part 4

1373 Words
Bik Nis tersenyum, ia tahu kalau Dira dan Gibran menikah karena apa. "Tidak, kamar tuan ada di lantai dua." Mendengar ucapan bik Nis membuat Dira merasa lega. "Nak Dira beristirahatlah dulu. Nanti bibik yang akan merapikan pakaiannya." Dira hanya tersenyum. Ia berjalan menuju kamarnya, kamar yang akan menjadi saksi bisu dirinya. Rasa kagum menghinggapi hatinya, kamar yang sangat indah, desain interiornya sangat menyatu dengan taman yang ada di belakangnya. Dinding kaca menampilkan taman yang tadi ia bayangkan. Ternyata jauh lebih indah aslinya. Wanita itu tidak sabar untuk berkebun dan menanam bunga, walau dulu ia bad girl. Tapi ia sangat suka berkebun, Ibunya lah yang mengajarkannya. Mengingat ibunya, membuat Dira sedih. Hampir empat bulan ia di usir dari rumahnya, ia sangat sangat merindukan ibunya, wanita yang telah melahirkannya. Seulas senyum tercipta di bibirnya, ibunya pasti senang walau ada rasa kecewa pada dirinya. Senang karena ibunya akan memiliki cucu darinya. Kakak perempuannya yang sudah 3 tahun menikah belum juga di karunia keturunan, entah kenapa, padahal di keluarganya tidak ada yang mandul. Hanya tuhan yang tahu itu. Dan kecewa karena ia hamil di usia dini, 18 tahun. Dira lebih memilih membaringkan tubuhnya, lelah sudah pasti ia rasakan, pernikhan kilatnya yang di lakukan di gereja dan tidak ada yang menyaksikannya. Bahkan orang tua Gibran pun tidak datang. *** Hari berjalan sangat cepat sudah seminggu ini Gibran tidak pulang, dan hal itu sangat menguntungkan bagi Dira. Suara tawa Dira memenuhi ruang tamu, ia sedang menonton siaran ulang sebuah talk show, ini memang acara favoritnya. Tak ada kegiatan apa pun yang bisa ia lakukan, di luar sedang hujan gerimis, dan hal itu membuat Dira tidak senang, acara menanam bunga berantakan, mau apa lagi? Jika ia paksakan ia akan jatuh sakit, dan hal itu sangat tidak baik untuk kandungannya. "Ting tong!" Dira mendengkus sebal, sejak tadi bel rumah terus berbunyi, saat ingin memanggil bik Nis, ia baru ingat jika wanita setengah baya itu sedang ke pasar, refleks tangannya memukul keningnya, 'kenapa aku bisa lupa' batinnya bersuara. Tangannya menaruh toples yang berisikan kue kering itu di meja, kaki melangkah, saat membuka pintu ia di kejutkan dengan pemandangan yang 'menjijikan' Dua anak manusia sedang asik menautkan bibirnya, saling mengecap rasa dan bertukar saliva. Tanpa memperduli keadaan sekitarnya. Dira menguap bosan, hampir 10 menit orang itu berciuman, "Ekhhhmmm...." etah kenapa ia berdehem, sontak membuat Gibran dan wanita berhenti berciuman. Gibran menatap Dira marah, wanita hamil itu mengganggu acaranya. "Kenapa lama dan di mana bik Nis?" Dira menaikan sebelah alisnya, setelah beberapa detik lewat baru ia mengerti. "Tadi Dira lagi nonton Kak, dan bik Nis lagi ke pasar," jawabnya santai. "Dan apa kamu lakukan di sini? Sana masuk!" Mendengar mentakan Gibran membuat Dira malas. 'Dasar orang aneh' suara hatinya. Dira masuk ke dalam rumah, dan menguci pintunya. Baru beberapa langkah, dia di kejutkan oleh suara gedoran yang sangat kencang. Dengan kasar Dira membuka pintu. "Ada apa lagi Kak?" Gibran menggeram marah. "Kamu itu bodoh atau apa? Aku suruh kamu masuk, bukan menutup pintu dan menguncinya lagi!" Teriak Gibran murka. "Sudah selsai?" Tanya Dira, wanita sedang melipat d**a, dia tersenyum mengejek. "Aku kira kakak, tidak akan masuk? Aku kira kakak ke sini cuma numpang berciuman, yang lebih menjijikan dari film semi," ucap Dira santai. "Baby ini istri kamu? Kurang ajar banget ya. Kalau aku jadi kamu sudah aku tampar itu mulut." Dira memutar bola matanya, wanita dengan soknya  ikut campur dalam urusannya. "Plak..." tampa di sangka Dira, Gibran menamparnya. Perih di pipinya, sudut matanya melihat jika wanita yang dia kira kekasih suaminya tersenyum mengejek. "Hentikan!" Teriak Dira, tangannya mehanan lengan Gibran yang hendak menamparnya lagi. "Sekali lagi kakak, menamparku. Aku pastikan anak yang di dalam kandunganku, mati tanpa bekas." Mendengar ucapan Dira, membuat tubuh Gibran menegang, tapi hanya sebentar, lalu ia menatap Dira remeh. "Kamu tidak akan berani," serunya. Dira menyunggingkan sebuah smirk di bibirnya. Tanganya mengambil sebuah kemasan pil,  pil berwarna putih. Dan kemasannya bertuliskan 'obat perangsang' Gibran menatap tidak percaya. "Kakak tau ini kan? Kalau belum aku beri tau apa ini." Dira berucap sombong. "Ini obat perangsang, jika aku memakan lebih dari satu mungkin dalam hitungan jam aku dan anak ku sudah berada di neraka." Dengan cepat Gibran mengambil bungkusan itu, dan meleparkan asal, lalu Gibran menarik paksa Dira ke dalam, dan meninggalkan wanita yang berstatus kekasihnya. Wanita itu pergi, dia sangat marah. Dia akan kembali nanti. "kamu gila!? Bisa-bisanya kamu ingin membuhuh bayi ku!" "Ini bayiku!" Teriak Dira tidak terima. "Tapi dia akan menjadi milikku!" Teriak Gibran. Dira merasa takut, aura Gibra berubah dengan cepat. Pria itu mengcengkaram lengan Dira kuat. "Ingat dia itu bayiku! Kamu hanya tempat penitipa sementara, jadi jangan besar kepala."  "Asal kamu tau, aku tadi bisa saja membiarkan kamu meminum pil itu. Tapi tidak mungkin usaha ku pasti gagal. Sebentar lagi aku akan pergi selama sebulan. Selama aku pergi jangan berbuat macam-macam, awas saja." Lalu Gibran menghempaskan lengan Dira begitu saja, pria itu berjalan menuju kamarnya. Buliran air mata jatuh menimpa pipi putih Dira, dengan cepat tangan menyekanya. Wanita itu tersenyum pedih, tangannya mengelus perutnya. 'Jangan dengar omongan papa ya? Mama sayang kamu.' Bik Nis hanya dapat melihat Dira dari ke jauhan, wanita setengah baya itu, sudah kembali dari pasar, sejak Gibran menarik paksa Dira masuk ke dalam rumah. Hanya sebuah ke ingin sederhananya, bik Nis ingin melihat Gibran berubah, menjadi Gibran yang dulu, sebelum adik kembarnya meninggal dunia. ... Malam yang tenang, Dira mendengarkan musik klasik, menurut sebuah artikel yang di bacanya, mendengarkan musik klasik saat hamil bisa membantu perkembangan otak janin. Rasa haus menyerang tenggorokannya, wanita itu melirik ke arah nankas, gelas itu sudah kosong. Lalu matanya melirik lagi ke arah jam. "Jam 11 malam,' gumamnya. Ibu hamil itu berdiri saat berjalan alunan musik terhenti, dia pikir  apa tanganya  salah sentuh, membuat aplikasi musik itu tertutup. Tapi kenyataan baru di sadarinya, ponselnya mati, dan charger-nya berada di ruang tamu. Dengan langkah pelan Dira berjalan membuka pintu, nampak ke kegalapan menyapan, lampu di ruang tengah dan dapur sudah mati, mendandakan bis Nis sudah tidur. Dira sudah hapal dengan jalan munuju dapur tanpa penerangan pun dia bisa berjalan, hanya di temani sinar lampu dari taman luar, gorden yang tidakdi tutup. Akhirnya air mengaliri tenggorokannya, Dira mendesah lega. Lalu wanita hamil itu berjalan menuju ruang tengah, suara-suara aneh mengusik gendang telinganya. "Ahh...ahhh... lebih cepat!" Astaga suara apa itu, Dira menggelus perutnya, wanita itu lebih memilih mengindahakan suara itu, dia hanya ingin mengambil charger ponselnya. Tapi suara itu makin keras dan ritmenya semakin cepat, membuat Dira pusing, chargernya belum dia temukan. Dengan kesal Dira menekan sklar lampu. Lampu neon itu menyala terawang, membuat dua insan yang sedang melakukan hal senonoh itu terhenti. Gibran menggeram marah, siapa yang menganggu aktivitasnya, sialnya lagi pria itu belum mendapat sebuah pelepasan. "Kak bisa diam dulu? Dira mau cari charger ponsel." Gibran menghempaskan kekasihnya, wanita itu jatuh tersungkur dengan keadaan yang sangat berantakan. Dira menutup matanya dengan kedua tangannya, melihat sang suami yang naked. "Kak bisa berbalik dulu, Dira mau ambil charger." Gibran tersenyum mengejek, istrinya membuat napsu hilang dengan tingkah konyolnya. "Ir, kamu pergilah, ada hal yang ku urus." Irna menggelengkan kepalanya. "Yang seharus pergi itu, dia." Irna menunjuk Dira, "Wanita itu yang mengganggu ativitas kita!" Teriaknya tidak terima. "Kau tidak mau pergi? Baik akan ku gunakan cara kasar, aku akan menyeretmu pergi dari sini, tanpa berpakaian." Mendengar ucapan Gibran membuat Irna takut wanita memilih pergi sesudah berpakaian. "Aku pergi dulu, ingat bayaranku," Kata sebelum Irna pergi. Gibran hanya mendengus kesal, 'dasar ayam kampus,' umpatnya kesal. Lalu arah matanya menatap istrinya, wanita itu masih setia menutup matanya, lagi-lagi Gibran merasa kalah. Seringai licik tercetak di bibirnya, pria itu mengambil charger yang dimaksud Dira, tapi ia juga memakai boxernya dulu. "Dira buka matamu, aku sudah berpakaian." Dira menurunkan tangannya, membuka kelopak matanya secara perlahan. "Kyaakkk! Kakak pakai baju dulu, Dira geli melihatnya." Gibran tersenyum rencana berhasil. Pria itu berjalan ke arah sang istri. "Ini chargermu." Dira mengambilnya dengan cepat. Lalu saat hendak ke kamarnya langkahnya terhenti saat mendengar perkataan Gibran. "Karena wanita itu pergi kamu harus menggantikannya, aku belum puas." Tubuh Dira menegang, ada semburan ke merahaan terlihat di pipinya. "Tentu." itu jawaban di luar kepala Gibran. "Tapi dalam mimpu, dasar!" Teriak Dira, wanita itu berlari menuju kamarnya. Tanpa mengecas ponselnya, Dira langsung bersembunyi dalam selimut, tanganya mengelus dadanya dan perutnya. Dalam hatinya dia takut, menerima kemarahan dari Gibran, pria itu kasar. Matanya hampir terpejam, tapi sebuah ketukan dan terikan menganggunya. "Tok... tok... tok..." "Dira sayang keluar! Kamu itu harus bertanggung jawab! Atau aku akan membuka paksa pintu ini!" Teriak Gibran. Lima belas menit terlewatkan, tidak ada tanda jika Dira mengikuti apa yang dia katakan. "Aku salah pilih wanita, dasar wanita kelebihan Hormon! Dasar gairah sialan," umpatnya, 'duk..' 'Arrggkk... sakit' Gibran menendang pintu kamar Dira, tapi kakinya yang merasakan sakitnya. Pria itu berjalan menuju kamarnya dengan kakinya sakit, dan juga gairahnya yang belum tuntas
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD