“S-saya …” suaranya tercekat. Jemarinya masih menggenggam spatula, tapi tangannya bergetar.
Lucas menatapnya tajam, pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak masuk akal.
“Jangan bilang …” ia menghela napas pendek, mencoba menahan emosinya yang mulai naik. “Istriku yang membawamu ke sini?”
Lilian menunduk, tidak langsung menjawab.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Lucas menutup matanya sejenak, rahangnya mengeras.
“Ini sudah keterlaluan …” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Lilian berdiri tak berdaya di hadapannya. Ia bahkan tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.
Suasana dapur yang tadi sudah tegang kini berubah semakin panas. Lucas berdiri kaku beberapa langkah dari Lilian, rahangnya mengeras, napasnya mulai tidak teratur. Ia mengalihkan pandangan, lalu memanggil dengan suara yang tertahan emosi.
“Sayang … Yank …” panggilnya, kali ini lebih keras.
Di hadapannya, Lilian hanya bisa menunduk. Bahunya sedikit gemetar, jari-jarinya saling mencengkeram tanpa sadar. Ia bahkan tidak berani mengangkat wajah.
Namun sebelum Brielle muncul, Lucas kembali melangkah mendekat. Tatapannya tajam, penuh tekanan yang tak lagi ia sembunyikan.
“Bukankah sudah aku katakan?” suaranya rendah, tapi bergetar menahan amarah. “Sudah aku minta kamu menjauh dari istriku. Mengabaikannya. Lalu sekarang …” ia menahan napas sejenak, menatap Lilian dari atas ke bawah. “Kenapa kamu tiba-tiba ada di rumahku, hah?”
Bentakannya membuat Lilian tersentak halus.
“Sa-saya …” bibirnya bergetar, suaranya nyaris hilang.
Langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah.
“Ada apa, sayang? Kenapa kamu marah-marah?” suara Brielle terdengar, tenang … terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
Lucas langsung menoleh.
Ekspresinya berubah seketika. Amarah yang tadi begitu jelas, kini tertahan di balik sorot mata yang bingung … bahkan nyaris memelas.
“Sayang …” suaranya melembut, kontras dengan nada sebelumnya. “Ini apa maksudnya? Kenapa Lilian bisa ada di rumah kita?”
Brielle berhenti beberapa langkah dari mereka. Senyum tipis terlukis di wajahnya, tapi matanya tidak sepenuhnya tenang.
“Aku yang memintanya datang,” jawabnya ringan. “Aku sudah memberikan uang itu pada ibunya. Tapi Lilian malah terus menghindar dariku.”
Lucas menghela napas panjang. Tangannya terangkat, menyugar rambutnya dengan kasar. Jelas ia sedang berusaha menahan sesuatu yang hampir meledak.
“Untuk apa sih, sayang …?” suaranya terdengar lelah, lebih lelah daripada marah. “Untuk apa kamu melakukan ini?”
Brielle menatapnya. Ada jeda sebelum ia menjawab.
“Untuk mempermudahmu … menyentuhnya.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi dampaknya seperti hantaman keras.
Lucas langsung mendekat, memegang kedua bahu istrinya. Pegangannya tidak kasar, tapi cukup kuat untuk membuat Brielle menatapnya.
“Sayang … dengarkan aku.” Suaranya menurun, lebih dalam, lebih serius. “Aku tahu kamu tidak rela. Aku tahu semua ini … menghancurkanmu.”
Matanya menatap lurus ke dalam mata Brielle, penuh tekanan yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
“Tapi jangan seperti ini,” lanjutnya lirih. “Jangan menyiksa diri kamu sendiri … dan jangan buat aku ikut hancur dengan permintaanmu ini. Aku tidak tega, sayang … aku benar-benar tidak tega.”
Air mata Brielle akhirnya jatuh.
Ia tidak langsung menjawab. Napasnya bergetar, tangannya perlahan mencengkeram lengan Lucas, seolah mencari kekuatan.
“Ini demi kita …” ucapnya pelan, hampir berbisik. “Demi rumah tangga kita.”
Ia menunduk, air matanya semakin deras.
“Mama terus mengancamku,” lanjutnya, suaranya pecah. “Dia akan menghadirkan wanita lain … kalau aku tidak bisa memberinya cucu.”
Lucas terdiam.
Dan Brielle melanjutkan, dengan sisa keberanian yang ia punya.
“Aku memilih Lilian,” katanya lirih. “Dia wanita baik. Dia tidak akan mungkin merebut kebahagiaan wanita lain.”
Di sudut ruangan, Lilian yang sejak tadi hanya diam … merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
Deg.
Kalimat itu menekan sesuatu di dalam dirinya.
Ia mengangkat wajah sedikit, menatap Brielle dengan ekspresi yang sulit dijelaskan antara kaget, takut … dan sesuatu yang lain.
“Aku takut …” suara Brielle kembali terdengar, kali ini lebih rapuh dari sebelumnya. “Aku takut wanita pilihan mama akan benar-benar merebutmu dariku, sayang …”
Hening.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Keheningan yang menggantung di dapur itu pecah oleh suara langkah kaki yang tegas dari arah ruang depan. Bunyi sepatu hak yang beradu dengan lantai terdengar teratur, namun setiap hentakannya seolah membawa tekanan yang tak terlihat.
Ketiganya refleks menoleh.
Di ambang pintu berdiri Vivian, dengan postur tegap dan sorot mata tajam yang langsung menyapu ruangan tanpa basa-basi. Tatapannya berhenti pada wajah Brielle yang masih basah oleh air mata, lalu bergeser ke arah Lilian yang berdiri kaku di dekat meja dapur.
“Kenapa kamu menangis?” tanyanya dingin.
Namun sebelum Brielle sempat menjawab, jari Vivian terangkat, menunjuk lurus ke arah Lilian.
“Dan … siapa dia?”
Nada suaranya tajam, penuh penilaian.
Lilian langsung menegang. Tubuhnya refleks menunduk, napasnya tercekat.
"Astaga … ini pasti ibu Tuan Lucas," batinnya panik. "Pantas saja Nyonya Brielle begitu tertekan … wanita ini benar-benar menakutkan."
“Eh … mama …” Brielle buru-buru menyeka air matanya, mencoba tersenyum meski jelas dipaksakan.
Vivian tidak membalas senyuman itu. Ia melangkah lebih dekat, sorot matanya semakin tajam.
“Aku tanya sekali lagi,” ucapnya, lebih rendah tapi justru lebih menekan. “Kenapa kamu menangis?”
Brielle menelan ludah. Ia melirik sekilas ke arah Lucas, lalu ke Lilian, sebelum akhirnya menarik napas dalam.
“A-aku … aku menangis karena terharu, Mah,” jawabnya pelan.
Vivian menyipitkan mata, jelas tidak sepenuhnya percaya.
“Karena …” Brielle berhenti sejenak, seolah mencari kata yang paling aman. “Karena aku sedang menjalani proses kehamilan bayi tabung. Dan … dokter bilang hasilnya sebentar lagi akan jelas.”
Ia memaksakan senyum kecil. “Kemungkinan besar … berhasil, Mah.”
Hening sesaat.
Namun ekspresi Vivian tidak berubah. Tidak ada senyum. Tidak ada kelegaan yang terlihat.
“Bagus kalau begitu,” jawabnya singkat, angkuh.
Lalu tanpa ragu, ia melanjutkan dengan nada yang lebih dingin.
“Karena kalau sampai kamu gagal mengandung penerus keluarga Carter …”
Kalimat itu terhenti sejenak, cukup untuk membuat suasana semakin mencekam.
“… aku sendiri yang akan membawa wanita lain ke dalam rumah ini. Wanita yang bisa memberiku cucu.”
“Mah!” sentak Lucas, memotong dengan nada tegas.
Tatapannya langsung tertuju pada ibunya, ada amarah yang mulai terlihat jelas.
Vivian berbalik menatap putranya, alisnya sedikit terangkat.
“Kamu pikir mama tidak butuh cucu?” balasnya tanpa gentar. “Kamu sudah terlalu sibuk dengan istrimu. Lalu bagaimana dengan mama?”
Suaranya meninggi sedikit, bukan karena emosi yang meledak, tapi karena keyakinan yang tak tergoyahkan.
“Mama ini sudah tua, Lucas. Tidak ada yang menemani mama di masa tua. Sebelum mama meninggalkan dunia …” suaranya melambat, tapi tetap tegas, “mama ingin menggendong cucu mama sendiri. Yang lucu … yang sehat … yang akan meneruskan nama keluarga ini.”
Hening kembali jatuh.
Di sudut ruangan, Lilian hanya bisa menatap pemandangan itu dengan jantung berdebar keras.
"Ya Tuhan … kasihan sekali Nyonya Brielle …"batinnya.
Tatapannya tanpa sadar beralih ke Brielle, melihat wanita itu yang mencoba tetap tegar di bawah tekanan yang begitu besar.
Dan di detik itu, sesuatu dalam diri Lilian berubah.
"Aku harus membantunya …" pikirnya. "Kalau ini satu-satunya cara … aku akan melakukannya."
Namun lamunannya terputus seketika.
“Dan kamu!” suara Vivian kembali terdengar, tajam seperti pisau.
Jarinya kembali menunjuk ke arah Lilian.
Lilian tersentak, tubuhnya langsung kaku.
“Kamu siapa?” lanjut Vivian tanpa menurunkan nada suaranya. “Kenapa kamu ada di rumah anak saya?”
“Ehm … sa-saya …” suara Lilian bergetar, kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
“Dia Lilian, Mah.”
Brielle langsung memotong, melangkah sedikit ke depan seolah melindungi.
“Dia asisten pribadi aku,” lanjutnya cepat. “Aku butuh seseorang yang khusus menemani aku selama masa kehamilan ini.”
Vivian menatap Brielle, lalu kembali ke Lilian. Sorot matanya masih penuh curiga, tapi ia tidak langsung membantah.
Sementara itu, Lucas hanya berdiri di tempatnya.
Napasnya tertahan.
Ia menatap istrinya kebohongan yang baru saja diucapkan itu terdengar jelas di telinganya. Namun di hadapan ibunya … ia tidak mengatakan apa pun.