Berulang kali ponsel Nayara berdering. Revan sudah sering melakukan hal yang membuat Nayara sakit hati. Tapi, Revan tetap saja mengulanginya dan pergi seolah tak ada yang salah. Terkadang, sikap Revan lembut dan penuh cinta. Tapi sering kali tiba-tiba sensitif dan pemarah.
Malam itu, Revan sibuk dengan karyawannya, makan malam di tempat mewah yang Nayara sendiri tidak tau perayaan apa. Bukankah itu artinya, Nayara bukan prioritasnya? Rasanya sesak sekali terus berdiam diri di rumah dengan pikiran yang kacau. Jadi, Nayara memilih pergi ke taman komplek yang cukup jauh dari rumahnya. Dia hanya duduk di bangku taman menghadap lapangan basket dan mendengarkan beberapa lagu dari playlist milik Revan dengan earphonenya.
“Kenapa makin hari, aku merasa kamu makin berubah, ya, Mas? Dulu, kamu cinta banget sama aku. Tapi sekarang, aku rasa kayaknya cuma aku yang cinta sama kamu?” gumam Nayara sendiri.
Setelah hampir dua jam, Nayara pun pulang karena memang sudah malam, langit sudah gelap. Walau lokasinya cukup jauh, Nayara tetap jalan. Itulah kebiasaannya walau dia adalah istri dari seorang pengusaha sukses.
Baru saja tiba di rumah, Nayara langsung mendapat bentakan dari Winda, ibu mertuanya. “Dari mana aja kamu?! Apa pantas kamu pulang malam sendirian, entah pergi ke mana, dan tanpa sepengetahuan suami kamu?! Kamu benar-benar mau bikin nama baik keluarga ini kotor, ya?!”
“Maaf, Ma,” jawab Nayara sambil menunduk.
“Kamu pikir kamu siapa?! Sudah dikasih tempat tinggal, dikasih makan, dikasih segalanya sama suami kamu, tapi berani banget mengotori nama baik keluarga ini, hah?!”
Nayara hanya diam. Menunduk. Dia terlalu lelah untuk membela diri. Toh, ucapannya tak akan mengubah pandangan mertuanya yang memang sejak awal tidak pernah menerimanya sepenuhnya.
Langkah Revan terdengar cepat memasuki rumah dan menemukan Nayara berdiri di ruang tengah, menundukkan kepala sementara ibunya berdiri di depannya dengan wajah marah.
“Ada apa, Ma?” tanya Revan dengan suara berat.
“Nih, istri kamu baru pulang. Entah dari mana dia.”
Dengan lembut, Revan menarik tangan Nayara, membawanya ke kamar tanpa sepatah kata pun. Tidak ada air mata yang jatuh di pipi Nayara, dia masih berusaha menahan tangisnya. Di dalam kamar, Nayara berdiri mematung di samping kasur, sedangkan Revan dengan emosi melempar jasnya ke sofa.
“Kamu dari mana?” tanya Revan dengan tatapan dingin, namun suaranya datar.
“Aku cuma pergi ke taman komplek,” jawab Nayara tanpa memandang Revan yang berdiri tegap di hadapannya.
“Sama siapa?”
“Sendiri.”
“Kenapa malam-malam begini? Aku telepon juga kamu enggak angkat?”
Nayara mengabaikannya. Dia berbalik menuju kamar mandi, berusaha menghindar tapi Revan langsung menarik pergelangan tangannya, menghentikan langkahnya.
“Nay, Amanda cuma karyawan aku. Dia tiba-tiba peluk aku dan nangis karena capek sama hidupnya, itu aja. Dan aku cuma berusaha tenangin dia.”
Nayara menarik napas panjang, tapi matanya tak mampu menyembunyikan kecewa. “Apa itu pantas, Mas? Kamu sudah punya istri dan kalian pelukan di ruang kerja?”
“Aku sudah bilang, aku cuma berusaha tenangin dia. Lagi pula, dia yang duluan peluk aku.”
“Apa kamu enggak bisa jaga jarak sama dia?”
“Nay, emangnya apa, sih, yang kamu pikirin?”
“Dia adik dari mantan pacar kamu. Aku enggak masalah kamu bantu dia, tapi enggak gitu juga, Mas.”
