Hiruk pikuk rumah sakit yang biasa kusaksikan kini berubah menjadi wahana menyeramkan yang harus kuhadapai. Di ruangan itu, ada seseorang yang mungkin baru kutahu semenyakitkan ini rasanya melihat ia dengan segala alat penunjang hidup yang terpasang di tubuhnya. Inikah rasanya hampir kehilangan? Bahwa aku juga menyadari kalau ia berharga. Aku mencintainya. Tapi, saat semua sudah terjadi. Apa yang bisa kusesali? Nggak ada. Demiko, berapa kali ia mencoba memperjuangkanku, memintaku, dan yaa mengatakan perasaannya kepadaku. Entahlah, aku tak menghitungnya, mungkin saking banyaknya dan aku tak acuh begitu saja. Kini, aku juga menyadari siapa lelaki yang tiba-tiba datang menemaniku saat aku terperosok karena patah hati. Dia datang, memberikan kehangatan seperti ribuan bunga matahari yang ia

