“Hari ini aku ada operasi. Jangan nungguin aku ya,” ucap perempuan itu sambil mengecup pipiku, meraih tanganku dan pergi setelah mengucap salam. Sementara aku hanya bisa duduk di sini. Berdiam diri. Tanpa ada yang bisa kulakukan. Di kursi roda yang membatasi segala aktifitas ini, aku menjadi pribadi yang lemah. Dan masih tercetak jelas di ingatan bagaimana Freya dengan gigih mengajakku menikah sedetik setelah kesadaranku kembali. Sementara aku, apa iya bisa menolaknya? Sebulan yang lalu ... “Saya mohon, Mik. Kembalilah. Maafkan saya,” “Mik, saya menerima tunangan kamu. Ayo kita persiapkan semuanya dan ayo kita menikah.” Semua suara itu terus saja memaksaku untuk kembali. Rasanya penasaran dengan wajah perempuan yang terus memintaku untuk segera kembali. Dia siapa? Kembali kemana?

