Brielle tetap berdiri di sana, menatap sekilas ke arah ranjang. Wajah Lilian yang tertidur tampak begitu tenang… terlalu tenang untuk seseorang yang semalam berada di situasi yang begitu rumit.
"Apa obatnya tidak bekerja …?" batin Brielle, jantungnya berdegup lebih cepat. Ada kegelisahan yang tiba-tiba merayap, halus tapi mengganggu.
“Kenapa kamu diam saja?” suara Lucas memecah lamunannya. Tatapannya tajam, mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya. “Apa yang kau pikirkan, sayang?”
Brielle mengalihkan pandangannya, lalu kembali menatap ke arah ranjang. “Apa kau belum menyentuhnya?” tanyanya pelan, namun jelas.
Lucas terdiam sesaat. Ia menarik napas panjang, menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Rahangnya mengeras, seolah berusaha tetap tenang di tengah situasi yang semakin absurd.
“Ayok … kita bicara di luar,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah tapi tegas.
Brielle menatapnya beberapa detik, mencoba mencari jawaban dari sorot mata suaminya. Namun yang ia temukan hanya dinding dingin yang sulit ditembus.
Ia mengangguk pelan.
Namun sebelum melangkah, matanya kembali melirik ke arah Lilian. Gadis itu masih terlelap, tidak bergerak sedikit pun. Ada sesuatu dalam tatapan Brielle bukan hanya rasa penasaran, tapi juga kegelisahan yang mulai tumbuh tanpa ia sadari.
Lucas menangkap arah pandang itu. Ia mendekat sedikit, suaranya merendah. “Ayo, sayang …” bisiknya lembut, namun ada dorongan halus di baliknya.
Brielle menarik napas dalam, lalu mengangguk lagi.
Keduanya berjalan keluar kamar, pintu tertutup perlahan di belakang mereka.
Sesampainya di kamar mereka, pintu tertutup dengan bunyi pelan, namun suasana di dalamnya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Lucas berdiri beberapa langkah dari pintu, menatap Brielle dengan sorot mata yang sulit diartikan ada amarah yang tertahan, ada juga kelelahan yang tak mampu ia sembunyikan.
“Obat semalam … bekerja,” ucap Lucas akhirnya, suaranya rendah namun tegas. Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata-kata berikutnya dengan hati-hati. “Tapi aku sudah tahu cara menghadapinya.”
Brielle menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat, seakan mencoba menahan sesuatu yang hampir runtuh di dalam dirinya.
Lucas melangkah mendekat, lalu memegang kedua bahu istrinya. Sentuhannya tegas, tapi tidak kasar lebih seperti usaha untuk membuat Brielle benar-benar mendengarnya.
“Sayang …” suaranya melembut, namun tetap mengandung tekanan. “Kamu perlu tahu sesuatu. Lilian itu mahasiswa di kampus tempat aku mengajar.”
Brielle terdiam.
“Dan kamu …” Lucas menarik napas panjang, rahangnya mengeras. “Kamu meminta aku menitipkan benihku pada mahasiswaku sendiri?”
Kalimat itu jatuh seperti pukulan.
“Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu, sayang?” lanjutnya, kali ini lebih pelan, tapi justru terasa lebih dalam.
“Aku …” suara Brielle nyaris tak terdengar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa menghadirkan keturunanmu.”
“Aku tidak butuh itu,” potong Lucas cepat, hampir tanpa jeda.
“Tapi keluargamu butuh penerus, sayang …” sahut Brielle, suaranya bergetar, ada keputusasaan yang jelas terdengar.
Lucas menggeleng pelan, lalu melepaskan bahu istrinya. Ia berbalik beberapa langkah, mengacak rambutnya dengan frustrasi.
“Kita bisa adopsi anak. Atau apa pun itu,” katanya, mencoba menahan emosinya. “Asal bukan seperti ini. Aku tidak bisa … aku tidak akan menyentuh wanita lain selain kamu.”
Brielle menatap punggung suaminya. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Sayang … kamu hanya belum mengenal Lilian,” ujarnya pelan, mencoba bertahan pada keyakinannya sendiri. “Dia wanita baik. Aku yakin … dia bisa memberikan keturunan yang baik untuk kita.”
Lucas langsung berbalik. Tatapannya tajam, hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Wanita baik?” ulangnya pelan, nada suaranya berubah dingin. “Wanita baik mana yang tubuhnya disentuh pria hanya demi uang?”
