Part 8

806 Words
"Cinta pemaksaan itu sangat sulit menerimanya dan akan dikalahkan oleh rasa nyaman dan kepercayaan." Malam minggu yang sangat mengenaskan dan kesepian. Kata - kata Leo menggema di telinga Marvell untuk mengingat kejadian di masa lampau. Frustasilah yang hanya bisa dirasakan oleh Marvell. Dia sangat pusing memikirkan cara menangani kelakuan Leo. Dia juga tak ingin Leo menyakiti orang-orang terdekatnya. Entahlah apa yang dipikirkan oleh Leo itu. Hanya sebuah tanda besar di kehidupan Marvell. "Aaarghh!" teriak Marvell sambil mengacak rambutnya frustasi. "k*****t itu anak,"gumamnya lirih. Seketika bibirnya melengkung ke atas ketika mengingat seseorang yang tanpa di duga bisa mencairkan hatinya. Rasa ingin melindunginya pun yang membuat dirinya seakan pahlawan untuknya. Padahal dia hanya bertemu dalam 3 menit, tanpa ada kata suka, tetapi duka untuk hati. "Mungkin lo yang terbaik untuk gue dan gue mulai jatuh cinta sama lo," batinnya dalam hati Saat ini Marvell sedang berada di rumah sendiri hanya ditemani oleh pembantunya, sedangkan orang tuanya sedang berada di luar kota untuk mengurus perusahaannya. Akhirnya dia memutuskan untuk ke rumah Damian. Dia memakai celana jeans, kaos putih, dan memakai jaket. Kemudian dia pergi ke garasi untuk mengambil motor ninjanya. Dalam perjalanan, Marvell sudah tidak sabar memandang wajah imut Angel yang menggemaskan. Dia ingin sekali mencubit pipinya. Tapi apalah daya, dia baru sadar jika dia tertarik padanya. Akhirnya dia memutuskan lebih cepat lagi memacu sepeda motor nya. *** "Ngel, kasih gue no WA Bella dong," pinta Damian sambil memasang wajah memelas. "Minta sendiri kali Bang, kek banci aja  nggak ada berani²nya," caci Angel dan meninggalkan kamar Damian untuk menuju ruang santainya. Saat Angel menuruni tangga sambil mainan hp, tanpa sengaja kakinya kesleo dan happ.... Pandangan mereka bertemu. Jantung keduanya berdebar-debar. Pipi Angel memanas seperti buah tomat matang. Yah, dia Adalah Marvell yang menangkap Angel ketika akan jatuh, seperti di sinetron - sinetron. "Pliss deh, ini pipi jangan bullshing, nih jantung juga kompromi dong," gumam Angel dalam hati sambil menggigit bibir bawah nya. "Ini kenapa jantung gue deg-deg kan gini. Angel imut juga. Mungkin ini kesempatan gue. Bibirnya Angel kenapa digituin, kan jadi gak tahan lihatnya," gumam Marvell dalam hati sambil tersenyum miring membuat Angel bergidik ngeri. "Astaghfirullah," gumamnya lagi. Hingga akhirnya mereka tersadar. Marvell hanya nyengir dengan wajah watadosnya. "Lepasin nggak? dasar modus." "Gak akan, gue akan lepasin jika lo mau  jadi pacar gue." "Gila lo! gue gak mau, masa lo maksa sih, cinta pemaksaan itu sulit menerimanya," teriak  Angel tak terima sambil mendengus sebal. "Gak juga, cinta itu bisa dikalahkan oleh kenyamanan dan kepercayaan," jawabnya dengan serius. Angel memandang matanya untuk mencari kebohongan. Angel tidak menemuka kebohongan itu. "Dasar, gak ada romantis-romantisnya," gumamnya dalam hati  hingga dia pasrah . "Iya gue mau jadi pacar lo," jawabnya  pasrah. "Apa? Gue nggak denger. Coba ulangi yang keras," kata Marvell. "IYA GUE MAU JADI PACAR LO MARVELL GILA!" teriaknya reflek hingga membuat Damian keluar dari kamar dengan muka cengo. "Apa? kalian berdua jadian? pokoknya harus makan-makan, gak ada penolakan," ujar Damian. "Tenang kakak ipar," jawab Marvell sambil mengedipkan matanya kearah Angel. Angel meninggalkan Damian dan Marvell karna dia merasa sebal. Tetapi, sebelum melangkah tangannya dicengkal oleh Marvell. "Mau kemana baby?" Angel melotot kaget ketika dirinya di panggil 'baby' dia gak percaya si muka datar bisa berkata begitu. "Lo bilang gue babi? Dasar lo ya!" "Biasa aja kali, matanya hampir copot tuh." "Gue mau ke ruang santai." "Gue ikut," kata Damian dan Marvell bebarengan. Mereka bertiga berjalan menuju ruang santai. Tangan Marvell menggandeng Angel posesif, sedangkan Damian menatapnya sambil menggelangkan kepala, karena selama ini Marvell selalu diam dan datar. "Ngel, coba deh kamu ke sini." Angel pun mengikuti permintaan Marvell. Tanpa diduga, Marvell langsung tiduran di paha Angel. Kedua matanya terpejam. "Marvell," ujar Angel kaget. "Udah gak pa-pa," jawabnya santai sambil mainan hp. "Ck, Yang jomblo apa mah atuh." "Sewot aja loh, mending sono lo cari pacar," jwabnya santai. "Pasangan baru mah gitu," ucapnya meninggalkan Angel dan Damian. Angel reflek membelai rambut Marvell dengan halus membuat Marvell sampai tertidur pulas. "Vell, bangun udah malam, lo gak mau pulang?" tanyanya sambil menepuk-nepuk pipi Marvell. "Udah jam berapa ini?" . "Udah jam 11." "What? Aku berarti dari tadi tidur?" tanyanya polos. "Iya." "Yaudah gue pulang dulu ya baby, besok gue jemput, gak ada penolakan," ujar Damian dengan senyum manis dan sambil  mengacak rambut Angel. "Ihh apaan sih, jadi berantakan nih. Yaudah gih gue antar lo sampae depan," kata Angel. "Awh, ssshh," ringis Angel ketika dia hendak bangun. Tidak kebayang saja, 1 jam pahanya buat bantalan Marvell. "Eh eh kenapa? pasti gara-gara buat bantalin aku ya, aduh maaf ya,  Ngel." "Udah gak pa-pa." Mereka berdua jalan menuju pintu keluar. Marvell mengambil motornya. "Hati-hati di jalan Marvell," ucapnya sambil tersenyum manis dan dijawab dengan acungan jempol . Lengkungan tipis tercetak di bibir Angel mengingat kejadian beberapa jam lalu. "Mungkin gue mulai jatuh cinta sama lo, gue harap lo gak seperti masa lalu gue," gumamnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD