Crazy Traingle – Freya Katyaluna

1299 Words
"Frey, lo masih marah sama gue? Lo benci gue dan Arga karena apa? Beneran deh gue kagak paham" dan kunyuk satu ini pagi-pagi sekali sudah nangkring di ruang kerjaku seakan tak merasa berdosa dengan apa yang telah dilakukannya. Well, mungkin memang Fachry dan Arga tak berdoa Mungkin saja aku yang terlalu baper, okelah. "Lo gak praktek? Kurang kerjaan?" ya seperti yang kalian tahu setiap kali kita berbincang seperti ini azas unsinc akan selalu terjadi. "Gue gak tenang sebelum lo bilang kenapa?" Uuh, manusia es satu ini memang paling mengesalkan. Aku terus mencari alasan untuk membuatnya segera beranjak dari sofa putihku itu. Ya, tentu alasan yang bisa diterima dengan baik tanpa menimbulkan kecurigaan kan? "Gue kemarin lagi sebel aja sama A' Eza, ya maaf gue bawa-bawa kalian, beneran deh gue bete banget kemarin" Hahaha, alasan macam apa itu? Sama sekali tidak keren !!! Pakai acara nyangkutin A' Eza yang tak berdosa, oh demi Tuhan maafkan aku A' ... "A' Eza?" tanya Fachry semacam tidak percaya dengan alasanku. Oh ayolah aku sudah tidak bisa membuat alasan lagi. Kalian tidak perlu tahu bahwa aku benci kalian hanya karena alasan yang menurut kalian itu konyol. Tapi bagiku itu tidak konyol, itu penting. Karena Arga, .. Arga, .. Aaarg, sudahlah "Sejak kapan lo bermasalah sama A' Eza? Masalah apaan?" benar kan? Seorang fachry yang manusia es itu akan menjadi banyak bicara dan banyak cincong jika dia mendapati ganjalan seperti ini. Terus bertanya sampai dia menemukan titik terang. Tingkat kekepoannya tinggi. Cocok jadi agen FBA "Lo gak usah kepo deh Yik, mending lo balik, di depan poli lo udah antri bejibun tau gak?" "Gak usah ales deh Frey, jangan jadiin A' Eza sebagai alasan? Lo kenapa benci gue sama Arga?" Boleh bius orang ini gak sih? Sungguh, aku lebih menyukai Fachry si manusia es daripada mister rempong satu ini. "Please Yik, lo balik karena setengah jam lagi gue ada SC dan itu artinya gue harus siap-siap, oke" ya ini bentuk pengusiran secara terang-terangan. Kalau dia tak segera beranjak, fix dia memang memiliki stok kepekaan yang minimal. "Oke, tapi nanti makan siang yak" Aku mengangguk, ya meskipun malas tapi mengangguk adalah pilihan terbaik untuk membuatnya segera hengkang dari sini. Malas berinteraksi lebih lama, dan baiklah urusan makan siang biar ku pikirkan sambil lalu. Mencari alasan penolakan misalnya. >>>>my moodbreaker tentunya. "Eh Gaa" Arganata Reikhan guys, laki-laki yang paling ku benci sebenarnya. Laki-laki yang membuat jantungku tidak sehat jika berada didekatnya. Karena itu aku membencinya. Selain karena fakta bahwa dia telah menyembunyikan hal penting seperti dia pernah bersama Valerie, misalnya. Well, menurut kalian itu sederhana tapi tidak untukku. "Mau makan siang?" tanyanya yang masih berpakain sama denganku. Sepertinya dia juga baru saja melakukan operasi. Bukan sepertinya Frey, sudah jelas iya. Nyatanya dia masih berpakain serba ijo dan berada di linkup instalasi bedah sentral. Apalagi kalau tidak operasi? Lalu, untuk pertanyaannya tadi, aku harus jawab apa? Mengiyakan? Big NOO, Ya kali, aku berusaha menghindari Fachry sebisa mungkin tapi dengan santainya sekarang Arga menawariku makan siang bersama. Yang ada Arga bakalan menghubungi sepupunya yang sama-sama sedengnya itu dan berakhir dengan pertemuan lengkap Threever. Oh tidak sekarang guys. Dan bukankah Threever sudah tak ada artinya untuk kalian? "Frey?" aku mengerjap. Ya, wajar jika dia bertanya kembali karena sedari tadi aku belum memberikan jawaban. "Ah lama, yuk ah, laper gue" Nah ini nih, dengan santai dia menggandengku menuju kantin. Hei kita masih pakai baju ijo !!! astaga .... Kalau satunya manusia es yang menyebalkan kalau yang ini sama sama menyebalkan dengan sikapnya yang sok-sokan dan seenaknya seperti ini. Tapi kamu suka kan Frey? Hei apa-apan kalian ... Ah entahlah, aku yang bodoh atau bagaimana. >>>calm down babe" ya aku memberinya sedikit wejangan karena bagaimanapun aku juga benci dengan sikap Arga. Hei dia yang sok-sokan. Malah mengatai orang lain sok-sok.an Cermina Gaa cermin. "Gue jadi penasaran kayak apa sih dokter Shakiya itu, sepertinya kalau gue satu team operasi sama dia menarik tuh" Ya aku memang penasaran. Aku suka melihat kinerja dokter dokter baru, muda, dan berprestasi. Merasa tertantang dan ingin sekali bekerja sama. Ah andaikan dulu aku mengambil spesialis bedah, sangat menantang bukan? Sudahlah jangan disesali, membantu orang untuk tidak merasakan sakit atau nyeri itu juga sangat bermanfaat kan? Ya, tidak ada dokter yang tidak mulia. Ingat sumpahmu, dan abdikan dirimu. "Gak usah penasaran, gak ada baik-baiknya tu cewek, cantik sih, lulusan luar negeri pula, tapi sombongnya minta ampun, kayak dia yang paling bener aja" oke oke Arga memang sudah mencapai ubun-ubun karena kekesalannya itu. Hei, aku juga kesal denganmu. Bisa ya biasa aja seolah selama ini kita baik-baik saja. Apa artinya semua ini kalau masih ada yang ditutupi? "Harusnya itu gue yang ngomong buat lo Gaa, kayak lo yang paling bener aja, makanya lo tu jangan negthink terus, diambil yang baik-baiknya, kan lumayan nambah pengalaman" Ayik dengan gayanyan yang sok bijak menasehati Arga. Bisa bijak juga? Bisa ngomong? Bukannya situ gagu? Sungguh, entah kenapa aku juga sangat kesal dengan Fachry. "Gaa, kalo lo jadi buatin team operasi sendiri buat dokter Shakiya, gue jadi anestesi tetapnya ya" ya seperti kataku tadi, aku penasaran dengan dokter baru itu. Siapa tahu dia memang hebat kan? Siapa tahu Arga malah yang sombong. "Ogah, mending lo sama gue aja" tuh kan Arga memang seperti itu "Enak aja, gue juga butuh Freya kali buat ikut operasi gue" Ayik menyahut seakan tak ingin kalah. Hello? Memangnya aku masih mau satu team operasi dengamu setelah semua ini Yik? Perlu bepikir ribuan kali lagi sih Yik. "Well, kalian ngrebutin gue ceritanya?" aku membalas mereka berdua dengan nada kemenangan dan terkekeh seiyanya. Ya, ya, ya, aku memang sangat menyayangi mereka berdua. Tapi terkadang kesal juga ada kan? Bagaimana pun kita ini masuia biasa yang tak luput dari cekcok hal-hal kecil yang sebenarnya tak begitu penting. Dan mulailah kita bercerita kesana kemari bercengkrama seperti sepuluh tahun lalu sebelum si kunyuk Arga itu memutuskan hijrah ke Malang. Dan hal itulah yang membuat hatiku semakin kebat kebit karena merindukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD