Harus Memilih

1248 Words
Suara Felicia terdengar panik. Ada gemetar yang menandakan dia benar-benar ketakutan. Revan hanya diam, seperti bingung mau respon seperti apa. Pikirannya benar-benar semrawut. “Sakit?” “Iya. Dia demam tinggi semalam dan tadi tiba-tiba kejang. Jadi, aku bawa dia ke rumah sakit sekarang.” “Kamu di rumah sakit mana?” “RS Harmoni Medika. Dokter lagi periksa. Kamu bisa ke sini sekarang?” Revan menutup matanya sejenak. Di kepalanya, wajah Nayara muncul. Lelah. Itu yang Revan rasakan selama ini. Dia merasa sudah terlalu jauh bersembunyi, terlalu jauh hidup dengan keputusan itu. “Iya, aku ke sana.” Tangannya masih menggenggam ponsel, tapi pandangannya kosong. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanannya. Pikirannya penuh, terlalu penuh. Napasnya berat, dadanya sesak seolah ada beban besar yang menekan dari dalam. Begitu sampai di tujuan, Revan melangkah cepat menyusuri lorong rumah sakit. Di depan ruang UGD anak, Felicia berdiri dengan wajah pucat. Rambutnya acak-acakan, matanya sembab. Begitu melihat Revan, wanita itu langsung menghampirinya. “Van?” “Gimana keadaannya sekarang?” “Tadi dokter sudah periksa, tapi hasilnya belum keluar.” Revan mengangguk pelan, lalu duduk di kursi tunggu. Lututnya bergerak tak tenang. Melihat kecemasan itu, Felicia duduk disamping Revan, memegang tangan pria itu perlahan. Revan tidak terkejut, namun dia segera melepaskannya. “Dia sering kayak gini?” tanya Revan dengan suaranya rendah. “Enggak. Paling cuma demam biasa. Tapi semalam panasnya enggak turun-turun.” Sangat terlihat kecanggungan diantara mereka. Beberapa kali Felicia ingin mengatakan sesuatu, namun ditahan karena melihat betapa frustasinya Revan. “Ada apa? Ada masalah di rumah?” Felicia bertanya setelah melihat Revan mengusap wajahnya dengan kasar. “Enggak.” “Van, Azila memang masih kecil. Usianya memang baru 2 tahun. Tapi, aku bisa tau semua hal yang dia rasain, terutama tentang kamu, ayahnya.” Revan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya lurus ke depan, tapi jelas pikirannya melayang ke mana-mana. Wajahnya terlihat sangat lelah, pakaiannya juga lusuh padahal biasanya dia rapi, bersih, dan wangi. “Selama demam, dia selalu nangis sambil panggil-panggil kamu. Aku coba telepon kamu, tapi enggak diangkat.” “Aku sibuk.” “Aku tau, kamu memang selalu sibuk. Tapi, enggak biasanya kamu kayak gitu. Sebenarnya ada apa?” Pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar sambil membuka masker. Felicia dan Revan langsung berdiri bersamaan. “Orang tua Azila?” tanya dokter. “Iya, Dok,” jawab Felicia cepat. “Kondisinya sudah lebih stabil. Kami sudah kasih obat penurun panas dan anti kejang. Untuk sementara, dia harus dirawat inap dulu untuk observasi lanjutan, ya?” Felicia menghela napas lega. “Kami boleh temui dia, Dok?” “Silakan. Tapi tolong tenang.” Mereka masuk ke ruang rawat dengan langkah pelan. Di atas ranjang kecil itu, Azila terlelap. Wajahnya masih pucat, tapi napasnya terlihat jauh lebih tenang. Selang infus menempel di tangan mungilnya. Revan berdiri di samping ranjang, memandang tanpa berkata apa-apa. Tangannya mengepal, lalu perlahan mengendur. Dadanya terasa sesak, tapi mulutnya seperti terkunci. Felicia duduk perlahan. Pandangannya tak lepas dari wajah Azila. “Setiap kali dia sakit, aku selalu sendirian di sini. Urus administrasi, jaga dia pas panasnya tinggi, pura-pura kuat biar dia enggak takut. Kadang aku pikir, mungkin dia bakal lebih kuat kalau ayahnya ada.” Revan menelan ludah. Tatapannya turun ke lantai. “Waktu dia pertama kali bisa jalan, kamu enggak ada. Pas dia mulai panggil ‘ayah’, aku yang jawab. Bahkan ulang tahunnya yang pertama, cuma ada aku sama dia.” Felicia tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca. “Aku enggak nyalahin kamu, karena ini memang salah aku.” “Udahlah, Fel.” “Aku yang memutuskan buat jalanin semuanya sendiri. Aku yang memutuskan untuk pergi dari kamu. Aku egois, enggak pikir gimana nasib Azila kedepannya. Awalnya aku pikir bisa hidup tanpa kamu, ternyata … itu sulit, Van. Aku ….” “Aku juga salah.” Revan menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang sejak tadi diam di sisi ranjang akhirnya bergerak, menyentuh selimut Azila pelan, seolah takut membangunkannya. Suaranya pelan, serak, tapi jelas. “Sampai sekarang aku belum tau apa alasan kamu pergi saat itu, bahkan kamu enggak kasih tau kalau lagi hamil.” Kalimat itu keluar pelan, nyaris seperti bergumam. “Aku cari kamu ke mana-mana. Aku datengin teman-teman kamu, tempat kerja kamu, bahkan adik kamu sendiri enggak tau kamu ke mana.” “Maaf, Vin.” “Saat itu kita hampir menikah. Sampai sekarang aku bingung, kenapa kamu pergi gitu aja.” “Kenapa kamu enggak pernah tanya alasannya?” “Dulu aku bertanya-tanya. Tapi setelah kamu tiba-tiba datang bersama Azila, aku merasa enggak perlu tanya apapun.” “Kenapa?” Revan terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya tidak lagi setajam tadi, lebih lelah, lebih kosong. “Karena jawaban apa pun sekarang enggak bakal mengubah apa yang sudah terjadi. Aku percaya takdir dan ini takdir aku. Kita memang harus berpisah. Kalau enggak, aku enggak akan bertemu sama wanita sebaik istri aku.” “Iya, aku setuju kalau aku memang enggak sebaik istri kamu. Tapi, aku pikir kamu bakal benci aku?” “Harusnya iya. Tapi nyatanya enggak sesimpel itu.” “Kenapa?” Belum sempat menjawab, ponsel di saku celananya bergetar. Revan segera mengeluarkan ponselnya dan menatap layar. “Sebentar,” ucapnya singkat, lalu melangkah sedikit menjauh dari ranjang. “Halo?” “Kami dari RS Sentra Medika, Pak Revan.” “Oh, iya. Gimana kondisi istri saya? Dia baik-baik aja, ‘kan?” “Kondisinya sudah stabil. Beliau sudah sadar dan mencari Anda. Apa Anda bisa ke sini sekarang?” “Baik, saya ke sana sekarang. Terima kasih,” jawab Revan pelan dan langsung mematikan panggilan itu. “Istri kamu?” tanya Felicia yang dari tadi memperhatikan Revan. “Aku ada urusan yang harus aku urus sekarang.” “Sekarang? Jadi, kamu mau pergi?” “Nanti aku ke sini lagi.” “Setidaknya kamu tunggu dulu sampai Azila bangun.” Pandangan itu jatuh ke tubuh kecil di hadapannya. Rahangnya mengeras, jelas sedang menahan sesuatu. “Nayara juga lagi sakit. Dia di rumah sakit sekarang.” Sesaat, Felicia terdiam sambil masih memandang anaknya. “Terus, kamu Azila mengalah lagi gitu?” Rasanya sesak sekali. Revan sangat frustrasi. Beberapa kali dia mengusap kasar wajah dan rambutnya. “Fel ….” “Pergi aja, enggak apa-apa. Dia istri kamu. Kalau posisinya dibalik, aku juga mau ditemani kamu.” Sebelum pergi, untuk pertama kalinya Revan mencium Azila dan itu membuat Felicia terkejut. Namun, langkahnya kembali terhenti dengan pandangan yang menatap Felicia dengan lekat. “Aku enggak bermaksud menyinggung kamu dan Azila. Tapi, aku harap Azila benar anak aku.” “Revan!” bentak Felicia namun agak tertahan. “Satu bulan lalu, kamu tiba-tiba datang bawa Azila setelah hampir empat tahun hilang tanpa kabar. Bukannya wajar kalau aku curiga?” “Pergi.” “Kita tes DNA setelah Azila sehat.” Langkah kaki menjauh dari ruangan. Dadanya kembali terasa sesak. Revan sadar, apa pun pilihannya, selalu ada yang terluka. Begitu sampai di parkiran, pintu mobil dibuka dengan kasar lalu ditutup keras. Mesin menyala, setir langsung dipukul berkali-kali. Napasnya memburu. Revan menarik rambutnya kuat-kuat sampai kulit kepala terasa perih. Bukan karena marah pada siapa pun, tapi pada diri sendiri. Sesekali telapak tangan menghantam d**a sendiri, berharap bisa menutup sesak di dalam. “Kenapa jadi kayak gini?! Kenapa?!” Suaranya pecah tanpa didengar siapa pun. Begitu sampai di tujuan, langkahnya pelan tapi pasti. Rambut berantakan, wajah pucat, dan mata sembab. Ketika pintu kamar terbuka, rasa lega menyelimuti hatinya. Nayara setengah bersandar. “Mas?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD