Pria berkemeja marun itu duduk agak membungkuk sambil memijit pinggangnya yang terasa nyeri. Jika berniat menolong dan membuatnya sakit, dia lebih memilih tidak menolong. Katakan dia sombong, tapi melindungi diri sendiri itu perlu.
Brizan lalu menatap gadis ber-makeup tebal yang menatapnya serius itu. Rachel menahan tawa, teringat saat lelaki tampan di depannya jatuh terduduk. Dia jadi penasaran, tadi ada yang memperhatikan atau tidak.
"Pijitin."
Rachel memberengut, tapi tetap menurut. Dia berpindah tempat duduk dan memijit pinggang Brizan. Masalah kali ini Rachel menghadapinya sendiri, sedangkan sahabatnya ngacir begitu saja. "Maaf, ya. Gue kepleset."
Brizan bergerak ketika tangan mungil itu menekan pinggangnya. "Jadinya, gue yang jatuh."
"Nggak tahu terima kasih!" Bukannya takut, Rachel justru tersenyum. Dia merasa wajah Brizan unik, tampan sih sebenarnya, hanya saja tidak cocok jika mata itu melotot. Rachel yakin, lelaki itu terlihat jauh lebih tampan saat tersenyum. Tipikal lelaki buaya yang mengandalkan senyuman untuk menarik mangsa.
Brizan mengernyit melihat gadis di sampingnya, tangannya terulur memeriksa kening di depannya. "Nggak anget."
"Lucu aja pas melotot."
"Gue bukan badut yang tugasnya ngelucu." Brizan memperhatikan Rachel. Dalam hati dia bertanya sedang berhadapan dengan siapa sekarang? "Lo sebenernya siapa? Makeup tebal tapi gaya pecicilan."
Kali ini Rachel tersenyum karena Brizan tidak lagi ngotot seperti sebelumnya. "Emang baru pertama ke sini. Yah, pengen cari suasana aja." Tentu dia tidak akan memberi tahu niatannya. Dia hafal bagaimana menghadapi lelaki. Buat mereka penasaran dipertemuan pertama kemudian tarik ulur hingga mendekat.
"Nama lo?"
"Rachel," jawab Rachel sambil mengulurkan tangan.
Brizan menerima uluran tangan itu, tak lupa mengecup punggung tangannya, kebiasaannya saat berkenalan. "Brizan."
"Tarzan?"
"Brizan!" tekan Brizan. "Kalaupun tarzan, gue jadi tarzan terganteng." Setelah itu dia mengedipkan mata.
Rachel terdiam memperhatikan. Mata Brizan terlihat tajam dan dalam. Kulit wajahnya bersih. Hidung Brizan juga mancung dan cukup terlihat garis tulang yang kokoh. Secara keseluruhan memang tampan, sayangnya bukan tipe Rachel. Brizan mengingatkannya kepada abangnya yang playboy.
Brizan menepuk pundak Rachel beberapa kali. "Mau nge-date?"
Rachel mendengus. Benar, bukan? Playboy. Dia pun yakin, Brizan sengaja memintanya bertanggung jawab agar lelaki itu bisa mendekatinya. Rachel tersenyum miring lantas menggeleng tegas. "Bukan tipe gue."
"Excuse me?" Brizan menegakkan tubuh dan mendekatkan telinga ke Rachel.
"Brizan!"
Panggilan kencang itu membuat dua orang yang duduk bersebelahan serempak menoleh. Di dekat pintu tengah, wanita dengan rok span sepaha berdiri dengan wajah tak bersahabat. Brizan seketika berdiri, dan melambaikan tangan.
Rachel geleng-geleng, yakin jika wanita itu adalah pacar Brizan. "Player!"
Brizan menunduk, mengusap puncak kepala Rachel dan mengecupnya pelan. "Kapan-kapan kita jalan," ucapnya diakhiri dengan kedipan.
"Kayak gue mau aja jalan sama lo!"
Langkah Brizan seketika terhenti. Dia berbalik, memperhatikan gadis yang duduk sambil melipat kedua tangan. Dia merasa gaya Rachel seperti menantangnya. Dia tidak suka ditantang, apalagi oleh gadis kecil. "Lo nggak mungkin nolak," ujarnya percaya diri. "Bye, Sayang!" Dia melangkah mundur sambil melambaikan tangan. Setelah itu dia berbalik dan tersenyum ke wanita yang cemberut menunggunya.
Rachel mendengus. "Baru aja nemu cowok yang bisa dijadiin pacar udah ada insiden. Apesnya ketemu makhluk yang sifatnya nggak jauh-jauh dari abang gue," gumamnya. Sedektik kemudian dia tersenyum. "Tapi, dia bikin penasaran juga."
Entah karena terlanjur penasaran, Rachel melangkah ke arah kepergian Brizan. Dia mengedarkan pandang, hingga melihat lelaki berkemeja marun tengah dipeluk oleh seorang wanita. Rachel melipat kedua tangan dan terus memperhatikan. Hingga lelaki itu merasa sedang diperhatikan dan menoleh. Brizan melambaikan tangan, tapi Rachel justru berbalik.
"Ngapain juga gue penasaran?"
Rencana Rachel kali ini gagal total karena dua kecerobohan.
Sampai di pakiran, Rachel tidak menemukan mobil hitam dengan huruf belakang RAC. "Mobil gue mana?" Tak lama Rachel ingat jika kunci mobilnya di tas Meda, dan pasti sahabatnya yang membawa mobil itu. Rachel menepuk kening. "Sial! Gue ditinggal!"
"Kenapa?"
Suara serak itu membuat Rachel tersentak. Dia menoleh dan menemukan Brizan berdiri dan mencondongkan tubuh. Rachel refleks mundur beberapa langkah.
"Menghindar? Karena habis ngintip atau yang lain?" tanya Brizan dengan seulas senyum. Dia sengaja mengejar saat mendapati wajah gadis itu terlihat sebal.
"Kok wajah lo jadi nggak bersahabat gini?" tanya Brizan. "Atau cemburu? Ah, udah jatuh cinta pada pandangan pertama?"
Rachel geleng-geleng mendengar pertanyaan itu. "Playboy emang gini, ya? Awalnya aja maki-maki. Sekarang ngerayu," jawabnya sambil meneliti penampilan Brizan.
"Gimana penilaian lo? Tampan, kan?"
Tanpa sadar Rachel mengangguk, lalu buru-buru menggeleng. "Ngaca sana!"
"Barusan ngangguk." Brizan mendekat, menggandeng tangan Rachel dengan tangan besarnya. "Nggak usah mengelak," jawabnya. "Gue denger lagi cari mobil? Kalau nggak ada gue anter pulang aja."
Rachel menarik tangannya kencang. Dia lupa jika masih memakai stiletto dan tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Beruntung genggaman Brizan kuat, hingga Rachel tak perlu mempermalukan diri lagi. "Kok tiba-tiba jadi baik, sih?"
Brizan menatap gadis berwajah bulat di depannya, tatapannya lalu tertuju ke mata cokelat gelap itu. "Nggak tahu kenapa gue rasa lo orangnya asyik, lucu, jadi pengen gue godain," ucapnya sambil mendekat. Belum sempat hidung Brizan menyentuh hidung Rachel, dorongan pelan terasa di keningnya.
"Lo mau berbuat macem-macem, ya?"
"Satu macem. Dijamin ketagihan."
Jawaban Brizan yang ambigu membuat Rachel menggeleng tidak percaya. Dia mendorong Brizan lalu berlari menjauh. Brizan lalu mengejar Rachel yang telah melepas stiletto-nya. "Mau ke mana?"
Rachel berontak, tangannya bergerak ke kiri dan ke kanan berharap terlepas dari cekalan Brizan. "Gue nggak mau terlibat apapun sama lo!"
"Terlambat. Sekarang lo ikut gue!"