Tubuh Nayara gemetar hebat. Napasnya memburu, dadanya naik turun tidak beraturan. Revan langsung berdiri mendekatinya. “Nay, kita tenangin diri dulu. Aku bakal jelaskan semuanya ke kamu. Aku bakal jujur tentang apapun yang kamu mau tau.”
Namun Nayara malah mundur selangkah, kedua tangannya meremas sisi meja. Tubuhnya goyah, napasnya semakin berat, dan akhirnya dia terjatuh ke belakang. Tubuhnya membentur sudut meja di belakangnya.
Buk!
“Arghh!” Nayara meringis pelan, menahan nyeri yang langsung menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuh. Matanya melebar menahan sakit, tangannya refleks meraih sisi meja untuk bertahan.
“Nayara?!” Revan nyaris berteriak dan langsung berlutut di sampingnya. “Nay, napas pelan-pelan.” Revan mencoba menenangkan, tapi suaranya juga gemetar.
Namun detik berikutnya, tubuh Nayara limbung. Matanya tertutup dan napasnya tertahan. Dia tidak sadarkan diri di pelukan Revan.
“Nayara!” Revan memeluk tubuh istrinya yang tak sadarkan diri. “Nay? Nayara, bangun!”
Dia langsung mengangkat tubuh Nayara ke luar kamar, sambil memanggil sopir pribadinya untuk menyiapkan mobil. Revan turun tangga dengan langkah cepat namun hati-hati. Wajahnya pucat, napasnya terengah-engah antara panik dan takut.
Tak butuh waktu lama, mobil hitam meluncur keluar dari halaman rumah dengan kecepatan tinggi. Revan duduk di kursi belakang, memangku Nayara sambil terus memeriksa nadinya. “Nay, tolong bangun. Maafin aku.” Revan memeluknya, mencium wajah Nayara beberapa kali.
Setibanya di rumah sakit, beberapa perawat langsung menyambut dan membawa Nayara ke UGD. Dokter mendatangi Revan lebih dulu.
“Apa yang membuat pasien seperti ini?” tanya dokter itu.
“Tadi, tubuhnya terbentur meja. Lalu dia sesak napas dan pingsan, Dok.”
“Baik, saya akan segera memeriksanya.”
Di ruang UGD, dokter dan tim medis langsung mengevakuasi Nayara untuk menjalani pemeriksaan fisik dan CT scan untuk memastikan tidak ada cedera serius di kepala atau tulang belakang.
Napas Revan memburu, kaosnya basah oleh keringat dan detak jantungnya tak terkendali. Dia meremas rambutnya, lalu menjatuhkan diri ke kursi tunggu. Matanya tak lepas menatap pintu ruang perawatan dengan harap-harap cemas.
Tak lama kemudian, dokter keluar dengan ekspresi serius. Revan segera mendekatinya. “Dok, bagaimana istri saya?”
“Untuk sementara, kami sudah menstabilkan kondisinya. Tapi saya mau Anda ikut saya ke ruang konsultasi. Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan lebih lanjut.”
Jantung Revan makin berdebar. Dia mengangguk dan mengikuti dokter ke ruangan dengan dinding kaca buram dan aroma antiseptik yang kuat. Di dalam, dokter membuka folder dan menampilkan hasil CT scan di layar monitor kecil.
“Kami sudah lakukan beberapa pemeriksaan cepat, termasuk CT scan d**a dan observasi neurologis awal,” ujar dokter sambil menunjuk gambar.
Revan menahan napas. “Dan hasilnya?”
“Benturan keras yang dialami istri Anda menyebabkan penumpukan darah di rongga pleura. Kami menyebutnya hemotoraks ringan. Itu yang membuat sesak napas mendadak sebelum beliau pingsan. Mungkin, awalnya beliau sudah mengalami benturan keras dan kemudian terbentur lagi di area yang sama. Saat ini, kami telah memasang selang untuk mengalirkan darah yang menekan paru-parunya.”
Revan menelan ludah, tangannya terkepal.
“Namun ada satu hal lagi. Berdasarkan nyeri yang menjalar dari punggung bawah hingga ke tungkai serta hasil tes awal, kami mencurigai adanya gangguan pada saraf tulang belakang, kemungkinan Radikulopati Lumbal, yaitu gangguan pada akar saraf di tulang belakang bagian bawah.”
“Apa itu bahaya, Dok?”
“Kalau dibiarkan, bisa menyebabkan kelemahan otot permanen atau gangguan mobilitas. Tapi kami masih dalam tahap observasi. Kami akan lakukan MRI untuk pemeriksaan lanjutan. Sekarang fokus kami adalah menstabilkan pernapasan dan mengurangi risiko pembengkakan saraf lebih lanjut.”
“Boleh saya temui dia sekarang, Dok?”
“Iya, silakan.”
Revan berjalan cepat menuju ruangan rawat. Nayara terbaring di atas ranjang dengan wajah yang pucat, bibirnya sedikit kering, dan selang infus menempel di tangannya. Meski matanya masih tertutup, dadanya sudah mulai naik turun secara teratur.
Revan melangkah pelan, duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Nayara yang terasa dingin. “Nay, aku di sini.”
Air mata Revan jatuh membasahi tangan Nayara. Tak lama kemudian, jemari Nayara perlahan bergerak. Kelopak matanya terbuka sedikit, menatap kabur sosok Revan di sisinya.
“Mas Revan?” Suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
Revan langsung menatapnya, menggenggam tangan Nayara lebih erat. “Aku di sini, Nay.”
Nayara mengerjap pelan. Di antara rasa sakit dan perih di hatinya, satu hal paling jelas, Revan menangis di hadapannya. “Kenapa aku di sini?”
“Tadi kamu pingsan, makannya aku bawa ke sini.”
“Mas,” Nayara menatap Revan dengan lembut. “Kamu benar enggak pernah cinta sama aku?”
Pertanyaan itu entah kenapa sangat sulit untuk dijawab. Revan terdiam dan tidak berani menatap Nayara.
“Kita bahas nanti, ya? Sekarang kamu istirahat dulu.”
Beberapa detik kemudian, perawat masuk dengan kursi dorong dan membawa lembar persetujuan MRI. “Maaf, kami perlu membawa Ibu Nayara untuk MRI sekarang.”
“MRI? Emangnya aku kenapa, Mas?” Nayara bertanya dengan sedikit takut.
“Kita bakal tau hasilnya nanti. Tenang, semua bakal baik aja. Aku bakal temani kamu.”
Perawat sempat menatap ragu, tapi akhirnya mengizinkan Revan menemani sampai batas pintu ruang MRI. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Hingga akhirnya, sekitar empat puluh menit kemudian, pintu terbuka. Dokter yang sama keluar sambil melepas sarung tangan dan masker medis. Ekspresinya tenang, tapi serius.
Revan berdiri cepat. “Gimana hasilnya, Dok?”
Dokter mengangguk singkat, lalu memberi isyarat agar Revan mengikutinya ke ruang konsultasi kembali. Di sana, layar sudah menampilkan hasil MRI. Dokter menunjuk ke arah tulang belakang bagian bawah Nayara.
“Benar dugaan awal kami, Pak. Ada indikasi saraf kejepit, cukup parah.”
“A-apa?”
“Kalau enggak segera ditangani, pasien bisa mengalami kelemahan otot permanen di kakinya. Bahkan, hal terburuknya bisa kehilangan kemampuan berjalan.”
“Apa bisa disembuhkan, Dok?”
“Kami akan coba dengan penanganan seperti terapi, obat-obatan, dan observasi lebih dulu. Tapi kalau dalam waktu dua minggu tidak ada kemajuan, tindakan operasi tulang belakang mungkin diperlukan.”
“Operasi?”
Revan duduk lemas di kursi. Dia mengusap wajahnya yang mulai panas dan basah oleh air mata. “Apa yang sudah aku lakuin sama dia? Aku yang bikin dia jadi kayak gini,” batin Revan.
“Sekarang, pasien harus istirahat total dulu. Untuk sementara, sebaiknya tidak ada kunjungan. Kami akan observasi ketat hari ini.”
“Baik, Dok, terima kasih.”
Tatapannya kosong, tapi pikirannya tidak jelas memikirkan apa. Semuanya terasa campur aduk, antara rasa bersalah dan takut kehilangan. Setelah memastikan Nayara tidur nyenyak, Revan memutuskan untung pulang. Jika ponselnya tidak berdering, Revan akan terus melamun di jalan menuju rumah dan itu membahayakannya. Seseorang meneleponnya.
“Feli?” ucap Revan setelah melihat layar ponselnya. Revan mengangkatnya. “Halo?”
“Van, Azila sakit.”
***