Pintu kamar yang dibuka dengan tidak sabaran membuat gadis yang terlelap di ranjang seketika terjaga. Dari arah pintu, Rachel berjalan masuk tanpa merasa bersalah. Dia melepas sepatu lalu naik ke ranjang, membuat gadis yang setengah terjaga itu melotot.
"Mandi dulu sana!" protes Meda.
Rachel menoleh dengan mata tajam.
Meda melihat raut sahabatnya yang terlihat agak kacau. Sontak dia terduduk, kantuknya mendadak hilang melihat kondisi sahabatnya. "Gimana tadi konsernya?"
Rachel menatap teman sekantor sekaligus teman satu apartemennya itu lalu bibirnya mengerucut. "Putus," ujarnya dengan tenggorokan seperti ada yang mencekik. Lalu kedua kakinya bergerak menghentak, percis seperti anak kecil.
"Putus?" tanya Meda dengan nada meninggi. Di matanya, Rachel dan Owel adalah pasangan yang seru. Rachel yang periang dan Owel yang kadang suka jaim. Meski begitu dua orang itu bisa saling mengisi satu sama lain, hal yang membuat Meda iri. "Lo selingkuh?"
"Gue emang gampang jatuh cinta, tapi sekalinya cinta gue bakal setia," jawab Rachel sambil mengusap sudut mata. "Owel nggak bisa terima sifat kekanak-kanakan gue."
Meda mengurut kening. Dia kira Owel bisa menerima sifat Rachel yang kadang suka aneh, terlihat dari cara lelaki itu yang selalu terhibur dengan tingkah Rachel yang terkadang absurd. "Mungkin Owel bukan yang terbaik buat lo." Meda mendekat, memeluk sahabatnya.
"Kenapa nasib gue buruk, ya?" Rachel menyandarkan kepala di bahu Meda. "Setiap pacaran selalu putus. Kapan sih gue ketemu cowok tajir yang bisa cintain gue apa-adanya?"
Perlahan Meda melepas pelukan. "Jangan lihat dari kayanya doang, lihat dari hatinya."
Rachel terdiam, tidak berniat mendebat seperti biasanya. Gadis berponi itu menatap deretan poster Lee Min Ho, Park Hyung Sik dan Kim Bum yang memakai jas hitam dan terlihat memesona itu. "Gue pengen punya cowok kayak mereka."
Meda terkekeh melihat poster aktor Korea yang sengaja dipasang Rachel. "Gue juga mau."
"Gue punya ide, biar dapet cowok tajir, Med!" Rachel seketika terduduk. Mendadak kembali bersemangat seolah lupa dengan patah hatinya.
***
Musik jazz menemani pengunjung restoran yang sibuk menyantap kudapan yang dibuat oleh chef unggulan restoran. Restoran dengan sentuhan modern dengan d******i warna putih gading itu selalu penuh dengan orang-orang berduit. Bisa dibilang tempat nongkrong eksekutif muda. Di antara tamu undangan yang berpakaian rapi dan elegan, dua gadis dengan makeup cukup tebal duduk sambil melirik kiri-kanan.
"Kita balik sekarang! Malu sama makeup gue!" Meda berbisik.
Rachel melirik Meda agar sahabatnya itu tidak lagi menggerutu. Sedangkan Meda hanya mampu menutup wajah. Sebenarnya dia ingin berdandan natural, tapi karena ulah Rachel dandannya jadi menor. Blush on cukup tebal hingga nyaris memberikan kesan seperti orang kena tampar. "Lo tetep di sini deh gue yang pulang." Meda memberikan opsi.
Gadis dengan gaun kemben berwarna pink itu menoleh. "Gue ajak lo ke sini buat bantuin mana sekiranya cowok tajir yang cocok."
Meda menghela napas, merasa akan terjebak di tempat ini selama berjam-jam. Dia lalu mengedarkan pandang melihat lelaki berambut rapi tengah makan dengan elegan. Meda menggeleng, tidak yakin pria seperti itu suka dengan Rachel yang pecicilan.
"Kalau tuh cowok gimana?" Tangan Rachel bergerak menggapai lengan sahabatnya. Saat merasakan kulit dingin itu dia menepuknya beberapa kali.
Meda menatap ke lelaki berjas abu-abu yang ditunjuk Rachel. "Si brewok?"
"Kumis tipis itu!"
"Okelah." Meda menyerah. "Inget, jangan aneh-aneh."
"Ssstt!" Rachel menggerakkan jari telunjuk, merasa ini bukan saat yang pas menasihatinya. "Gue selalu pakai hati. Lagian nggak pernah morotin mantan."
Senyum Rachel mengembang, tatapannya masih tertuju ke lelaki berkumis tipis itu. Dia senyum-senyum sendiri membayangkan lelaki itu akan menjadi kekasihnya. Tidak ingin membuang kesempatan emas, Rachel segera berdiri. Sebelum mendekati lelaki berkumis tipis itu, dia merapikan rambut panjangnya yang tergerai indah.
"Sini, gue harus bawa minum." Rachel membawa gelas di tangan kiri dan menegakkan tubuh. Setelah itu dia melangkah pelan karena stiletto dua belas centinya. Dia jarang memakai heels tinggi karena selalu kehilangan keseimbangan. Saat tinggal beberapa langkah lagi keseimbangannya mulai hilang. Dia tetap mempertahankan posisinya. Sayangnya, dia tetap terjatuh hingga gelas yang dibawa meluncur dari tangan.
"Aduh," gumam Rachel panik. Dia berusaha berdiri sambil menatap gelas yang pecah tidak jauh dari kaki dan tak jauh dari gelas itu terlihat sepasang kaki yang tertutup sepatu fantofel berwarna hitam. Rachel menelan ludah, merasa tengah mempermalukan diri.
"Anda yang membawa gelas ini?"
Perlahan Rachel mengangkat kepala, berharap tidak berhadapan dengan pria yang menyebalkan itu. Ternyata dia berhadapan dengan lelaki dengan rambut dijambul dengan mata cokelat gelap. Hidungnya sangat mancung dengan bibir yang pas—tidak tebal dan tidak tipis. Saat melihat rahang pria itu, Rachel tersadar dari keterpanaannya.
"Wait! Saya sepertinya pernah melihat Anda."
Rachel mengernyit, menatap lelaki itu saksama. Dia mencoba mengumpulkan ingatannya tentang lelaki tampan berahang tegas itu. Beberapa detik kemudian, sebuah kesadaran menghentak Rachel. "Lo!"
"Anda!"
Ucap dua orang itu bersamaan, mereka lalu saling memandang dengan ekspresi yang berbeda.