Prolog

319 Words
Hari ini harusnya adalah hari paling mengesankan bagi kita semua, hari paling membahagiakan. Harusnya, aku saat ini tersenyum menggenggam tangannya. Harusnya, aku tertawa mendengar leluconnya. Harusnya lagi … kita berempat ada sini menikmati angina sepoi-sepoi mengelus kepala kita pelan, tapi Namanya hidup tidak berjalan seperti jalan tol, bukan? Pasti ada saja hal yang tidak kita inginkan terjadi. Tapi apalah daya, kita hanya mampu untuk selalu berharap yang terbaik untuk kita semua, benar begitu? Dia sudah mengeluarkan kue berbentuk wajah monyet dari sampingnya, meletakkan perlahan lilin angka dua puluh Sembilan, meletakkan hiasan berbentuk planet yang menggambarkan kami berempat. Aku mencoba menahan tangis, menatap planet Mars, dan Jupiter berada di antara planet Venus dan Bumi. Ini hari ulang tahun kami berempat: Aku, Mars, Jupiter, dan Bumi dihadapanku. Bumi menatapku sekali lagi, raut wajahnya khawatir, tapi aku hanya mengangguk untuk tanda bahwa aku sedang baik-baik saja. Berbohong untuk mengesankan pujaan hati tidak salah kan? Toh, lagipula aku tidak ingin mengecawakan usaha bumi -dia- untuk merayakan ulang tahun kami berempat. Bumi mengeluarkan korek api dari dalam wadah rokoknya, menyalakan angka dua terlebih dahulu baru angka Sembilan. Aku berusaha membantu dengan menghalau angina yang ingin ikut meniup lilin ulang tahun kami, aku tidak ingin ada yang ikut meniup lilin kami kecuali aku dan Bumi, tidak siapapun, “Make a wish, Ven.” “Oh, iya, Bum.” Aku menutup kedua mataku dan membatin satu harapanku yang selalu kupanjatkan tiga tahun terakhir ini. “Sudah. Giliranmu.” “Aku berharap, harapanmu terkabul.” “Kok di omongin? Nanti ga terkabul.” “Terkabul. Aku yang akan selalu berusaha mimpimu menjadi kenyataan.” Aku hanya tersenyum kecil, menatapnya lekat, seakan berterima kasih banyak. “Ayo ditiup lilinnya!” Aku meniup lilin ulang tahunku, dengan ini aku resmi berumur dua puluh Sembilan. Tapi, sehabis meniup lilin pandanganku tiba-tiba buram lalu berubah menjadi gelap, badanku serasa seringan kapas, dan hal yang terakhir ku ingat adalah teriakan panik Bumi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD