Karna Agam yang memeluknya saat tidur, menjadikan Haura bagaikan guling membuat dirinya sulit untuk tidur. Haura baru bisa memejamkan kedua matanya menjelang shubuh. Bahkan disaat dirinya baru saja merasa nyenyak tidur, dirinya harus kembali terbangun karna Agam yang membangunkannya.
"Hau, bangun. Shubuhan dulu!"Agam menepuk pipi Haura dengan lembut. Yang dibangunkan hanya menggeliat, lalu meneruskan kembali tidurnya.
"Hau, ayo shubuh dulu! Nanti udah sholat tidur lagi aja. Ayo dong!"Agam terus berusaha untuk membangunkan istrinya itu.
Hingga akhirnya Haura pun terbangun, walau dengan mata masih terpejam dirinya mencoba untuk duduk. Sembari mengucek kedua matanya, Haura mencoba untuk mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di dunia mimpi.
"Emang sekarang jam berapa? Perasaan gue baru aja merem."tanpa sadar, Haura menyebut kembali dirinya dengan sebutan gue.
Agam yang melihatnya hanya tersenyum geli. "Udah setengah lima. Yuk bangun, kita sholat dulu. Udah itu kamu boleh tidur lagi."ujar Agam mengelus rambut Haura penuh sayang.
"Yaudah iya."jawab Haura dengan cuek, lantas segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Meski masih sempoyongan.
Agam yang khawatir Haura terjatuh, mengikutinya dari belakang sampai ke depan pintu. "Hati-hati Hau, buka matanya loh! Nanti bisa jatuh kalo merem gitu."ujar Agam tersenyum.
Haura pun masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Sedangkan Agam menyiapkan peralatan sholat untuk mereka, sembari menunggu Haura keluar.
Tak lama Haura pun keluar dengan wajah yang lebih segar. Melihat Agam yang sedang duduk di sofa sembari memainkan hp, Haura pun menghampirinya.
"Kamu udah wudhu?"tanya Haura, membuat Agam mengalihkan pandangannya dari hp miliknya.
"Belum. Bentar ya aku wudhu dulu!"Agam pun menyimpan hp nya dan segera ke kamar mandi.
Haura memakai mukenanya sembari menunggu Agam, karna mereka akan menunaikan shalat berjama'ah.
"Ini gue masih mimpi apa beneran udah bangun ya? Gak nyangka ada pangeran sholeh di depan gue!"gumam Haura dalam hati saat melihat Agam yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambutnya yang masih basah.
Tampilan Agam yang seperti itu malah terlihat sangat tampan di mata Haura. Hingga tak sadar sejak tadi, Haura terus menatap ke arah Agam. Bahkan Agam sudah berdiri di hadapannya pun, Haura masih tak berkedip menatap Agam. Agam yang merasa diperhatikan pun menatap balik ke arah Haura.
Dengan sebelah alis terangkat, Agam melambaikan sebelah tangannya di depan wajah Haura.
"Hau, kamu kenapa?"tanya Agam heran.
Dan ya, suara Agam yang sangat dekat dengan dirinya sukses membuat Haura tersadar dari lamunannya.
"Eh, hah? Gue eh aku kenapa?"ucap Haura salah tingkah.
"Loh, kamu tuh ngelamunin apa sih? Sampe gak sadar gitu. Udah yuk jangan ngelamun terus, kita mulai sholat aja!" Agam pun yang sudah siap, segera memposisikan dirinya sebagai imam untuk Haura. Begitu juga dengan Haura, meski dengan perasaan yang malu tapi dia berusaha untuk kembali tenang agar bisa sholat dengan khusuk.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Haura dan Agam sudah bersiap untuk turun ke bawah. Tepatnya menuju ke restoran yang berada di hotel itu, untuk sarapan bersama keluarga yang memang masih menginap di sana.
Keluarga dan sahabat Haura sudah berada di sebuah ruangan VVIP, menunggu kehadiran sepasang pengantin baru itu. Dan akhirnya mereka berdua pun tiba di ruangan itu bergabung dengan semuanya.
"Nah, ni dia nih pengantin baru kita! Lama amat kalian, abis ngelembur ya?"goda Ardi dengan tak tahu malunya, padahal di sana ada para orangtua juga anak-anak.
Haura yang mendengar ucapan dari sepupunya itu hanya bisa melotot pada Ardi sembari menahan malu.
"Hush, kamu ini masa mereka baru dateng udah digodain aja! Sini sayang, ayo kita sarapan dulu!"ujar Mami Erin menyelamatkan Haura dari godaan para sepupunya.
Haura dan Agam pun memilih untuk duduk di tempat di mana para sepupu mereka berkumpul. Daripada bersama para orangtua, ya walaupun mereka pasti tak akan lepas dari godaan para sepupunya itu.
"Jadi, gimana nih rasanya?"pertanyaan ambigu yang keluar dari mulut Rafi setelah Agam dan Haura duduk di dekat mereka.
Haura menatap bingung pada Rafi, namun sedetik kemudian dia pun tersadar maksud dari pertanyaan Rafi. Sontak Haura langsung melemparkan kentang goreng yang berada di depannya pada Rafi. Sedangkan Agam hanya terdiam sembari tersenyum tipis. Dia sama sekali tak terganggu, justru merasa senang karna sepupu-sepupu Haura begitu ceria dan juga mudah akrab.
"Bisa gak sih, pikiran lo tuh jangan ke arah sana mulu? Lagian lo gak liat di sini tuh masih banyak anak di bawah umur tau gak? Lo juga baru 17 tahun udah nanya yang kayak gitu!"gerutu Haura yang sangat merasa kesal.
"Haha, tapi kan kita emang penasaran. Ya kan Di?"Rafi meminta dukungan dari Ardi, yang langsung dijawab anggukan semangat dari Ardi.
"Iyalah, itung-itung kita juga belajar kan, biar nanti gak kaget-kaget amat gitu."ucapan ngawur Ardi, semakin membuat Haura kesal.
Agam yang melihat wajah istrinya sudah sangat merah karna kesal juga malu, akhirnya menggenggam tangan Haura dan mengelusnya lembut.
"Udah, jangan marah-marah terus. Makan dulu, abis ini kan kita mau jalan-jalan."ucap Agam dengan senyuman yang dapat menenangkan. Kekesalan Haura pun lenyap setelah melihat senyum Agam.
Mulai bucin nih.
"Heh, denger tuh! Ini tuh saatnya sarapan ya, awas kalian kalo masih bahas-bahas yang gituan!"omel Haura pada akhirnya, setelahnya dia pun segera melahap makanan yang ada di piringnya. Meski tatapannya masih tertuju pada Ardi dan Rafi dengan kesal.
Setelah selesai sarapan bersama keluarga, para orangtua lantas pamit pulang. Begitu juga dengan sepupu-sepupu dan juga sahabat-sahabat Haura. Menyisakan Haura dan Agam yang kini berada di dalam kamar mereka.
Haura baru saja selesai membereskan barang miliknya juga milik Agam. Ya, karna mereka juga akan pulang ke rumah. Awalnya mereka akan menginap di hotel itu selama 3 hari, hanya saja Haura dan Agam sepakat untuk langsung pulang saja ke rumah. Mengingat mereka sudah sepakat untuk tidak melakukan sesuatu yang biasanya pasangan pengantin lakukan, apalagi kalau bukan olahraga ranjang.
Haura yang melihat Agam tengah berdiri di balkon pun menghampirinya.
"Kapan kita pulang?"tanya Haura setelah berdiri di sebelah Agam.
"Sudah selesai beres-beresnya?t"anya Agam setelah melirik sekilas Haura.
Haura menganggukkan kepalanya, "Udah kok."
"Mau jalan-jalan dulu, atau langsung ke rumah Mami Papi?"kini Agam memutar tubuhnya menghadap Haura.
"Emang kamu mau ajak aku jalan-jalan kemana?"tanya Haura memiringkan kepalanya menghadap Agam.
"Ya kemanapun yang kamu mau, aku pasti siap anterin kok."
"Yakin nih? Emang gak capek?"
"Enggak kok, capeknya udah ilang karna semalem udah dapet guling baru."jawab Agam dengan senyuman tengilnya, yang baru kali pertama Haura melihatnya.
"Ish, apaan tuh senyum-senyum gitu? Emang di kamar ini ada guling? Perasaan semalem pas mau tidur, aku gak liat ada guling deh,"ucap Haura dengan polos.
Agam semakin melebarkan senyumnya, mendengar jawaban dari sang istri.
"Ya emang gak ada, karna guling ini cuman punya aku. Orang lain gak ada yang punya, dan gak bakalan punya!"
"Hah? Masa sih? Mana coba sini aku pengen liat, kayak gimana emang gulingnya, sampe-sampe orang lain gak bakalan punya."ujar Haura yang masih tak mengingat kalau semalaman dirinyalah yang dijadikan guling oleh Agam.
"Oke, sini aku kasih liat."Agam menarik tangan Haura, mengajaknya menuju cermin besar yang ada di kamarnya itu.
"Nah, ini dia guling yang hanya milik aku seorang!"ujar Agam tersenyum manis, menatap wajah Haura yang kini memerah karena salah tingkah ditambah debaran jantungnya yang lagi-lagi bekerja lebih cepat seperti tengah berlari di lapangan.
"Ish apaan sih! Udah ah, buruan katanya mau ajak jalan-jalan!"Haura yang malu akhirnya menghindar dan segera mengambil tas punggungnya yang diletakkan di atas ranjang.
Agam yang tahu, Haura tengah malu pun hanya tersenyum lantas segera menyusul Haura yang sudah terlebih dulu berjalan menuju pintu.