Ruangan itu terasa terlalu sunyi untuk ukuran siang hari. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar, sementara dua orang di dalamnya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Lilian duduk di kursi depan meja kerja, punggungnya tegak tapi kaku. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, sesekali jemarinya bergerak gelisah. Ia tidak berani mengangkat kepala. Bahkan untuk sekadar menatap pria di hadapannya pun terasa terlalu berat.
Sementara itu, Lucas bersandar di kursinya. Tatapannya lurus ke arah Lilian, dingin dan sulit dibaca. Ia menghela napas panjang, seperti sedang menahan sesuatu yang sejak tadi berputar di kepalanya.
“Saya akan memberikan tiga kali lipat dari apa yang diberikan istri saya.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Datar, tanpa basa-basi.
Deg.
Jantung Lilian terasa jatuh. Ia refleks mengangkat wajah, menatap Lucas dengan mata yang sedikit membesar.
“Asalkan kamu pergi jauh,” lanjut Lucas, masih dengan nada yang sama. “Dan jangan pernah bertemu lagi dengan istri saya. Bahkan kalau dia mencarimu sekalipun.”
Hening kembali turun.
Lilian menelan ludah. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap pria itu, seolah berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“T-Tuan … ini bukan soal—”
“Uang?” potong Lucas cepat. Ia menyandarkan punggungnya lebih dalam, lalu menghembuskan napas pelan.
Tatapannya sedikit berubah. Tidak sepenuhnya dingin lagi, tapi masih menyimpan jarak.
“Saya tahu,” lanjutnya lebih tenang. “Kamu bukan tipe wanita yang menukar kehormatan dengan uang.”
Lilian terdiam.
“Saya juga tahu kamu terjebak,” tambah Lucas, kini menatapnya lebih tajam. “Karena ibu tiri kamu yang menerima semua itu … benar, kan?”
Kata-kata itu tepat sasaran.
Lilian kembali menunduk. Jemarinya bergerak semakin gelisah, seperti mencoba menyembunyikan keguncangan yang tidak bisa ia tutupi lagi.
Lucas menghela napas lagi. Kali ini lebih pelan.
“Lilian,” panggilnya, suaranya tidak lagi setajam tadi. “Pikirkan masa depan kamu.”
Tidak ada jawaban.
“Kamu ada di kampus ini karena kemampuan kamu sendiri. Kamu dapat beasiswa itu bukan karena kebetulan.” Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata yang ia ucapkan sampai. “Jangan hancurkan semuanya hanya karena keputusan yang … bahkan bukan kamu yang buat.”
Ruangan kembali sunyi.
Lilian menutup matanya sebentar. Bukan karena tersentuh … tapi karena lelah. Lelah dengan situasi yang terlalu rumit untuk dirinya yang hanya ingin kuliah dengan tenang.
Namun bayangan wajah Brielle tiba-tiba muncul di pikirannya permohonan itu, tatapan penuh harap yang sulit ia tolak.
Ia menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat kepala.
“Tuan tidak perlu membayar saya,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan tapi cukup jelas. “Saya akan berusaha menjauh. Saya juga akan menghindari istri Anda.”
Lucas memperhatikannya, diam.
“Saya mengerti apa yang Tuan maksud,” lanjut Lilian.
Beberapa detik berlalu sebelum Lucas akhirnya mengangguk kecil.
“Bagus kalau begitu.” Nada suaranya kembali datar. “Kamu tahu sendiri, saya sangat mencintai istri saya. Saya tidak mungkin … berbagi dengan wanita lain.”
Ada jeda singkat sebelum ia menambahkan, lebih pelan,
“Tidak akan.”
Lilian hanya mengangguk. Tidak ada yang bisa ia katakan lagi.
“Baiklah,” ucap Lucas kemudian, sedikit merapikan posisi duduknya. “Terima kasih atas pengertiannya.”
Ia memberi isyarat kecil ke arah pintu. “Kamu bisa kembali ke kelas.”
Lilian berdiri perlahan. Kakinya terasa ringan sekaligus berat di waktu yang sama.
“Saya permisi, Tuan …” ucapnya pelan.
“Ya,” sahut Lucas singkat. “Silakan.”
Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan pelan.
Ruang kelas itu lengang. Kursi-kursi tersusun rapi, papan tulis masih menyisakan bekas tulisan dari mata kuliah sebelumnya, namun tak ada suara selain detak jam yang terdengar samar di dinding.
Lilian duduk sendiri di bangku tengah. Tasnya tergeletak di samping, sementara pandangannya kosong menatap meja di depannya. Sejak keluar dari ruangan Lucas tadi, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
“Apa yang harus aku lakukan …?” gumamnya pelan.
Suaranya nyaris hilang di dalam sunyi.
Ia menunduk, jemarinya saling bertaut, lalu tanpa sadar mengerat. Kepalanya terasa penuh, seolah dua suara yang berbeda terus saling bertabrakan di dalam sana.
Dan seperti dipanggil kembali … bayangan itu muncul lagi.
Wajah Brielle malam itu. Tatapan matanya yang tidak biasa tidak lagi tegas dan percaya diri seperti yang pertama kali Lilian lihat, tapi rapuh … bahkan hampir memohon.
“Aku mohon …” suara itu terngiang jelas. “Aku jatuh hati padamu untuk melahirkan keturunan suamiku.”
Lilian mengernyit, napasnya tercekat mengingat kalimat itu.
“Tidak akan lama,” lanjut suara itu dalam ingatannya. “Hanya sembilan bulan. Setelah itu kamu akan mendapatkan kompensasi yang jauh lebih besar. Tugasmu hanya … hamil dan melahirkan.”
Lilian menutup matanya sejenak.
Kata-kata itu terdengar dingin. Terlalu mudah diucapkan. Seolah apa yang diminta hanyalah sesuatu yang sederhana … padahal tidak.
Namun bayangan itu belum berhenti.
Suara Brielle berubah lebih pelan, lebih pecah.
“Aku tertekan, Lilian …”
Lilian membuka matanya perlahan. d**a nya terasa sesak.
“Mertuaku terus menekanku untuk memberikan cucu penerus keluarga,” suara itu bergetar. “Sementara aku …”
Ada jeda.
“Aku tidak bisa lagi mengandung.”
Lilian ingat betul bagaimana Brielle menunduk saat itu, bahunya sedikit bergetar.
“Rahimku rusak karena kecelakaan itu … dan harus diangkat,” lanjutnya lirih. “Aku sangat mencintai suamiku … dan aku tidak akan sanggup melihat dia berdampingan dengan wanita lain.”
Hening.
Ingatan itu terasa terlalu nyata.
Saat itu, Lilian hanya bisa menatapnya lama. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi tidak satu pun keluar. Karena di hadapannya bukan lagi seorang wanita kuat … melainkan seseorang yang sedang berjuang mempertahankan apa yang ia miliki.
Tiba-tiba … tangan Brielle meraih tangannya. Hangat, tapi gemetar.
“Aku percaya kamu bukan wanita seperti itu,” katanya pelan, menatap langsung ke mata Lilian. “Itulah kenapa aku memilihmu.”
Kalimat itu kembali terulang di kepala Lilian.
Perlahan, ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan berat.
“Kalau dipikir-pikir …” gumamnya lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “apa yang dialami Nyonya Brielle… memang tidak mudah.”
Ia menunduk lagi.
Rasa iba itu ada. Nyata. Tapi di sisi lain… ada sesuatu yang terus menahan langkahnya. Sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
***""**""***
Langit sudah mulai menggelap ketika Lucas Barus melangkah masuk ke dalam rumahnya. Jasnya masih rapi, tapi wajahnya menyimpan lelah yang tak sempat ia tutupi. Jam menunjukkan hampir pukul enam sore waktu di mana biasanya ia akan menemukan sesuatu yang menenangkan setelah hari yang panjang.
Sepi.
Ia melepas dasinya sambil berjalan pelan ke arah dapur. Aroma masakan hangat samar tercium, membuat langkahnya terhenti sejenak. Sudah lama ia tidak pulang tepat waktu seperti ini … dan entah kenapa, ada harapan kecil yang muncul begitu saja.
Dan benar.
Di sana, di depan kompor, terlihat sosok wanita dengan punggung menghadap ke arahnya. Rambutnya tergerai rapi, tubuhnya dibalut pakaian rumah yang sederhana tapi tetap terlihat anggun. Tangannya sibuk mengaduk sesuatu di wajan, suara minyak yang mendesis pelan memenuhi ruang dapur.
Senyum tipis muncul di wajah Lucas.
Tanpa banyak pikir, ia melangkah mendekat, lalu memeluk wanita itu dari belakang.
“Ah … selamat malam, sayang,” bisiknya pelan di dekat telinga wanita itu, suaranya melembut tanpa sadar.
Namun reaksi yang ia dapatkan … tidak seperti biasanya.
“Astag, Tuan!” wanita itu tersentak kaget. Tubuhnya menegang, hampir menjatuhkan spatula yang ia pegang.
Lucas langsung membeku.
Ada yang tidak beres.
Perlahan, wanita itu berbalik.
Dan dalam satu detik, semua yang sempat terasa hangat … runtuh begitu saja.
“Lilian?”
Suara Lucas berubah. Kaget. Tidak percaya. Ia refleks mundur satu langkah, seolah jarak bisa membantunya mencerna apa yang sedang ia lihat.
“Apa yang kamu lakukan di rumahku?” tanyanya, kali ini lebih tegas.
Lilian berdiri kaku di tempatnya. Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur. Ia jelas sama terkejutnya.