Problem Everywhere – Freya Katyaluna

1407 Words
Sudah hampir dua minggu ini aku begitu disibukkan dengan berbagai operasi dari departemen bedah syaraf. Hal tersebut membuatku sulit untuk bertemu dua lelaki penting dalam hidupku. Arga dan Fachry, pun sepertinya mereka juga tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Satu gedung tempat kerja, tapi nihil. Seluas-luasnya RMC apa tidak keterlaluan jika selama dua minggu ini kita benar-benar tidak pernah bertemu? Sekedar berpapasan dijalan atau menyempatkan untuk makan siang bersama seperti biasanya, ternyata tidak juga. Uugh !!! Benar-benar. Ya, aku merasa seorang diri kalau begini caranya. Fachry si internis yang sibuk dengan pasien-pasiennya yang tak pernah sepi, belum lagi jika ada operasi. Juga mengenai Valerie yang kandungannya semakin membesar, tentunya tidak banyak waktu bagi seorang Fachry bisa main di luar seiyanya seperti masih lajang dulu. Sementara Arga, sudah jangan ditanya lagi. Kepala departemen bedah TKV tersebut sudah barang tentu menjadi manusia paling sibuk. Operasi sana-sini plus pengaturan manajemen departemennya yang begitu sekali. Jadilah tersisa aku, sendiri. Aku sadar, dua lelaki itu tidak bisa selamanya aku miliki. Aku sadar, terlalu egois jika aku memaksakan mereka untuk terus berada di sekitarku. Mereka punya kehidupan pribadi sendiri tentunya, dan aku? Ya sebaiknya aku harus mencari kesibukan lain untuk mengalihkan waktu sengganngku setelah hampir dua minggu ini berhasil dibekap oleh si Niko orang paling sarap di RMC. Bisanya dia mengakuisisi diriku menjadi milik departemen bedah syaraf sepenuhnya dengan berbicara langsung dengan dokter Hendra si empunya anesthesiologist, babe kita para anesthesiologist di RMC. Ada waktu sekitar ya 3 hari lah ya. Setelah berhasil membujuk rayu babe Hendra untuk memberiku cuti. Hei, aku juga butuh istirahat. Melihat sinar matahari pagi, menyerap vitamin D semaunya. Bukan Cuma kegelapan dan sinar lampu temaram a.k.a suasana remang-remang kamar operasi saja. Damn, benar-benar deh si Niko itu !!! >>>>my home sweet home ever. Bukan rumah dinas RMC lho ya .. Rumahku, rumah orang tuaku. Di Bandung yang tiada duanya itu. Ah, aku rindu semua ini dan seisinya. "Duh, anak umi jam segini masih tidur juga, ayo bangun geulis ..." Sepertinya umi tidak akan membiarkanku menikmati surga dunia yang Cuma bisa kurasakan tiga hari ini saja. Umi, please, anakmu hanya ingin balas dendam dari tidur tidak berkualitas yang direnggut akhir-akhir ini. Tapi aku juga tak sebodoh itu untuk menghabiskan waktuku di sini hanya dengan ngebo sepuasnya. Karena sejujurnya, yang kubutuhkan adalah berquality time ria bersama mereka yang tersayang. Ku putuskan untuk segera bergegas bangkit dari kasur penuh magnet ini, bergabung bersama mereka di ruang keluarga yang berada di lantai satu. Ada umi dan A' Eza. Abi sedang sibuk mengecek perkebunan ketika pagi seperti ini. Harusnya itu pekerjaan Eza sableng itu. Eh dia segantengnya nongkrong manja di rumah sambil nyesep teh sambil baca koran. Dunia terbalik bung, dasar anak durhaka !! Sementara teh dania sekeluarga sedang tidak bisa pulang ke rumah karena kesibukan kang Farid suami teh dania juga Maura yang mulai masuk sekolah dasar dengan berbagai antusiasnya tentu "Cewek jakarta satu ini emang sombong ya sekarang" A' Eza mulai menjahaliku yang kini sudah mepet-mepet di sebelahku sambil mengacak rambutku. Seperti tidak ada tempat lain saja, uuh .. "Aa' apaan sih?" kataku sedikit jengah. Kangen sih kangen. Tapi jahilnya itu lho, menyebalkan ... "Cowok siapa sekarang?" masih dengan gayanya yang super usil itu. Kini bahkan tatapan matanya seolah mengintimidasi. Pertanyaan macam apa itu? "Cewek siapa sekarang?" Merasa pertanyaannya kubalik A' Eza pun memberengut kesal. Hahaha, kita itu sama A', sudahlah sesama jomblo jangan saling melempar pertanyaan sensitif macam itu. Menyakitkan !!! "Cariin gih, lo gak punya teman sesama dokter yang masih single?" Jangankan, Mencari untuk dirinya sendiri saja belum becus, apa lagi? Salah orang A', salah orang ... "Gue juga cariin, kita barter deh entar" balasku sesantainya. Sementara A' Eza langsung saja menjitak kepalaku. Apa yang salah? "Lu kira jodoh kita barang pake barter?" "Bisa gak sih kalian kalau ketemu gak berantem?" kini umi yang menginterupsi kami berdua sambil membawa pisang goreng yang tentunya sudah jangan ditanya. Itu adalah cemilan favorit kalau aku pulang ke rumah. jadi jangan si pisgor ini absen ketika kami sedang berkumpul seperti ini. "Assalamualaikum" Suara dari pintu depan membuat kami kompak menengok asal suara itu berada. Abi, Tapi kenapa abi datang dengan wajah kusut seperti itu? Ada masalah? "Waalaikumsalam, abi pasti capek yaa, sini abi duduk umi buatkan teh hangat untuk abi" Janggal, itulah yang membuatku dan A' Eza saling bersitatap. Seolah paham ada suatu masalah. Perkebunan? Atau apa? "Bi, ada apa?" tanyaku langsung tanpa basa basi lagi. Abi menghela napas kasar. Dan kini pandangannya diarahkan kepada A' Eza entah apa artinya. "Za, perkebunan kita terancam pailit" Satu kalimat yang berhasil membuatku membeku. Astagfirullah, Bahkan umi yang baru saja dari dapur membawa gelas teh dengan gemetar. Segera ku ambil alih gelas teh dari tangan umi sebelum akhirnya gelas itu benar-benar jatuh dan menimbulkan drama lanjutan di minggu pagi yang ku harap cerah dan indah ini. Tapi sepertinya tidak, "Kenapa bisa bi?" "Itulah roda kehidupan, semua itu bisa saja terjadi tanpa alasan" Dalam keadaan seperti ini, abi masih bisa saja berkata bijak seperti itu. Abi ... "A, harusnya Aa yang bertanggung jawab atas semua ini, harusnya abi yang tanya kenapa kondisi perkebunan bisa down seperti ini, bukannya Aa yang mengintrogasi abi seperti ini?" Aku dengan tidak sadar bisa meluapkan emosi seperti itu kepada A' Eza. Mungkin karena shock berpadu dengan rasa kesal dengan sikap A' Eza yang terlalu santai. Sejak A' Eza lulus magister manajamen bisnis pertanian setahun yang lalu, memang Abi mempercayakan sepenuhnya tentang perkebunan dan pabrik pengolahan teh kepada A' Eza. Teh Dania yang sudah bersuami itu tentu tidak bisa seratus persen mengurus bisnis keluarga ini karena memang kewajibannya yang kini sudah diperuntukkan untuk suami dan juga anaknya. Sementara aku? Ya, aku merasa menjadi anak durhaka juga jika tahu akan seperti ini jadinya. Aku egois bukan? "Maafin gue A'" Sementara A' Eza hanya diam sambil entah pikirannya kemana. >>>>>>Apa lagi ini? "Kasihan ya dokter Shakiya, pasti dia menyesal banget tuh?" Eh? Aku terus menajamkan telingaku mendengar para perawat yang bergosip ria tersebut. Mereka membicarakan dokter Shakiya? Dokter Shakiya BTKV? Ya menurutmu ada berapa dokter Shakiya di RMC ini? Cuma ada satu sih. Berarti ya memang Shakiyanya si Arga. Eh? Bukan, maksudnya Shakiya dokter yang satu departemen dengan Arga. Ada apa dengan dokter Shakiya memangnya? Menyesal? Kasihan? Aku terus saja merangakai kepingan kepo-ku yang kucoba untuk merangkainya. Nihil, aku tetap tidak bisa mengambil kesimpulan. Sudahlah, mungkin para perawat itu memang benar-benar kurang kerjaan sehingga bisa menggosip disepanjang koridor. Dasar !! "Selamat pagi dok, bagaimana liburannya? Menyenangkan?" sapa Anita asistenku yang datang-datang sudah menyodorkan beragam status pasien untuk ku operasi saja. Hhhh, "Menyenangkan, ada kabar apa selama saya di Bandung?" tanyaku sambil terus menganalisa status pasien yang disodorkan Anita tadi. "Oh iya dok, sudah dengar kabar kalau ibunya dokter Shakiya meninggal?" kata Anita berhasil membuatku mengalihkan pandangan dari status pasien ini. "Siapa?" "Itu lho dok, dokter Shakiya BTKV yang tempo hari satu tim operasi sama dokter juga, pernah kan ya?" Sudah jelas penjelasan Anita bukan? Ah, Anita termasuk salah satu perawat yang suka menggosip ternyata. "Meninggal kenapa?" "Sakit dok, tapi kurang jelas juga sih sakit apa? Pokoknya dari cerita para perawat di BTKV itu terkahir kali dokter Shakiya minta izin ke Surabaya dengan kalut banget begitu dok" Aku menjadi antusias untuk terus mendengarkan cerita dari Anita. Sejak kapan seorang Freya suka menggosip? Eh ini bukan gosip sih ya. "Terus?" "Nah so sweetnya, dokter Arga langsung nyusulin ke Surabaya gitu dok begitu dengar kalau tentang dokter Shakiya, duh so sweet banget, sepertinya mereka ada apa-apa deh" Deg !!! Analisa Anita terlalu berlebihan bukan. Nyeri, Hanya karena sebuah ceirta yang mungkin saja sengaja dilebih-lebihkan oleh Anita itu. Huuft, Ruwet !!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD