Rumah yang Akan Hilang
Bab 1 — Rumah yang Akan Hilang
Hujan turun ketika Alina Prameswari menerima surat yang paling tidak ingin dibacanya.
Ia berdiri di depan pagar rumah bercat putih yang mulai mengelupas, menggenggam amplop cokelat dengan kedua tangan. Air hujan membasahi ujung lengan blusnya, tetapi ia tidak segera beranjak ke teras.
Matanya terpaku pada kalimat yang tercetak tebal di halaman pertama.
Pemberitahuan Terakhir Sebelum Pelaksanaan Penyitaan Jaminan.
Alina membaca kalimat itu sekali lagi. Kemudian sekali lagi. Seolah-olah dengan membacanya berulang kali, huruf-huruf tersebut akan berubah menjadi sesuatu yang lebih ramah. Namun, tidak ada yang berubah.
Rumah itu tetap terancam hilang. Rumah yang menyimpan suara tawa ibunya di dapur, aroma kopi setiap pagi, dan kenangan sederhana yang tidak pernah bisa ia beli kembali dengan uang sebanyak apa pun.
"Alina?" Suara Bibi Ratih terdengar dari teras.
Perempuan paruh baya itu bergegas menghampirinya dengan payung di tangan. Wajahnya langsung berubah ketika melihat surat yang digenggam Alina.
"Mereka mengirim surat lagi?"
Alina mengangguk pelan. "Ini yang terakhir, Bi."
Bibi Ratih tidak langsung menjawab. "Berapa lama lagi?"
"Tiga puluh hari."
Kalimat itu keluar dengan suara tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa rumahnya mungkin akan menjadi milik orang lain dalam waktu satu bulan.
"Tapi bukankah kamu sudah membayar sebagian utangnya?" tanya Bibi Ratih.
"Sudah. Tapi bunganya terus berjalan, sementara jumlah yang bisa kubayar setiap bulan tidak sebanding dengan total kewajibannya."
Alina memasukkan surat itu kembali ke dalam amplop.
"Aku akan mencari jalan keluar."
Ia mengatakannya seperti sebuah janji. Padahal, jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.
Malam itu, Alina duduk di meja kecil di kamarnya. Di hadapannya terbentang sebuah buku catatan, beberapa lembar laporan keuangan, dan layar laptop yang menampilkan saldo rekeningnya. Ia menghitung semuanya sekali lagi.
Gajinya sebagai analis keuangan kontrak cukup untuk membayar kebutuhan hidup, membantu Bibi Ratih, dan menyisihkan sedikit uang untuk cicilan utang rumah. Namun, untuk melunasi seluruh kewajiban dalam tiga puluh hari, ia membutuhkan jumlah yang berkali-kali lipat lebih besar daripada tabungannya.
Alina menyandarkan punggung ke kursi. Lalu mengembuskan napas panjang.
"Aku harus bagaimana, Bu?"
Tatapannya beralih ke sebuah foto berbingkai di atas meja. Dalam foto itu, ibunya tersenyum di depan rumah yang sama. Rambutnya diikat sederhana, sementara satu tangannya bertumpu pada bahu Alina kecil.
Foto itu diambil beberapa tahun sebelum Sari Prameswari meninggal. Sejak kepergian ibunya, Alina berusaha menjaga rumah tersebut sebaik mungkin. Ia bahkan mengambil pekerjaan tambahan untuk memastikan bahwa tempat itu tidak akan pernah menjadi sekadar kenangan.
Namun, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami. Mengapa ibunya meninggalkan utang sebesar itu?
Sari bukan pengusaha besar. Ia pernah menjalankan sebuah perusahaan kecil yang menyediakan layanan administrasi dan pengelolaan keuangan untuk beberapa klien. Usahanya sempat berkembang, tetapi mendadak berhenti setelah sebuah masalah bisnis muncul bertahun-tahun lalu.
Ketika Alina bertanya, ibunya selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan Alina mempercayainya.
Sampai sekarang.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
Nomor Tidak Dikenal:
Saudari Alina Prameswari, kami menerima informasi bahwa Anda sedang mencari solusi untuk menyelesaikan kewajiban finansial terkait properti milik keluarga Anda.
Alina mengerutkan kening.
Ia membaca pesan itu dengan curiga.
Alina: Siapa ini?
Balasan datang kurang dari satu menit kemudian.
Nomor Tidak Dikenal: Nama saya Daniel. Saya bekerja sebagai sekretaris eksekutif di Mahendra Group. Saya menghubungi Anda atas permintaan langsung Bapak Adrian Mahendra.
Alina terdiam.
Mahendra Group.
Nama itu tidak asing baginya.
Perusahaan tersebut merupakan salah satu kelompok usaha besar yang memiliki bisnis di bidang properti, logistik, dan investasi. Ia pernah membaca laporan keuangannya dalam sebuah proyek analisis pasar beberapa bulan lalu.
Namun, mengapa seorang sekretaris CEO perusahaan sebesar itu menghubunginya?
Alina: Maaf anda salah orang
Daniel: Tidak, Saudari Alina. Kami memiliki data pekerjaan dan riwayat profesional Anda. Bapak Adrian ingin bertemu dengan Anda besok pukul sepuluh pagi.
Alina: Untuk keperluan apa?
Kali ini, balasannya sedikit lebih lama. Lalu muncul satu pesan yang membuat Alina menegakkan punggungnya.
Daniel: Beliau ingin menawarkan sebuah kesepakatan yang mungkin dapat membantu menyelesaikan masalah keuangan Anda.
Alina menatap layar ponselnya.
Kesepakatan?
Bagaimana seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya bisa mengetahui masalah rumahnya?
Jemarinya bergerak cepat.
Alina: Dari mana Bapak Adrian mendapatkan informasi tentang masalah pribadi saya?
Pesan itu terbaca.
Namun, tidak ada balasan.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
Lima menit.
Alina akhirnya meletakkan ponselnya di meja.
"Ini pasti penipuan."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Akan tetapi, ketika hendak kembali mengerjakan laporan keuangannya, sebuah notifikasi surel masuk.
Pengirimnya adalah alamat resmi perusahaan Mahendra Group.
Subjeknya singkat.
Undangan Pertemuan Pribadi — Adrian Mahendra.
Di dalam surel itu terdapat jadwal pertemuan, alamat kantor pusat, nama sekretaris yang bertanggung jawab, serta keterangan bahwa kendaraan perusahaan dapat menjemputnya jika diperlukan.
Tidak ada permintaan uang muka.
Tidak ada tautan mencurigakan.
Dan tidak ada penjelasan mengenai tujuan pertemuan tersebut.
Alina membaca surel itu sampai selesai.
Kemudian ia menutup laptopnya.
Ia belum memutuskan untuk datang. Namun, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia melihat kemungkinan bahwa masalahnya mungkin masih memiliki jalan keluar. Meski ia belum tahu harga apa yang harus dibayarnya.
Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit keesokan paginya, Alina berdiri di lobi Mahendra Tower.
Gedung itu menjulang tinggi dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari. Orang-orang berpakaian formal berjalan melewatinya dengan langkah cepat, sebagian berbicara melalui telepon, sementara yang lain membawa map dan tablet.
Alina merapikan blazer hitamnya. Ia sengaja memilih pakaian yang sederhana, tetapi rapi. Ia tidak datang untuk mengesankan siapa pun. Ia datang untuk mengetahui mengapa dirinya dipanggil.
"Saudari Alina Prameswari?"
Seorang pria berkacamata menghampirinya.
"Ya."
"Saya Daniel, yang menghubungi Anda kemarin."
Daniel memperkenalkan diri dengan sopan, kemudian mengajaknya menuju lift khusus eksekutif.
Selama perjalanan ke lantai tiga puluh dua, Alina berusaha mengingat kembali seluruh kemungkinan hubungan profesional yang pernah dimilikinya dengan Mahendra Group.
Tidak ada.
Ia pernah menganalisis laporan perusahaan tersebut, tetapi tidak pernah bekerja langsung untuk mereka.
Tidak pernah pula bertemu dengan CEO-nya.
Ketika pintu lift terbuka, Daniel mengantarnya melewati koridor yang tenang menuju sebuah ruangan dengan pintu kayu gelap.
"Silakan masuk. Bapak Adrian sudah menunggu."
Alina mengangguk.