“Dia bukan seperti itu!” balas Brielle cepat, hampir memohon. “Dia wanita terhormat, sayang. Percaya padaku …”
Keheningan kembali jatuh.
Lucas menatap istrinya lama, seolah mencoba memahami … atau mungkin menerima. Namun yang terlihat justru jarak yang semakin melebar di antara mereka.
“Ya sudah,” ucapnya akhirnya, suaranya datar. “Aku harus ke kampus hari ini.”
Ia berbalik, mengambil jasnya, mencoba mengakhiri percakapan yang terasa semakin menyakitkan itu.
“Sayang …” suara Brielle kembali menahannya. Kali ini lebih rapuh, lebih putus asa. “Pikirkan ini. Kalau kamu menolak … itu berarti kamu juga menolak mempertahankan rumah tangga kita.”
Lucas berhenti.
“Rumah tangga kita sudah di ambang kehancuran, sayang …” lanjut Brielle, air matanya semakin deras. “Mama kamu terus mengancamku. Aku … aku sudah tidak punya pilihan lain …”
Kata-kata itu menggantung di udara, penuh luka dan tekanan yang selama ini ia pendam sendiri.
Lucas memejamkan mata sejenak. Napasnya berat. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membantah.
“Nanti aku pikirkan,” ucapnya akhirnya, pelan.
Ia mendekat, menggenggam tangan Brielle. Hangat … tapi terasa berbeda.
“Sekarang … sebaiknya kita pulang.”
Tanpa menunggu jawaban, Lucas menarik tangan istrinya dan berjalan keluar kamar.
***""**""***
Di dalam ruang kelas yang luas dan modern, suara Lucas terdengar tegas dan teratur, menjelaskan tentang strategi bisnis dan pengambilan keputusan di dunia korporasi. Ia berdiri di depan, rapi dan berwibawa seperti biasanya tidak ada yang menyangka bahwa pria itu baru saja melewati malam yang begitu kacau.
“Dalam dunia bisnis, keputusan tidak selalu diambil berdasarkan keinginan pribadi,” ucapnya sambil berjalan perlahan di depan kelas. “Terkadang … keputusan diambil karena tekanan, keadaan, atau bahkan keterpaksaan.”
Kalimat itu terdengar seperti materi kuliah biasa. Namun bagi satu orang di ruangan itu, kata-kata tersebut terasa jauh lebih dalam.
Di kursi tengah, di antara deretan mahasiswa lainnya, Lilian duduk dengan tubuh kaku. Tangannya menggenggam pulpen, tapi sejak tadi tidak ada satu pun catatan yang ia tulis. Tatapannya kosong, sesekali terangkat ke arah depan … lalu buru-buru ditundukkan kembali.
Jantungnya berdegup tidak teratur. Setiap kali suara Lucas terdengar, setiap kali langkah pria itu mendekat, tubuhnya seakan menegang tanpa sadar.
Bagaimana aku bisa duduk di sini … seolah tidak terjadi apa-apa? batinnya kacau.
Lucas melirik sekilas ke arah tengah kelas. Tatapannya berhenti sepersekian detik pada Lilian. Ia melihat jelas kegugupan itu … ketidakfokusan itu.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Tangannya bergerak melihat jam di pergelangan. “Baik, kita cukupkan sampai di sini untuk hari ini,” ujarnya singkat, kembali ke nada profesionalnya.
Suasana kelas langsung berubah. Kursi bergeser, buku ditutup, dan para mahasiswa mulai bersiap meninggalkan ruangan.
Namun sebelum benar-benar bubar, suara Lucas kembali terdengar.
“Lilian.”
Langkah gadis itu terhenti seketika.
Beberapa mahasiswa lain sempat melirik, tapi tidak terlalu memperhatikan.
“Kamu ke ruangan saya setelah ini.” Nada suaranya datar, tanpa emosi, seperti perintah biasa dari seorang dosen kepada mahasiswanya.
Namun bagi Lilian … itu jauh dari biasa.
“Ba-baik, Pak …” jawabnya pelan, hampir tidak terdengar.
Satu per satu mahasiswa keluar, meninggalkan ruangan yang perlahan sepi. Lilian masih berdiri di tempatnya beberapa detik, mencoba mengatur napasnya yang terasa berat.
Perasaannya campur aduk takut, gugup, bingung … dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Namun akhirnya, ia melangkah.
Pelan … ragu … tapi pasti.
Ia menyusul ke arah ruangan Lucas,