“Nay ….”
“Kamu selalu kasih perhatian lebih ke dia. Kamu biayai kuliahnya dan kamu kasih dia pekerjaan. Kamu selalu ada di saat dia butuh bantuan. Atau mungkin … kalian sering kayak gitu tanpa sepengetahuan aku?” ungkap Nayara dengan lembut dan kali itu dia berani menatap Revan.
“Kamu itu selalu berpikir negatif tentang aku, Nay! Aku butuh istri yang bisa percaya, yang enggak curigaan! Tapi, kenapa kamu kayak gini sama aku?!”
“Aku bukan enggak percaya sama kamu, aku cuma ….”
Revan mengembuskan napas kasar. “Capek aku ribut sama kamu kayak gini. Aku mau istirahat.”
Nayara masih berdiri di tempatnya. Dia tidak bisa bergerak, seakan tubuhnya menolak perintah. Perlahan, dia mendekati Revan yang duduk di tepi ranjang, terlihat kesal dan enggan menatap wajahnya.
“Aku enggak bermaksud membantah kamu, apalagi berdebat sama kamu. Maafin aku, Mas,” lirih Nayara. “Mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi aku cuma … aku cuma merasa enggak dihargai.”
Revan berbalik menatapnya dengan ekspresi dingin. “Enggak dihargai? Kamu tinggal di rumah ini, enggak kerja, semua kebutuhan kamu aku penuhi, dan kamu bilang enggak dihargai?”
“Bukan itu maksud aku, Mas.”
“Terus apa?! Kamu mau aku berhenti kerja? Duduk di rumah seharian buat temani kamu? Atau kamu mau aku pecat Amanda biar kamu tenang?”
“Enggak gitu, Mas.”
Revan mendengus kasar. Nayara berdiri diam, lalu perlahan duduk di sisi kasur dengan jarak yang cukup. Dia menunduk, jari-jarinya saling menggenggam erat di pangkuannya. “Aku minta maaf kalau sikap aku salah. Aku sayang sama kamu, Mas. Aku cuma takut perasaan kamu ke aku berubah.”
“Justru kamu yang berubah, Nay. Dulu kamu percaya sama aku. Sekarang? Setiap hari selalu curigaan.”
“Mas ….”
“Aku tidur di sofa ruang kerja malam ini,” ucap Revan sambil mengambil bantal dan selimutnya sendiri.
“Mas?” panggil Nayara sedikit lebih kencang dari sebelumnya, cukup membuat Revan berhenti. “Sekarang, apa cinta kamu ke aku masih sama besarnya kayak dulu? Atau mungkin, dari dulu kamu emang enggak pernah cinta sama aku?” tanya Nayara dengan pelan dan sedikit gemetar, menahan tangisnya.
“Kalau aku enggak cinta sama kamu, aku enggak akan pernah nikahi kamu."
“Kamu berubah setelah aku keguguran. Apa kamu sadar, Mas?”
Revan membalikkan badan, menatap Nayara dengan rahang mengeras. “Kenapa jadi bahas itu lagi?”
“Sejak saat itu, kamu jarang sentuh aku, jarang ngobrol sama aku, enggak pernah lagi tanya apa aku baik-baik aja? Aku tau kamu juga kehilangan anak kita. Tapi, apa bisa kita lewati bareng-bareng? Jangan biarin aku sendiri, Mas.”
“Kamu tau kenapa aku jadi dingin?” lanjut Revan, suaranya lebih rendah, tertahan. “Karena tiap kali aku pulang, yang aku temuin cuma tuntutan. Curiga. Air mata. Seolah aku selalu salah.”
“Dan kamu tau kenapa aku kayak gitu?” Air mata Nayara akhirnya jatuh. “Karena bayang-bayang mantan kamu yang selalu ada di pikiran kamu.”
Apa yang Nayara ucapkan membuat Revan semakin kesal. “Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku besok pagi ada meeting.”
Revan melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi. Tangannya sudah menggenggam kenop saat suara Nayara kembali terdengar, lebih pelan dari sebelumnya.
“Mas, kalau suatu hari aku benar-benar capek dan berhenti bertanya, berhenti cemburu, berhenti nangis, itu artinya aku udah nyerah. Ingat itu.
***