Hari ini adalah hari pernikahan adikku satu-satunya, Valerie Seraphine. Aku menyayanginya dengan sungguh. Jadi bahagianya adalah tentu bahagiaku.
Tapi apalah aku, seorang kakak yang bahkan jarang sekali punya waktu untuknya. Tinggal terpisah itulah yang menjadi alasan.
Sedikit kaget sih dengan keputusan Valerie ketika menginginkan kuliah jauh dari rumah. Di Jakarta, seorang diri, perempuan pula. Mana tega ayah dan ibun membiarkan begitu saja.
Tapi bukan Valerie namanya kalau tidak bisa membujuk ayah dan ibun.
Aku sedikit banyak tahu tentang alasannya memilih kuliah di Jakarta. Ya, dia ingin mencari pacarnya yang katanya asli orang Jakarta.
Well, saat itu apalah Valerie anak yang baru saja lulus SMA dengan kondisi emosi yang ababil. Bagaimana mungkin mereka bisa berpacaran dengan hilang komunikasi seperti itu. Tidak adakah cara untuk mereka saling menghubungi? Hei jaman sudah canggih
~~~00~~~
Valerie memang keras kepala, dan Arga juga demikian.
Sudahlah lupakan masa lalu Valerie yang abstrak itu. Yang terpenting sekarang aku bahagia akhirnya Valerie mendapatkan kebahagiannya. Aku rela jika Valerie melangkahiku karena nyatanya aku memang belum menginginkan suatu pernikahan meski nyatanya aku telah memiliki kekasih.
Uniknya dari pernikahan adikku ini adalah calon suaminya adalah sepupu dari mantannya itu. Seseorang yang menjadi alasan Valerie untuk hijrah ke Jakarta. Dan seseorang yang telah dinantikan Valerie selama empat tahun ini tapi akhirnya ada juga yang bisa menggantikan posisinya.
Fachry, calon suami adikku itu adalah sepupu Arga mantan adikku.
Takdir memang lucu ya, tapi itulah kuasa Tuhan.
Jadi berada di sinilah aku sekarang, di gedung resepsi pernikahan adikku yang semuanya telah dipersiapkan oleh keluarga Fachry. Intinya, aku dan keluarga besar di Malang hanya tinggal terima beres dan datang dengan cukup membawa diri saja.
Benar-benar wow lah keluarga suami adikku ini. Pasalnya orang tua Fachry adalah pemilik Universitas dimana Valerie kuliah dan magang skripsi di sana. Bukan orang sembarangan lah kalau bisa di kata.
Sementara kami? Apalah kami yang hanya sebuah keluarga kecil dengan bisnis peternakan dan wisata yang baru saja berkembang. Sebelum-sebelumnya? Sudah barang tentu kami bukanlah apa-apa.
Ah iya, namaku Demiko Bisri, kakak Valerie. Anak pertama dari bapak Ridwan Bisri dan ibu Asusti. Ayahku hanyalah seorang yang memiliki perternakan kuda di kota Batu dan saat ini sedang aku kembangkan menjadi objek wisata baru di kota Batu.
Aku memang bukan pebisnis seperti ayah atau Valerie yang berkuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Tapi tentang peternakan aku mengetahui seluk beluknya. Jadi, tidak salah kan kalau aku turut andil dalam pengembangan bisnis peternakan ayahku ini?
Ya, aku seorang veteriner. Menjadi seorang dokter hewan adalah cita-citaku. Eentahlah kenapa bisa begitu. Mungkin karena dari kecil aku sudah diperkenalkan akrab dengan hewan-hewan ternak yang dimiliki ayah. Ada juga hewan-hewan peliharaan lain selain ternak seperti kucing, kelinci, marmut.
Well, mungkin itulah yang menyebabkan naluri peri-kehewananku muncul dan mendorongku untuk menjadi doker hewan seperti sekarang ini.
Sudahlah terlalu lama kalian tahu aku, intinya aku kakak Valerie dan sekarang aku ingin menghadiri acara adikku itu.
Benar-benar ramai gedung ini. Tamu yang hadir pun sepertinya bukan dari kalangan biasa. Banyak sapaan 'dok' ketika aku berada di antara mereka.
Ah memang adik iparku ini kan dokter, pantas saja jika banyak sejawatnya yang hadir pada siang hari ini.
Aku memandangi sekeliling berharap ada satu saja seseorang yang ku kenal dan bisa ku ajak mengobrol.
Sungguh ini membosankan. Ya lihat saja, ayah dan ibun kan pastinya ada di pelaminan bersama pengantin dan juga besannya. Sementara aku di sini sendirian bro, bayangkan !!!
Tapi aku seperti menangkap seseorang yang ku kenal. Tapi dia siapa ya? Ah aku lupa.
Sebentar .....
Aaaa, dia itu kan sahabatnya Fachry dan Arga, dokter anestesi yang ikut dalam operasi Valerie tempo hari itu.
Ah benar !!!
Baiklah aku akan menyapanya dan semoga dia tak lupa denganku.
Aku berjalan mendekat ke arahnya. Dia ternyata cantik dengan balutan dress warna tosca pastel yang memberikan kesan anggun dalam dirinya.
Aku menepuk bahunya dan menyapanya "Dokter Freya kan?"
Dia berbalik tapi sepertinya dia tidak mengingatku.
Sial ...
Dia mengernyit dan masih diam sambil terus memandangiku. Mungkin dia masih berusaha mengingat siapa aku.
"Maaf siapa ya?" itulah kata pertama yang diucapkan setelah memandangiku beberapa saat tadi.
Damn it !! benar kan bahwa dia lupa denganku.
Kenapa jadi kesel Mik?
Aku juga tak tahu, sepertinya aku tertarik dengan perempuan ini.
Bukan, maksudnya perempuan bernama Freya ini berhasil membuatku penasaran sejak pertemuan pertama dulu saat dikenalkan oleh Fachry.
Dan saat ini berkesempatan untuk bertemu kembali. Bukankah suatu kebetulan itu tidak lebih dari sekali? Apa artinya ini jodoh?
Bodoh !! mana ada kesimpulan secepat itu.
"Kamu lupa siapa aku?" tanyaku mencairkan suasana beku ini.
Dia mengangguk pasrah.
Hmm, baiklah aku akan memperkenalkan diriku lagi. Anggap saja ini pertemuan pertama kita hei gadis.
"Miko, kakaknya Valerie" ucapku sambil mengulurkan tangan untuk berjabat dengannya.
Tampak ada sebuah senyuman di sana. Sepertinya dia sudah bisa mengingat siapa aku.
"Ah iya, maaf saya sempat lupa, tapi saya ingat sekarang" ucapnya sambil membalas tanganku dengan senyuman yang terlempar dari mata hazelnya itu.
Uuuh, matanya seperti memancarkan aura sihir.
Bahaya perempuan ini !!
"Sendirian saja?" tanyaku lagi.
"Mmm, enggak tadi ke sini dengan Arga tapi entahlah kemana dia sekarang" jawabnya sambil celingukan mencari sosok Arga yang notabene adalah sahabatnya dan ingat mantan pacar Valerie.
Aku hanya manggut-manggut tak jelas.
Kan jadi tak jelas begini? Siapa tadi yang ingin menyapa? Sekarang diam-diaman seperti ini.
"Gak nyangka ya, Valerie gak jadi dengan Arga malah jadi dengan sepupunya" sumpah dari sekian banyak topik untuk dibahas kenapa pula aku harus membahas sejarah percintaan Valerie.
Bisa kan tanya gimana kabar? Ah mainstream.
Atau bisa kan tanya gimana pekerjaan? Ah gak menarik, sudah jelas ya gitu itu pekerjaan dokter, toh aku juga sudah paham kan.
Ah atau tanya sudah punya pacar belum? Beraninya? Kalau sudah kenapa? dan kalau belum kenapa? menjadi urusanku begitu?
Tapi aku melihat perubahan ekspresi Freya yang semula tampak tersenyum cerah ketika mengingatku kini perlahan pudar dan menyisakan ekpresi bingung atau kaget.
Entahlah.
"Maksudnya?" dia melempar pertanyaan kepadaku.
Maksudnya? Maksudnya apa?
Oh astaga, jangan katakan jika Freya belum mengetahui sejarah tentang Valerie dan Arga.
Tapi bukankah mereka bersahabat? Bisa begitu tidak saling tahu? Ah sahabat hanya sekedar nama kalau begitu namanya.
"Loh kamu gak tahu kalau Valerie dan Arga pernah pacaran" itulah yang bisa kujelaskan tanpa memikirkan dia akan shock atau tidak mendengarnya.
Biarlah, toh ini bukan hal besar yang perlu dirahasiakan kan? Dan keterlaluan sekali baik Fachry maupun Arga menyembunyikan ini dari Freya.
Ya aku memang sudah mengenal Arga dengan baik saat dia masih berpacaran dengan adikku dulu. Aku juga mengenal Fachry yang ternyata cukup cepat bisa dikatakan aku nyaman mengenalnya. Jadi mereka juga sudah ku anggap sahabat melihat jarak usia kami yang bisa di bilang seumuran.
Kembali ke Freya. Sepertinya dia memang benar-benar kaget mendengar apa yang ku katakan.
Maafkan jika begitu. Aku tak bermaksud.
"Kenapa Freya? ah aku boleh memanggil nama saja kan jika sedang di luar?" aku bertanya dan sedikit mengalihkan keterkejutannya itu.
"Mmm, aku gak papa, oh iya tentu saja boleh, justru aku senang" tanyanya dengan senyum tapi senyumnya kali ini beda.
Ada sedikit rasa masam yang ditunjukkannya di sana.
Mungkin kecewa dengan dua sahabat laki-lakinya itu kali ya. Mungkin ...
Dan perbincangan kami berdua pun harus terputus karena kedatangan seseorang yang aku masih sedikit membencinya. Arga.
"Hei Mik, lo ada di sini? Gue cariin dari tadi" Arga menyapaku sambil mengajak berhigh five.
Sementara ku perhatikan perempuan di sebelahku ini sedikit jengah dengan kedatangan Arga.
"Frey sorry ya, gue agak lama, soalnya cruel banget tadi di dalam jadi aku harus bereskan dulu deh" jelasnya kepada perempuan di sebelahku ini tapi nampaknya dia hanya mengangguk dan lagi-lagi menampilkan senyum masamnya itu.
Dan bodohnya, Arga pun termasuk orang paling tidak peka sedunia. Setelah ketidak pekaannya menggantung perasaan adikku selama empat tahun itu. Eh sekarang dia tidak peka dengan sahabat perempuannya yang jelas-jelas menunjukkan sikap kecewa kepadanya.
Persahabatan yang unik.
"Thanks ya Mik lo udah nemenin Freya. Gak nyangka kalian deket begini, padahal gue kira lo udah lupa sama Freya sewaktu terakhir kenalan di rumah sakit waktu itu" kata Arga sambil menepuk bahuku dan Freya masih saja diam tak menanggapi.
"Biasa aja, aku juga sedikit bosan karena sendirian gak jelas dari tadi" ucapku membalasi Arga.
Aku memang tidak bisa ber-lo-gue seperti Arga ataupun Fachry. Ya kalian tahu lah ya, aku Arema asli. Mana mungkin di malang ber-lo-gue seperti itu. Yang ada menjadi bahan bullyan iya.
Tapi tidak mungkin juga kan aku memakai ayas-umak di sini? Kayak mereka paham aja bahasaku.
Oke mungkin Arga paham karena sepuluh tahun tinggal di Malang tapi di sini kita tidak sedang berdua. Ada Freya yang turut dalam pembicaraan ini meskipun dia hanya diam sejak kedatangan Arga tadi.
"Frey kok diam saja sih kenapa?" akhirnya Arga menyadari kejanggalan dengan sahabatnya itu.
Tapi Freya hanya menggeleng pelan.
"Ayok naik ngucapin ke mereka sepertinya tamunya sudah sedikit berkurang" perdana Freya berbicara setelah aksi bisunya itu.
Dia mengajak siapa?
Aku?
Wow, secepat itu?
Aku melihatnya dan bersiap untuk mengiyakan tapi naas aku salah. Freya melangkah maju dan sedikit menggandeng Arga bersiap naik ke pelaminan bertemu dengan sahabatnya yang lain yang telah menunggunya.
Bodoh !!! terlalu ngarep !!!
"Mik duluan ya" suara Arga sambil berlalu dan mengangkat tangnnya tanda pamit.
Aku pun membalas dengan mengangkat tangan pula dan anggukan sedikit. Ini sambil merutuki kebodohanku yang terlalu berharap dengan Freya.
Sedikit agak ngilu ya melihat Freya begitu dekat seperti itu dengan Arga.
Astaga Miko, sadar ada Vika di Malang.
Ya ya ya ya, Vika adalah kekasih yang kusebut tadi. Devika Raninsyah, perempuan yang akhirnya berhasil memilikiku. Hanya dia yang memiliki karena nyatanya entah perasaan ini belum bisa sepenuhnya ke Vika. Tapi aku bukan lelaki jahat yang menerima Vika begitu saja tanpa membalasnya. Sejauh ini aku cukup baik untuk berusaha mengimbangi rasanya.
Dan biarkan waktu yang menjawab, bagaimana takdirku dengan Vika selanjutnya. Jangan terlalu dipaksa dan jangan pula terlalu di terawrang, biarlah mengalir.
Kenapa Vika tak ikut hadir ke sini?
Entahlah, aku sudah menawarinya tapi dia sendiri yang tak bersedia ku ajak. Alasannya sih pekerjaan, tapi yaaaa sudahlah aku tak terlalu ambil pusing akan hal itu.
Well, aku masih melihat pungguh sepasang manusia yang baru saja pergi dariku yang kini menaiki anak tangga menuju pelaminan dengan tangan Freya yang mengapit lengan Arga dan tangan kanan Arga yang mengusap-usap tangan Freya.
Nanar !!!
Bagaimana mungkin mereka tampak serasi?
Jasik ...
Freya .... Freya ....
Apa mungkin ada takdir lain yang mempertemukanku denganmu lagi?
Kapan? Sebagai apa dan bagaiman?
Ah sudahlah, cukup. Aku tak suka menebak takdir. Biarlah mengalir