Pintu kamar hotel terbuka kasar. Brielle yang masih terduduk di lantai langsung berdiri terkejut. Wajahnya pucat ketika melihat Lucas kembali, napasnya tersengal.
“Lucas?” suaranya bergetar. “Kenapa kamu kembali? Bukankah kamu—”
Lucas tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat itu. Ia melangkah cepat dan langsung memeluk Brielle erat, seolah takut kehilangan pegangan.
“Aku tidak bisa,” ucapnya parau. “Aku tidak sanggup melakukannya.”
Tubuh Brielle seketika melemah. Kakinya nyaris tak menopang, Lucas menahannya agar tidak jatuh.
“Apa … apa yang terjadi?” tanya Brielle lirih.
Lucas menghela napas berat. “Ibuku menelepon.”
Wajah Brielle langsung runtuh. “Dia … menekanmu lagi?”
“Dia murka,” jawab Lucas pahit. “Dia bilang kamu gagal. Dia bilang tanpa anak aku bukan apa-apa.”
Brielle menutup mulutnya, napasnya tercekat. “Aku juga baru saja ditelepon.”
Lucas membeku. “Apa yang dia katakan padamu?”
“Hal yang sama,” bisik Brielle. “Ancaman. Pengganti. Aku lelah, Lucas … aku sangat lelah.”
Lucas menelan ludah, matanya memerah. “Aku tidak menyangka dia bisa sekejam itu.”
“Kamu tahu,” ujar Brielle pelan. “Tapi kamu tidak pernah benar-benar merasakannya seperti aku.”
Lucas memegang wajah istrinya, ibu jarinya menyeka air mata di pipi Brielle. “Aku tidak menyentuh wanita itu. Aku bahkan tidak mengetuk pintunya.”
“Lucas—”
“Aku tidak mau,” potong Lucas cepat. “Aku tidak akan menyentuh siapa pun selain kamu.”
Brielle memandangnya lama, lalu tiba-tiba berlutut di hadapannya.
Lucas tersentak. “Brielle, jangan!”
Brielle menggenggam tangan Lucas erat. “Aku mohon.”
“Berdiri,” suara Lucas bergetar. “Tolong berdiri.”
“Tidak sebelum kamu mendengarkanku,” isak Brielle. “Ini satu-satunya cara, Lucas. Satu-satunya.”
Lucas terlihat syok. “Apa yang kamu lakukan? Ini gila.”
“Aku lebih gila lagi kalau membiarkan kita terus dihancurkan,” jawab Brielle sambil menangis. “Aku tidak sanggup lagi berdiri di bawah ancaman ibumu.”
Lucas berjongkok di depannya. “Kamu istriku. Kamu tidak perlu berlutut seperti ini.”
“Aku tidak peduli harga diriku,” balas Brielle putus asa. “Aku hanya ingin kita selamat.”
“Kita sudah selamat,” bantah Lucas. “Kita hidup. Kita bersama.”
“Tidak di mata mereka,” jawab Brielle. “Dan suatu hari … tidak di hidupmu juga.”
Lucas menggeleng keras. “Itu tidak akan terjadi.”
“Kamu bilang begitu sekarang,” suara Brielle bergetar. “Tapi tekanan itu tidak akan berhenti. Aku akan selalu jadi masalah.”
“Kamu bukan masalah,” bentak Lucas tanpa sadar. “Kamu segalanya bagiku.”
“Kalau begitu buktikan,” ucap Brielle lirih. “Lakukan ini … untuk kita.”
Lucas menatapnya lama, dadanya sesak. “Kamu sedang memintaku menghancurkan diriku sendiri.”
“Aku sudah menghancurkan diriku lebih dulu,” balas Brielle. “Sekarang aku hanya ingin hasilnya.”
Lucas memejamkan mata, napasnya berat. “Aku tidak bisa melihatmu seperti ini.”
“Lalu jangan biarkan aku terus hidup dalam ketakutan,” jawab Brielle. “Aku tidak kuat, Lucas. Aku benar-benar tidak kuat.”
Lucas membuka mata, menatap istrinya yang berlutut di hadapannya perempuan yang paling ia cintai, kini memohon dengan cara yang mematahkan hatinya.
“Bangun,” ucap Lucas parau. “Tolong … jangan lakukan ini padaku.”
Brielle menangis lebih keras. “Aku tidak tahu cara lain.”
Lucas menariknya ke dalam pelukan, memeluknya erat hingga Brielle terisak di dadanya.
“Aku tidak menyentuh wanita itu,” ulang Lucas lirih. “Dan aku tidak tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya.”
Brielle terdiam dalam pelukannya, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku hanya berharap … kamu tidak meninggalkanku setelah ini.”
Lucas memejamkan mata, menahan rasa hancur yang menekan dadanya. “Aku tidak pernah berniat pergi. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana keluar dari ini tanpa melukai kita berdua.”
Brielle melepaskan diri dari pelukan Lucas. Tanpa menoleh, ia berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Tangannya gemetar saat meraih gelas berisi air putih. Ia membuka telapak tangannya sesuatu yang kecil dan bening jatuh ke dalam gelas itu. Diaduk perlahan, seolah setiap putaran adalah keputusan yang semakin menenggelamkannya.
Ia berbalik dan berdiri di hadapan Lucas, menyodorkan gelas itu.
“Minum,” katanya pendek.
Lucas menatap gelas itu lama. “Apa itu?”
“Air.”
“Brielle.” Nada Lucas mengeras. “Jangan lakukan ini.”
“Minum,” ulang Brielle, lebih pelan tapi penuh tekanan.
“Aku tidak mau.”
Brielle menarik napas panjang, dadanya naik turun. “Kalau kamu tidak meminumnya … malam ini juga aku akan mundur.”
Lucas terperanjat. “Apa?”
“Aku akan pergi,” lanjut Brielle dengan suara bergetar. “Aku tidak akan jadi istrimu lagi.”
“Kamu mengancamku?” Lucas melangkah mendekat. “Dengan pernikahan kita?”
“Aku tidak punya senjata lain,” bisik Brielle. “Aku sudah kehabisan segalanya.”
Lucas memejamkan mata. “Kamu sadar apa yang kamu minta?”
“Aku sadar,” jawab Brielle cepat. “Dan itu yang membuatku sakit.”
Keheningan menekan mereka. Lucas akhirnya meraih gelas itu, menatap Brielle seakan berharap ia menghentikannya. Brielle tidak bergerak.
Lucas meminum isinya.
Beberapa detik berlalu. Lucas mengerjap, napasnya berubah. Ia menatap Brielle tatapan yang membuat d**a Brielle mencelos.
“Brielle …” suara Lucas terdengar asing di telinganya. “Apa yang kamu lakukan padaku?”
Brielle menelan ludah. “Maafkan aku.”
Ia menggenggam tangan Lucas dan menariknya keluar kamar. Lucas berusaha menahan langkahnya.
“Tunggu. Berhenti,” katanya. “Kita bisa bicara.”
“Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan,” jawab Brielle tercekat.
Mereka berhenti di depan pintu kamar sebelah. Brielle berdiri mematung. Ia menghela napas panjang, memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir tanpa diseka.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Lucas, suaranya terdengar panik.
Brielle tidak menjawab.
Ia membuka pintu itu tanpa menoleh ke dalam lalu mendorong Lucas masuk dengan seluruh sisa tenaganya.
“Brielle!” Lucas berusaha meronta. “Jangan—”
Pintu tertutup. Kunci berputar.
Brielle berdiri terpaku beberapa detik, tangannya masih menempel di gagang pintu. Lalu ia berlari kembali ke kamarnya sendiri. Begitu pintu tertutup, kakinya tak lagi sanggup menyangga.
Ia terjatuh ke lantai.
“Maaf … maaf … maaf,” tangisnya pecah, suaranya hancur. “Aku istri macam apa …”
Tangannya menutup wajah. Isaknya memenuhi kamar yang kini terasa terlalu besar dan terlalu sunyi.