"Maafkan kesalahan teman saya, Pak."
"Iya, Pak. Maafkan kesalahan saya."
Rachel dan Meda duduk berdampingan dengan kepala tertunduk. Sekarang, mereka berhadapan dengan lelaki yang kemejanya terkena minuman Rachel.
"Dua kali Anda berbuat ulah. Pertama waktu di konser dan sekarang," jawab Frans. "Saya mau meeting, tapi kemeja saya basah karena ulah, Anda."
"Soal di konser, saya benar-benar tidak sengaja, Pak. Barusan saya juga nggak sengaja," ucap Rachel apa adanya. "Saya mau kok cuci bajunya Bapak Frans," lanjutnya sebagai bentuk tanggung jawab.
Selang beberapa detik dari ucapannya, Rachel mendapat senggolan di perut. Dia menoleh, mendapati wajah sangar Meda.
"Lo aja nge-loundry. Jangan tambah-tambahin masalah." Meda meminta sahabatnya tidak mudah membuat janji kemudian menyesalinya. Dia melirik Frans, lelaki yang ditabrak Rachel. Saat melihat sahabatnya terjatuh, dia begitu panik apalagi ada lelaki di depannya. Dia merasa akan ada masalah lain yang timbul.
Rachel melirik Frans yang menatap dengan satu alis terangkat. Dia menunduk tidak enak lalu mendekatkan bibir ke telinga Meda. "Lo nggak pernah nonton film, ya? Siapa tahu gara-gara tuh baju gue bisa deket sama Frans."
Mendengar itu Meda mengurut kening, heran karena Rachel masih saja memikirkan mendapat pacar di situasi sekarang.
"Udah bisik-bisiknya?" tanya Frans setelah melihat dua gadis itu kembali menunduk. Dia memajukan tubuh lalu kedua tangannya terlipat di atas meja. Matanya tertuju ke gadis ber-makeup menor yang membuat rencananya kacau. "Saya punya lima pembantu. Jadi, saya tidak setuju dengan tawaranmu itu."
Bahu Rachel sontak merosot. Dia lalu mencari cara agar terlepas dari masalah sekaligus bisa mendekati Frans. "Bagaimana kalau saya menjadi pembantu Bapak?"
Meda menyikut perut Rachel lebih kencang. Dia tidak tahu apa yang ada dipikiran sahabatnya sampai bisa mengajukan diri menjadi pembantu.
"Tapi, saya tidak tertarik," jawab Frans dengan senyum miring. "Saya minta Anda ganti rugi. Semuanya kacau gara-gara Anda."
Pupus sudah harapan Rachel, dia harus menerima kenyataan bahwa lelaki di depannya tidak mudah didekati. "Saya harus ganti berapa?"
"Tujuh juta," jawab Frans cepat.
"Tujuh juta? Bapak jangan nipu saya, ya! Di pasar kemeja seperti itu cuma seratus ribu, itupun masih bisa ditawar."
Frans mengernyit. "Kamu menyamakan kemeja saya dengan kemeja di pasar?"
Rachel dan Meda berpandangan, merasa jika kemeja itu sama saja dengan kemeja di pasaran. Rachel lalu menatap Frans dengan tatapan tajam, tidak ada lagi sorot kagum seperti sebelumnya. Dia paling tidak suka dengan pria peritungan. "Dua ratus ribu. Langsung saya bayar lunas," ucapnya sambil mengeluarkan dompet.
"Maaf terlambat."
Suara yang menginterupsi membuat tubuh Rachel tiba-tiba menegang. Dia berharap salah dengar, tidak mungkin itu suara Owel. Penasaran, Rachel mengangkat wajah, matanya seketika membulat melihat sang mantan berdiri dengan laptop di tangan. "Owel."
"Rachel."
Mereka memanggil bersamaan.
Rachel lebih dulu mengalihkan pandang. Seketika dia ingat momen putus kemarin. Sekarang, dia bertemu lagi dengan mantannya di saat kondisi kacau. Entah ini kesialan atau apa.
"Kalian saling kenal?" tanya Frans sambil menatap Owel dan Rachel bergantian.
Owel memilih duduk di samping Frans lalu menjelaskan. "Dia mantan saya."
Frans seketika menatap Rachel dengan pandangan menilai. "Dia mantanmu? Dia numpahin baju di kemeja saya."
Owel mengurut kening, hafal dengan sifat ceroboh Rachel. "Maaf, Pak. Dia memang ceroboh. Biar saya yang bertanggung jawab."
Ucapan Owel membuat Rachel dan Meda memandang tak percaya. Rachel menatap Owel dengan seulas senyum, berharap mantannya itu masih memiliki rasa untuknya.
"Makasih, El. Lo selalu ngolongin," kata Rachel dengan senyum senang.
"Sama-sama. Lebih baik kalian cepet pergi. Gue ada rapat sama Frans," usir Owel terang-terangan.
Meski berat, Rachel tetap berdiri. Dia menatap Owel berharap bisa berbincang lebih banyak. Sedangkan Owel menatap Rachel lelah.
"Ini terakhir kali gue bantuin lo. Gue harap kita nggak usah bersinggungan lagi."
Kalimat Owel membuat Rachel memberengggut. Dia menghentakkan kaki lalu menggandeng Meda. Rachel berdecak sebal karena Owel enggan bertemu dengannya. Lelaki itu seperti sosok asing pasca putus. Owel kepentok apa, sih? Jadi aneh gitu.
"Gue nyesel deh dulu sering muji dia. Setelah kalian putus dia nyebelin banget. Bagus deh lo putus sama dia."
Rachel mengangguk mengiakan. "Makanya itu gue pengen punya pacar tajir. Biar dia tahu kalau gue bisa dapet cowok yang lebih baik dari dia. Biar dia kecewa."
"Yah terserah lo," jawab Meda sambil melangkah lebih dulu. "Ayo balik! Gue nggak mau lo makin apes. Apalagi, sampai mempermalukan diri lagi."
"Enak aja lo! Gue nggak mempermalukan diri, ya!" Rachel tidak terima. Dia melangkah lebih cepat dengan heels dua belas centinya. Saat menuruni tangga, dia kembali ceroboh. Dia terpeleset hingga timbul suara yang cukup kencang.
Duk....
"Aww!"
"Kok gue nggak sakit?" Rachel mengernyit bingung.
"Belakang lo yang sakit!"
Sontak Rachel menoleh, bibirnya terbuka melihat lelaki berkemeja marun jatuh terduduk di belakangnya. Dia tersenyum garing tapi tidak kunjung membantu lelaki yang terjatuh itu. "Ya maaf. Gue nggak tahu kalau lo jatuh juga."
"Ya terus? Bisa tolongin gue?" Lelaki itu berteriak sambil memegang pinggangnya.
Meda yang melihat itu mengurut kening, merasa jika hari ini adalah hari apes Rachel.