Daniel mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya.
Di dalam, seorang pria berdiri membelakangi mereka, menghadap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Setelan jas arang yang dikenakannya terlihat sempurna. Satu tangannya berada di saku celana, sementara tangan lainnya memegang sebuah berkas tipis.
"Pak Adrian, Saudari Alina sudah tiba."
Pria itu berbalik.
Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Alina segera memahami mengapa foto Adrian Mahendra sering muncul di majalah bisnis. Wajahnya tegas, rambut hitamnya tertata rapi, dan sorot matanya menunjukkan seseorang yang terbiasa membuat keputusan tanpa harus menjelaskan dirinya kepada banyak orang. Namun, hal yang paling membuat Alina tidak nyaman adalah cara pria itu memandangnya. Seolah-olah ia sudah mengetahui banyak hal tentang dirinya.
"Terima kasih, Daniel. Anda bisa meninggalkan kami."
"Baik, Pak."
Pintu tertutup.
Kini hanya ada mereka berdua.
"Silakan duduk, Nona Prameswari," ujar Adrian.
Alina mengambil kursi di hadapan meja kerjanya.
"Terima kasih sudah bersedia datang," lanjut Adrian.
"Saya datang karena sekretaris Anda mengatakan bahwa Anda memiliki tawaran yang berkaitan dengan masalah keuangan saya."
"Benar."
"Kalau boleh tahu, dari mana Anda mengetahui masalah tersebut?"
Adrian meletakkan berkas yang dipegangnya ke atas meja.
"Saya akan menjawab pertanyaan itu setelah kita membicarakan tujuan pertemuan ini."
Alina mengangkat alis.
"Jadi, saya harus mendengarkan tawaran Anda terlebih dahulu sebelum mendapatkan penjelasan?"
"Anda boleh menolak dan meninggalkan ruangan ini kapan saja."
Jawaban itu membuat Alina terdiam sesaat.
Adrian kemudian membuka berkasnya. "Saya sudah membaca riwayat pekerjaan Anda. Anda memiliki pengalaman dalam administrasi, pelayanan pelanggan, dan analisis keuangan. Nilai evaluasi pekerjaan Anda juga cukup baik."
"Jika Anda ingin merekrut saya sebagai karyawan, saya rasa ada prosedur yang lebih sederhana."
"Saya tidak sedang merekrut Anda sebagai karyawan."
"Lalu?"
Adrian menatapnya lurus-lurus.
"Saya ingin menawarkan sebuah pernikahan."
Alina tidak langsung bereaksi.
Ia hanya menatap pria di hadapannya, menunggu penjelasan lanjutan yang mungkin akan membuat kalimat itu terdengar lebih masuk akal.
Namun, Adrian tidak tersenyum. Ia juga tidak terlihat sedang bercanda.
"Maaf," kata Alina akhirnya. "Apa Anda baru saja mengatakan pernikahan?"
"Ya."
"Dengan saya?"
"Benar."
Alina tertawa kecil karena tidak percaya.
"Pak Adrian, saya rasa Anda salah memilih orang."
"Saya tidak pernah mengajukan tawaran seperti ini tanpa mempertimbangkan semua risikonya."
"Kalau begitu, izinkan saya bertanya. Mengapa saya?"
Adrian menutup berkas di hadapannya.
"Karena saya membutuhkan seorang istri selama dua belas bulan. Dan Anda membutuhkan sejumlah uang yang tidak mungkin Anda kumpulkan dalam waktu tiga puluh hari."
Senyum Alina menghilang. Jadi, pria ini memang mengetahui semuanya.
"Anda menyelidiki saya?"
"Saya meminta tim saya melakukan pemeriksaan latar belakang profesional sebelum menghubungi Anda. Mengenai kondisi rumah Anda, informasi itu berkaitan dengan perusahaan pembiayaan yang sedang menangani aset tersebut."
"Tanpa izin saya?"
"Saya memahami keberatan Anda. Saya tidak meminta Anda menyetujui cara saya memperoleh informasi itu. Saya hanya menjelaskan mengapa saya menghubungi Anda."
Alina menarik napas panjang.
Pria ini menyebalkan. Bukan hanya karena ia terlalu tenang ketika membicarakan masalah hidup orang lain, tetapi juga karena setiap jawabannya terdengar seperti telah dipersiapkan sebelumnya.
"Baiklah," ujar Alina. "Sekarang jelaskan mengapa seorang CEO membutuhkan istri selama dua belas bulan."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Adrian berubah sedikit. Ia mengambil sebuah dokumen dari dalam berkas, lalu menggesernya ke arah Alina.
"Enam bulan lalu, kakek saya meninggal dunia. Sebagian saham pengendali Mahendra Group ditempatkan dalam sebuah perwalian keluarga. Berdasarkan surat wasiatnya, hak atas saham tersebut akan dialihkan kepada saya jika saya memenuhi sejumlah persyaratan."
Alina melihat dokumen yang disodorkan kepadanya.
"Salah satunya adalah menikah?"
"Ya. Dan mempertahankan pernikahan itu selama setidaknya dua belas bulan sejak tanggal pencatatan resmi."
Alina membaca bagian yang ditunjukkan Adrian. Syarat tersebut tertulis dengan jelas dalam ringkasan ketentuan perwalian. Namun, ia belum melihat dokumen hukum lengkapnya.
"Kenapa kakek Anda menetapkan syarat seperti ini?"
"Beliau percaya bahwa seorang pemimpin harus mampu menjaga komitmen jangka panjang."
"Dan menurut Anda, menikah adalah cara membuktikannya?"
"Saya tidak harus setuju dengan cara berpikir beliau. Saya hanya harus memutuskan apakah saya bersedia memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan."
Alina meletakkan dokumen itu.
"Kalau Anda gagal?"
"Sebagian saham pengendali akan dialihkan sesuai mekanisme perwalian kepada pihak berikutnya yang telah ditentukan. Dalam hal ini, paman saya."
"Victor Mahendra?"
Adrian menatapnya dengan sedikit ketertarikan.
"Anda mengenalnya?"
"Saya pernah membaca berita mengenai persaingan internal perusahaan Anda."
"Kalau begitu, Anda memahami bahwa ini bukan sekadar masalah keluarga."
Alina mulai mengerti.
Adrian membutuhkan pernikahan untuk memenuhi syarat yang mengikat kepemilikan sahamnya. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia menjalani pernikahan tersebut tanpa mengharapkan hubungan romantis. Dan untuk alasan yang belum sepenuhnya ia pahami, pria itu memilih dirinya.
"Kenapa tidak menikahi seseorang yang berasal dari lingkungan Anda sendiri?" tanya Alina. "Seseorang yang memahami kehidupan keluarga kaya, menghadiri acara sosial, dan tidak perlu diberi penjelasan mengenai aturan seperti ini?"
"Karena sebagian besar orang di lingkungan saya akan menganggap pernikahan tersebut sebagai jalan masuk menuju kekuasaan."
"Anda pikir saya tidak akan melakukannya?"
"Saya pikir Anda terlalu sibuk mempertahankan sesuatu yang berarti bagi Anda untuk tertarik pada saham perusahaan saya."
Alina terdiam.
Jawaban itu terasa seperti pujian sekaligus penghinaan.
"Anda bahkan tidak mengenal saya."
"Benar."
"Lalu bagaimana Anda bisa begitu yakin?"
"Saya tidak yakin. Itulah sebabnya saya menawarkan kesepakatan, bukan meminta kepercayaan Anda."
Adrian membuka halaman terakhir dokumen tersebut.
"Jika Anda bersedia, saya akan memastikan bahwa dana yang disepakati cukup untuk menyelesaikan kewajiban rumah Anda, setelah seluruh nominal dan persyaratan hukumnya diverifikasi. Anda juga akan menerima kompensasi bulanan selama kontrak berlangsung."
Alina menatap angka yang tercantum di halaman itu. Tangannya berhenti bergerak. Jumlahnya lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan bisa diperolehnya dalam waktu singkat.
Cukup untuk menyelamatkan rumah ibunya. Cukup untuk menghentikan malam-malam tanpa tidur yang selama ini ia habiskan dengan menghitung utang. Namun, ia tahu bahwa uang sebesar itu tidak mungkin diberikan tanpa konsekuensi.
"Apa yang harus saya lakukan sebagai istri Anda?" tanyanya.
"Menjalani kehidupan rumah tangga yang disepakati, tinggal di kediaman utama saya selama masa kontrak, menghadiri acara keluarga dan perusahaan yang relevan, serta menjaga kerahasiaan perjanjian ini."
"Apakah saya harus berhenti bekerja?"
"Tidak. Selama pekerjaan Anda tidak melanggar hukum atau menimbulkan konflik kepentingan yang nyata, Anda tetap bebas bekerja."
"Apakah Anda akan mengatur siapa yang boleh saya temui?"
"Tidak."
"Apakah Anda mengharapkan saya berpura-pura mencintai Anda?"
Adrian terdiam selama beberapa detik.
"Tidak. Saya hanya mengharapkan kita menjalankan peran yang sudah disepakati di hadapan publik."
"Dan setelah dua belas bulan?"
"Pernikahan ini dapat diakhiri sesuai hukum dan ketentuan yang kita sepakati, selama tidak ada kewajiban lain yang belum diselesaikan."
Alina menunduk, memandangi dokumen di hadapannya. Ia bisa membayangkan betapa rumitnya hidup yang sedang ditawarkan pria itu. Keluarga kaya. Acara perusahaan. Kamera. Pertanyaan dari orang-orang yang ingin tahu mengapa seorang perempuan biasa bisa menikahi seorang CEO. Belum lagi kemungkinan bahwa pernikahan tersebut akan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar daripada yang bisa ia perkirakan.
Namun, ia juga membayangkan rumah ibunya. Pintu kayu yang selalu berderit. Tirai putih yang dipilih ibunya sendiri. Pohon mangga di halaman belakang yang ditanam ketika Alina masih kecil. Ia tidak ingin kehilangan semuanya hanya karena dirinya tidak memiliki cukup uang.
"Ada satu hal yang ingin saya tanyakan," katanya.
"Tanyakan."
"Jika saya menerima tawaran ini, apakah Anda akan menganggap saya sebagai seseorang yang bisa dibeli?"
Adrian tidak segera menjawab. Ia menutup berkasnya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
"Tidak, Nona Prameswari."
"Bagaimana saya bisa mempercayai itu?"
"Anda tidak perlu mempercayai saya hari ini. Bacalah kontraknya. Bawa kepada pengacara independen jika perlu. Ajukan perubahan yang Anda anggap penting. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, Anda boleh menolak."
Alina memandangnya cukup lama.
Itu bukan jawaban yang ia harapkan. Ia mengira Adrian akan mendesaknya, mungkin menggunakan masalah keuangannya sebagai alasan untuk mempercepat keputusan. Namun, pria itu justru memberinya waktu.
"Berapa lama saya punya waktu untuk mempertimbangkan tawaran ini?" tanyanya.
"Tiga hari."
Alina hampir menghela napas lega. Namun, Adrian menambahkan satu kalimat yang membuatnya kembali tegang.
"Setelah itu, saya harus mencari alternatif lain. Sementara itu, batas waktu penyelesaian kewajiban rumah Anda tetap berjalan."
Ia tidak mengatakannya sebagai ancaman. Justru karena disampaikan dengan tenang, kalimat itu terasa lebih nyata. Alina mengambil dokumen penawaran dan memasukkannya ke dalam tas.
"Saya akan membacanya."
Adrian mengangguk.
"Keputusan yang bijaksana."
Alina berdiri.
Sebelum ia mencapai pintu, suara Adrian kembali terdengar.
"Nona Prameswari."
Ia menoleh.
"Ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui."
"Apa?"
Adrian memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Nama ibu Anda pernah muncul dalam dokumen lama Mahendra Group."
Dunia seakan berhenti sesaat. Alina menggenggam tali tasnya lebih erat.
"Apa maksud Anda?"
"Saya belum mengetahui seluruh detailnya. Saya hanya menemukan catatan bahwa perusahaan milik ibu Anda pernah terlibat dalam sebuah transaksi dengan perusahaan keluarga saya bertahun-tahun lalu."
"Transaksi apa?"
"Itulah yang sedang saya coba cari tahu."
Alina merasa dadanya menegang. Selama ini, ia mengira masalah keuangan ibunya hanya berkaitan dengan kegagalan usaha yang tidak pernah dijelaskan secara lengkap. Namun, jika Mahendra Group memiliki hubungan dengan masa lalu ibunya, mungkin ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada utang rumah yang sedang ia hadapi.
"Kenapa Anda baru memberitahukannya sekarang?" tanyanya.
"Karena saya tidak ingin Anda mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap."
Alina menatap pria itu untuk terakhir kalinya sebelum membuka pintu.
"Saya akan mempertimbangkan tawaran Anda, Pak Adrian. Tapi jangan mengira saya akan menerima begitu saja semua yang Anda katakan."
"Saya tidak mengharapkan Anda melakukan itu."
Alina keluar dari ruangan tersebut. Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Ia berjalan menuju lift dengan langkah yang lebih lambat daripada ketika datang. Di dalam tasnya terdapat sebuah kontrak yang mungkin bisa menyelamatkan rumahnya. Namun, kini ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu pikirannya.
Mengapa nama ibunya tercatat dalam dokumen Mahendra Group?
Dan mengapa Adrian Mahendra membutuhkan seorang istri yang justru memiliki hubungan dengan masa lalu keluarganya?
Setelah Alina pergi, Adrian tetap duduk di ruang kerjanya. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup, kemudian membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map berwarna hitam. Di dalamnya terdapat salinan dokumen lama yang belum pernah ia tunjukkan kepada Alina.
Pada halaman pertama, tercantum nama sebuah perusahaan kecil yang telah berhenti beroperasi bertahun-tahun lalu.
Prameswari Financial Services.
Di bawahnya terdapat nama pendirinya.
Sari Prameswari.
Adrian membalik halaman berikutnya.
Sebuah laporan transaksi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut pernah menanggung kerugian besar setelah penandatanganan perjanjian dengan salah satu anak perusahaan Mahendra Group. Namun, ada satu bagian yang hilang dari arsip itu. Halaman yang memuat nama orang yang menyetujui transaksi terakhir.
Adrian menatap tanda penghapusan pada salinan dokumen tersebut. Ia sudah meminta tim internal mencari berkas aslinya selama dua minggu, tetapi belum mendapatkan hasil.
Ponselnya berdering.
Nama Victor Mahendra muncul di layar.
Adrian mengangkat panggilan itu.
"Ya, Paman?"
Suara pria yang lebih tua terdengar tenang dari seberang telepon.
"Aku mendengar kau memanggil seorang perempuan ke kantor hari ini."
Adrian tidak langsung menjawab.
"Paman terlalu cepat mendapatkan informasi."
"Aku hanya memastikan bahwa kau tidak membuat keputusan yang akan merugikan keluarga."
"Keputusan itu urusanku."
Victor tertawa pendek.
"Kalau begitu, izinkan aku memberikan satu nasihat. Dalam bisnis, kau boleh memilih siapa pun untuk menjadi rekanmu. Tetapi dalam keluarga, kau harus berhati-hati dengan orang yang membawa masa lalu ke depan pintu rumahmu."
Adrian menatap nama Sari Prameswari pada dokumen di hadapannya.
"Apa maksud Paman?"
"Anggap saja aku tidak ingin melihatmu mengulangi kesalahan yang sama."
Sambungan telepon terputus.
Adrian tetap diam selama beberapa detik. Kemudian, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Daniel.
Adrian:
Periksa kembali semua arsip mengenai Sari Prameswari. Saya ingin tahu mengapa namanya berkaitan dengan transaksi lama perusahaan.
Ia berhenti sejenak sebelum mengetik pesan kedua.
Dan jangan biarkan siapa pun mengetahui penyelidikan ini sebelum saya mendapatkan dokumen aslinya.
Pesan terkirim.
Adrian kembali menatap map hitam tersebut.
Ia belum mengetahui apakah Alina akan menerima tawarannya.
Namun, satu hal mulai terasa jelas.
Pernikahan yang awalnya ia rancang sebagai jalan keluar dari persoalan suksesi perusahaan mungkin justru akan membawanya kembali pada sebuah rahasia yang telah lama disembunyikan keluarganya. Dan jika rahasia itu benar-benar berkaitan dengan ibu Alina, dua belas bulan mungkin tidak akan cukup untuk menyelesaikan semuanya.