"Kamu beneran nol pemahaman?" tanyaku sambil melotot tak percaya menghadap Langit. Sekarang kami sedang di taman kampus, menikmati semilirnya angin yang menerpa kulit sambil menunggu kuliah selanjutnya. "Ya ... nggak nol-nol banget sih," jawab Langit, "agak ngerti dikit, kan bergaul sama Mas Biru juga. Tapi ya ... biasanya kalau dia ceramah, masuk kuping kanan keluar kuping kiri, haha ...." "Kenapa nggak minta diajarin Mas Biru aja, kan sama-sama cowok tuh, lebih klop." Langit mengendikkan bahunya. "Ah, males. Mas Biru itu terlalu serius kalau A ya A nggak boleh melenceng kemana-mana." "Tapi kan sepertinya ilmu agama dia lebih banyak," ucapku lagi. Ada sebuah decakan keluar dari mulut Langit. "Kalau gue maunya sama lo gimana?" Ah, lelaki ini keras kepala sekali, aku memutar bola mat

