Mobil putih itu berhenti di depan sebuah apartemen kelas menengah. Lelaki yang duduk di balik kemudi mengedarkan pandang, memperhatikan bangunan apartemen yang berdiri menjulang. Di pikirannya mulai menebak-nebak sosok Rachel. Gadis itu pasti berasal dari keluarga mampu meski bukan di kategori paling atas. Selain itu dia merasa, pekerjaan Rachel pasti sudah bagus.
Brizan tersenyum, suka dengan gadis yang mandiri dan pekerja keras. Setelah mengamati, dia menoleh ke Rachel yang duduk di bangku penumpang sambil memejamkan mata. Tangannya lalu terulur menyentuh bahu Rachel. "Bangun. Tidur mulu."
Guncangan pelan membuat mimpi bertemu lelaki tampan terputus, terpaksa Rachel membuka mata dan menoleh ke pelaku pengganggu tidurnya. "Apa?"
"Udah sampai. Emang nggak mau dibangunin? Tahu gitu langsung ke hotel."
"Lo mau ngapain?"
"Ge-er. Lo biar tidur di hotel gue pulang. Lagi pula...." Brizan menggantungkan kalimatnya. Jari telunjuknya mengusap dagu sambil menatap Rachel seolah sedang mempertimbangkan.
Rachel menatap mata cokelat gelap di depannya. Kepalanya ikut bergerak saat Brizan memiringkan kepala. "Lagi pula?" Dia mulai waspada dengan memasang kedua tangan di depan d**a. "Jangan macem-macem!"
"Hahaha." Brizan mengalihkan pandang sambil tertawa puas. "Lo selalu ngira gue pengen ngapa-ngapain. Jangan-jangan lo yang pengen gue apa-apain?"
Rachel mendengus dengan wajah merah padam. Baru bertemu Brizan beberapa jam, dia sudah berkali-kali tarik urat. Rachel mengusap d**a lantas menyampirkan tas slempangnya ke pundak. "Gue harap nggak akan ketemu lo lagi!" teriaknya di telinga Brizan.
Brizan menutup telinganya yang mulai berdengung. Dia hendak memaki, tapi Rachel lebih dulu turun. Brizan menatap ke arah kepergian Rachel. Senyumnya mengembang kala melihat Rachel berjalan sambil menenteng stiletto di kedua tangan. Sungguh, Rachel terlihat pede-pede saja dengan tindakan seperti itu.
Beberapa detik kemudian, Brizan ingat dengan kejadian di restoran. Saat hendak keluar untuk mengambil ponsel ada gadis yang hendak terjatuh di hadapannya. Biasanya Brizan tidak akan repot-repot untuk menolong. Namun tadi berbeda, dan sialnya dia yang terjatuh. "Kok gue ngerasa nggak asing sama wajah lo," gumamnya setelah beberapa detik merenung.
Brizan mengurut alis dengan ibu jari. Dia berusaha mengingat sosok Rachel. Namun, setelah lebih dari tiga menit mencoba, dia tidak kunjung ingat. "Ah tapi banyak cewek yang mirip dia," gumamnya mencoba menghilangkan tanya yang bersarang di kepala.
Lelaki itu kembali melajukan kendaraan ke arah apartemen. Baru lima ratus meter mobil melaju, ponsel di dashboard berbunyi. Tangan kiri Brizan mengambil ponsel keluaran terbaru itu dan melihat panggilan masuk. "Halo."
"Ada party di apartemen. Kemarin janji mau have fun!"
"Oke, tunggu bentar, Babe." Brizan mengurungkan niatnya pulang. Dia akan ke tempat Selinne, wanita yang tiga bulan lalu menjadi gebetannya. Yah, mantan gebetan karena Brizan belum menemukan gadis yang pas untuk diajak serius.
Serius?
Ah, sepertinya Brizan yang tidak ingin menjalin hubungan serius. Brizan Pradika, usianya tahun ini menginjak di angka 33, tapi masih hobi bersenang-senang.
***
Di sebuah apartemen dengan nuansa pink dan putih, dua orang gadis duduk saling berhadapan. Gadis berambut dicepol duduk sambil melipat kedua tangan di depan d**a. Sedangkan gadis yang mengenakan masker bengkoang duduk dengan kedua tangan terkatup di depan.
"Sorry. lo tahu gue pengen cepet-cepet pulang." Meda mengedip beberapa kali, membujuk Rachel.
Rachel manggut-manggut sambil menatap wajah putih yang terkesan horor itu. Dia menoel masker Meda membuat si pemilik melotot sebal. "Ya tapi kan nggak usah bawa mobil gue!"
"Duit gue nipis."
"Emang dasar." Setelah mengucapkan itu Rachel turun dari ranjang. Dia mencari penutup mata di atas meja rias. Setelah itu kembali ke ranjang dengan penutup mata yang terpasang sempurna.
Saat matanya terpejam, Rachel ingat dengan Brizan. Dia kembali melepas penutup matanya lalu berbaring miring. "Lo inget cowok yang nolongin gue?"
Meda terdiam, ingat dengan lelaki tampan tadi. "Kenalan sama dia?"
"Iya. Namanya Brizan. Tapi, dia playboy."
"Kok tahu?"
Rachel menarik guling dan memeluknya erat. "Tahulah dari tingkahnya. Sama kayak abang gue. Padahal, dia potensial buat dijadiin pacar."
"Karena tajir?" Meda hafal di luar kepala. Meda bergeser mendekat. Selama mengenal Rachel, dia paling tidak suka jika sahabatnya itu masih memendam dendam. Meda tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan seorang ayah begitu saja, tapi cara Rachel untuk membalas dendam justru membuatnya menantang bahaya. "Misal nih lo dapet cowok tajir, tapi ternyata dia berniat jahat gimana?"
Rachel yang tengah melamun seketika terduduk dan menatap Meda dengan serius. "Gue juga nggak mandang cowok tajir doang. Gue nyari cowok tajir yang bisa cintain gue apa adanya. Kita nggak tahu rencana Tuhan kayak gimana. Tapi, nggak salah kan gue berharap?"
Jika sudah seperti itu Meda langsung terdiam. Dia membuka kedua tangan lalu memeluk Rachel. "Semoga ketemu cowok impian lo."
Kedua tangan Rachel membalas pelukan Meda tak kalah eratnya. "Makasih ya, Memed. Lo emang sahabat sejati gue."
"Sial, gerusak suasana!" maki Meda seraya melepas pelukan.
"Kan, itu panggilan sayang Memed!" Rachel terkikik dan kembali berbaring. "Doain gue ya, Med. Bisa ketemu cowok yang bikin nyaman. Lo tahu dari kecil gue nggak pernah ngerasain kasih sayang papa."