bc

Akhir Cinta Gadis Penggoda

book_age18+
62
FOLLOW
1K
READ
age gap
playboy
boss
bxg
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Rachel Setiohadi, sedang gencar mencari lelaki tampan dan mapan untuk dijadikan pendamping hidupnya. Mapan adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi. Bukan karena Rachel matre, tapi karena ada luka masa kecil yang membuatnya ingin membuktikan kepada seseorang jika dia mampu mengubah nasib.

Perjalanan Rachel dalam mencari cinta sejati nyatanya tidak mudah. Dia diputuskan di tengah konser, terlibat perseteruan dengan beberapa lelaki hingga bertemu sosok lelaki yang menarik perhatiannya yang bernama Billy.

Rachel pikir, akan mudah mendapatkan cinta Billy. Karena lelaki itupun juga terlihat ada gelagat ketertarikan. Namun, muncul lelaki lain yang bernama Brizan yang membuat rencana Rachel dalam mendekati Billy kian berantakan.

Akankah Rachel bisa mendapatkan lelaki tampan dan mapan sesuai keinginannya? Atau, dia justru disadarkan oleh satu hal jika dua kriteria itu justru membuat hidupnya kian berantakan?

chap-preview
Free preview
1-Tiba-Tiba diputusin
"Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta. Kau bukan hanya sekedar indah, kau tak akan terganti." Semua pengunjung konser Kahitna ikut bernyanyi. Hampir semuanya terbawa oleh lirik romantis yang dinyanyikan. Tak terkecuali gadis berkaus putih yang ditutup dengan kemeja oversize kotak-kotak berwarna merah tua itu. Kedua tangannya beberapa kali memegang d**a, terlihat sekali begitu menghayati. Baginya lagu "Takkan Terganti" begitu dalam, sesuai dengan kondisinya sekarang yang sedang begitu mencintai seorang lelaki. Dikala menghayati lirik lagu itu ada seseorang yang menepuk pundak Rachel. Awalnya dia tidak mengacuhkan itu, hingga tepukan itu berubah kencang. "Chel!" Tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya tepat di depan telinga kiri Rachel. "Rachel!" Rachel Setiohadi—si pemilik nama—seketika menoleh. Alis tebalnya hampir bertaut melihat wajah di depannya yang berubah agak pucat dengan pelipis terdapat bintik keringat. "Loh kenapa? Sakit?" Dia tidak lagi menghayati lagu romantis yang masih mengalun, ekspresinya berubah menjadi sedikit panik. "Enggak," jawab lelaki dengan topi abu-abu—Owel. "Gue mau ngomong penting." "Nanti aja. Nyanyi-nyanyi dulu." Setelah mengucapkan itu Rachel kembali memutar tubuh dan menggerakkan tangan ke kiri dan ke kanan. "Kau tak akan terganti." Rachel bernyanyi dengan suara keras, tidak ingin kalah dengan pengujung lainnya. Merasa tidak diacuhkan, Owel menghela napas panjang. Dia menatap depan, mencoba menikmati lagu "Mantan Terindah" yang mulai dilantunkan. Namun, setelah berusaha tetap enjoy, lelaki itu tidak bisa menikmati. Dia kembali memutar tubuh, memperhatikan gadis bercelana pendek yang bernyanyi hingga urat lehernya timbul. "GUE MAU NGOMONG!" teriaknya sambil memposisikan kedua tangan di samping mulut. Teriakan itu sama sekali tidak terdengar di telinga Rachel. Dia masih asyik bernyanyi sambil sesekali menyisir rambut panjangnya ke belakang. Owel menghela napas panjang, entah ini keberapa kalinya tidak diacuhkan. Tangannya terulur kembali menepuk pundak di depannya. "Rachel!" panggilnya dengan tepukan kencang beberapa kali. Rachel tersadar. Dia mengusap lengannya yang terasa nyeri karena pukulan pacarnya. "Sakit banget, tahu!" "Gue pengen putus!" teriak Owel cepat sebelum Rachel kembali bernyanyi. Gadis di depan Owel itu mengernyit beberapa detik, setelah itu menggeleng pelan. "Mau ngerjain gue lagi?" tanya Rachel. "Mentang-mentang sekarang lagi dengerin "Mantan Terindah" mau mutusin? Biar jadi mantan terindah lo gitu? Enggak, makasih!" Setelah mengucapkan itu dia kembali menikmati bait tiap bait yang tersisa. Owel mengusap wajah menghadapi sikap Rachel yang masih tak acuh tak acuh. "Gue nggak bisa diginiin, Chel! Gue lagi ngomong sama lo!" katanya yang tentu saja tidak mendapat respons. Mulai kehabisan kesabaran, Owel menarik gadis di depannya. "Dengerin gue baik-baik." Rachel hendak protes, tapi saat melihat raut Owel, dia sadar sejak tadi tidak mengacuhkannya. "Lo kenapa?" "Gue mau putus. Pu... tus...." Owel menekankan kata putus agar gadis berponi di depannya itu mengerti. "Lo ngomong apa?" tanya Rachel butuh diyakinkan. Berhadapan dengan Rachel sering kali membuat Owel emosi. "Putus. Gue nggak bisa lagi pacaran sama lo." "I..ini... serius?" Rachel hampir kehilangan suara. Entah karena sejak tadi terlalu semangat bernyanyi atau karena kaget. Wajahnya mendadak pucat dan hawa dingin itu mulai terasa. "Owel...." "Serius. Gue nggak bisa hadepin tingkah lo yang kayak anak kecil" ungkap Owel sambil menatap Rachel dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Mulai sekarang kita putus," lanjutnya setelah itu berbalik dan menjauh. "Lo nggak serius, kan mutusin gue?" teriak Rachel sambil berusaha menggapai. Suasana sekitar mendadak terasa dingin dan tubuhnya bergetar hebat. Lelaki berkemeja biru itu sama sekali tidak menoleh, membuat Rachel tersadar jika Owel sedang tidak bercanda. Rachel mengusap wajah. Selalu seperti ini saat dia menjalin hubungan, paling lama hanya bertahan enam bulan. Sedangkan saat berpacaran dengan Owel, baru menginjak tiga bulan sudah kandas. "Sial! Gue diputusin di saat kayak gini," maki Rachel sambil menendang udara. Karena tenaganya yang kuat, dia tidak sadar mengangkat kakinya cukup tinggi hingga lelaki yang berdiri di depannya terkena tendangannya. "Apaan sih lo!" maki pria itu. "Maaf, Bang!" Rachel tersenyum tak enak. "Ganggu aja!" Rachel mendengus, entah kenapa dia merasa lelaki di depannya sangat sinis. Dia lalu menoleh ke kiri dan kanan, hampir semua penonton datang bersama pasangan atau teman mereka. Sedangkan dia sendirian baru diputuskan pula, miris sekali. "Gue nggak terima diputusin!" Seketika dia berjongkok. Ingin rasanya menangis. Ini momen putus yang sangat menyedihkan. Bayangkan, saat menonton konser dengan lagu-lagu romantis dia justru diputuskan. "Dia bahkan mutusin gue pas lagu "Mantan Terindah". Gue nggak mau jadi mantan. Sial! Gue nggak mau jadi mantan." Rachel mulai menangis di tengah penonton yang sibuk bernyanyi dengan lirik romantis. Dia seperti berada di tempat berbeda yang dibatasi sebuah pembatas tak kasat mata. Dia menangis. Sendirian.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.3K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
70.3K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook