Malang, 07:10 WIB
"Hari ini mau kemana Mik?" tanya ayah saat kita sedang sarapan bersama.
Hem sebenarnya aku juga belum tahu akan melakukan apa hari ini setelah liburan semingguku kemarin di Jakarta.
Bukan, bukan liburan.
Lebih tepatnya meliburkan diri untuk adik tercintaku itu, persiapan pernikahan Valerie sampai hari-H tentunya cukup menguras tenaga, waktu, dan pikiran kan?
"Mungkin ke klinik, Miko sudah terlalu lama izin"
Ya, mungkin ke klinik. Sekalipun itu mungkin.
Entahlah ada apa denganku yang tetiba menjadi malas seperti ini.
Dan kenapa aku jadi merindukan perempuan itu.
Oh astaga padahal ini Malang dan pertemuan itu hanya sekilas tidak akan berarti apa-apa.
"Kamu kenapa sih? Seperti ada yang dipikirkan?" kini ibun ikut menyahut seperti telah paham dengan setiap guratan ekspresi di wajahku.
Aku hanya menggeleng.
Karena nyatanya aku memang tidak tahu apa yang terjadi denganku.
"Miko berangkat dulu yah, bun" pamitku kepada mereka dan menyudahi sarapan ini.
>>>>jetlag, gak menyentuh hape sama sekali" bohong.
Padahal aku sedari semalam terus memainkan handphoneku dan berniat meminta kontak perempuan itu pada salah satu sahabatnya.
"Yasudah, bagaimana dengan makan siang?" ini ajakan dan apa alasanku untuk menolak.
'Maaf sepertinya banyak pasien' mana ada pasien? Jelas-jelas klinik kosong seperti ini. Bahkan aku melihat jadwal Meri tidak ada juga klien yang janjian denganku saatku ini. Sudah punya dokter hewan sendiri-sendiri. Dan aku mah apa atuh, seminggu sekali ke sini saja sudah syukur bisa.
Lalu aku harus beralasan apa?
"Gimana?" tanyanya lagi.
Baiklah. Aku mengangguk.
Aku masih punya hati untuk tidak membuatnya kecewa setelah sekian lama kita tidak bertemu. Dia pasti merindukanku, sementara aku tidak pasti merindukannya juga. Ah sudahlah.
"Oke, kita ketemu di tempat biasa aja, aku berangkat dulu ya" pamitnya sambil meraup tanganku ke pipinya sudah semacam istri pamit kepada suaminya.
Uuh .. sedikit jengah tapi aku juga tersentuh setiap kali Vika melakukan itu.
Dia baik, Devika Raninsyah. Perempuan cantik, pintar, dengan sejuta pesona di tubuhnya. Tapi apa yang membuatku belum 100% kepadanya?
Tanyakan hati.
Hati tak pernah mendustai.
>>>>Hahaha
Kan kalau hanya berdua yang ketiga jelas setan, jadi aku sangat menghindari itu.
"Salamku udah kamu sampein kan?" Vika kembali bertanya saat suasana hening mulai terasa kembali.
Aku hanya mengangguk pelan.
"Kamu kenapa sih?" dan dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres denganku.
Tidak mungkin juga kan kalau aku mengatakan yang sebenarnya jika saat ini aku tengah memikirkan perempuan lain yang entah dia masih ingat denganku lagi atau tidak.
"Kalau udah kita balik yuk" jawabku mengalihkan.
Sebenarnya tak tega juga harus seperti ini kepada Vika tapi mau dikata apa hati bicara lain.
Devika Raninsyah, aku telah bersahabat lama dengannya sejak kami SMP berlanjut saat SMA yang masih satu sekolah bahkan dua kali sekelas. Kemudian kita baru pisah saat kuliah. Dia mengambil kuliah di jurusan Teknik Perencaan Wilayah Kota sementara aku ya seperti yang kalian tahu.
Di situlah awalnya, bukan berarti karena kita sudah tidak satu gedung lantas menjadikan hubungan di antara kami menjadi renggang. Salah !!!
Jarak gedung kuliahku yang bersebelahan dengan gedungnya Vika menjadikan dia malah kerap mendatangiku saat istirahat makan siang dan tak jarang dia membawakanku bekal.
Hati lelaki mana yang tak tersentuh dengan sikap manisnya itu.
Sekalipun aku selama ini selalu membantah bahwa tidak akan ada hubungan di antara dua orang yang saling bersahabat tapi nyatanya itu terjadi.
Vika menyatakan perasaannya kepadaku di saat hari ulang tahunku saat semester dua masa perkuliahan kita.
Apa iya aku setega itu menyakiti perempuan yang selama ini sudah terlanjur dan kelewat baik kepadaku. Apapun yang aku butuhkan dia paham, dia mengerti, dan dia menyediakan.
Jadilah sejak saat itu status di antara kita berubah. Menjadi sepasang kekasih, ya seperti kebanyakan yang lain.
Well, aku memang mengakui bahwa Vika adalah perempuan baik, terlalu baik malahan. Tapi dengan adanya perubahan status ini terkadang menjadikan sikap Vika kepadaku juga berubah. Dia menjadi lebih manja dan lebih menuntut sesuatu atasku.
Dan aku paling tidak suka dengan hal seperti itu. Apalagi jika hal tersebut sudah menyangkut privasi yang sudah jelas tidak bisa kubagikan dengan orang lain sekalipun itu Vika.
Memang hubunganku dengan Vika terbilang sudah cukup lama, tapi percayalah tidak ada yang istimewa selama masa pacaran kita itu. Semuanya flat, tidak ada manis-manisnya gitu.
Karena seperti yang kukatakan tadi, tidak enak berpacaran dengan sahabat sendiri itu, yakin deh. Tidak ada sensasi dan gregetnya.
Aku dan Vika juga tak pernah terlibat permasalahan serius yang mengancam hubungan kita.
Hambar !!!
Vika yang lebih banyak mengalah ketika melihatku seperti telah capek dengan semua ini. Vika selalu mengerti aku.
Dan bagaimana aku bisa tega memutuskannya?
Hei, jangan kalian berpikir aku lelaki kejam yang selama ini memberikan harapan palsu kepada perempuan itu dengan berpura-pura mencintainya.
Aku tidak berpura-pura, sungguh.
Aku selama ini masih belajar dan akan terus belajar. Dan perasaan ini adalah perasaan sayang lebih kepada adik.
Tapi sekali lagi aku tak setega itu untuk mengakhiri semua yang telah berjalan sejauh ini karena usaha keras Vika untuk mempertahankannya dengan meruntuhkan segenap ego yang dia miliki.
"Mik, aku kangen kamu, sebenarnya aku pengen jalan tapi sepertinya kamu sedang gak dalam kondisi baik" ucap Vika yang masih dalam posisi menunduk sambil sesekali mengaduk pangsitnya itu.
Hanya mengaduk dan aku yakin dia belum makan sedari tadi.
"Mau jalan kemana?" tanyaku mencoba bernegosiasi.
Ya, aku juga merindukannya guys, seminggu lebih kita tak bertemu.
Ingat sekali lagi ya, aku tak sejahat itu kepada Vika.
"Ah enggak, kamu istirahat aja, aku juga banyak pekerjaan, next time maybe" benar kan lagi-lagi Vika mengalah dan meruntuhkan egonya.
Mungkin dia sesekali memang manja, tapi untuk urusan mengalah, jangan tanyakan dia pasti dengan senang hati melakukannya.
Selama perjalanan pulang aku mengantarkannya pun suasana diam kembali menyelimuti isi mobilku ini.
Uh, aku benci keheningan seperti ini.
Tapi bagaimana lagi, toh yang menciptakan suasana hening ini juga aku kan?
Baiklah, sekali lagi, aku bukan lelaki jahat.
"Vik, gimana kerjaan kamu?" tanyaku mencoba memecahkan suasana kutub ini.
Tapi Vika diam tak menyahut.
Ah benar saja, sepertinya Vika memang tak mendengarkanku, melamun dan entah kemana pikirannya itu.
Apa iya dia memikirkan sikapku? Kalau iya, sungguh aku merasa bersalah.
Maafkan aku Vika.
"Vik?" panggilku mencoba menyadarkannya kembali.
"Ah iya, kenapa?" benar kan, sedari tadi dia memang melamun.
"Kamu kenapa?"
"Kenapa? Nggak papa, emang aku kenapa?" yah dia malah tanya balik. Ck !!
"Gimana pekerjaan kamu hari ini? Proyek yang katamu kemrain sudah selesai?"
Dia menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya. Ah mungkin dia terlalu lelah terkait pekerjaannya yang menguras banyak energi dan pikiran seperti saat ini.
Ya dia sempat mengutarakan ketidak hadirannya dalam pernikahan Valerie di Jakarta kemarin adalah karena garapan proyek terbarunya. Proyek tentang revitalisasi hutan kota dengan sedikit tambahan fasilitas penunjang yang dengar-dengar akan dijadikan sebagai taman hiburan seperti taman kota lainnya. Tentunya bukan proyek yang sembarang jika hal tersebut melibatkan banyak sekali opini dan pro kontra dari masyarakat.
Pasalnya, hutan kota yang akan direvitalisasi tersebut bersebelahan langsung dengan pasar tradisional yang menjadikan mereka mau tidak mau terkena dampak dari pengerjaan poyek milyaran itu.
Kalau sudah begini, lagi-lagi rakyat kecil lah yang harus menanggung akibatnya. Sekalipun melalui debat terbuka mereka memaparkan beragam benefit dari pengerjaan proyek ini, tapi tentu saja sisi negatifnya sedikit banyak akan berimbas kepada masyarakat sekitar.
Baiklah, tak perlu ambil pusing.
Harusnya yang pusing adalah perempuan di sebelahku ini. Tidak gampang kan mengurus proyek beresiko seperti itu.
Dan benar saja, ku lihat dia sesekali memijit pelipisnya sambil menarik napas panjang.
Kasihan, tapi aku yakin dia strong woman
Sampai akhirnya aku telah sampai di depan kantornya.
"Makasih makan siangnya, aku masuk dulu" ucapnya sambil pamit yang lagi-lagi dia tak melupakan untuk menempelkan tanganku pada pipinya.
Aku kembali tersentak.
Segera kutahan tangannya sebelum dia benar-benar melepaskan.
Dia mengernyit bingung dengan sikapku.
"Jangan capek-capek" ucapku yang dibalasnya hanya dengan senyuman dan anggukan kecil kemudian dia melenggang pergi.
Oh Vika sungguh, maafkan aku.