Loh kamu gak tahu kalau Valerie dan Arga pernah pacaran?
Oh astaga .....
Kenapa pula perkataan kakaknya Valerie saat itu masih terpikir di ingatanku.
Arga, Fachry, jadi mereka selama ini menyembunyikannya dariku?
Ah bukan, jadi mereka tidak menganggap aku ada sehingga tidak penting bagi mereka menceritakan ini?
Sepertinya memang hanya aku yang terlihat bodoh di sini.
"Lo kenal Valerie Gaa? Kok bisa? Sebagai apa?"
"Itu ceritanya panjang Frey, ntar aja gue ceritain"
'Ntar aja' yang entah sampai kapan.
Dan Fachry tidak mungkin bahwa dia tidak tahu kalau nyatanya sekarang bisa hidup damai dengan Valerie tanpa merasa bersalah sedikit pun dengan Arga.
Apa mungkin 'Threever' sudah tidak ada artinya lagi?
Apa karena aku tak sedarah dengan mereka? Apa karena jika mereka mengatakan juga tak akan berpengaruh apapun untukku?
Aaargh .....
Arga ...
Fachry...
Aku membenci kalian.
Tok .. tok ...
"Masuk" ucapku pada seseorang di balik pintu ruanganku ini.
Oh ternyata Anita asistenku.
"Ada apa Nit?" tanyaku mencoba biasa saja setelah aksi emosiku yang masih geram dengan kedua lelaki itu.
"Maaf dok, dokter gak lupa kalau 15 menit lagi ada operasi kan?" tanyanya sedikit takut mengangguku.
Oh astaga .... bahkan karena kepikiran dua kekunyuk itu hampir saja aku melupakan tanggung jawabku.
"Astagfirullah, iya saya bersiap dulu, terima kasih nit" ucapku kepada Anita untuk dia bisa meninggalkan ruanganku.
Ya lupakan sejenak tentang mereka. Toh mereka juga belum tentu memikirkanku kan.
Aku segera bersiap berganti baju operasi dan mensterilkan tanganku.
Sebagai anesthesiologist seharusnya aku bisa lebih awal datang di ruang operasi dan memantau vital pasien. Memberikan ketenangan agar pasien tidak gugup, cemas, atau takut selama operasi berlangsung. Ya kondisi kejiwaan pasien sangat berpengaruh dalam kondisi fisik pasien selama operasi.
Jadi sudah menjadi tugasku lah memastikan bahwa pasien akan nyaman selama proses operasi berlangsung.
Kini, setelah steril aku segera masuk ke ruang operasi dan mengambil posisi di atas kepala pasien. Bersiap menyuntikkan cairan anestesi sesuai dosis yang telah di diskusikan dengan tim operasi kemarin.
Tim operasi?
Astaga .....
Sial ...
Aku melupakan satu hal lagi.
Tim operasi kali ini adalah tim dari penyakit dalam dimana ada Fachry di dalamnya. Jadi rencana untuk aku menghindar gagal begitu saja.
Tetap tenang, tetap kalem, biasa saja ....
Biarkan seolah aku tak mengetahui fakta apapun. Biarkan seolah tidak ada yang perlu dibahas di antara kita.
"Silahkan dimulai, pasien telah siap" kataku kepada Fachry bahwa operasi sudah bisa dimulai. Fachry mengangguk sambil melempar senyum dibalik maskernya itu.
Masih bisa senyum? Gak ingin menjelaskan sesuatu begitu?
"Terima kasih dokter Freya, mari kita mulai operasi kali ini" ucapnya kepadaku.
"Pisau" Fachry mulai menjalankan operasinya sambil meminta perawat bedah di sebelahnya menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan Fachry.
Aku meurutuki diriku sendiri yang entahlah kenapa aku begitu kesal mengetahui fakta bahwa Valerie adalah mantannya Arga.
Bukan yang bagaimana bagaimana sih, Cuma ya segitunya kah mereka tidak menganggap aku?
Kalau Valerie adalah mantan Arga itu artinya mereka telah berpacaran sebelum Valerie kuliah di sini?
Jangan katakan bahwa sejak Arga ke Malang sudah kenal Valerie dan sudah menjalin hubungan selama 10 tahun ini.
Oh tidak, jangan bodoh juga Freya pleasee diusia Valerie saat ini yang bisa dibilang 23 tahun tidak mungkin juga kan dia menjalin pacaran saat kira kira baru kelas 1 SMP jika asumsimu itu sepuluh tahun lalu?
Kata siapa tidak mungkin?
Lalu Fachry? ceritanya Fachry menikung Valerie begitu?
Atau Fachry memang sudah tahu dari dulu kalau Valerie adalah pacar Arga kemudian pura-pura tidak tahu di sini dan berusaha untuk menikung dari Arga?
Oh s**t, otakku benar-benar dipenuhi oleh pikiran negatif tentang Arga dan Fachry.
Ngiiiiing ............
"Dokter Freya apa yang anda lakukan?" teriakan Fachry dan suara horor itu sontak membuyarkan lamunankan atas mereka.
Aku mengerjap. Memandangi monitor yang menunjukkan grafik berantakan itu.
Astagfirullah .....
Apa yang kamu lakukan Freya ......
"Ma-maaf saya akan meningkatkan saturasinya" ucapku gugup sambil berusaha mengembalikan kestabilan vital pasienku ini.
Jangan diulangi lagi Freya .....
Jangan main-main dengan nyawa pasien. Ingat sumpahmu !!!
>>>stand by untuk memantau vital pasien pasca operasi per lima menit selama kurang lebih satu jam sebelum akhirnya benar-benar ku lepas kepada perawat.
Masih tersisa 5 menit lagi.
Tak lama setelah itu Fachry datang dengan perawatnya siap untuk follow up pasiennya ini. Dan sepertinya Fachry masih marah kepadaku tentang kelalaianku itu.
"Gimana vitalnya?" tanya Fachry tanpa melihatku dan pandangannya sibuk membaca monitor pasien.
"Sejauh ini stabil, sudah tidak ada tanda-tanda penurunan. Saturasi oksigennya juga cukup baik" jelasku sebisa mungkin menahan kesal.
Dia hanya mengangguk sambil sesekali mencatat status pasien dan kemudian diberikan kepada perawat yang berada di sampingnya.
Aku masih diam sambil melihatnya yang kini beralih memeriksa pasien tersebut menggunakan stetoskopnya.
Sumpah demi apapun ini awkward moment yang paling ku benci dan ku hindari.
Sudah dasarnya manusia di depanku ini es batu dan sekarang ditambah menaruh kesal karenaku. Sudah jangan ditanya jika dia akan berbaik hati mengajakku berbicara terlebih dahulu.
Jangan berharap lebih.
"Masih ada berapa menit?" tanyanya lagi.
Oke sepertinya dia menyadari bahwa aku telah berjaga di sini sejak satu jam lalu.
"Seharusnya sudah selesai" jawabku tak ingin kalah dingin dengannya.
"Mbak saya serahkan kepada kamu ya, nanti kalau ada apa-apa segera hubungi saya" ucapku menyerahkan pasien kepada perawat jaga di ICU ini.
"Efeknya tinggal berapa menit lagi?" dia bertanya lagi seolah belum puas dengan jawabanku padahal ini tadi aku sudah hampir saja keluar ICU.
Baiklah, kenapa ini harusnya aku yang marah, kesel, bahka benci dengannya menjadi terbalik seperti ini?
Uuuh, ku kira setelah menikah sikap es batunya itu bisa sedikit dicairkan oleh istrinya. Ternyata masih sama.
"Tiga puluh menit, nanti saya ke sini lagi, permisi" jawabku yang terang-terangan menujukkan sikap kesalku ke Fachry dan langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukannya lagi.
>>>>strange feels' seperti yang dia kata coba? Kalau perlakuanku ke aku tidak ada manis-manisnya sama sekali.
Memangnya iklan air mineral?
Ah sudah lupakan.
"Harusnya gue yang tanya lo kenapa?" nah sudah berubah bahasanya.
Tidakkah dia sadar bahwa ini masih lingkungan yang bisa dijangkau pasien atau keluarga?
Tidak profesional !!!
"Saya tidak apa-apa dokter Fachry, jadi mohon lepaskan tangan saya" jawabku masih dengan bahasa formal karena selain menjaga keprofesionalitasan aku juga masih malas bercakap akrab dengan orang ini.
Yes, segera ku tinggalkan dia setelah sedikit usahaku melepas cengkeraman tangannya yang ouuch sakit juga ternyata.
Fachry sialan ....
"Freya !!!" teriakannya yang bisa kupastikan sekarang dia sedang mengejarku.
"Apa sih Yik?" nada geram bin kesal yang sudah mencapai ubun-ubun ini sudah tak mampu lagi ku bendung.
"Lo tu kenapa sih Frey? Lo ada masalah?"
Aku diam tak menyahut.
Sungguh, aku benar-benar tidak ingin berdebat dengannya saat ini. Besok lah.
Ah bukan, entah kapan nanti lah jika aku telah siap bertengkar denganny.
"Lo sakit?" tanyanya lagi setelah tadi mendapat gelengan dariku.
Aku menggeleng lagi.
"Ya terus seorang Freya Katyaluna blank saat operasi itu apa artinya?" seakan tak puas dengan aksi diam dan gelenganku itu. Fachry terus menjejaliku berbagai pertanyaan agar aku sedikit saja mengeluarkan satu kalimat penjelasan.
"GUE BENCI SAMA LO DAN ARGA, PUAS ??!!!"
Biarlah dia mencerna sendiri dengan stok kepekaannya yang minimal itu