Brielle berdiri di belakang Lucas, menyesuaikan jasnya dengan gerakan lembut, jantungnya berdebar. Di kamar sebelah terdengar suara Lilian menunggu.
“Lucas …” Brielle memulai, suaranya pelan tapi tegas. “Kamu harus menemui Lilian malam ini.”
Lucas menoleh, wajahnya dingin. tatapan kecewa jelas terlihat “Aku tidak mau.”
Brielle melangkah lebih dekat, menempelkan tangannya di bahu Lucas. “Ini bukan soal mau atau tidak. Ini soal masa depan kita. Demi keturunan.”
“Aku tidak akan menyentuh perempuan lain,” jawab Lucas tegas, suaranya berat. “Tidak malam ini. Tidak pernah.”
Brielle menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu … tapi lihat aku, Lucas. Lihat wajahku. Aku tidak bisa terus berdiri di sini seperti boneka yang menunggu nasib. Mama … dia tidak akan berhenti menekan kita.”
Lucas menatap wajah istrinya, melihat garis keputusasaan yang jarang ia temui. “Brielle … kita masih punya satu sama lain. Tanpa anak, kita masih bisa hidup.”
Brielle menggenggam jasnya lebih erat, menunduk sebentar. “Itu mudah diucapkan. Tapi aku hidup di dunia yang menilai aku dari apa yang tidak bisa kuberikan. Jika aku tidak melakukan ini … mereka akan mengambil segalanya. Aku tidak mau kehilanganmu, Lucas. Aku tidak mau kehilangan nama kita, rumah kita, semua yang sudah kita bangun.”
Lucas menghela napas panjang, matanya menatap lantai sebentar sebelum kembali ke wajah Brielle. “Aku mengerti ketakutanmu. Aku mengerti ancaman itu. Tapi meminta aku melakukan hal yang menyalahi hati … itu bukan jalan keluar, Brielle. Aku tidak bisa.”
Brielle menunduk, air mata mulai menetes. “Aku tidak memintamu menikah lagi. Aku tidak memintamu mencintai orang lain. Aku hanya … satu malam. Satu malam untuk menyelamatkan hidup kita. Setelah itu … semuanya selesai. Lilian hanya akan menjadi jalan. Hanya untuk memberi kita pewaris.”
Lucas memejamkan mata, suaranya hampir serak. “Brielle … jika aku menyerah malam ini, aku tidak tahu bagaimana kita bisa menatap satu sama lain setelahnya.”
“Tapi itu harus dilakukan,” Brielle bersuara pelan tapi tegas, menatap mata Lucas dengan penuh harap dan ketakutan. “Aku tidak bisa terus hidup di bawah ancaman mama. Malam ini harus berjalan sesuai rencanaku.”
Lucas menatapnya lama, hatinya remuk melihat keteguhan sekaligus keputusasaan istrinya. “Aku tidak bisa, Brielle. Aku mencintaimu … dan aku tidak akan menyentuh perempuan lain.”
Brielle melangkah lebih dekat, meletakkan dahinya di d**a Lucas, suaranya pecah. “Aku mohon … demi kita. Aku tidak bisa lagi menunggu ancaman itu menimpa kita.”
Lucas menarik napas panjang, menutup mata sejenak. Saat membuka kembali, suaranya lembut tapi berat dengan keputusan “Aku … mengerti kamu takut. Aku mendengar permintaanmu … dan aku akan mempertimbangkannya. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun yang bertentangan dengan hatiku.”
Brielle menatapnya, bibirnya gemetar, air mata jatuh pelan. “Cukup … cukup kalau kamu mendengar aku. Itu sudah cukup untukku. Itu saja yang aku butuhkan malam ini.”
Lucas menghela napas panjang, menarik Brielle ke pelukannya sekali lagi, mencoba menenangkan diri dan istrinya yang tampak remuk oleh ketakutan dan beban yang begitu berat.
Brielle perlahan menarik diri dari pelukan Lucas. Tangannya masih mencengkeram lengan jas suaminya saat ia menatap wajah itu lebih lama dari biasanya, seolah sedang menghafalnya.
“Lucas …” suaranya gemetar tapi berusaha tegar. “Tolong temui Lilian malam ini.”
Lucas tidak menjawab. Pandangannya kosong, rahangnya mengeras.
“Bukan besok. Bukan nanti,” lanjut Brielle lirih. “Malam ini.”
Lucas menunduk, menghela napas panjang. “Aku tidak yakin aku bisa.”
Brielle menggeleng cepat. “Kamu tidak perlu yakin. Kamu hanya perlu melangkah.”
“Itu tidak sesederhana itu,” balas Lucas pelan. “Yang kamu minta dariku—”
“Aku tahu,” potong Brielle cepat, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu ini kejam. Aku tahu ini menyakitkan. Tapi aku tidak punya pilihan lain.”
Lucas mengangkat wajahnya, menatap Brielle dalam-dalam. “Kamu selalu punya pilihan.”
“Tidak dalam hidupku,” jawab Brielle pahit. “Tidak sebagai istri Carter.”
Ia menggenggam tangan Lucas, menekannya ke dadanya. “Aku mohon. Sentuh dia. Lakukan ini sekali saja. Beri kita keturunan.”
Lucas memejamkan mata. “Setiap kata yang kamu ucapkan menghancurkanku.”
“Dan setiap detik kamu menolak,” balas Brielle lirih, “membuatku semakin takut.”
Lucas terdiam lama. Hening itu terasa berat, nyaris menyesakkan.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa?” tanyanya akhirnya. “Bagaimana kalau aku tidak sanggup?”
Brielle menelan ludah. “Aku akan tetap menunggumu.”
“Itu jawaban yang kejam,” gumam Lucas.
Brielle tersenyum kecil, getir. “Aku sudah lama kejam pada diriku sendiri.”
Lucas membuka mata, menatap Brielle seolah sedang melihatnya untuk terakhir kali. “Aku tidak bisa berjanji apa pun padamu malam ini.”
“Aku tidak butuh janji,” jawab Brielle cepat. “Aku hanya butuh kamu melangkah ke kamar itu.”
Lucas menghela napas panjang, bahunya turun seolah menyerah pada beban yang tak lagi bisa ia lawan. Perlahan, ia mengangguk.
Brielle terdiam, matanya membesar sejenak sebelum air mata jatuh tanpa suara.
Lucas meraih wajah istrinya, mengecup bibir Brielle singkat namun penuh rasa bersalah. “Aku akan menemuinya.”
“Terima kasih,” bisik Brielle, hampir tak terdengar.
Lucas melangkah mundur, tangannya masih enggan melepaskan. “Tapi dengarkan aku. Apa pun yang terjadi malam ini … aku tidak bisa menjanjikan hasil.”
Brielle mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
Namun saat Lucas berbalik menuju pintu, suaranya bergetar saat menambahkan, “Aku harap … kamu tidak ragu.”
Lucas berhenti sejenak, lalu membuka pintu tanpa menoleh lagi.