pun mau dengannya persis seperti perkataan Gavin. Kalau yang b******k, banyak dan sudah pada antri, tapi siapa yang mau sih dengan pria yang jelas-jelas brengseknya? "Baiklah. Jika sudah begitu, mulai hari ini ganti panggilanmu padaku." "Terus aku panggil bapak dengan panggilan baru apa?" "Terserah," jawab Gavin acuh. "Kalau begitu mending tidak usah diganti sekalian. Tetap panggil Bapak aja." "Aku bukan Bapak kamu, Laras!" Laras menghela nafas. "Baiklah, nggak usah ngegas segala juga kali. Ok, mulai saat ini aku panggilnya Mas," putus Laras diakhir kalimatnya. Gavin mengangguk setuju dan keduanya pun mulai sepakat. "Aku ingin dengar, coba katakan?" Laras menghela nafas malas dan tiba-tiba keisengan terlintas dalam kepalanya. "Massshh Gavinhh!" Panggil Laras sambil mendesah centil membuat Gavin tak tahan untuk tidak segera menyentil dahi Laras. "Argghhh! Sakit tau!!" Gavin mendelik menatap tajam memelototi Laras. "Dasar gadis Nakal. Ckck, ini pasti karena kamu belum minum obatnya pagi ini, ya?" "Apaan sih? Ngada-ada deh. Katanya minta panggilin 'Mas' mau ngetes aku, pas akunya melakukan, kok malah disentil jidatnya sih? Nyebelin!!" Laras menatap galak dan Gavin balas menatapnya dengan garangnya. "Kamu yang menyebalkan!" "Kamu!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD