Bab: 4

1315 Words
Brielle berdiri sendiri di kamar itu, jemarinya saling menggenggam erat. Begitu pintu tertutup di belakang Lucas, kakinya kehilangan tenaga. Tubuhnya luruh ke lantai di sisi tempat tidur, punggungnya bersandar pada ranjang. Isaknya pecah. “Apa yang baru saja aku lakukan …” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. “Wanita gila mana yang menyuruh suaminya sendiri tidur dengan perempuan lain …” Napasnya tersengal, air mata mengalir tanpa bisa ditahan. “Aku seharusnya menghentikannya.” Ia tertawa kecil di sela tangis, getir. “Aku seharusnya memeluknya lebih kuat. Memintanya tinggal. Mengatakan aku baik-baik saja tanpa anak.” Brielle menggeleng keras, seolah menolak pikirannya sendiri. “Tapi aku tidak baik-baik saja.” Ia memukul dadanya pelan. “Aku takut. Aku pengecut.” Tangisnya semakin menjadi. “Aku takut kehilangan namamu, Lucas.” “Aku takut kehilangan hidup yang sudah kita bangun.” “Aku takut suatu hari bangun dan menyadari aku bukan siapa-siapa lagi.” Ia menarik lututnya ke d**a. “Aku istrimu … tapi aku bahkan tidak bisa memberimu keturunan.” Kata-kata itu seperti pisau. “Aku gagal sebagai perempuan.” Brielle menutup mulutnya, mencoba meredam isak yang tak mau berhenti. “Dan sekarang aku bahkan gagal sebagai istri.” Ia menggeleng, air mata jatuh ke punggung tangannya. “Aku memintamu melakukan hal yang paling kamu benci.” “Aku melihat matamu tadi … aku melihat betapa hancurnya kamu.” Ia memejamkan mata kuat-kuat. “Maafkan aku, Lucas.” Suaranya pecah sepenuhnya. “Aku tidak ingin ini.” “Aku tidak ingin berbagi.” “Aku tidak ingin perempuan lain menyentuhmu.” Ia menekan dadanya yang sesak. “Tapi aku tidak punya pilihan.” Brielle tertawa kecil lagi, histeris. “Lucu, ya? Demi mempertahankan posisi sebagai istri, aku justru menghancurkan pernikahan kami dengan tanganku sendiri.” Ia mengusap wajahnya kasar. “Kalau aku lebih kuat … mungkin aku tidak akan duduk di lantai kamar hotel seperti ini, menangisi keputusan yang aku buat sendiri.” Tangisnya melambat, berubah menjadi isakan pelan. “Tolong cepat selesai,” bisiknya lirih, entah pada siapa. “Tolong … jangan lama-lama.” Ia menutup matanya, menahan rasa sakit yang menusuk. “Dan setelah ini …” “… aku harus belajar hidup dengan kenyataan bahwa aku yang membuka pintu itu.” Brielle bersandar lemah, air matanya terus mengalir, sementara malam di luar berjalan tanpa peduli pada kehancuran yang ia rasakan di dalam kamar itu. Sementara itu, Lucas berdiri terpaku di lorong hotel. Tangannya masih menggenggam gagang pintu kamar sebelah, namun kakinya tak bergerak. Dari balik pintu kamar yang baru saja ia tinggalkan, terdengar isak tangis Brielle pelan, tapi cukup untuk menghantam dadanya. Lucas memejamkan mata. “Brielle …” gumamnya lirih, nyaris tak bersuara. Tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras, napasnya berat. “Apa yang sedang kita lakukan?” bisiknya pada dirinya sendiri. “Apa yang sedang kamu paksa dirimu lakukan, Lucas?” Tangis itu kembali terdengar. Lebih pecah. Lebih putus asa. “Aku tidak sanggup,” ucapnya pelan. “Aku tidak sanggup melihatmu seperti itu.” Ia menyandarkan dahi ke dinding lorong. “Aku hanya ingin hidup bersamamu,” katanya lirih. “Tanpa tuntutan. Tanpa pewaris. Tanpa nama besar yang menelan segalanya.” Bayangan wajah ibunya melintas di kepalanya dingin, penuh tuntutan. “Setiap pertanyaan itu …” Lucas menghela napas panjang. ‘Kapan kamu memberiku cucu?’ ‘Apa gunanya semua ini tanpa penerus?’ “Aku lelah,” bisiknya. “Aku lelah menjelaskan bahwa kebahagiaan kami tidak diukur dari seorang anak.” Tangannya bergetar. “Tapi kamu yang selalu berdiri di depan,” lanjutnya lirih. “Kamu yang menerima tatapan merendahkan itu. Kamu yang menelan luka tanpa bersuara.” Isak tangis Brielle terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. Lebih menusuk. “Aku tidak ingin perempuan lain,” kata Lucas tegas pada dirinya sendiri. “Aku tidak sudi menyentuh siapa pun selain istriku.” Ia membuka mata, menatap pintu kamar Brielle. “Tapi aku juga tidak tega melihatmu runtuh karena aku,” suaranya melemah. “Tidak tega melihatmu dihancurkan oleh ibuku.” Lucas tertawa kecil, pahit. “Seharusnya aku melindungimu,” katanya. “Bukan membiarkanmu mengorbankan dirimu sendiri seperti ini.” Ia menghela napas panjang, menoleh ke arah pintu kamar Lilian yang masih tertutup. “Dan sekarang aku berdiri di antara dua pintu,” bisiknya. “Satu pintu menuju luka yang kupilih sendiri.” “Satu pintu menuju luka yang kamu tanggung sendirian.” Lucas menutup matanya lagi. “Apa pun yang kulakukan malam ini,” katanya pelan, “seseorang akan terluka.” Tangis Brielle perlahan mereda, berubah menjadi isakan tertahan. Itu justru membuat dadanya semakin sesak. “Maafkan aku,” ucap Lucas lirih. “Kalau aku terlambat menyadari bahwa cinta tidak seharusnya menuntut pengorbanan seperti ini.” Ia berdiri di sana lebih lama, terdiam, terbelah antara prinsip yang ia pegang dan perempuan yang paling ia cintai. Lucas baru saja mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar itu ketika ponselnya berdering. Nama di layar membuat rahangnya mengeras. Ia menghela napas sebelum mengangkat panggilan. “Ya, Mom.” “Kamu di mana?” suara Vivian langsung menusuk, tanpa basa-basi. “Di luar,” jawab Lucas singkat. “Di luar ke mana?” nada Vivian meninggi. “Kamu dan istrimu seharusnya sibuk memikirkan bagaimana caranya mendapatkan anak, bukan berkeliaran seperti pasangan tak bertanggung jawab.” Lucas memejamkan mata. “Kami sedang bersama.” “Bersama tapi tetap saja gagal,” dengus Vivian. “Sudah berapa lama pernikahan itu? Dan apa yang kamu berikan padaku? Tidak ada.” “Mom—” “Jangan potong aku,” bentak Vivian. “Tugasku sebagai ibu adalah memastikan nama Carter tidak berhenti di kamu.” Lucas menarik napas dalam. “Aku dan Brielle bahagia.” “Bahagia?” Vivian tertawa dingin. “Bahagia tanpa penerus? Jangan bodoh, Lucas.” “Kami tidak membutuhkan anak untuk merasa utuh,” jawab Lucas tegas. “Kami baik-baik saja.” “Tidak,” Vivian memotong cepat. “Kamu tidak baik-baik saja. Kamu hanya menutup mata.” Lucas mengepalkan tangannya. “Ini hidupku.” “Ini warisan keluarga,” balas Vivian tajam. “Dan Brielle—” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara penuh racun. “—dia gagal menjalankan perannya.” “Jangan bicara seperti itu tentang istriku.” “Kalau dia tidak bisa melahirkan,” ujar Vivian dingin, “maka dia tidak pantas berdiri di sampingmu.” Lucas menahan amarahnya. “Kamu tidak berhak menentukan itu.” “Aku ibumu,” bentak Vivian. “Tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.” Lucas tertawa kecil, getir. “Itu tidak benar.” “Kamu lupa siapa yang membesarkanmu?” Vivian menekan. “Siapa yang membangun semua ini untukmu?” “Aku menghargainya,” jawab Lucas. “Tapi aku tidak akan mengorbankan istriku demi ambisi siapa pun.” “Ambisi?” Vivian mendengus. “Ini tanggung jawabmu sebagai pria. Sebagai Carter.” “Aku bertanggung jawab pada kebahagiaanku sendiri.” Vivian terdiam sesaat, lalu suaranya berubah lebih rendah, lebih berbahaya. “Kalau Brielle tidak bisa memberimu anak, aku akan mencarikannya pengganti.” Lucas membeku. “Kamu tidak akan melakukan itu.” “Aku akan,” jawab Vivian tanpa ragu. “Aku sudah menunggu terlalu lama.” “Cukup,” suara Lucas bergetar namun tegas. “Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan rumah tanggaku.” “Kamu terlalu lemah,” balas Vivian. “Cinta membuatmu buta.” “Cinta membuatku manusia,” kata Lucas. “Bukan mesin pewaris.” Vivian tertawa tajam. “Suatu hari kamu akan menyesal.” “Mungkin,” jawab Lucas pelan. “Tapi bukan karena aku memilih Brielle.” Hening sejenak di seberang telepon. “Ingat kata-kataku,” ujar Vivian dingin. “Tanpa anak, kamu bukan apa-apa.” Lucas menutup matanya. “Kalau begitu, biarlah aku bukan apa-apa.” Ia menutup panggilan sebelum Vivian sempat menjawab. Lucas menatap layar ponselnya lama, lalu perlahan menurunkannya. Dadanya sesak bukan karena keraguan, tapi karena mamanya yang terlalu mengatur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD