Bisa dikata aku nyaris gila. Bukan, lebih tepatnya sudah sedikit gila karena terpikirkan perkataan Vika tempo hari itu.
Menikah?
Sebegitu inginnya Vika menikah?
Hei, bukannya aku tak ingin. Tapi tentang Vika ...
Aku masih belum percaya dengan hatiku sendiri. Bukan aku tak siap untuk berkomitmen. Tapi lebih kepada tidak siap untuk menyakiti anak orang.
Menikah. Aku sangat tahu jika hal tersebut menyempurnakan setengah agama. Aku sangat tahu hal tersebut jauh lebih baik daripada hanya sekedar berhubungan dengan status pacaran.
Bukannya aku tak paham. Justru aku sangat paham betul akan hal tersebut.
Teori, bisa dikata sudah fasih kukuasi. Tinggal praktek.
Masalahnya, ini tentang Vika.
Hatiku belum seratus persen kepadanya. Bagaimana ya mengatakannya???
Ada bagian di dalam hatiku yang sangat berat untuk menerima Vika seutuhnya. Entah karena apa aku juga tak paham.
Tapi di sisi lain aku juga tak bisa melepaskan Vika begitu saja hanya karena aku takut menyakitinya.
Tapi bukankah mempertahankan Vika dengan segala kepalsuan hati ini lebih menyakitkan untuk Vika kedepannya?
Ya, Vika akan lebih sakit lagi jika mengetahui kebenaran ini.
Lalu aku harus bagaimana?
Aku memang bukan tipikal lelaki yang bisa menyimpan masalah sendiri. Dan aku butuh seseorang untuk mendengarkan segala keluh kesahku.
Ah, andaikan ada Valerie di sini, sudah kupastikan dia yang akan menjadi tempat sampah akibat galau akutku ini.
Gila,
Hanya karena perkataan Vika tentang menikah aku menjadi segalau ini. Padahal sebelumnya biar kata teman-temanku banyak yang melontarkan bully karena aku belum juga menikah. Aku juga tak ambil masalah akan hal itu. Tapi kini?
>>>Djati Lounge, 20:14 WIB
Ya, akhirnya pilihanku jatuh untuk sedikit mencurahkan sedikit gundah gulanaku sebelum aku benar-benar gila.
"Suwene beh?!" gerutu Wira salah satu sahabtku yang sengaja kuundamg malam hari ini.
"Enarupes, macet total, umak paham kan?"sahutku sambal menduduki tempat yang masih kosong.
Ada aku, Wira. Aji, Irsyad, dan Danny. Kami berlima besahabat sejak SMA. Karenanya, mereka juga mengenal baik siapa Davika Raninsyah di kehidupanku.
Waktu janjian kita memang jam tujuh-an. Tapi kondisi Kota Malang saat sekarang jangan di samakan dengan beberapa tahun silam yang masih bisa sebebasnya untuk tracking di sepanjng jalan protocol kota.
Jangan ditiru tapi.
Jangankan, tracking, untuk bisa berkendara kecepatan normal 60km/jam saja sudah sangat sulit apalagi di jam-jam crowded seperti jam 7 pagi dan jam 5 sore.
Ya, memang Malang kini sudah semcam Surabaya atau Jakarta Saja. Semi metropolit.
Apalagi jika Sabtu malam a.k.a –malam Minggu- seperti sekarang ini. Belum lagi ditambah jika ada pertandingan Arema di kandang sendiri. Sudah barang tentu berdiam diri rumah adalah pilihan terbaik daripada kejebak macet dan tidak jadi menikmati ritual Sabtu malam-an.
"Jadi, umak kenapa?" tanya Aji tanpa basa-basi.
Padahal ya, ini kita baru saja meet up setelah sekian lama vakum karena kesibukan masing-masing yang super gila.
"Umak gak tanya gimana ayas punya rabak?" tanyaku balik sambal menyerobot dengan santainya lime squash di depan Danny.
"Ayas paham, rabak umak gak kipa, jadi kenapa?" dan Irsyad lah yang paling bisa membaca keadaanku hanya dari memandangiku sekilas.
Psikiater sih, Ck !!
"Vika ngajak nikah"
Hanya satu kalimat dan biarkan mereka berekspresi. Aku ingin melihatnya.
Byurrr
Aji sialan, bisa-bisanya pakai adegan kaget dan menyemburkan minuman seenaknya. Dia pikir ini FTV?
"Serius?" ini lagi satu. Wajahnya yang tak bisa santai itu, si Wira.
Sementara Danny dan Irsyad hanya diam sambal saling melemparkan pandangan satu sama lain.
Apa maksudnya?
"Ya tinggal nikah sih" jawaban Danny dengan woles-nya.
Umak pikir nikah itu segampang minta uang ke mbahmu a?
Aku masih diam tak menyahut. Semacam enggan untuk menanggapi mereka yang mukanya absurd semua.
"Dan umak belum bisa mencintai Vika sepenuhnya? Begitu?"
Straight ...
Lagi-lagi Irsyad memperlihatkan kemampuannya yang seperti cenayang itu. Well, mungkin dia lebih cocok menjadi cenayang daripada psikiater.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Nyatanya aku ke sini untuk mencari solusi. Dan sudah terlambat untuk bilang tidak. Mereka juga tak sebodoh itu untuk melihat ekpresi wajahku yang terlalu buruk ini.
"Kalau begitu putusin Vika" titah Danny tajam.
Aku menggeleng cepat. Ya kali, semudah seperti ucapanmu Dan.
Ck, itu bukan solusi. Kalau aku bisa, sudah kulakukan kapan hari tanpa minta persetujuan para cecurut kampret ini.
"Nek umak gak gelem putus, yo nikaho beh, ojo digantung !!!" kini Wira yang menyolot.
Wira memang paling keras masalah seperti ini. Pasalnya dia satu-satunya yang sudah menikah di antara kami berlima. Meskipun slengek-an tapi dia yang paling lurus. Tidak suka dengan cinta-cintaan yang tanpa ujung sepertiku ini. Karena menurutnya menikah adalah jalan terbaik dari berlabuhnya suatu cinta.
Dan kami berempat belum mempraktekkannya.
Ya, bisa dibilang wajar kan?
Kami itu calon hot papa dengan segala kesibukan yang mendera.
Masih calon lho ya ... Belum jadi. Karena kami belum papa.
Sibuknya kita juga untuk masa depan yang cerah bro ...
Jangan dikiran kita main yang ena-enak atau apalah itu. Bukaan.
Aku yang seorang dokter hewan merangkap entrepreneur jangan ditanya lah yaa. Walaupun profesiku yang dokter hewan semacam freelance tapi bukan berarti aku tak punya pasien untuk disibukkan. Apalagi mengurus perkebunan dan peternakan yang masyaAllah itu. Jangan ditanya.
Sementara si Danny lulusan magister Hukum yang kini punya firma hukum sendiri. Mengurusi akta tanah, sebagai notaris dan sebagainya. Kelas elit si Danny mah.
Atau Irsyad, si psikiater alias dokter jiwa yang untungnya dia tidak ketularan sakit jiwa karena pasien-pasiennya itu. Tapi dia gila kerja, Ck !!
Belum lagi Aji si machine engineer yang saat ini sedang mendapat promosi untuk jabatan general manajer di salah satu perusahaan otomotif terkemuka di Indonesia. Bahkan di Asia, sudah tak perlu sebutkan namanya. Dikira endorse lagi !!
Dan terakhir si Wira yang biar kata slengek-an seperti kataku tadi tapi dia yang paling lurus untuk menyudahi cinta-cintaan ilegalnya itu dan berlabuh menjadi cinta halal. Benar-benar orang bener. Wira yang notabene menjadi staff IT di salah satu perusahaan telekomunikasi itu tentunya sudah sangat percaya diri untuk datang meminang istrinya dulu. Ya jelas langsung diterima dan menikah dengan mudahnya. Karena memang mereka sama-sama saling cinta. Mau di kata apa? Nunggu apa?
Sementara aku?
Hei. Aku bukannya tak mapan lho ya. Tapi taulah ....
"Kodew itu butuh kepastian beh, apalagi Vika juga gak muda lagi di usia perempuan produktif, umak sendiri paham kan?" Aji menyahut.
Mereka semua benar. Aku memang yang salah. Dan sekeras apa aku mencoba curhat ke mereka. Nyatanya semua pilihan dan keputusan ada di tanganku. Ck !!
>>>>Ada apa?
"Kamu dari mana saja? Vika dari tadi nunggu kamu di sini, dan hape-mu kenapa gak bisa dihubungi?" kini ayah yang angkat suara.
Deg.
Astaga, aku lupa !!!
Tanpa babibu lagi bahkan aku juga lupa untuk pamit permisi dengan ayah dan ibun, aku langsung berlari menuju kamarku. Ya, mencari tempat yang aman untuk berkomunikasi dengan Vika yang tentunya kedap untuk bisa didengar ayah dan ibun. Karena ini pasti akan menjadi masalah. Dan siapa yang tahu kalau di tengah-tengah ada aksi aku mengeluarkan suara delapan oktaf.
Segera ku aktifkan iPhoneku yang memang sengaja kumatikan karena aku memang benar-benar tidak sedang ingin diganggu siapapun ketika berkumpul dengan para bocah gendeng tadi.
23 missed called
BBM massage from Devika Raninsyah, ST. :
19.03
Kamu di mana mik? Aku ada di rumah, tak tunggu ya, kamu gak lupa kan?
19.10
PING !!!
PING !!!
19.13
Mik???
19.21
PING !!!
PING !!!
PING !!!
PING !!!
PING !!!
19.42
Oke mik aku pulang aja, kabarin kalau sudah ada di rumah
Hanya ada satu kata.
CELAKA
Baiklah, coba selesaikan yang katamu 'celaka'karena ulahmu sendiri mik !!
Aku mencoba menghubungi Vika tapi hanya sahutan operatorlah yang menjawab.
Sial !!