One

548 Words
Aku membuka mataku perlahan, memegang kepalaku yang masih berdenyut-denyut. Aku merasa aku sedang di atas kasur, menatap langit-langitnya mengingatkanku akan kamarku dahulu saat aku reemaja. Ruangan ini seperti khasku, lampu yang terlindungi oleh lampion bergambar monyet, gypsum putih dengan motif kerrang menghiasi sekelilingnya. Aku berusaha duduk, tetapi kepalaku terasa sangat berat, aku tetap memaksakan diri. Aku langsung disuguhkan oleh sederetan album BTW dan OXO di atas sebuah rak meja, selain itu tersuguh boneka BW21 mulai dari Shock, Tantan, hingga Cookies. Aku hanya bias terkejut saja, belum pulih jua rasa terkejutku seseorang membuka pintu dengan tergesa-gesa. “Ven? Udah sadar?” seorang cowo yang sangat kukenali menyembul dari balik pintu. Wajahku pucat pasi, ketika aku mengenali wajah dan suaranya. Semuanya sama seperti dahulu, senyum itu, suara itu, kamar ini. Semua hal yang kulihat saat ini, benar-benar membuatku terguncang parah, kutatap lagi wajah cowo tersebut takut-takut. Dia sudah mulai histeis ketika dia melihat wajah pucatku, apalagi aku tak bereaksi dengan ucapannya. "Venus! Lo Venus 'kan? Bukan hantu?" Dia mulai menoel kepalaku pelan.  "Mars?"  "Iya? Astaga! Akhirnya lo bersuara juga! Gua udah panik setengah mati kalo lo tiba-tiba bisu atau jadi hantu... lo yang jadi manusia aja udah nakutin apalagi ...." Mars mulai meracau tidak jelas. "Lo masih hidup, Mars?" tanyaku pelan.  "Lah! Jangan ngadi-ngadi ya lo! Anak monyet, gua sejak lahir sampe sekarang masih hidup! Nih, gua bernapas ya Nyet, jangan-jangan lo ngira gua hantu ya? Kembaran macam apa lau, ngatain kembarannya sendiri hantu...." Mars mulai melanjutkan kegiatan meracaunya. "Mars," potongku, "Ini tahun berapa?"  "Wah amnecia ya lu habis ketatap kursi  pantai masa lo ga tau ini tahun berapa? Apa ...."  "Jawab aja apa susahnya, sih!" bentakku sedikit kencang, hingga Mars mundur beberapa langkah.  "Galak amat," cibir Mars pelan.  "Gua denger." Aku diam sebentar. "Jawab! Tanggal berapa sekarang?"  "Tiga belas Maret tahun 2015, apa anda sudah puas Tuan Putri?" Suaranya sinis. Aku langsung spontan terduduk mendengarnya. Ini sudah empat belas tahun sebelum ulang tahunnya yang ke 29 terjadi. Ini bukan 2029, ini 2015. Lalu, bagaimana dengan nasibnya di 2029? Apakah ia menghilang? Padahal harusnya ia dan Bumi mengantar Pluto ke les bahasa inggrisnya.  "Bumi?" Aku hanya bisa bergumam kecil.  Tak disangka air matanya menetes, ia membayangkan Bumi sendirian di sana, Bumi sudah sangat baik dengannya setelah insiden yang terjadi pada tahun 2025. Venus tidak habis pikir, jika ia bisa kembali ke 2015, disaat segalanya masih baik-baik saja, artinya ia bisa membenahi segalanya bukan? Tapi, jika tidak ada insiden tersebut, bukankah artinya ia dan Bumi tidak bersatu di masa depan? Mungkinkah Venus akan menciptakan dunia paralel lain? Entahlah ada sekian ratus ribu pertanyaan melayang di kepalaku. Sedangkan Mars hanya bisa bingung ketika aku menggumamkan nama Bumi, ia mengguncang badanku serta bertanya apakah aku masih waras. Tapi yang terlintas selanjutnya, aku hanya memeluk Mars, dengan berlinang air mata ku katakan bahwa aku rindu. Rindu sekali. Mars masih terpaku heran, ia sampai mengira kalau aku kerasukan jin tomang. Biar! Sudah empat tahun  aku tak bertemu mereka, sudah sembilan tahu jua hubunganku dengan Mars dan Jupiter jauh dari kata baik-baik saja. "Jupiter mana?"  "Biasa ngapel, sama Nadia pacarnya yang indihome." Mars akhirnya melepaskan pelukannya, sekarang ia bicara lebih sedikit dari di awal.  "Indihome?" Aku mengernyitkan dahi bingung. "Indigo elah maksudnya." Dia mengibas-ngibaskan tangannya, seolah 'masa-lo-ga-tau?'  "Kirain bapaknya punya indihome." Mars langsung memutar matanya malas. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD