Melihat salah satu sahabat terdekatku akhirnya menikah, itu adalah bahagia yang tak terikira. Fachry Anugrah, seseorang yang sudah ada dalam hidupku selama 28 tahun aku berada di dunia ini. Aku menyayanginya, sangat.
Persahabatanku dengan Fachry bisa dibilang yang paling dekat dibandingkan dengan sahabatku yang satu lagi, Arga. Jarak dan waktu yang sempat memisahkan kita dengan Arga menyisakan aku dan Fachry berdua saja. Secara otomatis kedekatanku dengan Fachry menjadi lebih intens.
Fachry selalu ada untukku dalam keadaan apapun. Dia adalah sahabat dan kakak terbaik yang kumiliki.
Wajar saja, tinggal jauh dari kedua orang tua dan kakak-kakakku menjadikan seorang Freya Katyaluna harus mandiri dan multitasking. Dan selama ini Fachry selalu melengkapi kesendirianku.
Mungkin karena memang kita berdua sama-sama single (read: bukan jomblo) sehingga kita lebih sering menghabiskan waktu berdua saja.
Sempat aku berpikir bagaimana bisa kita bertahan berdua saja tanpa ada perubahan rasa. Kalian pasti tahu kan ada yang menyatakan bahwa tidak mungkin perempuan dan laki-laki bisa bersahabat secara murni tanpa adanya ketertarikan satu sama lain.
Aku tak percaya dengan pernyataan itu, awalnya. Karena menurutku aku bisa bertahan baik dengan Fachry selama ini which is just be friendship.
Tapi akhirnya keyakinanku runtuh begitu saja. Saat beberapa bulan yang lalu Fachry menyatakan perasaannya padaku.
Menurut kalian, apa yang aku rasakan saat itu?
Kaget? Jelas.
Bagaimana tidak, laki-laki yang selama ini ku anggap seperti saudara, terlalu dekat bahkan untuk dikatakan sekedar sahabat. Tetiba dia mengatakan ada rasa yang aneh di dalam hatinya.
Bukan aku tidak menyukai, bukan aku juga tidak sayang Fachry. Tapi kalian paham kan maksudku? Perasaan sayang ini adalah rasa sayang seorang saudara, seorang adik kepada kakaknya. Dimana aku selalu bahagia, selalu nyaman setiap kali berada di dekatnya. Merasa terlindungi, merasa segala kebutuhanku tercukupi, that's all.
Aku sempat marah dengan Fachry saat itu. Perasaanku tidak terkontrol, lebih kepada aku bingung harus bersikap apa. Dan inilah yang paling kubenci, pasti akan ada masa-masa sangat merasa kehilangan seperti ini.
Aku merutuki kesalahan Fachry.
Kenapa kamu harus kayak gini ke aku sih Yik? Gak bisa kah kita hanya seperti dulu lagi. Gila-gilaan bareng, satu tim operasi, kita nontong bareng kemudian ngerjain orang yang lagi m***m di bioskop. Aku rindu kebersamaan kita yang seperti itu Yik.
Tapi pengendalian diri, hati, dan emosi seorang Fachry Anugrah sepertinya cukup baik. Selang beberapa waktu aku mendiaminya, dia selalu mencariku dan berusaha agar kita kembali seperti itu.
Bahkan dia yang saat itu menemukanku lemas tak berdaya akibat stress memikirkannya, dia juga yang merawatku.
Bagaimana aku bisa lebih lama mendiaminya kalau semua yang kubutuhkan ada dalam dirinya. Dia terlalu baik untuk menjadi sahabatku, karenanya kakak adalah sebutan yang tepat untuknya.
Aku pun berusaha menetralkan segala emosi dan perasaanku yang masih gak karuan. Well, perlahan hubungan kita pun kembali berjalan normal menjadi sahabat bersaudara.
Karena kita "Threever"
Meskipun aku tidak yakin aku tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang Fachry lakukan kepadaku. Ya, rasa aneh yang dialami Fachry kemarin, aku juga memiliki indikasi 'strange feels' yang sama tapi ditujukan untuk orang yang berbeda.
Ya, sahabatku yang satunya. Arganata Reikhan.
Entahlah, biarkan untuk sekarang hanya aku yang tahu tentang perasaanku kepada Arga.
Oke, sepertinya cukup sedikit flashback perjalanan kisahku dengan Fachry. Yang terpenting hari ini sahabatku satu itu akhirnya menikah. Valerie, perempuan yang dikenalnya di kantor top manajemen saat dia menjalani double jobs-nya.
Ya, selain dokter, Fachry adalah manajer top manajemen di Rajendra University, kampus milik ayahnya, om Rajendra Rahman.
Aku memang tidak begitu banyak mengenal Valerie. Tapi satu yang pasti, Valerie adalah perempuan baik, pintar, dan multitasking. Sebelas dua belas dengan yang mengatakannya. Aku, hehehe.
Bukan berniat sombong, tapi beginilah adanya.
Fachry mengenal Valerie sebagai mahasiswa magangnya. Dan mungkin karena mereka sering terlibat dalam satu pekerjaan yang sama maka terjalinlah rasa itu. Aku juga tidak begitu paham alur cerita mereka sebenarnya, yang jelas tiba-tiba saja Fachry datang kepadaku dan menggalau ria tentang Valerie.
Well, bagaimanapun juga aku berbahagia atas Fachry, aku menyetujui, bahkan aku menyukai Valerie. Tapi masih ada satu yang mengganjal. Ini tentang Arga.
Bagaimana Arga terlihat begitu dekat dengan Valerie? Apakah memang Arga dan Valerie sebelumnya sudah saling mengenal?
Ya mungkin saja, Valerie adalah asli orang Malang, sementara Arga sepuluh tahun ini tinggal di Malang. Bisa jadi mereka di sana memang pernah bertemu kemudian kenal.
Takdir memang rumit, tapi jika diurai perlahan kamu akan tahu benang merahnya dimana.
Lagi-lagi biarlah takdir yang berbicara. Sekarang fokus pada Fachry dan Valerie yang hari ini menggelar pernikahan mereka.
Dan aku adalah orang yang tak mungkin melewatkan momen bahagia sahabat terdekatku itu.
Tapi kalian tahu lah ya, bagaimana rasanya datang ke acara semacam itu tanpa pasangan?
Mengenaskan !!!
Mau datang dengan teman-teman satu departemen? Boro-boro, teman-teman satu departemenku kebanyakan sudah menikah bahkan ada yang sudah memiliki anak. Kalaupun belum menikah, mereka bukan single, tapi sudah memiliki pasangan.
Well, menggantungkan mereka sama saja dengan pada akhirnya aku akan berangkat sendiri.
Wait, aku kan masih memiliki sahabat satu lagi.
Arga !!
Aaah, kenapa aku tidak mencoba untuk memintanya datang bersamaku?
Oke mungkin Arga akan sangat sibuk membantu persiapan acara pernikahannya saudara sepupunya itu, tapi apa salahnya dicoba kan? Lagi pula aku terlalu rindu untuk bisa bercengkerama bersama dengan sahabatku satu itu.
Arganata Reikhan, laki-laki lain dalam 'Threever' ini, laki-laki yang entah kenapa aku memiliki kalau kata Fachry 'strange feels' yang menurutku hadir entah sejak kapan. Sejak kami masih sekolah dasar pun, aku merasakan kenyamanan yang berbeda dari kenyamananku dengan Fachry.
Tapi lagi-lagi itulah perasaan haram yang harus dikubur dalam-dalam. Jangan sampai terjadi hal-hal seperti yang pernah Fachry lakukan kepadaku. Cukup itu menjadi pelajaran untuk kita semua.
Intinya, Arga tak perlu tahu bahwa Fachry pernah menyukaiku, dan Arga juga jangan sampai tahu bahwa aku menyukainya.
Arganata R : Udah siap?
Satu pesan Line dari Arga.
Benar kan, Arga memang bisa di andalkan.
Mungkin setelah Fachry menikah tentu tidak banyak waktu yang bisa kuhabiskan bersama dengannya seperti dulu. Jadi, kembali bersama Arga dan menebus semua kerinduan setelah sepuluh tahun berpisah adalah hal terbaik yang bisa ku lakukan. Toh Arga juga sudah memutuskan untuk 'pulang kota' dan berkarir bersama di RMC, rumah sakit yang notabene akan menjadi miliknya.
Freya.Katy : 15 menitan lagi jemput gue
Begitulah yang bisa kujawab. Sebisa mungkin aku harus terlihat biasa dan sebisa mungkin menghilangkan 'strange feels' ini.
Arganata R : Siap nyah ...
~~~00~~~
Akhirnya pilihan gaunku jatuh pada warna tosca pastel, warna favoritku. Dan sepertinya orang yang kunantikan kehadirannya telah sampai di depan rumah dinasku ini.
"Kok Cepet?" tanyaku sambil melirik jam tangan di pergelanganku.
Tapi dia malah diam saja. Astaga, Arga bisa gak sih gak usah scanning to me from head to toe kayak gitu.
Pertahananku akan runtuh jika kamu terus-terusan seperti ini.
Ah jangan terlalu baper Freya, Arga hanya merindukanmu, that's it. Biarkan beberapa waktu.
"Gaa, ayok, malah nglamun" aku berusaha mengembalikan kesadarannya.
"Ah iya, sorry-sorry" dia mengerjap kemudian beralih membukakan pintu range rovernya untukku.
Baiklah aku tak sabar ingin memberikan selamat pada Ayik si mister kulkas itu.
~~~00~~~
Sampailah kita di gedung resepsi pernikahan Fachry dan Valerie. Aku sedikit heran sebenarnya, di Rajendra Univeristy tidak kurang-kurang memiliki gedung, aula, ballroom, atau apalah itu yang sejenis untuk tempat mengadakan acara-acara dengan kapasitas big size guest seperti ini. Tapi kenapa om Rahman malah menempatkan pernikahan anaknya di gedung biasa semacam ini?
Low profile, itulah yang bisa ku simpulkan sendiri. Sedekat aku dengan keluarga Fachry, om Rahman dan tante Farida memang bukan orang yang neko-neko. Sekalipun tante Farida tergolong ibu-ibu kaum sosialita kelas atas tapi tante Farida tahu tempat dan kondisi. Tidak seperti kaum sosialita lain yang selalu ingin tampil eksis di setiap momen.
Oke daripada mengurusi gedung lebih baik kita segera menyapa orang-orang yang berada di dalam.
Benar, tamu yang datang memang tidak main-main. Mulai dari semua civitas academia Rajendra University, dokter dan karyawan RMC, teman-teman Valerie, keluarga besar Valerie yang bisa ku pastikan datang jauh-jauh dari Malang. Semua tumplek blek di gedung ini.
Dan pasanganku sekarang, maksudku pasangan khusus acara hari ini, ya Arga sepertinya telah diketahui keberadaannya oleh orang-orang di RMC. Padahal aku tahu persis sedari tadi dia menghindari mereka, hahaha.
Alasannya karena dia belum hapal betul orang-orang RMC yang notabene harus dia kenal kalau pada akhirnya dia memimpin RMC.
Ya, RMC tempatku bekerja saat ini adalah milik ayah dari Arga, dokter Reikhan Rajendra. Secara otomtasi kekuasaan dari om Reikhan akan jatuh ke tangan Arga bukan?
"Arga sini nak" begitulah om Reikhan memanggilnya.
Dan aku yang sedari tadi beriringan dengan Arga mau tidak mau ikut digeret Arga untuk menemaninya.
Benar saja om Reikhan tak menyiakan kesempatan itu, dengan bangga beliau memperkenalkan Arga kepada rekan sejawatnya yang kebanyakan adalah orang-orang penting di RMC itu. sebenarnya, Arga memang sudah bekerja di RMC tapi ya begitulah, dia bahkan mengaku belum mengenal banyak para penghuni RMC. Ckckck.
"Ah iya ini dokter Freya ya, kok dari tadi diam saja dok, sudah kenal dekat dengan dokter Arga?" tiba-tiba saja dokter Hans mengikutkanku dalam pembicaraan mereka.
"Dokter Freya ini sahabat baik Arga dan juga Fachry dokter Hans" begitulah om Reikhan menjelaskan, mungkin agar tidak terjadi kesalahpahaman lah ya.
Dan aku hanyaa bisa tersenyum menanggapi. Karena jujur, bingung juga harus membalas seperti apa.
"Oh begitu, saya kira calon mantunya dokter Reikhan lho tadi" kini dokter Ambar yang yang menyahut.
Glek
Seketika beku, membuatku dan Arga saling melempar tatapan, seakan salah kita berada di antara para sesepuh ini.
"Cocok lho, udah kenal dekat juga kan, kenapa gak sekalian nyusul dokter Fachry?" kini giliran dokter Prasaja yang semakin membuat pembicaraan ini ngelantur.
Blushing? Sepertinya memang begitu.
Ngarep? Boleh dikata juga.
Tapi lagi-lagi aku harus katakan bahwa aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan Fachry kemarin.
Baiklah sepertinya aku dan Arga harus segera hengkang dari sini. Meninggalkan mereka jajaran orang penting pemegang kendali di RMC.
"Frey, gue ke sana dulu ya, kayaknya Devan dan Fahira butuh bantuan gue" pamit Arga menunjuk kedua adiknya yang sedang kerepotan menerima tamu yang masih saja berdatangan. Memang benar-benar ramai.
Aku pun hanya menggangguk dan itu berarti kini aku seorang diri berada di antara keramaian tamu resepsi Fachry Valerie.
"Dokter Freya kan?" tiba-tiba saja ada seorang yang menepukku dan memanggil namaku.
Aku berbalik, mencari siapa yang menyapaku secara formal tersebut.
Siapa ya?
Sepertinya bukan rekan sejawatku karena aku memang tak pernah melihatnya seliweran di RMC.
Teman kuliah?
Sepertinya juga bukan.
Aku masih berpikir keras untuk mengingat siapa laki-laki berperawakan tinggi, kulit sawo matang khas jawa dengan setelan jas yang menambah kesan maskulin di depanku ini. Tapi dia familiar, seperti pernah bertemu entah dimana dan kapan.
Ah inilah kelemahanku, sulit untuk mengingat nama dan wajah seseorang meski otakku berkata aku pernah bertemu dengannya.
"Maaf siapa ya?"