8-Kemodusan

1050 Words
Pukul sepuluh malam terdengar gedoran kencang di sebuah pintu apartemen. Si pemilik segera membuka pintu dengan mata mengantuk. Saat melihat lelaki berjaket kulit hitam, Rachel langsung memaki. "Ngapain sih, Bang? Ganggu orang tidur aja." Raka menarik pundak adiknya, mengguncangnya pelan agar kantuknya hilang. Cara itu terbukti ampuh karena sekarang Rachel menatap abangnya. "Ada apa malem-malem ke sini?" tanya Rachel dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Lo deketin Kak Brizan?" Rachel menghela napas berat. Dia yakin jika abangnya tahu masalah ini dari Birzy. Memang Raka dan Birzy sahabat sejati. "Bukan gue yang deketin." "Kata Birzy kalian ciuman di kafe." Raka menatap penuh selidik. Rachel segera menepis tangan abangnya. Dia berjalan masuk yang disusul oleh Raka. Rachel duduk bersila di atas sofa, memperhatikan abangnya yang masih menatap penuh selidik. "Bukan ciuman tapi gigit dia." "Kalian udah berani gigit-gigitan?" "Please, Bang. Gigit yang gua maksud bukan kayak gigitan lo ke Nera." Sontak Raka terkekeh. Dia mencoba menghilangkan pikiran negatifnya lalu menatap Rachel penuh tanya. "Jadi, apa yang terjadi?" Rachel menggaruk tengkuk, merasa ABG baru kemarin yang diinterogasi karena coba-coba ciuman. "Jadi, gue di kafe. Brizan nyamperin terus...." "... panggil Kak atau Bang Brizan, yang sopan." Raka menyela. "Iya. Iya, Bang Brizan!" Rachel menurut meski diucapkan dengan nada tinggi. "Bang Brizan nyamperin, terus gue mau pulang tapi nggak boleh. Gue ditarik, jatuh deh ke pangkuannya. Karena dia nggak mau lepas, ya udah gue gigit pundaknya." Mendengar cerita Rachel, Raka terkekeh. Dia membayangkan bagaimana sakitnya gigitan Rachel. Dia pernah digigit dan menimbulkan memar hingga tiga hari. "Terus, Kak Birzy datang. Dikira gue udah ciuman sama abangnya," Rachel menutup ceritanya. "The end. Nggak ada kejadian yang aneh-aneh." Raka lega setelah mendengar ceritanya lebih jelas. "Posisi kalian yang bikin Birzy berpikiran aneh." "Brizan dulu yang mulai." Rachel menjawab tak acuh. "Abang Brizan." Kedua tangan Rachel menutup telinga lalu melirik ke pintu kamar, takut Meda terbangun. "Iya Abang Brizan maksud gue," jelasnya setelah itu melipat kedua tangan di depan d**a. "Jadi, lo ke sini malem-malem cuma mastiin itu?" "Ya. Dan gue minta lo jauhin Brizan." Raka menatap Rachel dengan wajah serius. "Nggak masalah." Rachel justru senang bisa berjauhan dengan Brizan. Dia bisa melanjutkan misinya untuk mencari lelaki tampan. Rachel menghela napas, ingat dua kali misinya gagal total dan kali ini karena ulah Brizan. Ah, lelaki itu sungguh seperti setan yang selalu muncul dan menggangu. Kakak beradik itu saling diam, hingga Raka ingat dengan lelaki yang jarang diceritakan Rachel. "Kabar Owel gimana?" Lamunan Rachel terputus. Dia menatap abangnya dengan senyum kecut. "Putus. Dia nggak bisa nerima gue apa adanya." Raka geleng-geleng. Secara garis besar sifat adiknya sama dengannya, player. Hanya saja Raka lebih tidak suka berkomitmen dan memutuskan hubungan lebih dulu. Berbanding terbalik dengan Rachel yang suka berkomitmen, tapi selalu diputuskan lebih dulu. "Jadi, sekarang lo lagi ada misi cari cowok tajir?" Rachel manggut-manggut. Dia menjalani misi itu sejak SMA, Raka adalah orang pertama yang tahu. "Iya, dong. Eh, dua kali gagal gara-gara Brizan." "Abang Brizan." Raka mulai sebal karena adiknya itu sungguh bebal. "Iya-iya, duh. Rempong banget," maki Rachel. Entahlah dia selalu lupa untuk memberikan embel-embel "Bang" di depan nama Brizan. Lelaki berambut lebat dan sedikit rapi itu terdiam memikirkan cara agar adiknya tidak menjalankan misi konyol itu. "Lo tahu, kan, risiko dari misi itu apa?" Rachel mengangguk, bukan hanya tahu tapi dia sudah hafal. "Lo takut gue patah hati." "Yah. Sekarang udalah lupain pengen nyaingi papa dengan cara lo cari cowok tajir. Coba berdamai sama masa lalu." Kalimat Raka entah kenapa membuat hati Rachel tercubit. "Jadi, lo sekarang udah bahagia sama hidup lo? Lo udah berdamai sama masa lalu?" Raka mengangkat bahu. "Mungkin." Setelah mengucapkan itu dia berdiri mendekat. Dia mencium pundak kepala adiknya dengan sayang. "Cari cowok baik-baik. Biar nggak ditinggal kayak papa ninggalin mama. Dan yang penting cari cowok yang sayang sama lo." "Ya, Bang," jawab Rachel lalu tersenyum kecut. Dia mengikuti hingga melihat abangnya yang berjalan ke lorong lalu berdiri di depan lift. Kepala Rachel langsung tertunduk, ingat dengan sang mama dan penderitaannya dulu. *** Nyatanya seorang Rachel tidak bisa begitu saja dinasihati. Setelah semalam dinasihati Raka hingga berujung ingat dengan mendiang mamanya, sekarang dia kembali dengan misinya. Rachel memilih beberapa makeup milik Meda. Saat bangun tadi, dia memiliki ide ke kafe setelah pulang kantor. Pagi ini Rachel sedikit terlambat karena semalam terlalu banyak melamun. Dia memasukkan beberapa lipstik baru milik Meda ke tas setelah itu berjalan keluar. Saat hendak menggapai pintu, Rachel menyentuh pipinya yang terasa licin. "Kebiasaan!" Lantas dia berlari ke kamar. Dia memakai bedak dan sedikit menekannya. Karena terburu-buru dia tidak sadar jika bedak di pipi kiri lebih tebal. Dia lalu melesat keluar. Baru dua langkah keluar dari pintu, dia dikejutkan dengan lelaki berjas yang berdiri menghadang. Brizan tersenyum. Dia mendekat lalu tangannya terangkat ke pipi Rachel dan mengusapnya pelan. "Baru belajar bedakan atau gimana?" Rachel berbalik, mengambil kaca dan melihat wajahnya yang mirip dengan badut. Dia mengusap pipi, setelah itu kembali menatap Brizan. "Makasih udah ngingetin!" "Sama-sama." "Ngapain ke sini?" Sudut bibir Brizan tertarik. Dia menarik tangan Rachel dan mengarahkan ke pundak. "Sakit. Gue rasa digigit kingkong, bukan manusia." "Lo ngatain gue kingkong?" Sontak Rachel memukul pundak tegap itu, untuk memperparah keadaan Brizan. Lalu dia bertolak pinggang dengan wajah memerah. "Selalu nyebelin. Kenapa, sih, harus berurusan sama lo?" Brizan menggeleng dengan geli. Menurutnya Rachel sedang melucu. Wajah bulat gadis itu semakin bulat dengan mata cokelat gelap yang hampir keluar. Lalu hidung yang tidak begitu mancung itu terlihat kembang-kempis. "Gemesin." Kedua tangan Brizan menekan pipi merah itu. Karena gemas, dia mencium kening Rachel, membuat sang pemilik melotot kaget. "Apa-apaan sih? Gue lagi marah ya bukan ngelucu!" Rachel menarik tangan besar itu dari pipinya. Setelah berhasil dia mundur beberapa langkah. "Lucu. Dari dulu gue pengen adik perempuan, tapi ternyata Birzy yang lahir. Jadi, tiap ngeliat cewek gemesin gue suka." Birzy tidak sepenuhnya berbohong. Dulu, dia berharap memiliki adik perempuan yang bisa dijaili. "Wah, parah lo!" ucap Rachel tak habis pikir. Brizan menoleh ke belakang, lorong apartemen Rachel sepi. Tadi dia cukup kesulitan mencari unit apartemen Rachel. Dia hanya diberi tahu lantainya saja oleh Birzy. Namun, keberuntungan ada dipihaknya, gadis yang dicari keluar dari pintu yang hendak dituju. "Mumpung di apartemen. Mau nggak?" Satu alis Rachel tertarik ke atas mendengar pertanyaan absurd itu. "Mau apa?" Brizan membungkuk mendekatkan bibirnya ke telinga Rachel. "Ituin gue," jawabnya setelah itu berdiri tegak dan mengedip genit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD