aku langsung masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri sambil mengingat moment kebersamaan aku dengan gaga. aku tidak tahu kenapa aku berada disini, mengapa akhirnya aku kembali kepada panji? pikirku melayang saat aku berada didalam bak mandi, aku tiba tiba memejamkan mata. pikiranku melayang jauh ke angkasa menerobos cakrawala mencari apa yang sebenarnya aku inginkan. diantara keduanya mereka mempunyai andil yang besar.
lamunanku buyar saat pintu kamar mandi di ketuk dari luar.
"maaa lo tidur" tanya panji
"lo hampir sejam di dalem, lo ga kenapa-kenapa kan" katanya lagi
aku bergegas meraih handuk dan segera keluar dari kamar mandi.
panji masih berdiri di depan pintu kamar mandi, dia memeluk ku dengan erat.
"lo kenapa?" tanyanya
aku masih terdiam. melepaskan pelukan panji lalu masuk ke kamar, langsung mengenakan baju blouse warna pink, tubuhku sangat lelah aku memutuskan berbaring di kasur. pintu kamar tidak ku kunci, aku biarkan terbuka sedikit. apartemen ini hanya memiliki 1 kamar tidur, dan panji pasti akan tidur denganku.
panji masuk ke dalam kamar, dia langsung berbaring di samping kananku. dia menghadap aku yang masih asik memainkan ponsel, berselancar di akun sosial media milikku.
aku melihat story yang di buat gaga. foto stasiun dengan emotion hati retak. aku tidak tau statusnya tertuju kepada siapa? namun, mungkin aku salah satunya.
"lo ga mau cerita?" tanya panji
aku melirik kearah nya.
"tentang hati, tentang luka tentang kamu" katanya lagi
aku terdiam sejenak, sesak dalam hati mulai terasa, mataku mulai panas, aku tidak bisa menghentikan sesak ini, air mata melaju deras di pipi.
panji melihat ku iba. dia memelukku dengan erat. dia mencium keningku.
"gapapa kadang kita harus terluka agar bisa terus maju"
aku mengangguk.
"almaaa, lo suka sama gaga?" tanyanya
"ga tau" kataku
"kalau ga tau berarti iya, soalnya kalau lo ga suka, lo tinggal bilang ngga. bukan ga tau"
aku terdiam.
"gue ga tau lo secinta apa sama gaga, tapi kalau lo sama gue tolong lupain gaga dulu. gue ketemu lo dengan konsekuensi yang besar, gue punya istri, gue punya mertua, tapi gue pilih lo" katanya
"maaa gue ga bisa liat lo jatoh jadi tolong bangkit. gue selalu ada buat lo" katanya lagi
"iya ji iya" kataku
panji memelukku erat, hari itu kami berbincang panjang tentang aku, tentang gaga, tentang panji dan tentang segalanya. aku pikir panji akan kecewa saat di tahu bahwa aku mencintai gaga, ternyata aku salah panji mendukung ku, meski dia tetap ingin aku seutuhnya.
kata panji kamu pasti akan mengerti, seseorang yang ada di hati, akan kalah dengan seseorang yang selalu hadir setiap hari. ya mungkin saat gaga tidak ada di sini, panji yang selalu hadir menemani. namun saat gaga ada, aku tidak tahu siapa yang lebih aku butuhkan.
"gue abis ashar balik ya" katanya
"mau ketemu istri lo?" kataku
"ngga gue ada urusan"
"bohong" aku sedikit berteriak
"gue ga pernah bohong" katanya
"mau kemana gue ikut"
"gue mau ketemu client di bogor"
"gue ikut" kataku
"ji gue mau magang kantor lo, btw bisa nerima anak magang kan ?" tanya ku
"bisa biar gue urus" katanya
panji menjelaskan segala hal yang harus aku urus untuk magang di kantornya, dan dia benar benar membantuku dalam segala hal. aku tidak perlu mencari perusahaan dan mengajukan proposal, sebab proposal ku masuk lewat orang dalam. kebetulan jabatan panji sudah lumayan di perusahaannya, kinerja dia sangat bagus dan selalu tepat target, wajar jika dia selalu di promosikan di jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"ayo" panji sudah bersiap
aku mengikuti langkah kakinya. dia benar benar akan mengajakku untuk bertemu dengan clientnya.
"gapapa ji" tanyaku
"gapapa ko, nanti sekalian nyari vila di bogor buat liburan walau singkat"
aku merasa tersentuh kenapa panji juga sebaik ini terhadapku.
dan ternyata benar panji bertemu dengan clientnya, dia membahas proyek yang akan di laksanakan tahun depan, jika negosiasi berhasil. perusahaan panji mendapat untung yang lumayan besar. kami mengobrol hampir 2 jam, dengan hasil yang memuaskan client setuju untuk kerjasama.
panji senang wajahnya benar benar berseri aku ikut senang melihatnya.
"ayo balik ke villa" waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.
kami bergegas.
saat sampai villa aku tidak tahu jika panji memberiku kejutan kamarnya dihiasi bunga bunga dan lilin, aku heran dan bingung sebab rasanya yang menjadi istri panji adalah laras bukan aku.
"untuk seseorang yang paling aku cintai" katanya.
aku tersenyum lebar, memeluk panji lagu once terdengar mengiringi pelukanku.
aku mau mendampingi dirimu, aku mau cintai kekuranganmu selalu bersedia bagaikan mu apapun terjadi.....
panji mencium keningku, mencium pipi dan leherku lalu bibirku. dia melumat bibirku dengan perlahan memainkan dengan tempo irama yang sangat hangat dan lembut. perlahan bajuku dilucuti oleh panji.
dia menciumi sekujur tubuhku, entahlah apapun yang Panji lakukan, aku selalu menyukainya. Panji sangat pintar urusan ini, bisa tahu apa saja yang aku butuhkan, bisa tahu yang mana saja yang aku inginkan. dia mungkin tidak sebaik orang lain, ya dengan dia bertanggung jawab atas apa yang di lakukan itu sudah menjadi nilai plus di mataku, tapi tetap saja aku membenci Panji yang tidak bisa menahan dirinya, untuk tidak menghamili Laras. bagaimana bisa dia lupa mencabut kepunyaannya saat dirasa akan keluar, bagaimana bisa Panji sebodoh ini.
"ah ah ah" aku menikmati permainan yang sedang Panji mainkan pada tubuhku
"ji , ji ah" desis ku lagi, yang benar benar ku nikmati
"maaaa" suaranya begitu nakal memanggilku dengan berdesis
Panji menggoyangkan tubuhnya, dan aku hanya menikmati semua hal, yang Panji sedang lakukan pada tubuhku.
"lo terlalu jago buat gue yang masih biasa aja" kataku
"lo terlalu nikmat buat gue yang ga bisa berhenti berpikir jorok tentang lo" suaranya masih tertahan, energinya terbagi karena menikmati permainan ini dan aku juga begitu
"aww" desis ku, tidak sengaja Panji menghentikan permainannya.
"kenapa ma?" tanya nya
"enakin" ucapku
Panji tersenyum kearah ku, dia melanjutkan aktivitas yang sedari tadi sedang di kerjakan, aku semakin menikmati semua hal yang Panji lakukan.
"jangan jauh dari gue walau sedetik"k
matanya
"iya" kataku
.
"terserah, walaupun Lo mencintai orang lain" ucap Panji lagi
Panji berbaring di samping kananku, dia menatapku yang tidak mengenakan sehelai benangpun, setelah itu kami langsung membersihkan sisa sisa permainan, yang baru selesai kamu mainkan. lucu sekali kenapa harus ku lakukan lagi.