Bagian 5

1181 Words
“Saya terima nikah dan kawinnya Tsyaniah Larasati Savero binti Gunawan Savero dengan maskawin tersebut dibayar tunai.” Begitulah keputusan akhir yang disepakati oleh warga sekitar, setelah diadili oleh tokoh masyarakat, petinggi, dan yang menjabat memimpin masyarakat. Membuat Gavin dan Laras terpaksa terikat dalam hubungan sakral. Pernikahan. Siapa yang menduga bahwa kejadian buruk yang baru saja mereka alami merupakan sebuah jalan untuk mempersatukan keduanya. Gavin akhirnya menikahi Laras dengan terpaksa, dan mau tak mau mereka menjadi sepasang suami-istri. Mas kawin seadanya, pakaian pengantin yang disediakan warga dan acara pernikahan yang luar biasa sederhananya. Menikah di mesjid dengan saksi para warga yang cukup antusias memaksa keduanya melakukan pernikahan tersebut. Tidak tanggung, warga itu sebelumnya juga memaksa Gavin agar mengurus surat dan buku pernikahan yang sekarang sudah ditandatangani keduanya mempelai secara bergantian. Tak ada persiapan sama sekali, baik bagi Gavin dan Laras yang kini resmi terikat di dalam ijab kabul dan catatan yang sama yakni buku nikah. Namun berbeda dengan warga, yang sepertinya sigap dan punya persiapan tersendiri. Dari cara mereka yang cekatan mengurus serta mempersiapkan pakaian pernikahan dan hal lain yang berhubungan dengan pernikahan, tampaknya mereka sudah biasa melakukannya. Dari percakapan Gavin dengan salah satu tokoh masyarakat yang cukup bijak di sana dan merupakan salah satu orang yang bisa dipercayai. Gavin mengetahui fakta bahwa perkampungan itu memang rawan menikah seperti yang mereka lakukan barusan. Menikah terpaksa karena kepergok m***m digubuk m***m. Tak jauh dari pemukiman warga, yakni pondok yang Gavin dan Laras jadikan hunian semalam ternyata tempat itu adalah salah pondok yang biasa digunakan oleh anak muda untuk melakukan hal sesat. Mengisap lem, judi dan paling sering ditemukan berbuat m***m. Warga di sana bukan tidak melakukan tindakan pencegahan. Berulang kali mereka merubuhkan pondok tersebut, tapi rubuh satu malah tumbuh banyak. Masyarakat di tempat itu bahkan sudah sangat kewalahan menghadapi kemaksiatan yang kerap kali terjadi. Petugas keamanan seolah dianggap acuh oleh pelaku maksiat. Mau bagaimana lagi anak muda dari dalam dan luar pemukiman tersebut banyak yang suka ke tempat tersebut, karena letaknya cukup strategis. Jalan pintas yang sepi dan dikelilingi hutan membuatnya menjadi tempat yang pas untuk melakukan tindakan maksiat. Tak hanya itu pada saat petugas hukum menangkap pelaku kejahatan dengan menggunakan keahlian tingkat tinggi, maka para pelaku kejahatan akan mengeluarkan keahlian kabur tingkat dewa mereka. Hukum berkuasa, tapi kejahatan lebih menguasainya. Hidup memang tidak adil, tapi begitulah adanya kita terpaksa terbiasa. Pembegalan, pencurian dan terakhir perzinahan adalah sesuatu yang sudah menjadi masalah utama yang mendarah daging pada pemukiman itu. Biasanya warga akan mengarak pasangan m***m yang ketahuan melakukan perbuatan b***t sebelum kemudian dinikahkan, akan tetapi penjelasan dari Gavin yang masuk akal dan bisa dipercayai, tetua adat menyelamatkan Gavin dari hal mengerikan itu, meskipun pada akhirnya warga tetap tidak memberikan toleran dan bersikeras agar mereka menikah. Setelah tiga hari ditempat itu, Gavin dan Laras yang kondisinya perlahan membaik kini sudah diperbolehkan meninggalkan tempat itu. Tentunya dengan bantuan tokoh masyarakat yang mengantarkan keduanya naik bus menuju pusat kota. "Kenapa sih Bapak, ngikutin aku dari tadi?" heran Laras bingung. "Bereskan barang-barangmu, ikut aku pulang ke apartemen milikku!" Tegas Gavin bukannya menjawab dan balas memerintah. Laras mendengus kasar sambil menahan denyutan nyeri akibat demam yang dialaminya belum sembuh sepenuhnya. "Jangan bilang kalau Bapak serius dengan pernikahan itu?" tebak Laras tak percaya. Gavin mengerutkan dahinya geram dengan ucapan Laras. "Jadi kau anggap pernikahan kita tiga hari lalu, hanya main-main?!" Laras mengangguk ragu. "Begitulah yang terjadi bukan. Kita menikah hanya agar terbebas dari amukan warga dan semua itu terjadi karena salah Bapak. Sudah tau lokasi itu tempat m***m masih saja nekat membawaku berteduh di tempat begitu, huh!!" "Kau ini benar-benar bodoh, ya. Hal sakral seperti itu beraninya kau anggap hanya main-main. Dengar baik-baik ini Nona bodoh yang tidak tahu diri. Pertama, meski Aku tidak pernah menginginkan kejadian itu, Aku tetap tidak meremehkan pernikahan kita. Terima tidak terima kau adalah istriku dan aku adalah suamimu, dan yang kedua aku juga baru mengetahui jika pondok itu tempat maksiat setelah kita menikah. Jadi jangan seenaknya menuduhku sengaja membawamu ke sana!" ucap Gavin menjelaskan sambil mengeram. "Ya, tapi tetap saja semua itu berawal dari pemaksaan Bapak yang bersikeras menawarkan bantuan membawaku ke dokter. Jadi itu tetap salah Bapak bukan Aku!!" jawab Laras keras kepala menyalahkan Gavin. "Andaikan saja Bapak membiarkan aku pulang sendiri, maka kejadian itu tak akan pernah terjadi." Wajah Gavin muram menahan marah. "Baiklah itu salahku. Anggap saja begitu, tapi sekarang cepat bereskan semua barangmu, sekarang!!" Laras mendelik sambil mengangkat alisnya. "Tidak mau," jawabannya dengan enteng, membuat Gavin semakin terbakar marah. "LARAS!!" Peringkat Gavin dengan suara naik dua oktaf. "Ya, Bapak Gavin Ivander Zaroun yang terhormat! Kau marah, tidak terima? Persetan dengan hal itu aku sudah tidak takut denganmu, sebab aku pun sudah tidak butuh nilai bagus di lapor sekolah ku darimu, sebab waktumu menjadi guruku sudah berakhir dan kau tidak bisa berbuat sesuatu yang bisa membuatku terancam!!" Laras sudah hilang akal, berani mengatakan hal demikian, terlebih lagi nada suaranya membentak cukup keras. Tapi jelas saja dia juga jadi gila, sakit dan masalah yang dialaminya kurang lebih tiga hari ini benar-benar menguji kesabarannya. "Apalagi yang Bapak tunggu? Keluar dari rumahku, karena aku ingin segera beristirahat!!" sambung Laras berani sambil mengibaskan rambutnya angkuh. Brakk!!! "Arrrggghhh!! Apa-apaan ini, lepaskan aku! Turunkan tubuhku, aku tidak mau ikut denganmu! Tidak akan, sampai mati pun aku tidak mau ...." Pada akhirnya Gavinlah yang tidak bisa menahan amarahnya membawa pulang Laras dengan paksa bersamanya. Laras sudah gila atas apa yang sudah dikatakan oleh mulutnya sendiri kepada pria yang pernah dihormati, ditakuti, dan pernah jadi gurunya itu. Akan Tetapi sepertinya kegilaan Laras masih belum sebanding dengan Gavin. Setelah membawa pulang Laras, pria itu dengan tega mengunci istrinya yang masih belum sepenuhnya sembuh itu selama beberapa waktu. Gavin pergi beberapa waktu dan tak lama kemudian dia kembali membuka pintu dan menemui Laras dengan memperlihatkan selembar foto mencengangkan. Sontak saja Laras melotot dan nafasnya berubah tak beraturan. Gadis itu langsung mengepalkan tangan menahan amarahnya. Terlihat dengan jelas dalam photo tersebut bahwa semua barang-barang milik Laras, dibakar habis oleh Gavin. Amarahnya naik sampai ke ubun-ubun dan hal itu membuatnya berhasil mengalahkan akal sehatnya. "Hiks!! Apa yang kau lakukan, bagaimana bisa membakar semua barang milikku? Apakah kau tidak tahu semua itu adalah hasil jerih payahku, hahh?! Aku siang dan malam begadang menggambar dan mendesain pakaian untuk mendapat semuanya itu. Baju, tas, sepatu, aksesoris dan barang lainnya, aku mendapatkannya dari hasil perjuangan beratku!!" Laras menuntut mengamuk tak habis pikir dengan Gavin. "Aku tidak peduli. Itulah akibatnya kau berani kepadaku gadis bodoh," Gavin meremehkan. "Apa yang kau katakan sebelumnya? Sudah tidak takut padaku karena kau bukan lagi murid ku yang membutuhkan nilai bagus, hah?!" ejek Gavin tersenyum smirk meremehkan Laras. Laras yang tidak menyangka perbuatan Gavin, terus mengeram dan menatap marah pria yang sudah menjadi suaminya itu. "Sekarang kau tau akibatnya berani meremehkanku, Laras. Ini masih permulaan. Lain kali jika kau masih berani melawanku, bukan hanya barang-barang milikmu yang akan terbakar, tapi juga kau!" Gavin menjeda kalimatnya dan melemparkan dua bingkisan kepada Laras. "Ambil itu, gunakan ponsel barumu dengan baik dan kenakan pakaian itu untuk mengganti pakaianmu yang sekarang." Setelah mengatakannya, Gavin berlalu dari sana. Tersenyum puas dengan penyiksaan dan caranya memperingatkan Laras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD