"Alessandra Kayla Wiranata."
Nama itu dipanggil dengan aksen Belanda yang rapi, meluncur di antara nama-nama mahasiswa dari berbagai penjuru dunia yang hari ini berdiri di bawah langit-langit tinggi Academiegebouw gedung wisuda Leiden University yang sudah berdiri sejak tahun 1581, dengan dinding batu dan kolom-kolom megah yang menjadi saksi bisu ratusan tahun pencapaian manusia.
Alessa berdiri dari kursinya. Jubah hitam, kap wisuda yang ia pindahkan dengan tangan yang tidak gemetar, dan langkah yang membawa dua tahun kerja keras, enam bulan pengobatan, satu kamar rumah sakit, dan satu gaun pengantin yang tidak sempat dipakai ke altar.
Ia melangkah maju ke podium.
"Dengan predikat c*m laude," lanjut suara rektor itu, "Legum Magister dengan indeks prestasi tiga koma sembilan puluh."
Tepuk tangan mengisi ruangan.
Di barisan keluarga dan tamu, Stefan Wiranata duduk dengan punggung tegak seperti biasa — namun tangannya, yang biasanya dingin dan terkendali di atas pahanya, mengepal erat di atas lututnya. Di sebelahnya, Seraphina sudah tidak berusaha menahan air matanya sejak sepuluh menit yang lalu.
"Ma," bisik Ray di sebelah ibunya. "Mama menangis lagi."
"Diam." Seraphina mengusap matanya tanpa berpaling dari podium. "Biarkan mama menangis."
Ray tersenyum. Lalu ikut menatap kakaknya yang berdiri di atas sana. Punggung tegak, senyum tenang, menerima gulungan ijazah dengan kedua tangan yang mantap dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, Ray merasa dadanya ringan sepenuhnya.
Setelah acara selesai, mereka berkumpul di halaman Academiegebouw yang dihiasi cahaya sore yang keemasan, di antara keluarga-keluarga lain yang juga berfoto dan merayakan, suara berbagai bahasa bercampur menjadi satu melodi yang hangat.
Alessa berdiri dengan jubah wisudanya masih terpasang ketika Stefan menghampirinya.
Ayahnya tidak langsung bicara. Ia hanya menatap putrinya selama beberapa detik, cara yang sudah Alessa kenal, cara Stefan Wiranata menyimpan sesuatu yang terlalu besar untuk langsung diucapkan.
"Pa," kata Alessa pelan.
"Papa bangga." Dua kata. Namun cara Stefan mengucapkannya pelan, berat, dengan getaran kecil di suku kata terakhir yang hampir tidak terdengar membuat Alessa tahu bahwa dua kata itu menyimpan semua yang tidak pernah mudah bagi ayahnya untuk katakan.
Alessa memeluknya. Stefan membalas pelukan itu, erat, tanpa kata-kata tambahan yang diperlukan.
Makan malam mereka berlangsung di sebuah restoran di tepi Rapenburg, tempat yang Alessa sudah sisihkan sejak sebulan lalu untuk momen ini. Jendela-jendela besar menghadap kanal yang memantulkan lampu-lampu kota dalam warna emas dan perak, menu tiga hidangan yang hangat, dan percakapan yang mengalir lebih ringan dari yang pernah mereka rasakan dalam waktu yang sangat lama.
"Jadi kakak sudah punya rencana setelah ini?" tanya Ray, memotong steak-nya tanpa mengangkat kepala. "Atau kakak mau lanjut S3 sekalian?"
"Ray." Seraphina meliriknya.
"Apa? Itu pertanyaan valid."
Alessa tertawa kecil. "Belum ada rencana. Aku mau istirahat dulu."
"Istirahat di mana?" tanya Seraphina. "Di sini atau mau pulang?"
Keheningan singkat menggantung di meja itu. Bukan keheningan yang tidak nyaman, melainkan keheningan yang semua orang di meja itu tahu menyimpan jawaban yang belum diucapkan.
Stefan meletakkan pisaunya. Mengusap bibirnya dengan serbet, lalu menatap Alessa dengan cara yang berbeda dari cara ia menatap klien di ruang sidang namun tidak terlalu berbeda.
"Papa perlu bicara tentang sesuatu," ucapnya.
Alessa mengangguk. "Aku mendengarkan."
"Papa sudah berpikir panjang." Stefan memilih kata-katanya dengan hati-hati, seperti biasa. "Papa berencana pensiun dari Wiranata dan Partners akhir tahun ini."
Alessa mendongak. "Pa…"
"Dengarkan dulu." Stefan mengangkat tangan pelan. "Papa sudah tiga puluh dua tahun membangun firma itu. Dan selama itu, Papa selalu tahu bahwa suatu hari ada seseorang dari keluarga ini yang akan melanjutkannya. Bukan hanya sebagai nama di papan kantor, tapi sebagai pemimpin yang benar-benar memahami apa yang firma itu perjuangkan."
Alessa menatap ayahnya. "Papa ingin aku yang melanjutkan."
"Papa ingin kamu yang memimpin." Stefan mengoreksi, dengan penekanan yang tidak kecil. "Ada bedanya."
"Tapi aku baru saja selesai S2, Pa. Aku belum punya pengalaman praktek yang…"
"Kamu sudah magang dua tahun sebelum ini," potong Stefan. "Dan kamu lulus dengan IPK tertinggi di angkatanmu dalam program hukum pidana internasional. Papa tidak sedang menawarkan posisi ini kepada anak yang tidak mampu." Tatapannya lurus. "Papa menawarkannya kepada perempuan yang papa lihat berdiri di podium tadi siang."
Alessa terdiam.
Seraphina menyentuh tangannya di atas meja. "Tidak harus sekarang, sayang. Papa hanya ingin kamu tahu bahwa kesempatan itu ada."
"Dan kesempatan itu menunggu kamu," tambah Ray datar, mengambil roti dari keranjang. "Bukan orang lain."
Alessa menatap kanal di luar jendela. Cahaya-cahaya yang memantul di permukaan air, bergerak tenang, tidak terburu-buru ke mana pun namun terus mengalir.
Ia memikirkan dua tahun ini. Apartemen kecil yang berderik lantainya. Profesor Van Den Berg yang tidak pernah puas sebelum argumennya dipatahkan. Jiyeon yang menariknya keluar dari perpustakaan setiap kali ia lupa makan. De Buren dan kursi kayu yang tidak nyaman. Hujan Oktober yang pertama, dan cara udara Leiden terasa seperti awal dari sesuatu.
Dan ia memikirkan J-City. Firma hukum di lantai dua puluh delapan dengan logo yang sudah ia hafal sejak kecil. Kota yang penuh dengan orang-orang yang mengenalnya, mengetahui ceritanya, mungkin sebagian masih menyimpan tatapan iba yang dulu pernah menyiksa.
"Aku tidak mau kembali sebagai perempuan yang pergi karena kalah," ucapnya akhirnya, pelan.
Stefan menatapnya.
"Maksudku," lanjut Alessa, lebih jelas, "aku tidak mau kembali dan orang-orang melihatku sebagai Alessa yang dulu. Yang pergi karena tidak kuat."
"Maka kembali sebagai Alessa yang ini," jawab Stefan sederhana. "Yang pulang karena sudah selesai dengan masa lalu yang ingin ia kubur."
Keheningan itu berbeda dari sebelumnya. Lebih ringan, lebih penuh.
Alessa menghela napas panjang. Menatap ayahnya, lalu ibunya, lalu Ray yang pura-pura fokus pada rotinya namun jelas sedang menunggu.
"Baik," ucapnya. "Aku mau pulang."
Ray menghentikan kunyahannya. "Serius?"
"Jangan buat kakak menyesal dalam sepuluh detik pertama."
Ray tersenyum lebar. "Selamat datang kembali, Kak Partner."
Sementara di J-City, jauh dari cahaya kanal Rapenburg dan meja makan yang hangat, malam itu tidak berjalan dengan cara yang sama tenangnya.
Vivienne Cakrawala berdiri di ruang tamu kediaman mereka di Kawasan Perada, dengan postur yang terlalu tegak untuk seseorang yang sedang berusaha terlihat tenang. Di seberangnya, Xavier duduk di sofa dengan Natasha di sisinya, perempuan itu mengenakan gaun merah marun yang terlalu mencolok untuk makan malam keluarga yang tidak direncanakan ini, senyum terpasang di wajahnya dengan presisi yang sudah Vivienne kenali sejak pertama kali bertemu dengannya bertahun-tahun lalu.
"Aku ingin kalian bertemu lebih dulu sebelum kami membuat keputusan resmi," ucap Xavier, suaranya terkendali.
"Keputusan resmi." Christian mengulang dua kata itu dari kursinya, nada yang tidak naik namun berat di dasarnya. "Pernikahan maksudmu."
"Ya."
Keheningan yang jatuh di ruangan itu bukan keheningan yang nyaman.
Natasha menyentuh lengan Xavier dengan jari-jarinya yang lentik, gerakan yang tampak mesra namun Vivienne membacanya sebagai sesuatu yang lain. Pengingat. Penanda kepemilikan di hadapan dua orang yang belum mengakuinya.
"Tante Vivienne, Om Christian," ucap Natasha dengan suara yang diatur ke nada paling manis yang ia miliki. "Aku tahu masa lalu kita tidak mudah. Tapi aku ingin Tante dan Om tahu bahwa aku sungguh-sungguh kali ini."
Vivienne menatapnya. "Sungguh-sungguh dalam hal apa, Natasha?"
"Dalam mencintai Xavier."
"Kamu juga sungguh-sungguh dua tahun lalu," ucap Vivienne, sama manisnya, sama dinginnya. "Sebelum kamu pergi ke La Grande Milano."
Natasha tidak kehilangan senyumnya. Itu yang membuat Vivienne semakin tidak nyaman karena perempuan yang benar-benar jujur akan kehilangan senyumnya di momen seperti ini.
"Orang bisa berubah, Tante."
"Tentu bisa." Vivienne mengangguk. "Dan orang juga bisa tidak berubah sambil berpura-pura sudah berubah. Keduanya terlihat sama dari luar."
Xavier mengeraskan rahangnya. "Ma…"
"Xavier." Christian yang bicara kali ini, dengan nada yang menutup segala kemungkinan interupsi. "Papa dan Mama perlu bicara denganmu. Berdua. Sekarang."
Natasha melirik Xavier.
"Sayang, kamu tolong tunggu sebentar," ucap Xavier kepada Natasha, berdiri.
Mereka bertiga masuk ke ruang kerja. Pintu ditutup.
Christian langsung berbalik menghadap anaknya, tanpa basa-basi yang tidak perlu. "Kamu sudah membaca laporan Pak Hendra."
"Sudah."
"Dan kamu tetap memutuskan ini."
"Pa, aku mendengar penjelasannya langsung…"
"Penjelasan apa?" Vivienne memotong, lebih tajam dari yang biasanya ia izinkan dirinya. "Penjelasan bahwa La Grande Milano tidak mudah? Bahwa dia tidak punya pilihan?" Matanya tidak bergerak dari Xavier. "Xavier, setiap orang yang tertangkap melakukan sesuatu selalu mengatakan mereka tidak punya pilihan. Itu bukan penjelasan. Itu pembenaran."
Xavier menatap ibunya. "Ma, tolong berikan Natasha kesempatan."
"Kita sudah memberikannya kesempatan." Suara Vivienne turun, lebih sunyi, lebih berbahaya. "Bertahun-tahun yang lalu. Dan dia pergi meninggalkanmu demi karier dan ambisinya. Kamu ingat itu?"
Hening.
Xavier berdiri di tengah ruangan itu, di antara dua orang yang mengenalnya lebih lama dari siapa pun, dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman tapi tidak bisa ia bantah sepenuhnya.
"Dia bilang kalau aku tidak menikahinya, dia akan pergi," ucapnya akhirnya.
Christian menutup matanya sebentar. Satu gerakan kecil yang menyimpan kelelahan seorang ayah yang tidak tahu lagi bagaimana menjangkau anaknya.
"Dan kamu tidak melihat itu sebagai tanda bahaya?" tanya Christian pelan.
"Aku melihatnya sebagai seseorang yang ingin kepastian."
"Xavier." Christian berdiri tepat di depan anaknya, menatapnya dari jarak yang dekat. "Perempuan yang mencintaimu tidak akan mengancammu dengan kepergian untuk mendapatkan pernikahan. Perempuan yang mencintaimu akan menunggu karena ia ingin bersamamu, bukan karena ia membutuhkan status yang kamu berikan."
Xavier tidak menjawab.
Di balik pintu yang tertutup itu, Natasha duduk sendirian di ruang tamu, dengan senyum yang sudah tidak perlu lagi ditujukan kepada siapa pun namun tetap ia pertahankan, kebiasaan yang sudah terbentuk terlalu lama untuk dilepas begitu saja.
Matanya menyapu ruangan. Lukisan-lukisan di dinding, vas bunga yang pasti harganya tidak main-main, karpet Persia di bawah kakinya. Kehidupan yang sudah lama ia incar dari luar, dan kini ia duduk di tengahnya.
Hanya pintu ruang kerja itu yang memisahkannya dari semua yang ia inginkan.
"Kamu harus mempercayaiku, Xav," bisiknya kepada dirinya sendiri, kepada pintu yang tertutup itu. "Kamu tidak punya pilihan lain."
Di dalam ruang kerja, Xavier menghela napas panjang.
Ia menatap ayahnya, lalu ibunya, lalu lantai, lalu kembali ke ayahnya. Di dalam kepalanya ada dua suara yang sudah berminggu-minggu berdebat dan malam ini keduanya berbicara lebih keras dari sebelumnya.
"Aku tidak tahu apa yang benar lagi, Pa," ucapnya akhirnya, jujur dengan cara yang jarang ia izinkan dirinya.
Christian meletakkan tangannya di bahu anaknya. "Itu justru yang paling jujur yang kamu ucapkan malam ini."
Vivienne menatap anaknya dengan tatapan yang tidak pernah berubah sejak Xavier kecil, tatapan yang marah dan mencintai sekaligus, yang tidak bisa ada satu tanpa yang lain.
"Kamu bukan anak yang bodoh, Xavier," ucapnya pelan. "Tapi malam ini kamu sedang bertindak gegabah."
Di luar jendela ruang kerja itu, lampu-lampu taman Cakrawala Residence menyala tenang seperti selalu.
Dan di suatu tempat di atas langit yang sama, sebuah pesawat membelah malam, membawa seorang perempuan dengan jubah wisuda terlipat rapi di koper hitamnya, Legum Magister baru dari Leiden University, pulang ke kota yang ia tinggalkan dengan luka dan akan ia masuki kembali dengan sesuatu yang jauh lebih kokoh dari sekadar gelar.
Dua dunia yang bergerak dalam arah yang berbeda, dalam kota yang sama, menuju sebuah titik temu yang belum ada satu pun dari mereka yang tahu kapan waktunya akan tiba.