Haura pov
Segarnya, akhirnya badan gue yang daritadi berasa lengket bisa kena air juga. Berendem air anget, emang paling nyaman banget lah. Berasa kayak lagi mimpi gue, malam ini gue udah bener-bener jadi seorang istri. Hugh, bahkan sebelumnya gak pernah ngebayangin bakalan nikah di umur gue yang baru aja 18 tahun. Emang ya tuh, Papi sama Mami keterlaluan.
Untung yang jadi suami gue cakep, masih mudah juga bukannya Om Om yang ih ngebayanginnya aja serem. Tapi, apa di usia gue yang masih muda gini bisa jadi istri yang baik? Ya, yang gue liat sebagai contoh kan Mami tuh. Apa gue bisa kayak Mami yang setiap harinya selalu sibuk dengan urusan rumah tangga juga masih bisa nemenin Papi kerja ke kantor.
Mami walaupun sibuk, dan ada pembantu di rumah tapi selalu bisa nyempetin buat masak. Gue sih emang bisa ya masak, tapi gak yakin bakal sesuai sama seleranya dia. Soal beresin rumah juga, bisa sih dikit-dikit. Tapi, gue kan orangnya mageran tambah nanti gue kan kuliah. Haduh ngebayanginnya aja gak sanggup gue.
Ah bomat deh, gue jalanin aja gimana adanya. Kalo emang gue gak sanggup ya gue bilang aja kan sama dia. Siapa suruh mau nikah sama cewek yang baru lulus SMA.
Haura pov and
Setelah membersihkan badannya di bawah guyuran shower, Haura menyudahi acara mandinya. Namun, saat dirinya berbalik ke arah pintu Haura baru mengingat bahwa dirinya tak membawa baju ganti.
"Aduh, pake lupa gak bawa baju segala sih! Masa gue keluar cuman pake handuk doang? Duh malu dong, dia pasti belum tidur."monolog Haura panik. Haura mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya dia keluar dari kamar mandi.
"Haura, kamu gak apa-apa kan?"teriak Agam dari luar kamar mandi.
"Waduh! Kayaknya gue udah kelamaan nih di kamar mandi. Apa gue minta tolong dia aja gitu ya? Tapi, tetep aja malu. Duh gimana dong?"Haura semakin panik, karna Agam terus mengetuk pintu dan memanggil namanya.
"Haura, udah ampir 1 jam loh kamu di kamar mandi. Apa gak dingin?"
"Ee, iya sebentar! Aku udah kok!"teriak Haura dari dalam kamar mandi. "Yaudah deh, gue coba aja toh sekarang kan kita suami istri."akhirnya Haura memutuskan untuk membuka pintu walau hanya kepalanya saja yang melihat keluar.
Agam yang melihatnya tentu mengernyit bingung.
"Kenapa?"tanya Agam, saat Haura hanya tersenyum canggung.
"Sorry nih, gue eh aku boleh minta tolong gak?"ucap Haura sedikit terbata karna merasa malu.
"Tolong apa?"Agam masih berdiri di depan pintu kamar mandi, dengan masih menggunakan kemeja saat resepsi tadi.
"Emm itu, aku lupa bawa baju ganti. Aku malu,"ucap Haura jujur. Meski menahan rasa malunya, bahkan setelah mengucapkan itu Haura langsung menundukkan kepalanya.
Agam hanya terdiam mendengar ucapan Haura, hingga akhirnya dia berbalik tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat Haura merasa bingung, namun dirinya belum menutup pintu kamar mandinya dan masih tetap di posisinya.
Tak lama, Agam kembali datang namun tidak membawa baju ganti milik Haura. Melainkan dirinya membawa baju ganti miliknya sendiri. Dan tanpa di duga sebelumnya, Agam tiba-tiba langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah mendorong pelan pintu yang di belakangnya masih ada Haura tengah berdiri.
Haura yang kaget, dengan refleks langsung mundur menjauh dari pintu. Untung saja dirinya masih bisa menahan diri untuk tak teriak.
"Kamu di luar aja ganti bajunya, sekarang aku yang mau mandi. Aku udah gerah banget soalnya."ucap Agam enteng, sembari menatap kedua mata Haura. Tentu, karna dirinya tak berani menatap ke arah lain. Bisa khilaf nanti, pikir Agam.
"Hah? Eh ee i iya!"setelah tersadar dari keterkejutannya, Haurs pun segera berlari keluar dari kamar mandi. Dengan jantungnya yang berdebar dua kali lipat lebih cepat.
Setelah Haura keluar, Agam segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Agam memegang dadanya, untuk menenangkan kembali debaran jantungnya.
"Ampir aja gue khilaf! Walaupun gue berhak atas dirinya, tapi gue gak mau ampe ngelakuin hal itu hanya karna nafsu gue doang. Meski tadi dia sangat menggoda, eh apaan sih gue ini! Hugh, bisa gawat ini!"Agam pun segera melepas semua pakaiannya dan berdiri di bawah kucuran air shower.
Setidaknya dirinya harus segera mendinginkan kembali hawa panas yang dirinya rasakan setelah melihat tampilan Haura yang hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh indahnya sebatas d**a hingga di atas lututnya.
Sedangkan di luar kamar mandi, Haura segera memakai pakaiannya. Haura memilih bajunya secara acak karna takut Agam lebih dulu keluar dari kamar mandi. Haura kini sudah memakai baju tidurnya, lebih tepatnya daster di atas lutut berlengan pendek. Yah namanya juga masih remaja, pasti pakaiannya masih dengan model yang terlihat kekanak-kanakkan. Untung saja, Haura memilih daster yang polos, padahal biasanya dirinya suka sekali memakai daster bergambar doraemon ataupun princess.
"Hugh, dia tuh gila kali ya! Main nyelonong aja, untung aja gue udah pake handuk. Yah meski masih keliatan, iihh kan jadi malu ah nyebelin!"gumam Haura sembari naik ke atas ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga menutupi kepalanya.
Setelah menghabiskan waktu selama 25 menit di kamar mandi, akhirnya Agam selesai dengan acara mandinya. Tentunya dengan sedikit drama dengan bermain sabun terlebih dulu. Tau lah ya!
Saat keluar dari kamar mandi, pemandangan yang pertama kali dilihat Agam adalah Haura yang telah tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Agam yang melihatnya pun merasa bingung, dan akhirnya dia pun menghampiri Haura.
"Masa sih dia udah tidur? Pake nutup badan gitu lagi,"gumam Agam dalam hati, sebelum akhirny dia mencoba untuk membangunkan Haura.
"Hau, kamu udah tidur? Haura, kamu kan belum makan. Emang gak laper ya?"tanya Agam lembut, seraya menoel-noel pundak Haura.
Dibalik selimut, Haura memang belumlah tidur. Dan dirinya pun memang tengah merasakan lapar. Tetapi, karna dirinya yang masih merasa malu, rasanya dia enggan untuk membuka selimutnya.
"Hau, bangun dulu dong. Tuh makanannya udah ada di meja, kita makan dulu ya!"Agam terus mencoba membangunkan Haura dengan lembut.
Karna memang dirinya benar-benar lapar, akhirnya Haura pun membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Haura menatap Agam yang masih berdiri di pinggir ranjang, dengan senyuman kikuk. Agam pun tersenyum geli melihat sikap Haura yang seperti itu, karna Agam tau kalau sekarang Haura pasti tengah malu atas kejadian tadi di kamar mandi.
"Yuk, makan dulu!"Agam mengulurkan tangannya pada Haura, sembari tersenyum manis padanya.
Awalnya Haura merasa bingung, namun akhirnya dia pun menerima uluran tangan Agam. Agam terus menggenggam tangan Haura hingga mereka duduk di sofa yang di depannya sudah tersedia makan malam mereka.
Sejenak hanya ada keheningan di antara mereka berdua, karna mereka fokus dengan makanannya masing-masing. Terlebih Haura yang masih merasa malu atas kejadian tadi. Hingga akhirnya makanan mereka pun habis, Haura meminum minumannya hingga habis. Begitu juga dengan Agam, namun matanya tak pernah lepas dari Haura.
"Haura, apa ada yang pengen kamu bicarain?"tanya Agam tiba-tiba.
"Hah? Maksudnya?"Haura terlihat bingung dengan pertanyaan Agam.
"Oke, biar aku aja yang ngomong. Aku tahu, kita menikah karna kita gak mau disebut anak durhaka kan? Tapi, apa kamu terpaksa dengan pernikahan ini?"Haura hanya menggelengkan kepalanya, dan Agam pun tersenyum melihatnya.
"Oke, makasih kalo kamu sama sekali gak merasa terpaksa. Karna aku pun sama. Dan aku harap pernikahan ini hanya sekali, ya meskipun nantinya mungkin akan ada masalah atau apapun itu di pernikahan kita. Aku harap kita bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin dan kita selalu bersama-sama. Apa kamu bersedia?"lagi-lagi Haura hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Dan soal..."Agam menggantung ucapannya karna merasa canggung juga bingung harus mengatakannya bagaimana.
"Soal apa?"tanya Haura penasaran.
"Ya soal itu, aku gak akan ngelakuin apapun sampai kamu benar-benar siap buat ngelakuinnya."ujar Agam ambigu. Haura semakin bingung dengan pernyataan Agam barusan.
Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya Haura pun mengerti maksud perkataan Agam. Tiba-tiba wajahnya seperti terbakar karna malu. Haura dan Agam hanya saling lirik dengan salah tingkah.
"Ah, ya yaa.. Soal itu, aku aku emang belum siap. Emmm, kamu gak apa-apa kan?"tanya Haura hati-hati.
"Ya gak apa-apa sih, asak jangan kelamaan."ucapnya lirih diakhir kalimatnya, namun masih dapat terdengar oleh Haura.
"Eh? I iya, mudah-mudahan sih enggak."jawab Haura sembari menggaruk keningnya.
"Yaudah udah malem, kamu pasti capek kan? Lain kali kita obrolin lagi buat ke depannya seperti apa."dengan pergerakan yang canggung, Agam pun beranjak dari tempat duduknya menuju ranjang pengantin mereka.
Haura hanya menatapnya dengan diam di tempatnya. Dia pun merasa gugup, walaupun tak akan ada yang namanya malam pertama dengan drama romantis, tetap saja dirinya kini berduaan dengan seorang lelaki. Meski dia adalah suaminya.
"Sini, kamu gak mau tidur?"Panggil Agam membuyarkan lamunan Haura.
"Eh, i iya aku mau tidur."jawabnya seraya berdiri dan berjalan pelan menuju ranjang, dimana suaminya berada.
"Gak usah gugup, aku gak akan minta sekarang kok. Lagian aku masih capek."ucap Agam enteng, sembari merebahkan badannya menghadap Haura yang masih duduk di pinggir ranjang.
"Ayo, bobo Haura!"Agam menarik lembut tangan Haura, yang membuat dirinya akhirnya berbaring di sebelah Agam.
"Emm, kalo cuma peluk aja boleh kan?"tanya Agam sedikit ragu.
Pertanyaan Agam sukses membuat debaran jantung Haura kembali bekerja lebih cepat, bahkan dirinya tiba-tiba merasakan bawa panas dan dingin bersamaan. Ingin bicara pun lidahnya terasa kelu, hingga akhirnya tanpa menunggu jawaban dari Haura, Agam pun langsung menarik Haura untuk lebih dekat dengannya.
Agam menjadikan tangannya bantal untuk Haura, sedangkan tangan satunya lagi memeluk perut Haura dengan erat. Kepalanya dia dekatkan dengan leher Haura. Membuat Haura semakin merasakan hawa panas bercampur dengan deru nafas Agam yang begitu dekat dengan dirinya.
"Bobo sayangku!"gumam Agam lirih, dengan mata yang sudah terpejam.
deg
"Ya allah, kalo kayak gini sih gue gak bisa tidur!"gumam Haura dalam hati.