Kejujuran

1095 Words
Kaget melihat sosok di depannya yang pucat dan lesu, Nayara refleks menegakkan tubuh sedikit. Belum sempat bertanya lagi, tubuh tinggi itu sudah mendekat. Tangannya gemetar saat meraih sisi ranjang. Detik berikutnya, kepala itu jatuh ke tangan Nayara. Bahunya bergetar. Tangis itu keluar begitu saja dengan napas tersengal-sengal. Untuk beberapa detik, Nayara hanya diam. Tangannya yang masih lemah terangkat perlahan, menyentuh rambut Revan, mengusapnya pelan. Napas berat terdengar jelas. Tangisnya belum berhenti, tapi mulai melemah. “Kamu kenapa?” Revan tidak langsung menjawab. Kepalanya masih tertunduk, dahinya masih menempel di tangan Nayara. “Aku takut, Nay. Aku takut banget kamu kenapa-kenapa.” “Aku enggak apa-apa, kok,” jawab Nayara santai sambil tertawa pelan. “Udah lah, enggak usah nangis.” Kepala itu akhirnya terangkat sedikit. Mata merah menatap Nayara sekilas, lalu kembali menunduk. Raut wajahnya penuh penyesalan dan lelah yang menumpuk. “Maafin aku, Nay. Aku salah, aku kasar sama kamu. Selama ini, aku nyakitin kamu terus. Aku minta maaf.” Nayara menggeleng pelan. Tangannya berpindah ke pipi Revan, ibu jarinya menyeka air mata yang masih tersisa. “Aku maafin asal kamu jujur sama aku, kenapa kamu berubah akhir-akhir ini?” “Aku harus jujur soal Felicia, tapi enggak mungkin sekarang,” batin Revan. “Selama ini, kamu sembunyikan apa tentang mantan kamu dari aku?” tanya Nayara lagi. “Nay, kita bahas nanti, ya?” “Dia sebenarnya enggak meninggal, ‘kan? Dan kamu tau itu, ‘kan? Atau memang semua ini rencana kamu?” Kalimat sederhana itu membuat napas Revan tersendat. Matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini dia menahan. Tubuhnya sedikit merapat, tangannya menggenggam jemari Nayara erat, seolah takut dilepaskan. “Aku janji setelah kamu sehat, aku bakal jelasin semuanya.” “Memangnya aku kenapa, sih? Aku sakit apa?” “Nanti biar kamu dengar langsung dari dokter. Intinya, kamu harus istirahat total dulu.” Hening menyelimuti ruangan. Setelah menatap selang infus di tangannya, Nayara menatap langit-langit. Ada senyum kecil di wajah Nayara, tapi matanya justru berkaca-kaca. “Beberapa bulan ini aku merasa sudah kehilangan kamu, Mas.” Ucapan itu menancap dalam. Revan membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar. Rasa bersalah kembali menekan d**a. Pintu kamar diketuk pelan. Seorang dokter masuk sambil membawa berkas. “Ibu Nayara sudah merasa lebih baik?” “Iya, Dok,” jawab Nayara. “Jadi begini, hasil pemeriksaan MRI sudah keluar. Ada cedera di tulang belakang bagian bawah akibat benturan keras. Ada cedera cukup serius di tulang belakang bagian bawah. Untungnya tidak sampai merusak saraf secara permanen.” “Apa itu bahaya, Dok?” “Masih bisa ditangani. Untuk sementara, Ibu harus pakai kursi roda dulu dan menjalani fisioterapi rutin. Kalau progresnya bagus, peluang untuk pulih itu ada.” Kata kursi roda membuat ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Revan langsung berdiri, wajahnya menegang. “Dia bisa jalan lagi, ‘kan, Dok?” “Saya tidak bisa pastikan itu proses yang cepat. Semua tergantung perawatan dan kondisi mental pasien sendiri.” Nayara mengangguk pelan. Entah kenapa, reaksinya justru lebih tenang dari yang dibayangkan. “Saya boleh pulang, Dok?” “Besok sudah boleh rawat jalan. Tapi ingat, jangan banyak bergerak dan jangan stres, ya?” Dokter pamit setelah memberi beberapa arahan tambahan. Begitu pintu tertutup, Nayara menatap kakinya sendiri. Diam. Tidak menangis. Tidak juga tersenyum. Revan mendekat, lalu jongkok di depan ranjang. Tangannya gemetar saat menyentuh lutut Nayara. “Maafin aku, Nay. Semua ini karena aku.” “Cuma untuk kesalahan ini?” Perlahan, Revan mengangkat kepalanya, menatap Nayara dengan tenang. “Nay ….” “Aku mau tau sekarang, Mas. Tentang kamu dan mantan kamu, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari aku?” tanya Nayara tenang. “Dokter bilang kamu enggak boleh setres.” “Apa itu bisa bikin aku setres?” Kali itu, Nayara sulit menahan amarahnya. Suaranya terdengar gemetar dan matanya mulai berkaca-kaca. “Biar aku bisa siap kalau sewaktu-waktu kamu lebih pilih dia daripada aku.” “Nayara!” “Kenapa?! Benar, ‘kan?” “Enggak. Aku enggak pernah niat tinggalin kamu.” “Itu juga yang kamu omongin sama dia, ‘kan?” “Dia cuma mantan aku, sedangkan kamu istri aku.” “Terus kenapa selama ini kamu selalu mengenang janji disaat kalian masih bersama?!” Nayara teriak sedikit lebih kencan dari sebelumnya. “Tolong, jelasin semuanya ke aku.” “Apa enggak bisa kita bahas nanti aja, Nay?” “Sekarang.” Revan mengusap wajahnya kasar, lalu menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian. Tatapannya jatuh ke lantai beberapa detik sebelum akhirnya kembali naik. Suaranya rendah, serak, nyaris bergetar. “Sebulan yang lalu, Felicia tiba-tiba datang. Aku juga kaget,” ungkap Revan tanpa berani menatap Nayara. “Terus kamu temui dia?” “Iya. Sebenarnya bukan untuk ketemu dia, tapi untuk memastikan sesuatu.” Nayara terdiam. Dadanya naik turun, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Tangannya mencengkeram selimut kuat-kuat. “Apa?” “Felicia bawa anak kecil, dia bilang itu anak aku.” Tetesan air mata pertama akhirnya terjatuh. Nayara menangis, namun ekspresinya datar. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin bicara, namun tak satu pun kata berhasil keluar. Jari-jari yang tadi mencengkeram selimut pun perlahan melemas. “Aku enggak tau apa-apa, Nay,” lanjut Revan kali itu sambil menggenggam tangan sang istri. “Aku juga belum pastikan kebenarannya. Aku merasa … itu cuma kebohongan.” “Jadi, selama sebulan ini sikap kamu berubah itu karena … karena hal ini?” “Iya.” “Kenapa kamu kayak enggak yakin kalau itu bukan anak kamu?” “Karena …,” Revan terdiam cukup lama. Jarinya mengeratkan genggaman, lalu perlahan mengendur lagi, seolah bingung harus menahan atau melepaskan. “karena aku sama dia pernah ….” “Cukup.” Nayara semakin menangis, namun tanpa suara. Dia membayangkan kejadian malam tadi, ketika Revan menyentuhnya dengan lembut dan mampu membuatnya makin cinta. Namun, Nayara bukan orang pertama walau dialah istrinya. Itu yang membuatnya menangis sesak. “Aku rahasiakan semuanya karena itu cuma masa lalu, Nay. Itu kejadian empat tahun lalu.” “Kamu bisa pergi dulu, Mas? Bohong kalau aku bilang aku enggak setres. Aku mau istirahat dulu.” “Tapi, Nay ….” “Tolong, Mas. Aku mau istirahat.” Tidak ada lagi yang bisa Revan lakukan. Tatapannya jatuh ke wajah Nayara yang kini memalingkan muka ke arah jendela. Bahunya naik turun pelan, menahan tangis yang sudah terlalu penuh. “Aku sudah jujur. Enggak ada yang aku sembunyikan lagi. Sekarang, semua keputusan ada di kamu mau percaya atau enggak sama aku.” Mata Revan masih menatap Nayara. “Cuma sama kamu, aku lakuin itu karena cinta dan kesadaran penuh.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD