Part 9

897 Words
Tin...tin... "Pagi Om, Tante, Angelnya masih apa,  Tan?" tanyanya sambil mencium tangan kedua orang tua Angel. Semalam, Marvell memang sudah berencana untuk menjemput Angel. Dia juga sudah sengaja bangun pagi agar tidak telat ke sekolahnya. Bahkan Marvell sejak pagi sudah uring-uringan memikirkan penampilannya. Dia ingin terlihat lebih sempurna dari biasanya. "Masih di atas, sini duduk dulu sekalian gabung sarapan," ajaknya sambil mempersilahkan Marvell. "Kok tumben nyari Angel? biasanya nyari Damian?" sambungnya. Marvell dkk memang sudah dekat dengan keluarga Damian, seakan mereka seperti keluarganya sendiri. "Anu tante, emm...emm...," ucapnya gugup sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mereka itu sudah pacaran, Mom," ujar Damian ketika sampai di ruang makan, sedangkan marvell hanya cengengesan. Wajahnya terlihat gugup. Pipinya merah merona seperti tomat matang. "Ohh bagus kalo pacarnya Angel itu kamu, Tante sama Om percayakan Angel bersamamu," ujar momy Angel sambil tersenyum manis. Marvell mendengarnya melotot. Dia tidak menduga jika hubungannya akan direstui oleh orang tua Angel. "Makasih Om, Tante." Mereka berbincang-bincang sambil menunggu Angel. Sesekali Marvell menahan malunya karena di goda orang tua Angel. Sedangkan Damian melepas tawanya melihat wajah Marvell yang bukan seperti wajahnya. Di lain sisi, Angel sedang bersiap-siap di dalam kamarnya. Dia memakai baju sesuai aturan, sepatu sneakers hitam putih, rok diatas lutut 5 cm, rambut dibiarkan tergerai, dan memoleskan sedikit bedak bayi dan lipgloss. Setelah semuanya beres, Angel menuju tangga untuk turun ke bawah. "Pagi Momy, Dady, Kak Damian dan Marvell," teriaknya sambil menciumi kedua pipi orang tua dan kakaknya. Marvell yang melihatnya hanya mengguk salivanya. Pagi hari disuguhkan dengan pemandangan yang mengenakan, kaum adam mana tahan. "Nggak malu sama pacar apa?" tanya momynya. "Apaan sih Mom, yaudah Angel berangkat dulu." "Nggak sarapan dulu?" tanya dadynya. "Nggak Dad, nanti aja di sekolah," jawabnya sambil menarik lengan Marvell. *** Marvell membukakan Pintu mobil untuk Angel. Ketika mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Damian merangkul bahu Angel dengan posesif menuju koridor sekolah. Seperti biasa, banyak orang yang berbisik-bisik ria. Layaknya mereka melihat artis yang masih naik daun. 'Gila, sekian lama princs ice kita telah menggandeng seorang cwe.' 'Itu kan cwe baru' 'Cantikan juga gue.' 'Si Maeda udah dikalahin cwe itu' 'Mereka cocok banget' Begitulah celotehan orang-orang alay. Maklum saja, mereka itu sama-sama most wanted, walaupun Angel adalah murid baru. "Eits, mau kemana kamu?" cegah Marvell mencengkal tangan kanan Angel. "Mau ke kelas." "Ke kantin dulu, kamu belum sarapan." sambil menarik lengan Angel. "Tapi kan-" "Gak pa-pa, ini sekolahkan milikku." potong Marvell . Mereka berdua duduk di meja pojok tempat Marvell dkk jika di kantin. Tidak ada orang yang berani duduk di tempat Marvell dkk. Entahlah apa penyebabnya. Padahal Marvell dan kawannya tidak pernah mempermasalahkan tempat duduk. Jika kabar-kabarnya sih, karna ulah Maeda. Dia terlalu mempunyai ambisi untuk memiliki Marvell. "Mau makan apa?" tanya Marvell dengan nada lembut. Angel hanya diam. Sungguh dia males sekali untuk sarapan hari ini. Melihat nasi saja sudah malas apalagi memakannya. "Oke, nasi goreng sama teh hangat, tunggu sebentar." menunggu jawaban Angel terlalu lama, akhirnya dia memutuskan pesanannya sendiri. Kemudia Marvell memanggil pedagang kantin untuk memesan makanan. "Mbak Surti, teh hangat sama nasi goreng satu." "Siap." "Lo kok maksa gitu? Tadi udah narik-narik ke kantin. Sekarang malah pesenin makanan aja. Gue kan males makan!" rajuk Angel kepada Marvell. Bukanya menjawab, Marvell malah mengindahkan pembicaraaan. Percuma saja jika dia menjawabnya, hasilnya bukan baik malah bertengkar dengan Angel. Karena Angel itu seorang yang tidak mau dipaksa, Marvell sudah mengetahui itu dan dia tidak ingin hal itu terjadi. "Sekarang nggak boleh pakai lo-gue, pakai aku-kamu, paham?" "Tau ah." Marvell memandangi Angel dengan tatapan lembut membuat Angel salting. Padahal tadi Angel cuek dan merajuk. Tapi mengapa dia jadi bulshing? Mungkin itu awal cinta mereka? "Cie bulshing, nih pipi merah kenapa neng?" tanyanya jail sambil menoel-noel pipi Angel. "Apaan sih." Angel menepis tangan Marvell. Marvell tertawa terbahak-bahak. Dia senang menggoda kekasihnya. Mungkin itu akan menjadi pekerjaan barunya. "Tumben den, bawa cwe kemari?  biasanya cwo semua?" tanya mbk surti sambil meletakan makanannya. "Ini kan luar biasa mbak, dia itu pacar aku, cantik kan mbak?" jawabnya santai membuat pipi Angel memanas. "Iya cantik. Yaudah ini dimakan makanannya, nanti keburu dingin." Angel hanya mengaduk-ngaduk makanannya hingga marvell yang melihatnyapun jengah. "Sini aku suapin, dari tadi cuma di aduk-aduk aja. Ini tuh makanan bukan adonan." tangan Marvell seraya menarik makanan yang ada di tangan Angell. "Eh..eh.." "Udah gapapa, sini deket lagi," sambil menepuk Kursi di sampingnya. Angel pun hanya mengikutinya saja. Percuma juga jika dia menolaknya, pasti juga akan kalah. "Aaa.."Angel membuka mulutnya ketika Marvell akan menyuapinya. Marvell tersenyum manis sambil merapikan rambut Angel. Mereka terlihat lucu. Pasangan baru yang layaknya pasustri. "Bilang aja kalau dari tadi minta di suapain, gak perlu kode-kode, aku tuh orangnya gak peka." "Kamu orangnya gak peka ya?" Marvell hanya menganggukan kepalanya. "Ohh, pantesan kamu jomblo," sambungnya. "Kamu tuh ya, untung sayang. Kalau nggak-" Angel langsung menyela perkarkataan Marvell. "Kalau gak mau diapain?" "Mau aku nikahin." Reflek Angel menjitak kepala Marvell. "Sakit tahu." "Makanya, kalau ngomong itu yang bener." Dari arah jauh ada 3 orang pria yang menuju ke arah tempat duduk Marvell dan Angel. Siapa lagi kalo bukan Damian, Reno, Rangga. Mereka itu sudah sepaket bersama-sama. "Gila, pagi-pagi udah mesrah-mesrahan bae," goda Reno. "Sejak kapan lo jadi perhatian sama cwe? lo kan dingin banget kalau sama cwe." tanya Rangga saat duduk di samping Reno. "Gue kira, lo itu homo," sambungnya. "Mereka kan udah pacaran," ujar Damian ketika duduk di samping Reno. "Apa!" teriak Reno dan Rangga bebarengan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD