Bab: 10

1369 Words
Pintu kamar tertutup pelan, memisahkan mereka dari tekanan yang masih terasa di luar. Namun ketenangan itu tidak benar-benar datang. Udara di dalam ruangan justru terasa lebih berat, seolah menyimpan semua kata yang belum terucap. Lucas berjalan masuk lebih dulu, langkahnya panjang namun lelah. Ia langsung melonggarkan dasinya dengan gerakan yang sedikit kasar, seakan kain itu tiba-tiba terasa menyesakkan. “Sayang …” suaranya rendah, tapi belum sempat ia melanjutkan— “Tolong,” potongnya cepat, nyaris tanpa jeda. “Jangan bahas apa pun yang berkaitan dengan Lilian. Aku tidak ingin membahasnya.” Nada suaranya tegas, tapi di balik itu ada kelelahan yang sulit disembunyikan. Brielle yang berdiri tak jauh darinya menatap diam sejenak. Ada ragu di matanya, tapi juga tekad yang perlahan menguat. “Tapi aku ingin membahasnya, sayang …” ucapnya pelan. Suaranya tidak keras, justru penuh permohonan. Lucas menutup mata sesaat, lalu menghela napas panjang. Ia berjalan ke tepi ranjang dan duduk, tubuhnya sedikit membungkuk. Jari-jarinya terangkat, memijat pelipis dengan tekanan yang lebih dari biasanya, seolah mencoba meredam sesuatu yang berisik di kepalanya sendiri. Brielle mendekat perlahan. Ia ikut duduk di samping Lucas, lalu merangkul lengan pria itu dengan gerakan lembut terlalu lembut, seperti takut ditolak. Kepalanya disandarkan di bahu Lucas, mencari kehangatan yang mungkin masih tersisa di antara mereka. “Aku nggak punya cara lain …” bisiknya. Lucas tidak langsung merespons. “Kamu lihat sendiri, kan …” lanjut Brielle, suaranya mulai bergetar. “Bagaimana mama menatapku. Bagaimana cara mama berbicara denganku …” Ia menelan napas, tapi emosinya sudah lebih dulu pecah. “Mama sudah terlalu membenciku, sayang …” suaranya semakin lirih. “Mama cuma ingin satu hal … cucu.” Ada jeda panjang setelah itu. Lucas membuka mata perlahan. Tatapannya kosong sesaat, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang tidak pernah benar-benar punya jawaban. Dengan hati-hati, ia melepaskan lengan Brielle dari pelukannya bukan karena ingin menjauh, tapi justru untuk menarik wanita itu lebih dekat. Tangannya berpindah, memeluk tubuh Brielle dengan lebih utuh. “Maafkan mama …” bisiknya pelan, lalu mengecup lembut puncak kepala istrinya. Brielle memejamkan mata saat merasakan itu. Namun bukannya tenang, justru air matanya kembali jatuh. “Bukan salah mama …” balasnya pelan. “Ini salah aku.” Lucas terdiam. “Aku yang nggak bisa memberi kamu penerus …” lanjut Brielle, suaranya hampir tak terdengar. “Aku yang gagal sebagai istri …” Pelukan Lucas sedikit mengerat tanpa sadar. Ia memejamkan mata, kali ini lebih lama. Kata-kata itu seperti menekan sesuatu jauh di dalam dadanya sesuatu yang selama ini ia coba abaikan. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya membuka mata lagi. Tatapannya tidak lagi kosong, tapi justru penuh beban. ***''"**""*** Pagi itu terasa berbeda bagi Lilian. Ia sudah bersiap rapi di ruang depan, tas kampus tergantung di bahunya, namun langkahnya tertahan saat suara Brielle memanggil dari belakang. “Lilian.” Lilian langsung berbalik, refleks menunduk hormat. “Iya, Nyonya.” “Kamu mau ke kampus?” tanya Brielle sambil menuruni anak tangga dengan langkah pelan namun anggun. “Iya, Nyonya …” jawab Lilian singkat. Brielle tersenyum tipis, seolah baru saja mendapatkan ide. “Ah, kebetulan sekali. Suamiku juga mau berangkat ke kantor pagi ini.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Lilian lebih dalam. “Kamu berangkat bersama dia saja. Tunggu sebentar.” “Eh, Nyonya—” Lilian mencoba menghentikan, namun Brielle sudah berbalik dan menaiki tangga tanpa memberi kesempatan untuk menolak. Lilian hanya bisa berdiri kaku di tempatnya. Jantungnya mulai berdetak tidak nyaman. Ia tahu … ini bukan sekadar tumpangan biasa. Di lantai atas, Brielle membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Lucas yang sudah rapi dengan setelan kerjanya menoleh, sedikit terkejut. Ia sedang meraih tas kerjanya, bersiap keluar. “Sayang, kamu antar Lilian ke kampus, ya.” Kalimat itu keluar begitu saja, membuat Lucas mengernyit. “Sayang … kamu ngomong apa sih?” nada suaranya terdengar lelah, seperti seseorang yang sudah kehabisan tenaga untuk berdebat. Brielle melangkah masuk lebih jauh. Ekspresinya tenang, tapi ada sesuatu yang keras dalam tatapannya. “Lilian mau ke kampus. Kamu antar,” ulangnya. Lalu, tanpa ragu, ia menambahkan dengan nada yang lebih pelan namun penuh tekanan, “Supaya … kalian bisa membangun kedekatan.” Lucas terdiam, rahangnya mengeras. “Dan jangan lupa,” lanjut Brielle, “atur waktu kalian … supaya semua bisa berjalan sesuai rencana.” Kali ini Lucas benar-benar menatapnya tajam. “Sayang, tidak perlu seperti ini,” ucapnya tegas. “Kalau nanti Lilian benar-benar hamil … lalu bagaimana dengan kamu?” Ia melangkah mendekat, suaranya menurun tapi sarat kekhawatiran. “Apa yang akan kamu katakan pada Mama? Bagaimana kamu menjelaskan kalau yang hamil justru Lilian, bukan kamu?” Ada keheningan sesaat. Namun Brielle tidak tampak goyah. Ia justru tersenyum kecil. Senyum yang aneh tenang, tapi membuat hati terasa tidak nyaman. “Tenang saja, sayang …” ucapnya pelan. Ia berjalan ke arah lemari, lalu membukanya. Dari dalam, ia mengeluarkan beberapa benda dan meletakkannya di atas ranjang. Lucas mengernyit, lalu melangkah mendekat. Dan saat ia melihatnya dengan jelas … tubuhnya seakan membeku. Di atas ranjang itu, tersusun beberapa perut hamil palsu dengan berbagai ukuran, lengkap dengan perlengkapan pendukung lainnya. Sejenak, tidak ada suara. Lucas hanya menatap, tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. “Sa-sayang …” suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu … sudah menyiapkan sejauh ini?” Brielle mengangguk pelan. “Iya.” Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk menjelaskan betapa jauh ia sudah melangkah dalam rencana ini. Lucas mengusap wajahnya kasar, mundur satu langkah. “Ya Tuhan …” gumamnya pelan, antara terkejut dan tidak sanggup menerima kenyataan. Namun Brielle justru terlihat … bahagia. Atau setidaknya, berusaha terlihat seperti itu. Ia menyentuh salah satu perut palsu itu dengan hati-hati, seolah sedang membayangkan sesuatu. “Makanya …” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Cepatlah … wujudkan itu.” Lucas menatapnya, napasnya terasa berat. “Aku sudah tidak sabar,” lanjut Brielle, kali ini menatap langsung ke arah suaminya. “Aku ingin merasakan … bagaimana rasanya menjadi wanita hamil. Dilihat orang-orang … dipercaya … dan …” suaranya melemah, “tidak lagi dianggap gagal.” Kata terakhir itu jatuh pelan, tapi terasa begitu dalam. Lucas tidak langsung berbicara. Tatapannya tertahan pada wajah Brielle—lebih lama dari biasanya, lebih dalam dari sekadar melihat. Ia tidak lagi memandang istrinya sebagai wanita yang keras kepala atau memaksakan kehendak … melainkan sebagai seseorang yang sedang berdiri di ujung rapuhnya sendiri. Di mata itu, ia melihat sesuatu yang selama ini ia abaikan. Bukan sekadar kesedihan, tapi luka yang menumpuk … diam-diam, tanpa pernah benar-benar diobati. Napas Lucas tertahan. Lalu tanpa banyak kata, ia menarik tubuh Brielle ke dalam pelukannya. Brielle tersentak kecil. Namun detik berikutnya, tubuhnya langsung melemas dalam pelukan itu. Tangannya mencengkeram bagian belakang kemeja Lucas, seolah takut pria itu akan melepaskannya kapan saja. “Sayang …” suara Lucas terdengar berat, tertahan di antara perasaan yang saling bertabrakan. Ia menunduk sedikit, dagunya menyentuh puncak kepala Brielle. “Aku …” ia berhenti sejenak, seperti menelan sesuatu yang pahit. “Aku nggak pernah mau melihat kamu sejauh ini.” Brielle memejamkan mata. Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini tanpa isakan. Hanya diam … mengalir begitu saja. “Aku tahu kamu terluka,” lanjut Lucas pelan. “Aku tahu kamu merasa kehilangan … merasa gagal …” Tangannya mengerat di punggung Brielle. “Dan aku … mungkin terlalu egois karena terus menolak melihat kenyataan itu.” Kalimat itu membuat Brielle semakin mencengkeramnya. “Bukan kamu yang egois …” bisiknya serak. “Aku yang memaksa … aku yang memohon …” Lucas menggeleng pelan, meski Brielle tidak melihatnya. “Tidak,” ucapnya lirih. “Aku suamimu. Seharusnya aku yang lebih dulu mengerti … bukan kamu yang terus berjuang sendiri seperti ini.” Hening sejenak. Lalu perlahan, Lucas menarik sedikit tubuh Brielle agar bisa menatap wajahnya. Matanya tidak lagi sekaku sebelumnya. Ada keputusan di sana berat, tapi nyata. “Kalau ini satu-satunya cara yang bisa membuat kamu bertahan …” ucapnya pelan, setiap katanya terdengar seperti beban yang ia pikul sendiri. “Kalau ini yang bisa membuat kamu merasa … masih punya harapan …” Ia menelan napas. “Aku akan melakukannya.” degh– Brielle membeku. Seolah ia tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD