Lelaki berkemeja coklat s**u duduk menghadap dua orang berbeda di depannya. Dua orang yang menurut pengelihatannya tadi sedang bermesraan. Birzy lalu memajukan tubuh dengan kedua siku bertumpu di atas meja. "Bisa kalian jelaskan semuanya?" tanyanya menuntut. "Kalian pacaran?"
"Enak aja!" Rachel dan Brizan menjawab dengan kompak. Setelah itu saling pandang dan mendengus sebal.
Brizan mengusap ujung dagunya dengan jari telunjuk lalu tatapannya tertuju ke adiknya yang masih mengeraskan rahang. "Gue nggak ada apa-apa sama Rachel. Lo aja lebay."
Sebenarnya ini bukan pemandangan pertama melihat Brizan bermesraan, hanya saja Birzy tidak menyangka jika abangnya juga mempermainkan Rachel. "Bang lo tahu, kan, Rachel itu siapa?" tanya Birzy setelah lama menatap dua lawan bicaranya.
Brizan memajukan tubuh. "Siapa?" Dia melirik gadis di sampingnya setelah itu menatap Birzy penasaran.
"Adiknya Raka."
Sontak Brizan ingat dengan gadis manja yang dulu pernah dia lihat bersama Raka. Brizan menoleh, memperhatikan Rachel saksama. Pantas saja dia merasa tidak asing dengan wajah itu. "Jadi, lo adiknya Raka? Cewek yang manja itu?"
Rachel melotot, padahal dalam hati mengakui jika manja. Lalu menatap Birzy dan Brizan bergantian. "Jadi, kalian ini kakak adik?" tanyanya sambil memperhatikan wajah Brizan. "Kak Bir, lo pernah bilang kakak lo player, jadi dia?" Rachel menunjuk Brizan.
"Nggak usah nunjuk-nunjuk!" Brizan menarik jari telunjuk Rachel dan menggenggamnya. Namun, Rachel langsung menarik tangannya.
Rachel masih tidak percaya. Dia tidak pernah bertemu dengan kakak Birzy sebelumnya. Meski Birzy bersahabat dengan Raka, tapi dia tidak pernah mencoba ingin tahu keluarga Birzy. Diam-diam dia menilai kedua kakak beradik itu. Menurutnya Brizan lebih tampan dan supel daripada Birzy yang menampilkan sisi dingin. Namun, dia merasa Birzy jauh lebih baik.
"Masa lo lupa? Dulu, kan, penah ketemu," jelas Birzy membuyarkan lamunan Rachel. "Lo juga lupa sama dia, Bang?"
"Ya lupa. Udah zaman dulu juga." Rachel mengangkat bahu tak acuh.
"Pikun." Brizan terkekeh seolah dia sendiri tidak. Dia lalu menatap Birzy yang masih duduk di depannya, tampak santai dan tidak ada tanda-tanda akan beranjak. "Lo ngapain juga masih di sini? Ganggu."
"Kak, lo udah tahu, kan, kalau Rachel adiknya Raka? Masa mau deketin dia?"
Rachel perlahan berdiri. "Mending gue aja, Kak, yang pergi. Gue nggak aman kalau deket Brizan," ucapnya lalu melenggang begitu saja.
"Hei!" Brizan menoleh ke belakang, melihat tubuh mungil Rachel berjalan menjauh. Setelah menghilang dari pandangan, Brizan kembali menatap adiknya. "Dia manggil lo kakak. Gue kok nggak dipanggil kakak juga?"
Birzy mengangkat bahu. "Mana gue tahu? Eh, tapi emang bener lo mau deketin Rachel? Jangan macem-macem dan bikin Raka marah. Dia adik kesayangannya Raka."
Diberi pertanyaan itu Brizan tersenyum. Sejenis senyum yang bisa ditebak Birzy dengan tepat. "Beneran lo mau deketin dia?" Birzy menggeleng tidak percaya.
"Lo tahu kakak kedua lo yang paling ganteng ini kayak gimana, Bir." Brizan menjawab dengan misterius.
"Raka itu posesif. Kalau adiknya lo apa-apain, gue nggak mau persahabatan gue sama Raka rusak."
Lelaki yang diberi wejangan itu manggut-manggut, padahal ucapan Birzy masuk telinga kanan keluar telinga kiri. "Tenang aja. Gue pasti tanggung jawab sama ulah gue." Setelah mengucapkan itu dia berdiri, sebelum berbalik dia sempat menatap makanan yang tersaji. "Bayarin!" ucapnya mengerjai adiknya seperti biasa.
"Sialan!" Birzy memaki sambil mengusap wajah. Harusnya dia tadi segera pergi agar tidak dikerjai kakaknya. Yah, meski membayar makanan bukan masalah berat.
***
Rachel keluar kafe sambil menendang kerikil yang terlihat. Malam ini rencananya kembali gagal karena ulah Brizan. Diperparah dengan kedatangan Birzy. Namun, kedatangan Birzy membuat Rachel akhirnya tahu siapa Brizan. "Dunia ternyata sesempit itu."
"Hmm... Ujung-ujungnya ketemu lagi sama lo."
Tubuh Rachel berjingkat mendengar suara tiba-tiba itu. Dia menoleh dan mendapati Brizan di sampingnya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Rachel memutar bola matanya malas. "Lo ngapain ngikutin?"
Brizan berdiri menyerong. Dia memiringkan kepala, memperhatikan gadis di depannya yang mulai terlihat sebal. "Gue nggak ngikutin lo," jawabnya. "Gue pengen pulang dan mobil gue di sana." Tangannya lalu terarah ke mobil hitam yang terparkir di ujung.
Rachel mencoba percaya. "Ya udah, sana pulang."
"Ngusir?" Brizan berdiri di hadapan Rachel. "Mau bareng?"
"Gue bawa mobil!" Rachel menjawab sambil menggerakkan tangan ke arah mobil tidak jauh dari mobil Birzy. "Sorry, kemodusan lo nggak berhasil." Setelah mengucapkan itu dia melanjutkan langkah.
"Modus?" Brizan berbalik dan tersenyum geli. "Lo anggep cowok yang mau anterin itu sebagai modus? Gimana kalau dia tulus pengen anterin?"
"Zaman sekarang susah cari cowok kayak gitu!"
Brizan mengangguk mengiakan. Dia melangkah dengan lebar hingga sejajar dengan Rachel. "Karena itu lo harus hati-hati."
"Hello. Nggak salah nasihatin gue?" Rachel menghentikan langkah dan menatap Brizan.
"Gue cuma ingetin." Brizan mengusap puncak kepala Rachel lantas berlalu. Tangan kirinya terangkat ke atas lalu melambai. "Bye. Kalau kangen telepon aja. Minta nomornya ke Birzy."
Rachel bergidik. "Idih! Ini terakhir kalinya gue ketemu sama lo, Tarzan!"
Brizan menghentikan langkah setelah sampai di depan pintu mobil. Dia menatap Rachel lalu melambaikan tangan. "Bye, Adik kecil!"
"Ke laut sono!" teriak Rachel sambil menendang udara.