Malam sudah larut ketika rumah itu akhirnya tenggelam dalam sunyi. Hanya lampu-lampu redup di lorong yang masih menyala, memantulkan bayangan panjang di dinding. Di dalam kamar, Brielle telah terlelap napasnya teratur, wajahnya terlihat tenang … terlalu tenang untuk seseorang yang sepanjang hari menahan begitu banyak tekanan.
Lucas berdiri di sisi ranjang, menatap istrinya cukup lama. Tangannya sempat terangkat, seolah ingin menyentuh, tapi akhirnya ia urungkan. Ada keraguan yang belum sepenuhnya hilang.
Namun pada akhirnya, ia berbalik.
Langkahnya pelan saat keluar kamar, nyaris tanpa suara. Ia menutup pintu dengan hati-hati, lalu berjalan menyusuri lorong menuju bagian belakang rumah ke area kamar pelayan.
Di depan salah satu pintu, langkahnya terhenti.
Ia menarik napas panjang, lalu mengetuk pelan.
Tok … tok …
Beberapa detik hening, sebelum pintu itu terbuka perlahan.
Lilian muncul dengan wajah sedikit terkejut. Rambutnya tergerai sederhana, pakaian tidurnya rapi namun polos. Ia jelas tidak menyangka akan didatangi di waktu seperti ini.
“Tu-tuan …?” suaranya pelan, penuh kehati-hatian.
Lucas tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya sejenak, seolah sedang memastikan sesuatu.
“Boleh bicara sebentar?” akhirnya ia berkata.
Lilian ragu sesaat, tapi kemudian mengangguk. “Silakan …”
Ia membuka pintu lebih lebar, mempersilakan Lucas masuk.
Kamar itu sederhana— Lucas berdiri beberapa langkah dari pintu, tidak benar-benar masuk ke dalam, seolah menjaga batas yang tak terlihat.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Lucas menghembuskan napas, lalu akhirnya membuka suara.
“Kamu … melihat semua yang terjadi tadi, kan?”
Pertanyaan itu membuat Lilian menunduk. Ia menggenggam ujung bajunya pelan.
“Iya, Tuan …” jawabnya lirih.
Lucas mengangguk kecil, meski tidak benar-benar melihatnya.
“Menurut kamu …” ia berhenti sejenak, seperti menimbang kata-kata. “Apa yang dilakukan istriku itu … masuk akal?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi nada di baliknya penuh beban.
Lilian terdiam cukup lama. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap lantai,
“Saya …” ia menarik napas pelan. “Saya tidak tahu harus bilang ini benar atau salah, Tuan.”
Lucas menatapnya.
“Tapi …” lanjut Lilian, suaranya semakin kecil, “kalau melihat keadaan Nyonya Brielle …”
Ia mengangkat wajahnya perlahan, meski masih ragu.
“Saya merasa … beliau sangat tertekan.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Lucas terdiam.
“Tekanan dari Nyonya Vivian, Itu bukan sesuatu yang ringan. Saya bisa melihatnya.”
Ia menelan ludah.
“Dan Nyonya Brielle, beliau bukan hanya takut kehilangan tapi juga takut digantikan.”
Hening.
Lucas tidak menyela.
“Saya tidak tega melihat beliau seperti itu, Tuan,” tambah Lilian pelan. “Kalau dengan cara ini beliau bisa merasa lebih tenang, mungkin Mungkin saya lebih baik menuruti apa yang beliau inginkan.”
Kalimat itu akhirnya terucap.
Ruangan kembali hening.
Lucas menunduk sedikit, pikirannya bergejolak.
Tangannya terangkat, mengusap wajahnya pelan.
Beberapa detik berlalu, sebelum ia akhirnya berbicara lagi.
“Kalau kamu menyesal nanti kamu masih bisa mundur,” ucapnya pelan. “Aku tidak akan memaksa.”
Lilian menggeleng kecil.
“Saya sudah memikirkannya, Tuan.”
Lucas menatapnya lagi. Kali ini lebih dalam.
Ia menarik napas panjang.
“Baik,” ucapnya akhirnya.
Satu kata itu terasa berat.
“Saya akan mengikuti keinginan istriku.”
Lilian terdiam, tapi tidak terlihat terkejut.
“Tapi tidak sekarang.”
Lilian mengernyit sedikit.
“Aku belum siap,” lanjut Lucas jujur. “Semua ini terlalu cepat.”
Ia menatap ke arah lain, seolah mencoba merapikan pikirannya sendiri.
“Kamu siapkan dirimu,” katanya kemudian. “Dan beri aku waktu.”
Lilian mengangguk pelan.
“Baik, Tuan.”
Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Lucas berdiri tegak kembali, lalu berjalan menuju pintu. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi namun akhirnya ia memilih diam.
Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan pelan.
Langkahnya menjauh di lorong yang sunyi.
Sementara di dalam kamar sederhana itu, Lilian tetap berdiri di tempatnya.
Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.
***""**""***
Ruang rapat itu dipenuhi suasana serius sejak pagi. Layar proyektor menampilkan grafik keuangan, angka-angka yang naik turun, dan strategi bisnis yang sedang dibahas. Para direksi duduk rapi mengelilingi meja panjang, masing-masing dengan ekspresi fokus.
Di ujung meja, Lucas berdiri tegak. Suaranya tenang, terkontrol, penuh wibawa.
“Jika kita ingin memperluas pasar kuartal depan, maka kita tidak bisa hanya mengandalkan distribusi lama. Kita harus—”
Kalimatnya terpotong.
Pintu ruang rapat terbuka.
Beberapa kepala langsung menoleh, termasuk Lucas.
Dan di sanalah berdiri Brielle.
Ia tampak berbeda dari biasanya. Wajahnya pucat, matanya sedikit sembab, tapi ia tetap mencoba berdiri tegak. Tatapannya langsung mencari satu orang—Lucas.
Sejenak, waktu seperti berhenti.
Ekspresi Lucas berubah dalam hitungan detik. Dari dingin dan profesional. menjadi sesuatu yang jauh lebih personal.
“Rapat kita akhiri sampai di sini,” ucapnya tegas, tanpa memberi ruang untuk protes.
“Tuan, tapi laporan—” salah satu direksi mencoba menyela.
“Kita lanjutkan nanti,” potong Lucas singkat.
Langkahnya cepat, hampir terburu-buru, Lucas berhenti sejenak. Matanya menelusuri wajah Brielle, seperti memastikan sesuatu.
“Sayang.” ia langsung menarik Brielle ke dalam pelukannya.
Brielle terkejut sesaat, tapi tubuhnya langsung melemah dalam dekapan itu.
“Ada apa?” bisik Lucas di dekat telinganya.
Namun ia tidak menunggu jawaban.
Tangannya terangkat, menyentuh pipi Brielle dengan lembut, lalu mengecupnya sekali, dua kali seakan memastikan wanita itu benar-benar ada di hadapannya.
“Kenapa kamu ke sini?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
Brielle menggeleng kecil. “Aku cuma ingin bertemu kamu.” suaranya nyaris tak terdengar.
“Yuk,” ujarnya singkat, namun penuh makna.
Tangannya menggenggam tangan Brielle, erat tapi lembut.
Ia mengabaikan tatapan para karyawan yang masih berada di sekitar ruang rapat.
Mereka berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja Lucas.
Begitu pintu tertutup, suasana berubah drastis.
Tangannya kembali terangkat, menyentuh wajah istrinya dengan hati-hati.
“Kamu nggak biasanya datang ke kantor,” ucapnya pelan. “Pasti ada sesuatu.”
Tatapannya dalam, mencoba membaca apa yang tidak diucapkan.
Brielle terdiam.
Ia hanya menatap Lucas, lama… seolah mencari jawaban dalam diri pria itu.
Dan tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.
Lucas langsung menariknya kembali ke dalam pelukan.
“Hey.” bisiknya lembut. “Aku di sini.”
Kali ini, Brielle tidak menahan diri.
Tangannya melingkar di tubuh Lucas, mencengkeramnya erat, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat ia merasa aman.
“Aku ke sini karena mama.” ucapnya pelan, suaranya masih bergetar tipis.
Lucas menatapnya tanpa berkedip. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini, dan justru itu yang membuat napasnya terasa semakin berat.
“Dia tanya lagi soal program kehamilan,” lanjut Brielle. “Tadi pagi bahkan sebelum aku sempat sarapan, dia sudah mulai menekan aku lagi.”
Ada jeda.
Brielle menunduk sesaat, lalu kembali menatap Lucas. Kali ini lebih mantap, meski di baliknya masih ada luka yang belum sembuh.
“Aku bilang semuanya berjalan lancar,” katanya. “Aku bilang sebentar lagi akan ada kabar baik.”
Lucas menghela napas panjang. Tangannya terangkat, mengusap wajahnya perlahan.
“Sayang,” suaranya rendah, hampir seperti peringatan halus.
Namun Brielle sudah melangkah lebih dulu. Ia membuka tas kecil yang dibawanya, lalu mengeluarkan dua lembar tiket dan menyerahkannya pada Lucas.
“Kita nggak punya banyak waktu lagi,” ucapnya pelan.
Lucas menerima tiket itu dengan alis berkerut. Ia menatapnya sekilas, lalu kembali menatap Brielle.
“Apa ini?”
“Tiket,” jawab Brielle singkat. “Untuk kamu, dan Lilian.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Lucas terdiam. Tangannya yang memegang tiket itu perlahan menegang.
“Aku sudah atur semuanya,” lanjut Brielle, suaranya kini terdengar lebih tenang terlalu tenang untuk sesuatu yang sebesar ini. “Tempatnya jauh dari sini. Nggak akan ada yang mengenal kalian. Nggak akan ada yang mencurigai.”
Ia menarik napas dalam, lalu menatap Lucas lurus-lurus.
“Aku ingin kamu segera melakukan apa yang aku minta.”
Hening.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lucas menunduk, menatap tiket di tangannya. Seolah benda kecil itu tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat berat.
Ia menghela napas panjang, lebih dalam dari sebelumnya.
Tidak ada amarah. Tidak ada penolakan.
Hanya, kelelahan.
“Sayang.” akhirnya ia bersuara.
Brielle menunggu.
Lucas mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tidak lagi menolak, tapi juga tidak benar-benar menerima dengan ringan.
“Aku akan menuruti keinginan kamu,” ucapnya pelan.
Kalimat itu membuat napas Brielle tertahan.
“Tapi,” Lucas melanjutkan, suaranya berubah lebih dalam, lebih serius. “Kamu harus janji satu hal sama aku.”
Brielle mengangguk cepat, hampir tanpa berpikir. “Apa pun itu.”
Lucas menatapnya lama.
“Jangan pernah menyesal,” katanya akhirnya.