Misi Rachel untuk mencari cowok tajir tak berhenti begitu saja. Pukul tujuh malam, dia ke Flaws kafe. Sebuah kafe elit dengan suasana cozy dan tentu saja banyak pengujung yang berduit. Rachel duduk dengan buku menu di depannya. Bola matanya lalu bergerak mencari makanan yang paling murah.
Hampir semua makanan dibandrol harga ratusan ribu, padahal porsinya sangat sedikit. Mata Rachel berbinar saat melihat paket kentang goreng. Dia mendongak sambil menunjuk gambar makanan yang dipesan. "Ini saja satu."
Pelayan dengan rambut klimis mencatat pesanan Rachel setelah itu berjalan ke pantry. Sementara Rachel mulai melancarkan aksinya. Dia mengedarkan pandang ke penjuru kafe yang didominasi warna merah. Dia melihat dua lelaki duduk di dekat miniatur jam gadang. Rachel menatap dua lelaki itu saksama. Namun, saat melihat lelaki itu mengangkat tangan dan terlihat cincin yang melingkar Rachel menghela napas. "Ganteng sih, tapi udah nikah."
Rachel kembali mencari mangsa. Saat menatap ke pancuran mini di tengah ruangan, matanya bertemu pandangan dengan mata cokelat gelap yang menyorot tajam. Rachel segera menutup wajah dengan buku menu, tak ingin terlihat walau tindakannya percuma. "Ngapain, sih, dia di sini juga?" Rachel menggerutu sambil mencuri pandang.
"Eh, Rachel. Kok mukanya ditutupin?" Brizan menarik buku menu hingga memperlihatkan wajah cantik yang tersembunyi. Dia mengamati penampilan Rachel yang cukup bebeda. Pertemuan pertama dengan makeup tebal, pertemuan kedua gadis itu hanya mengenakan lipstik nude.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rachel memutuskan penilaian Brizan.
Lelaki berkaus putih itu duduk di depan Rachel dan kembali memperhatikan. "Ini kafe lo? Bukan, kan?"
"Bukan sih." Rachel menjawab pelan.
"Jadi, lo nggak ada hak buat ngelarang gue di sini." Sudut bibir Brizan tertarik melihat Rachel yang memutar bola matanya. Sampai sekarang dia belum bisa mengingat siapa Rachel. Namun, entah kenapa Brizan sangat suka melihat wajah polos gadis itu.
Merasa sedang ditatap intens, Rachel menyentuh pipi. Wajah gue bersih kok, batinnya. "Kok lo lihatin gue? Gue cantik emang, tapi natapnya jangan kayak gitu."
Brizan tersenyum, tak ada malu sedikitpun karena terang-terangan memperhatikan. "Lebih cantik kalau nggak pakai makeup."
Rachel mengusap telinga, menurutnya itu hanya gombalan. "Bisa aja lo playboy."
"Gue ngomong apa adanya, Sayang."
"Sayang pala lo peang! Apaan sih!" maki Rachel tak suka lalu mendapati Brizan yang mulai duduk bersandar dengan santai. "Lo nggak berniat pergi?"
"Ngusir?"
"Udah tahu nanya."
Brizan bangkit dari posisinya. Rachel kira lelaki itu akan pergi menjauh. Namun, semuanya sirna saat Brizan duduk di sampingnya.
"Gue maunya di sini sama lo. Gimana dong?" tanya Brizan sambil mencolek dagu Rachel. Dia tersenyum kecil melihat mata Rachel kembali melotot.
Rachel memukul lengan Brizan dengan kencang lalu menjauh ke sudut sofa sambil memijit pelipis. "Rencana gue hancur gara-gara nih orang."
"Rencana apa?" Brizan mendengar gerutuan itu. Tangan besarnya menyentuh pundak Rachel agar menghadapnya. "Masih marah soal kemarin?"
Rachel segera menepis. "Lo itu aneh, Bri! Awalnya marah-marah. Terus godain, terus maksa pulang bareng. Sekarang lo gombalin gue," ungkapnya. Tak lama Rachel menatap Brizan dengan pandangan menyelidik. "Lo bukan bandar perdagangan orang yang lagi cari mangsa, kan?"
Pletak!
Brizan memukul kening Rachel dengan jari tengah. "Nama gue Brizan. Nggak ada tuh embel-embel bandar perdagangan orang."
"Ya terus kenapa sikap lo aneh?" Rachel mengusap kening yang terasa panas.
Senyum Brizan mengembang. "Tiap ngeliat lo gue pengen jailin. Ya karena gue pengen, gue pasti bakal ngelakuin itu, Sayang."
"Wah ini nggak bener." Rachel seketika berdiri. Entah kenapa dia merasa hidupnya tidak lagi aman jika terus berdekatan dengan Brizan. Selalu saja rasanya ingin marah-marah. Selain itu dia merasa misinya akan terganggu.
"Mau ke mana?" tanya Brizan saat Rachel lewat di depannya. Tidak ingin gadis itu menjauh, Brizan menarik Rachel hingga jatuh di pangkuan. "Sorry atas pertemuan pertama kita yang nggak enak. Gue cuma pengen kenalan. Kayaknya lo orangnya asyik, nggak jaim dan cocok sama gue."
Mendengar itu Rachel menggeleng tegas. Satu tangannya menyentuh kening Brizan memastikan. "Cocok apanya?"
"Cocok jadi temen. Selama ini gue cuma punya temen cewek yang jaim. Pengenlah punya temen yang seru."
Rachel berusaha melepaskan diri, tapi Brizan semakin mengeratkan pelukan. "Nggak mau deket-deket sama lo. Feeling gue buruk!"
"Emang salah ajak temenan? Atau mau lebih?" tawar Brizan sambil menaikturunkan kedua alis. "Emm. Gue lagi nggak pengen hubungan serius. Sorry, ya."
"Lo itu, ya!" Rachel menggigit pundak tegap di depannya karena terlanjur kesal.
Brizan sontak menarik kepala Rachel menjauh, tapi gadis itu masih menggigit pundaknya. "Hel! Aduh sakit! Aduh geli!" teriaknya sambil bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Rasain lo!" Rachel seketika berdiri dengan senyum puas.
Brizan mengusap pundaknya yang terasa panas. Dia lantas mendongak melihat Rachel yang tersenyum mengejek. Kedua tangannya lantas menarik Rachel mendekat. Gadis itu kembali terduduk di pangkuannya. Dengan cepat Rachel kembali menggigit Brizan agar lelaki itu tahu rasa.
"Kalau mau gigit-gigit cari tempat aman dulu, dong!" Brizan berusaha menjauhkan kepala Rachel dari pundaknya. Sayangnya kedua tangan gadis itu melingkar ke lehernya dengan erat.
"Ih! Pengen gue cabik-cabik!" Rachel berhenti menggigit dan memukul sisi kepala Brizan. Dia menatap Brizan yang terlihat kewalahan menghadapi tindakannya. Dia hendak berdiri, tapi Brizan masih memeluk pinggangnya dengan erat. "Wah! Perlu dikasih pelajaran lagi." Setelah itu Rachel menggigit bagian lengan.
"RACHEL!" Teriakan kencang itu tiba-tiba terdengar.
Rachel dan Brizan menoleh ke sumber suara. Mereka mendapati seseorang yang berdiri lima langkah dari mereka. Wajahnya terlihat sangar dengan mata memerah yang hampir mencuat keluar.
"KALIAN NGAPAIN?"
Seseorang itu kembali berteriak, membuat beberapa pengunjung menatap ke arah Rachel dan Brizan penuh penghakiman. Wajah Rachel seketika pucat pasi. Mati gue!
Sedangkan Brizan tampak biasa saja.