Bab: 6

1186 Words
Lucas berdiri membeku beberapa detik di depan pintu yang baru saja dikunci dari luar. Bunyi kunci yang beradu itu seperti vonis pelan, tapi mematikan. Ia menghembuskan napas panjang, rahangnya mengeras. Ia tahu, sekali Brielle mengambil keputusan, tak akan mudah untuk membantahnya. Terlebih lagi, bayang-bayang tekanan dari ibunya terus menghantui pernikahan mereka tuntutan akan seorang cucu yang tak pernah bisa mereka penuhi. Dan rahasia itu … rahasia tentang rahim Brielle yang telah diangkat akibat kecelakaan, masih terkubur rapat. Tidak seorang pun dari keluarga besar Carter mengetahuinya. Perlahan, Lucas berbalik. Langkahnya berat, seolah setiap pijakan mengandung penolakan yang tak terucap. Tatapannya jatuh pada sosok perempuan yang duduk di tepi ranjang. Tubuh kecil itu tampak kaku, jemarinya saling meremas di pangkuan, napasnya tidak teratur. Wajah itu … “Kamu!” sentaknya tiba-tiba, suaranya tajam, penuh ketidakpercayaan. Gadis itu terlonjak. Wajahnya langsung pucat pasi. “T-Tuan Lucas …?” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar. Lucas melangkah mendekat, sorot matanya berubah dingin, menusuk tanpa ampun. “Bagaimana bisa kamu ada di sini, hah?” desaknya. “Bukankah kamu mahasiswa penerima beasiswa? Lilian Holster, benar?” Lilian menelan ludah, kepalanya semakin menunduk, seakan tatapan pria itu terlalu berat untuk ditanggung. “Lalu untuk apa kamu menerima tawaran istriku?” lanjut Lucas, suaranya semakin rendah, tapi justru lebih mengintimidasi. “Apa yang kamu pikirkan sampai berani masuk ke situasi seperti ini?” “A-aku … aku juga tidak tahu kalau suami Nyonya Brielle adalah Anda, Tuan …” jawab Lilian terbata. Bahunya bergetar, antara takut dan tertekan. Lucas terkekeh pelan, tapi tanpa kehangatan sedikit pun. “Tidak tahu?” ulangnya, sinis. “Lalu itu jadi alasan untuk menjual dirimu seperti ini?” Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. Lilian langsung menunduk lebih dalam, matanya mulai berkaca-kaca. Namun ia tidak menjawab. Lucas mengacak rambutnya kasar, jelas frustasi. Ia berjalan mondar-mandir beberapa langkah, berusaha menahan amarah yang terus mendidih. “Dengar baik-baik, Lilian,” katanya kemudian, suaranya tegas dan dingin. “Aku mencintai istriku. Aku tidak akan menyentuh wanita lain selain dia. Apa pun alasannya.” Kalimat itu menggantung di udara, berat dan penuh penekanan. “Sa-saya … saya tidak menerima uang dari istri Anda,” ucap Lilian tiba-tiba, suaranya kecil tapi penuh keberanian yang dipaksakan. Langkah Lucas terhenti. Ia menoleh tajam, matanya menyipit curiga. “Apa maksudmu?” “Saya tidak menerima apa pun …” lanjut Lilian, kali ini sedikit lebih jelas meski suaranya tetap bergetar. “Yang menerima uang itu … ibu tiri saya, Tuan.” Keheningan langsung jatuh. Untuk pertama kalinya, ekspresi Lucas berubah bukan lagi marah, tapi terkejut. “Apa?” gumamnya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Saya juga tidak tahu … kenapa tiba-tiba Nyonya Brielle datang dan meminta saya …” Lilian berhenti sejenak, napasnya tersendat. “Menjadi … rahim pengganti.” Kata-kata itu terasa asing, bahkan di telinganya sendiri. Lucas menutup mata sejenak, lalu menyugar rambutnya dengan kasar, napasnya memburu. Kepalanya terasa penuh oleh kemarahan, kebingungan, dan rasa bersalah yang mulai merayap tanpa ia sadari. “Ini benar-benar kacau …” gumamnya lirih. Di hadapannya, Lilian masih duduk kaku, seperti anak kecil yang tersesat di tempat yang salah. Dan untuk pertama kalinya, Lucas benar-benar melihatnya bukan sebagai “pilihan” Brielle, bukan sebagai masalah, tapi sebagai seseorang yang juga terjebak dalam permainan yang tidak ia pahami sepenuhnya. Malam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Keheningan memenuhi ruangan, tapi bukan ketenangan yang hadir melainkan tekanan yang menggantung di udara, menyesakkan d**a. Fakta bahwa mereka berada di satu ruangan yang sama saja sudah cukup rumit … terlebih lagi kenyataan bahwa mereka adalah dosen dan mahasiswa di kampus yang sama. Lucas bahkan pernah berdiri di depan kelas, menjelaskan materi dengan tegas, sementara Lilian duduk di barisan tengah, mencatat dengan penuh perhatian. Kini, jarak itu lenyap. Batasan itu kabur. “Kamu tidur di situ. Saya di sini.” Suara Lucas datar, tanpa emosi. Ia menunjuk ke arah ranjang, lalu berjalan ke sofa panjang di sudut ruangan. Tanpa menunggu jawaban, ia mengambil bantal dan melemparkannya dengan sedikit kasar ke atas sofa, seolah melampiaskan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan. Tubuhnya kemudian merebah begitu saja, satu tangan menutupi mata, napasnya berat. Lilian tidak bergerak. Ia masih berdiri di dekat ranjang, menatap ke arah Lucas dengan tatapan kosong, seolah otaknya belum mampu memproses semua yang terjadi malam ini. Perlahan, ia duduk di tepi ranjang, jemarinya saling meremas. "Huft … kenapa bisa jadi seperti ini?" batinnya kacau. "Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau suami Nyonya Brielle adalah Tuan Lucas … dosenku sendiri?" Bayangan di kelas itu tiba-tiba terlintas sosok Lucas yang dingin, tegas, dan penuh wibawa. Cara ia berbicara, cara ia menatap mahasiswa yang menjawab salah … semuanya terasa begitu jauh dari situasi sekarang. Dada Lilian terasa sesak. Di sisi lain ruangan, Lucas membuka sedikit matanya, menatap langit-langit dengan kosong. Ia tahu Lilian belum tidur. Ia bahkan bisa merasakan kegelisahan gadis itu tanpa harus melihatnya. Namun ia juga tahu … dirinya sendiri tidak lebih baik. Pikirannya terus berputar, kembali pada Brielle, pada permintaan yang tak masuk akal itu, pada rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Rasa bersalah perlahan menyusup, bercampur dengan kemarahan yang belum reda. Ia menghembuskan napas panjang, lalu memejamkan mata lagi. “Jangan berpikir macam-macam,” ucapnya tiba-tiba, suaranya rendah, memecah keheningan. “Anggap saja malam ini tidak pernah terjadi.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi justru terasa berat. Lilian terdiam. Matanya menatap kosong ke arah lantai. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan ini …? batinnya lirih. ***""**""*** Pagi itu datang terlalu cepat, seolah malam yang penuh ketegangan belum benar-benar usai. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, membelah sunyi yang masih menggantung di dalam kamar. Pintu perlahan terbuka. Brielle berdiri di ambang, tangannya masih menggenggam gagang pintu. Napasnya tertahan sesaat, ada harapan sekaligus kecemasan yang berbaur dalam dadanya. Ia melangkah masuk dengan hati-hati, matanya langsung menyapu seluruh ruangan. Namun apa yang ia lihat … jauh dari yang ia bayangkan. Lilian tertidur di atas ranjang, tubuhnya meringkuk kecil, wajahnya tampak lelah seperti seseorang yang menangis semalaman. Sementara itu, di sudut ruangan, Lucas terbaring di sofa panjang, masih dengan posisi yang sama seperti semalam, satu tangan terjatuh di sisi tubuhnya. Brielle terdiam. Ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya harapan yang ia bangun sendiri. Namun di saat yang sama, ada rasa lain yang perlahan muncul … lega. “Kau sungguh mencintaiku, sayang …” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. “Sampai gadis cantik dan muda ini pun tak mampu menggoyahkan hatimu.” Langkahnya pelan saat menghampiri Lucas. Ia berjongkok di samping sofa, jemarinya terangkat ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh pipi pria itu dengan lembut. “Sayang …” panggilnya lirih. Sentuhan itu membuat Lucas bergerak. Alisnya berkerut, lalu perlahan membuka mata. Namun begitu melihat sosok di depannya, ia langsung tersentak dan bangkit dengan refleks. “Oh … sayang. Aku pikir siapa,” gumamnya, napasnya masih sedikit berat, jelas terkejut. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Brielle tersenyum tipis, tapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan antara harap dan luka. “Sayang …” suaranya tetap lembut, tapi kini terasa lebih dalam. “Kamu belum melakukannya?” Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka. Hening.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD